Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Best Yura


__ADS_3

"Mereka baik kok, saat ini mereka adalah anggota keluarga yang saya miliki!" jawab Yura semakin membuat Nara larut, Nara usap pundak Yura.


"Ya sudah! Kamu saya terima bekerja disini!" putuska. Nara dengan penuh keyakinan. Yura senang sekali, ternyata Nara menerimanya tanpa banyak pertanyaan lagi.


"Terimakasih banyak bu!" ucap Yura lalu dia cium tangan Nara, dia sangat senang sampai tak bisa mengendalikan emosinya.


"Iya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya!"


"Iya bu, saya akan berusaha untuk selalu disiplin!"


Nara tak tahu lagi harus berkata apa lagi, dia sudah menemukan figur anak yang menggambarkan dirinya di masa lalu. Nara sangat yakin kalau Yura adalah gadis yang baik.


"Kamu minta seragam sama Danty ya! Kamu boleh mulai bekerja, jika tak ada pesanan online, kamu bantu-bantu saja Kakak-kakakmu di bawah, tapi gak usah terlalu memaksakan diri, santai saja!"


"Iya, iya! Terimakasih banyak bu!"


Dengan semangat Yura memulai harinya, sampai Yura bangkit dan mulia melangkah keluar dari ruangannya Nara masih saja memperhatikannya. Sejak awal bertemu Nara sudah sangat terkesan dengan sosok Yura.


Nara berharap dalam hati kalau kelak Yura akan bernasib baik sepertinya.


***


Nara pulang ke rumah sebelum jam makan malam, dia sudah ditunggu oleh anak kesayangannya yang asyik main game dari gawainya di ruang tengah. Nara segera hampiri kemudian dia duduk di sampingnya.


"Main game terus, kapan belajarnya?" sapa Nara, Arkan sama sekali tak menoleh, dia masih asyik menatap layar gawainya itu.


"Selesai main, selesai makan." jawabnya sembarang.


"Selesai main, selesai makan terus ketiduran! Ayolah sayang, simpan sebentar game kamu, kita makan dulu ayo!" bujuk Nara lalu dia ambil gawai milik anaknya dan memasukannya dalam saku balzernya, Arkan tak bisa melawan dan dia hanya pasrah saja.


"Oh iya, lusa aku ada pertandingan di markas Sunrise, Mama nonton ya?" pinta Arkan lalu dia bermanja dengan meletakan kepalanya di atas pangkuan Mamanya.

__ADS_1


Walaupun Arkan dikenal sebagai siswa populer dengan kepribadian tegas di sekolah tapi kalau di rumah dia tetaplah anak mama yang manja.


"Oh ya? Kok di markas Sunrise?"


"Ada turnamen antar sekolah, dan penyelenggaranya itu bekerja sama dengan managemen Sunrise, jadi juga semacam seleksi dini gitu, aku harap aku bisa masuk camp traine Sunrise Junior!" harap Arkan, dia sangat berharap bisa mengikuti jejak Papanya. Ya, Azka adalah role model untuk Arkan, dia sangat mengagumi Papanya.


"Kamu pasti bisa! Tanpa nama Papa di belakang namamu pun, kamu akan mampu menggapai cita-citamu! Soalnya harus mama akui, kamu itu lebih hebat dari Papa!" goda Nara, Arkan tersenyum.


Hangat sekali pemandangan antara Mama dan anak itu, saat-saat seperti ini adalah waktu favorit Nara dan Arkan. Setiap hari mereka membangun bonding yang kuat. Nara ingin menjadi Mama terbaik untuk Arkan, karena dia merasakan sendiri bagaimana kehilangan kasih sayang orangtua di usia dini itu sangat menyakitkan. Dan kembali dia ingat lagi pada Yura ....


"Ah iya, kamu tahu gak? Hari ini Mama punya pegawai baru," kabarkan Nara mencari topik pembicaraan lain.


"Terus?"


"Coba kamu tebak siapa pegawai baru Mama itu?"


"Siapa?"


"Yura!"


"Dia kerja?" yakinkan Arkan.


