
'Kenapa lo lakukan hal bodoh seperti itu Han Yura?' batinnya dan matanya sesekali menyisir ke bangku-bangku penonton yang sudah sangat padat itu dan yang dia cari tak ia temukan.
Walau semalam dia merutuki Yura tapi sebenarnya hatinya masih menyimpan perasaan yang dia anggap aneh itu. Ya, Arkan memang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Yura dan walaupun saat ini dia sangat kecewa tapi rasa cintanya tak bisa pudar begitu saja.
"Bro! Lihat kesana! Gilaaaa! Lo baru mau debut dan lo udah punya fans fanatik sebanyak itu?" kata Rado membuyarkan lamunan Arkan. Rado menunjuk ke satu sudut tribun dan disana memang banyak teman-teman SMA dan teman kuliah Arkan. Mereka benar-benar memberikan dukungan penuh untuknya.
"Itu teman-teman SMA dan teman kampus gue Bang!" sahut Arkan lalu mencoba kembali fokus dengan persiapan pertandingan.
"Keren! Berarti mereka tuh loyal banget sama lo! Huh, atmosfer kayak gini tuh yang selalu gue rindukan selama libur kompetisi!"
"Dulu gue yang duduk disana, sekarang ... gue berdiri disini!" kata Arkan masih agak tak percaya kalau hari ini dia sudah menjadi salah satu bagian penting club kebanggaannya sejak dulu.
"Semangat ya! Teriakan mereka adalah semangat yang gak bisa lo beli dengan apapun! Semangat, oke?"
Tepukan Rado sangat membakar semangat Arkan, dia akan tetap bermain total dan se-profesional mungkin walau dengan atau tanpa kehadiran Yura.
Ya, sayangnya Yura sudah menjadi pecundang akhir-akhir ini. Dia mengingkari janjinya untuk hadir di pertandingan pertama Arkan. Yura rasanya jengah dengan orang-orang, dan setelah mengantarkan kue-kue buatannya kepada para pelanggan, Yura langsung pulang ke rumah dan mengunci diri sendiri.
Dan Arkan mengawali pertandingan pertamanya dengan cukup manis. Dia masuk beberapa kali di kuarter 3 dan kuarter 4. Dia memang masih agak nervous tapi walau begitu, dia memberi angka cukup penting untuk kemenangan Sunrise hari ini, Arkan mencetak 4 poin dan itu sudah cukup impresif untuk pemain muda debutan seperti Arkan.
Nara sangat bangga, begitupun dengan Azka. Tak ada yang bisa mencegah rasa bangga mereka. Mereka masih bertahan di bangku penonton menatap bangga ke arah putra mereka yang baru saja menyelesaikan pertandingan.
"Ya ampun sayaang, lihat anak kita, gagah ya! 4 poin yang dia cetak adalah pencapaian yang cukup manis!" kata Nara bangga.
"Ya, Arkan hebat! Dulu, aku bahkan tak mendapat menit bermain di pertandingan pertama pembukaan musim baru!" sahut Azka.
"Waah, keren banget deh anak kita! Lihat ... udah cakep, jago, duh ... beruntung banget ya yang nanti jadi menantu kita say!"
Azka hanya tersenyum menanggapinya. Rasanya lucu saja kalau Nara sudah menyinggung soal menantu. Azka sampai tak percaya kalau bayi kecil yang dulu dia buai dalam dekapannya kini sudah tumbuh dewasa.
Arkan melempar senyum kepada keduanya dari tengah lapangan dan Nara membalas senyumnnya dengan lambaian tangan penuh semangat.
'Lo benar-benar gak datang Han Yura! Heh,' batin Arkan dan saat dia ingat Yura, dia merasa agak kecewa, lagi.
***
Yura bangun pagi sekali, dia mandi dengan sabun aroma therapi kemudian berdandan santai dan menikmati paginya yang terasa damai. Yura bahkan masih menggulungkan handuk di kepalanya. Dia duduk di dipan dekat jendela menikmati aroma udara pagi yang menyejukan jiwa.
SRUUPPP, dia teguk teh hangatnya pelan-pelan.
