Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
The man who cant be moved


__ADS_3

Nara membantu Lulu hari ini, mereka santai karena keadaan cafe cukup sepi. Keduanya duduk dan sedang merancang sesuatu agar cafe bisa ramai kembali.


"Azka gak mau jadi model buat stan poster cafe ini!" kata Nara lemas, dia memang kecewa tapi dia sudah tahu alasannya.


"Lho, tega banget dia nolak permintaan lo itu?" tanya Lulu.


"Gue kan pernah bilang kalau dia emang gak pernah mau jadi model iklan!"


"Ya tapi kalau buat kepentingan istrinya sendiri masa dia gak mau..."


"Dia punya alasan, dan gue ngerti itu..."


"Kenapa?" tanya Lulu penasaran.


"Katanya, posternya dulu pernah di edit sama fans sampai hasilnya viral dan menggelikan, hehe...gue malah baru tahu hal ini," cerita Nara lalu tertawa geli saat ingat apa yang Azka ceritakan tadi pagi.


"Aaah iya iya, memang pernah ramai dan jadi trending, itu waktu dia awal debut sekitar dua tahun yang lalu!" perjelas Lulu.


"Nah, makanya gue gak mau memaksa..."


"Ya udah kita pikirkan yang lain aja!"


Nara melihat kearah parkiran, dan dia baru saja mendapati sebuah motorsport menepi di depan cafenya, Nara tahu betul kalau itu Yuki. Sudah lama dia gak ketemu Yuki.


"Yuki..." gumamnya dan Lulu dapat mendengarnya dengan jelas.


"Waah, pelanggan setia cafe lo datang..." tukas Lulu, Nara mengerutkan dahinya, 'pelanggan setia?' batinnya.


"Dia sering kesini?" tanya Nara heran.


"Iya, sejak lo cuti beberapa bulan lalu, Yuki sering mampir dan kalau ada satu atau dua pelanggan yang kebetulan datang pasti cafe jadi rame! dia juga salah satu penarik perhatian Nar, lo harus berterimakasih sama dia!" kata Lulu menjelaskan, Yuki sudah masuk ke dalam cafe dan Nara menyambutnya dengan hangat.


Yuki sangat terkejut dengan keberadaan Nara dan tentu saja dia sangat senang.


"Selamat datang..." sapa Nara dengan ramah dan senyum hangat yang selama ini sudah lama Yuki rindukan.


"Wah, hari ini ada ownernya...surprise!" sahut Yuki menggoda.


"Hehe, bisa aja..." Nara tersipu.


Yuki berjalan semakin mendekat, dia sungguh sangat senang bisa memandangi Nara sedekat itu. Sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu Nara secara langsung, dan tentu saja saat ini kerinduannya terbayar sudah.

__ADS_1


"Baby Arkan mana?" tanya Yuki menyapa.


"Dititip di rumah ibu, gak mungkin gue bawa dia kesini! oh iya, makasih ya kadonya..." jawab Nara, lalu dia mengucapkan terimakasih karena Yuki sudah memberi kado pada Arkan saat Arkan lahir 3 bulan lalu.


"Iya, maaf ya belum sempat nengok secara langsung!" tukasnya, Nara mengangguk.


"Oh iya, silahkan duduk..."


Nara mempersilahkan duduk dan Yuki duduk di meja dimana terdapat kertas rancangan konsep yang tadi Nara dan Lulu bahas.


"Mau pesan yang biasa?" tanya Lulu pada Yuki.


"Ya," sahutnya, Lulu pun memutar langkah dan segera membuatkan pesanan Yuki. Sedangkan Nara, dia duduk di meja yang sama dengan Yuki lalu membereskan kertas-kertas dan laptop kerjanya.


"Kok lo masih santai sih, bukannya siang ini ada jadwal latihan?" tanya Nara memulai obrolan.


"Ya, sekitar setengah jam lagi mulai!"


"Terus, kenapa masih sempat mampir kemari?"


Yuki perhatikan Nara yang kembali fokus dengan laptopnya. Yuki masih sangat menyesal karena tidak bisa mendapatkan gadis manis di hadapannya saat ini, tapi dia juga tak mau menjadi duri dalam pernikahan sahabatnya. Yuki masih kuat menahan hasratnya, dia masih belum tergoda dengan tawaran Kalyla untuk bekerja sama merebut kembali apa yang mereka inginkan.