"Iya, Mama juga kaget dia melamar pekerjaan di cafe kita pagi ini, tapi dia memang sudah direkomendasikan oleh salah satu pegawai lama mama sih, Mama cuma gak habis pikir, kenapa Yura mau bekerja,"


Arkan menduga Yura memang mendapatkan tekanan dari Ibu tirinya, Arkan ingat betul bagaimana sikap Ibu kemarin terhadap Yura padahal dia tahu kalau Yura tengah terluka tapi dia masih sempat-sempatnya mengomel tiada henti.


"Mungkin dia ditekan sama Ibu tirinya!" cetus Arkan, Nara berdecak, dia pikir Arkan belum mengetahuinya.


"Kamu sudah tahu kalau saat ini Yura hanya tinggal sama Ibu sambungnya?" tanya Nara, Arkan hanya mengangguk lalu meminum air mineral di meja di depannya.


"Apa dia bercerita?"

__ADS_1


"Dia gak bercerita secara langsung! Tapi aku tahu betul kalau Ibunya itu cerewet dan suka mengomel! Omelan mama tuh gak ada apa-apanya dibanding omelan Ibunya si Yura!"


"Benarkah?"


"Ya,"


Nara kembali kepikiran Yura, dia memang sudah menduga kalau Yura juga mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari Ibu tirinya persis seperti apa yang dia alami di masa lalu.


Makan malam di rumah Yura, hanya ada mie instan yang bisa mereka nikmati. Ibu memang jarang masak, makan nasi dengan lauk pauk yang 4 sehat 5 sempurna jarang sekali Yura dan Tania dapatkan. Tania masih cukup beruntung karena Ibu memberinya uang jajan yang besar, sedangkan Yura hanya bisa gigit jari, jika tidak ada nasi atau mie instan maka dia rela untuk tidak makan di hari itu.


"Oh iya bu, mulai besok aku pulang sore ya!" kabarkan Yura, dia sepertinya akan menamgabarkan kabar tentang pekerjaannya.


"Apa maksudmu?" tanya Ibu yang sibuk meniup mienya yang masih panas.


"Mulai besok aku kerja paruh waktu,"


"Oh ya? Terus bagaimana urusan kue-kue produksi Ibu, huh?" tanya Ibu dengan nada tinggi cirikhasnya.


"Mulai sekarang Ibu atur lagi waktu pengirimannya, aku akan tetap bantu Ibu kok, tapi aku bisanya pas udah selesai bekerja di tempat baruku ini!"


"Heh, mentang-mentang Ibu ini gak pernah ngasih upah layak!" gerutunya.


"Gak gitu kok bu! Aku cuma mau punya penghasilan sendiri, akhir-akhir ini banyak sekali buku yang harus dibeli, aku kan gak tega minta sama ibu makanya aku mau cari cuan sendiri," dalih Yura.


"Ya terserah sih, yang penting kamu gak melalaikan tugas awalmu sebagai kurir kue-kue Ibu!"


"Iya bu,"


"Heh, nelangsa amat hidup lo Yura!" ejek Tania, dengan renyahnya dia lontarkan kata-kata itu. Yura kesal? Oh jelas, tapi dia bisa mengendalikan emosinya dengan baik.


"Ya jadi anak yatim piatu itu harus bisa mengurus diri sendiri! Siapa lagi yang sudi membiayaimu, huh? Kalau Ibu sih sekedar kasih kamu makan sehari sekali aja udah malas banget! Mana ada keluarga dari pihak ayahmu yang mempedulikanmu? Gak ada kan? apa lagi keluarga dari pihak Ibumu? Huh, mimpi saja sana kalau berharap ada yang peduli padamu selain aku!", momen menyesakkan terulang kembali, sebenarnya Yura sangat pantang jika harus membahas masalah keluarga tapi dia mencoba tetap tenang, dia tak ingin terpancing kata-kata provokasi dari Ibu.

__ADS_1


"Masih mending kalau nanti ada cowok yang mau sama lo? Lah kalau gak ada, seumur hidup lo akan hidup sendirian! Hahaha!" timpali Tania, ingin rasanya Yura sumpali kedua mulut-mulut lemes itu tapi dia jadikan itu motivasi diri, dia bertekad untuk mendapatkan pria baik di masa depan.


'Lihat saja 4 atau 5 tahun lagi!' batin Yura lalu dia tuntaskan makan malamnya, mencoba tak mendengar kata-kata dan tawa ejekan dari Ibu dan Saudari tirinya yang menyebalkan itu.


__ADS_2