'Aaah, pagi yang sempurna!' batinnya, dia seperti sedang bermediasi di depan jendela yang dia buka lebar-lebar itu.
GRUUUNG, sampai kedatangan Zahran merusak kedamaian paginya. Seketika dahinya mengerut dan bibirnya manyun sampai beberapa senti. Jelas sekali kalau saat ini Yura sangat tidak suka dengan kedatangan pria bergaya urakan itu.
'Iiiih, ngapain sih dia datang lagi dan lagi, ganggu aja!' batinnya lalu dia cepat-cepat meninggalkan tempatnya berdiri sekarang. Dia tak ingin melihat Zahran atau Zahran melihat ke arahnya.
TIDIIIT, TIDIIIT
Zahran membunyikan klakson beberapa kali. Yura yang duduk di meja rias sampai menutup telinganya dengan kedua jarinya.
DRRD ... DRRDD ... Zahran juga mencoba menelepon Yura dan Yura tak mempedulikannya. Pokoknya Yura tak ingin bertemu Zahran saat ini. Sosoknya sudah menjadi duri dalam hidupnya, Yura tak ingin mentolerinya lagi.
***
Hari-hari di London, Keita sangat merasa hampa. Hari-hari penuh semangatnya kini berganti menjadi hari kelabu penuh kebencian. Dan disaat seperti itu, Dara selalu mencoba memanfaatkan walau awalnya dia gagal dan gagal lagi.
"Please! Move on dong Kei!" ucapnya lalu menepuk punggung Keita yang sore ini hanya duduk di sebuah bangku kayu di depan kampusnya yang luas.
"Heh, lo pikir itu mudah? 3 tahun? Bukan waktu yang singkat Dar! Dan gue, gue masih gak percaya aja, gue rasa, ada sesuatu di balik ini semua!" ungkap Keita dan DEG, Dara agak tersindir tapi kemudian Dara buang jauh-jauh rasa gugup dan salah tingkahnya. Misinya harus tetap berjalan tak peduli Keita masih bersikap dingin padanya.
__ADS_1
"Ya, segala kemungkinan pasti terjadi! Apalagi kalian hubungan berjarak ribuan mil! Kamu gak bisa mengawasi dia dan sebaliknya pun begitu!"
"Tapi sebelum fakta ini terungkap, gue gak menaruh curiga sedikitpun sama dia! Dia bukan tipe-tipe orang seperti itu!"
"Heum, tapi nyatanya?" Dara masih saja usaha untuk membuat Keita semakin membenci Yura. Keita bangkit dan ingin pergi. Obrolannya tentang Yura bersama Dara membuatnya merasa tidak nyaman, Dara membuatnya semakin sesak.
'Lihat aja Kei! Sebentar lagi lo akan jatuh ke pelukan gue! Lo gak akan bisa menghindar lagi!' tekad Dara penuh ambisi.
***
Sejak kehadiran Zahran, Yura jadi jarang keluar rumah. Dia mencoba menyibukan diri sendiri. Yura tak peduli walau setiap pagi Zahran datang dan membunyikan klakson sepeda motornya dengan lantang.
Selama ada di rumah Yura mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Dia terus melakukan percobaan untuk mendapat hasil karya kue yang lebih baik lagi setiap harinya, dan dia berhasil.
Semakin banyak yang order dan itu membuat dirinya senang pun tenang menghadapi polemik peliknya. Sampai satu hari Yuki menelepon memberinya nasihat.
"Kalau ada masalah bicarakan baik-baik!" kata Yuki, Yura hanya mampu diam. Dia tak bisa memberitahukan fakta yang sebenarnya pada siapapun kecuali pada dirinya sendiri dan pada Alika.
"Iya Ayah," sahutnya pasrah.
"Ya, Ayah tahu kalian belum terlalu dewasa untuk menjalani hubungan jarak jauh seperti ini tapi, kalau semua salah ada padamu, Ayah juga tak percaya begitu saja!"
'Ini semua salahku Ayah! Aku yang bodoh karena rela menukar kebahagiaanku dengan cemoohan orang-orang! Andai semua orang tahu ....' batinnya dan lamunannya melabur.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa cepat hubungi Ayah ya! Ayah tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu!" kata Yuki, membuat Yura kembali merasa semangat.