"Semalam gue gak bisa tidur, hari ini bangun agak siang dan mood jadi sangat terganggu! gue butuh secangkir esspresso sebelum kembali memulai aktivitas!" jelaskan Yuki, Nara mengerti.


"Ya, itu benar!"


"Jaga kesehatan ya, apalagi tuntutan jadi seorang atlet itukan harus selalu fit and fresh..." kata Nara lagi penuh perhatian, membuat perasaan Yuki kembali terusik.


"Oke,"


"Sudah cukup lama ya kita gak ketemu, gue kira lo udah mau menyusul langkah kami untuk segera menikah!" goda Nara, Yuki hanya tersenyum hambar. Jujur saja, sampai detik ini tidak ada wanita lain di hati Yuki selain Nara. Nara masih menguasai perasaannya, Yuki benar-benar belum bisa move on dari Nara.


"Mungkin belum sampai pada jodohnya!" sahut Yuki pasrah.


"Mungkin wanita beruntung yang nanti jadi pasangan lo on the way, hope so!" harap Nara, Yuki semakin meradang.


'hope its gonna be you!' batin Yuki tegas.


Beberapa saat kemudian, Tania, pegawai cafe datang dengan secangkir espresso dan latte untuk Yuki dan Nara.


"Makasih ya," kata Nara.

__ADS_1


"Sama-sama kak..." sahut Tania lalu dia kembali dan meninggalkan Nara dan Yuki berdua lagi.


"Kelihatannya sibuk banget?" tanya Yuki.


"Iya, gue lagi memikirkan strategi promosi.. bulan ini grafik pelanggan menurun jadi harus mulai gencar memikirkan langkah promosi!" jawab Nara yang masih fokus dengan layar laptopnya, dan Yuki pun fokus menatap seraut wajah yang paling dia inginkan di hadapannya.


"Oke, goodluck!" semangati Yuki.


"Makasih, tapi sebenarnya gue lagi mumet banget!"


"Kenapa?"


"Gue udah memikirkan konsep yang cukup baik, gue butuh bantuan Azka...tapi dia gak bisa!" keluh Nara.


"Kenapa?"


"Gue rencananya mau bikin stan poster buat di pajang di depan cafe, maunya sih Azka jadi modelnya, tapi dia gak mau...dia nolak permintaan gue, huh...jadi harus cari model yang cukup populer lagi nih, tadinya kan gue mau menghemat anggaran, hehe..." jelaskan Nara dan Yuki hanya tertawa geli mendengarnya.


"Jelas lah dia bakalan nolak, dia memang seperti phobia dengan tawaran seperti itu...jangan berkecil hati ya, lo harus ngerti..."


"Iya gue ngerti! kasihan juga sih...hehe..."


"Kalau mau, gue bisa bantu kalian," tawarkan Yuki, Nara terdiam beberapa saat dan dia pikir itu adalah tawaran yang gak boleh di tolak.


"Maksudnya, lo mau jadi model stan poster cafe ini?" tanya Nara antusias, Yuki hanya tersenyum.


"Kalau itu memang bisa membantu kenapa nggak?"


Nara senang bukan main, dia sampai gak bisa berkata-kata lagi.


"Serius?" yakinkan Nara.


"Iya!"


"Tapi, gue gak bisa bayar jasa lo mahal-mahal..."


"Gak perlu, gue menawarkan diri secara sukarela! gue akan ikut senang kalau promosi nanti berjalan sukses!"


"Makasih ya, gue akan mulai pikirkan konsepnya! terimakasih banyak..."


Dalam hatinya Yuki sangat bahagia, karena walau hanya membantu dengan hal sederhana dan membuat Nara bisa tersenyum lebar itu adalah hal membahagiakan untuknya. Tak berlebihan kalau Yuki memang masih belum bisa move on dari perasaannya terhadapa Nara. Dia memang tipe pria yang setia pada satu cinta, bahkan Wanita sekelas Kalyla pun tak mampu meruntuhkan hatinya. Hanya Nara, ya! dan sampai detik ini hanya Nara yang ada dalam hati dan benaknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2