"Iya Ayah, terima kasih banyak!"
Setelah Yuki menelepon, perasaan Yura juga semakin terasa lebih baik. Yuki memang tak pernah menghakimi Yura secara sepihak, sosok Yuki hampir sama dengan sosok mendiang Ayahnya. Dan Yura sangat bersyukur bisa memilikinya.
Zahran datang lagi,bahkan kini dia berani membuka gerbangnya sendiri dan menunggu Yura di depan pintu rumah.
"Astaga? Kamu buka gerbang rumahku sendiri?" omelan Yura menyambut, Zahran masih bertahan dengan sikap menyebalkannya, innocent.
"Tadinya gak niat langsung masuk, tapi tadi gerbang rumah lo gak tertutup rapat, gue khawatir dong makanya sekalian aja gue masuk, gue takut ada apa-apa sama lo!" dalihnya, dan ya tadi Yura memang lupa tak mengunci gerbangnya.
"Ada apa lagi?" tanya Yura kekik.
"Gue mau ajak lo makan siang di luar, mumpung gue libur dan kemarin gue baru aja gajian!" ajak Zahran benar-benar tanpa rasa bersalah sedikit pun, Zahran juga menganggap kalau Yura tampak baik-baik saja saat ini.
"Gak, makasih! Aku sibuk!" tolak Yura mentah-mentah. Sungguh, tak pernah sekalipun Yura bersikap seketus ini pada seseorang sebelumnya. Yura hanya bersikap ketus pada Zahran saja karena ia memang sangat menyebalkan.
"Ayolah! Waktu itu lo gak suka baksonya?" bujuk Zahran.
"Aku belum begitu lapar! Udah ya, aku masih ada banyak pekerjaan!"
"Ayolah ...." bujuk Zahran lagi bahkan dia menarik tangan Yura tiba-tiba, sontak Yura menghempasnya.
"Jangan maksa! Kita sebelumnya gak pernah saling mengenal, jangan sok akrab!" kecam Yura, sungguh, hanya pada Zahran saja Yura bersikap sekeras ini.
"Lo benar-benar gak menghargai ajakan orang ya? Dara bilang lo orangnya baik hati dan gak sombong! Sialan ternyata si Dara salah besar!" rutuki Zahran, heh ... ingin rasanya Yura melempar senyum kecut berkali-kali.
"Aku gak pernah ikuti ajakan orang asing!"
"Orang asing?"
"Ya, kamu kan orang asing! Aku gak kenal kamu sebelumnya! Jadi berhenti sok akrab dan satu lagi, apa kamu gak pernah berpikir kalau kamu salah? Hey sadarlah! Kamu sudah membuat hubungan baik seseorang menjadi sangat renggang! Bahkan kini semua orang membenciku!" Yura mengomel dengan kecepatan turbo dan Zahran? Dia tetap mencoba mendengarkan dengan ekspresinya yang tengil.
"Udah ya! Ngomelnya sama si Dara aja, lusa dia pulang ke Jakarta sama mantan pacar lo itu!"
__ADS_1
Baru lah kabar dari Zahran menghentikan omelan Yura. Apa yang Zahran katakan membuatnya terdiam. Lusa? Dara dan Keita akan pulang ke Jakarta? Yang benar saja, apa yang akan Keita lakukan?
"Ya sudah, kamu juga harus siap-siap dapat bogem mentah dari Keita!"
"Heh, kenapa dia lakukan itu? Yang salahkan elo? Yang udah selingkuhin dia, sesuai skenario ... gue awalnya gak tahu kalau lo punya pacar jauh di London sana, ya ini semua sih salah lo aja!"
Ingin rasanya Yura meremas muka inocent Zahran.
"Pulang! Aku teriak nih!" ancam Yura, dia sudah tak tahan dengan sikap tengil Zahran.
"Heh, ya udahlah kalau gak mau ikut gue! Sampai besok lagi ya, gue akan datang setiap hari!" akhirnya Zahran pergi juga, berlalu meninggalkan kedamaian Yura yang kembali terusik.
"Bye pacar!" seru Zahran saat dia sudah berlalu dari gerbang dan merapatkannya lagi.
"Jangan lupa kunci gerbangnya!" seru Zahran lagi saat dia sudah ada di luar gerbang rumah Yura.
Yura tak tahan, dia masuk saja ke rumah dan kembali membenamkan dirinya di sofa di ruang tengah. Minggu-minggu dan hari-hari yang berat untuknya. Yura pikir dengan berkorban seperti ini dia tak akan mengalami perasaan tertekan sampai berminggu-minggu lamanya, ternyata masih banyak kenyataan pahit yang harus dia terima.
***
Yura mencoba tak peduli, dia menyibukan lagi dirinya. Dia belanja kebutuhan produksi kuenya di sebuah super market besar, dia susuri lorong-lorong super market dan mengambil satu persatu bahan-bahan yang dibutuhkannya.
"Tepung dengan protein sedang udah, gula pasir, margarine ...." Yura mengabsen belanjaannya sembari memberi ceklis pada daftar belanja yang dia bawa.
BRAK, sampai fokusnya buyar saat trolinya dan troli seseorang di depannya bertabrakan. Yura mengangkat wajahnya dan kenapa dia tiba-tiba bertemu Arkan dan Rado di lorong super market seperti ini. Yura terpaku ....
"Aduh mbak, hati-hati dong! Belanjanya jangan sambil main hape, bisa gak?" gerutu Rado yang mendorong trolinya, Yura masih agak kesal dengan Arkan. Dia jadi serba salah antara mengabaikan atau menyapa Arkan yang juga bersikap dingin padanya. Jika Yura abaikan maka citranya akan semakin jelek tapi jika Yura menyapa dia juga takut Arkan akan mengabaikan sapaannya.
"Iya maaf," ucap Yura pada Rado.
"Lah, trolinya jadi nyangkut kan?"
Rado sibuk melepaskan troli mereka yang saling berpautan. Yura benar-benar serba salah tapi akhirnya.
"Hai Kak, selamat ya, debut yang manis!" kata Yura pada Arkan sampai Rado menoleh dan memastikan kalau Yura menyapa rekannya itu.
"Jadi lo marah dan gak datang dipertandingan pertama gue?" sapa balik Arkan masih dengan sikap yang dingin, Rado makin bengong. Ternyata pemilik troli yang menabrak trolinya itu kenal dengan Arkan.
"Maaf, aku sibuk!"
"Ya, sibuk sama pacar baru lo itu kan?" Arkan kembali melontarkan kata-kata sinisnya.
Yura tak ingin situasi semakin panas, dia pun membantu Rado melepaskan pautan trolinya. Rado menatap ke arah Arkan.
"Saling kenal?" bisik Rado.
Yura malah masih berjibaku karena pautannya begitu kencang dan Arkan membantunya, GAP, Arkan memegang tangan Yura lalu menyingkirkannya. Yura terdiam lagi karena Arkan menyingkirkan tangannya tanpa bicara apa-apa.
"Yuk, tarik Ar!" kata Rado, pria-pria tinggi besar itu lah yang akhirnya berhasil melepaskan troli-troli mereka. Yura menyesal harus bertemu Arkan saat ini tapi ya mau bagaimana lagi?
"Ternyata, sesuatu yang berpautan dengan erat juga bisa dilepas juga!" kata Arkan dan Yura tahu kalau kalimatnya itu mengandung sindiran pedas terhadapnya.
"Maaf ya, sekali lagi!" kata Yura lalu dia membungkukan badannya tanda dia sangat meminta maaf pada Rado dan Arkan.
"Ya, hati-hati ya!" kata Rado lalu dia dorong trolinya menjauh sejenak meninggalkan Yura dan Arkan berdua saja.
"Setelah ini gue bisa memperlakukan lo sesuka hati kan?" tanya Arkan sembari memicingkan matanya pada Yura yang tampak sangat bodoh saat ini.
Arkan berlalu mengikuti Rado yang semakin menjauh. Yura kesal, marah, kecewa, sedih dan emosinya kembali bergejolak. Dia ingin merutuki sikap bodohnya selama ini, karena nestapa ini berawal dari sana.
__ADS_1