
"Kamu gak bisa seperti Keita kan? Menjalani long distance realtionship sampai bertahun-tahun, rasanya ... aku bisa saja seperti si Yura, bahkan sekarang kita dekat, gak jauh lagi!" Alana masih ingin membahas pasal hubungan gantungnya dengan Arkan yang masih berdiri di depannya saat ini.
"Kita lihat aja nanti," sahutnya enteng dan singkat, Alana semakin meragukan kesungguhan Arkan. Rasanya sakit sekali, tapi mau bagaimana lagi? Alana tak ingin memaksakan kehendaknya, dia benar-benar tak ingin membuat Arkan jemu. Dia akan tetap setia menunggu.
"Semoga masa depan hubungan kita bisa cerah dan jelas! Gak samar lagi seperti sekarang ini," ujar Alana lalu melengos begitu saja menghampiri Yura yang masih memilih-milih dress di pojok butik.
Arkan terdiam, dia tahu selama ini dia sedikit keterlaluan karena sudah menggantung hubungannya dengan Alana. Tapi Arkan tak bisa berbohong, dia masih belum yakin dengan perasaannya pada Alana dan jujur saja, Arkan malah merasakan sesuatu yang lain pada Yura walau dia sendiri sadar kalau menginginkan Yura adalah kesalahan besar karena sudah sangat jelas kalau saat ini Yura adalah milik sahabatnya sendiri, Keita.
"Yang itu bagus," ujar Alana cukup mengejutkan Yura yang sedang mengamati sebuah dress di tangannya.
"Oh, iya Kak, ini bagus tapi gak tahu kalau aku yang pake? Rasanya terlalu terbuka ya Kak?" tanya Yura, dia tetap humble dan menghargai Alana sebagai Kakak kelasnya.
"Menurutku gak terlalu terbuka sih, pasti si Keita pangling kalau lihat kamu pakai itu!"
"Heumm, gitu ya Kak? Iya deh aku ambil yang ini aja, tapi aku tanya Kak Arkan dulu ya?" Yura malah menambah rasa kesal di hati Alana saat dia beranjak menghampiri Arkan lagi untuk meminta pendapat.
'Heh, lebih berbahaya dari yang aku kira!' batinnya kesal, sepertinya Alana kini sudah menganggap Yura sebagai ancaman besar.
"Kak, lihat deh! Ini bagus gak?" tanya Yura lalu dia rentangkan dress warna gelap itu pada Arkan. Arkan malah melirik ke arah Alana yang hanya berdiri jauh di belakang Yura, mungkin saja Arkan merasa cukup bersalah karena selama ini dia selalu membuat Alana menunggu dan kecewa.
"Bagus!" jawabnya singkat.
"Ya udah deh, aku ambil yang ini aja, semoga Kak Kei suka nanti," harap Yura lalu dia beranjak menuju Alana lagi dan bersiap untuk membayar.
Selepas itu, tak ada lagi interaksi berarti antara Alana dan Arkan bahkan Alana langsung masuk ke ruang kerjanya saat Yura membayar di kasir. Alana sepertinya tak ingin berpamitan karena dia tak tahan dengan rasa jealousnya. Dia tak suka melihat ada gadis lain yang duduk di mobil pujaan hatinya itu.
'Kenapa kamu lakukan ini Arkan! Apa kurangnya aku dibanding dia?' batinnya meradang, dia nikmati rasa panas di hatinya sendirian saja di ruang kerjanya itu.
Yura senang karena dia sudah menyempurnakan rencana kejutannya untuk Keita. Dia tak sabar ingin cepat-cepat hari ulang tahun Keita tiba.
__ADS_1
"Sumpah deh, Kak Alana itu keren banget! Aku yakin suatu hari dia pasti bisa jadi designer kondang, wah, hebat ya Kak Alana!" Yura masih terus melontarkan kekaguman dan pujiannya tanpa sadar kalau saat ini Alana begitu cemburu padanya.
"Semoga," sahut Arkan.
"Kalian tuh benar-benar pasangan yang ideal! Atlet Basket yang hebat dengan designer muda berbakat! Heum, sempurna!"
"Pasangan?"
"Iyaa, kalian adalah pasangan yang sangat, sangat, sangat sepadan!"
"Heh," Arkan malah menanggapinya dengan senyum hambar, dia kembali merasa tersentil.
"Gak kerasa, waktu berjalan terus. Usia kita semakin bertambah, kita semua semakin dewasa dan rencana kita untuk ke depannya juga hanya pernikahan! Kita sudah gak bisa main-main lagi kan?"
"Apa lo sudah punya rencana itu sama Keita?"
Arkan tampak malas saat Yura mengajaknya membahas topik yang membuatnya penat. Tapi dia bisa apa? Kalaupun kelak Yura dan Keita tak berjodoh, rasanya berat sekali untuk mengambil kesempatan karena Arkan merasa itu akan menimbulkan anggapan yang kurang baik, rumit memang apa yang dia rasakan saat ini.
"Kak Arkan sama Kak Alana juga pasti berakhir di pelaminan, kalian tuh cocok banget! Couple goals banget deh," cetus Yura, lagi-lagi Arkan merasa getir. Ia merasa apa yang orang-orang pikiran benar-benar meleset dari kenyataannya.
"Oh iya Kak, kenapa tadi kita gak ajak Kak Alana juga ya buat makan malam bersama sama tante Nara dan Om Azka?" lagi dan lagi Yura membahas Alana.
"Apa lo masih menganggap gue sama Alana punya hubungan spesial?" tanya Arkan cukup mengejutkan Yura, tentu saja, pikir Yura.
"Benar begitu kan?"
"Salah!"
Yura terkejut, jadi selama ini Arkan dan Alana tak punya ikatan apa-apa? Padahal mereka selalu bersama bertahun-tahun ini. Yura benar-benar tak percaya tapi Yura merasa Arkan tak mungkin berbohong dan membual.
__ADS_1
"Ke-kenapa? Kalian kan sama-sama terus?"
"Entah, tapi kenyataannya memang seperti itu!"
"M, okey. Rasanya aku kepo banget alasannya apa, tapi itu ranah pribadi Kak Arkan, sayang banget ya!"
"Kenyataannya gak semanis yang orang-orang kira, ironis banget kan?" Arkan tersenyum getir. Ironis karena dia sangat ingin mengungkapkan bahwa ada perasaan mengganjal dalam hatinya dan mungkin jawabannya adalah 'Yura'.
"Ya, itu memang pilihan, semoga kelak kalian bisa bersama dalam ikatan yang baik."
'Heh, semoga! Dan semoga gue bisa menyingkirkan lo dari benak gue, Han Yura!' batin Arkan, ya sepertinya benar kalau saat ini Yura lah yang masih mendominasi di benak dan hatinya.
Se-dahsyat itu pesona seorang Han Yura sampai membuat lelaki sepopuler Arkan dibuat gamang. Yura memang contoh dari kesederhanaan yang mengalahkan kemewahan. Tapi, ada sesuatu yang tak tampak oleh kasat mata yang membuatnya begitu istimewa, yaitu ketulusan hatinya. Arkan tahu kalau Yura telah melewati aral dalam kehidupannya dan Arkan melihat kebesaran hati yang kuat.
Sayangnya, Yura sudah lebih dulu dimiliki oleh sahabat baiknya. Dilema besar yang tak bisa dia hindari, berat memang tapi Arkan harus terima kenyataan itu. Lagipula saat ini dia sudah mendapat cita-cita terbesarnya selain cinta, yaitu karir di Basket.
"Oh iya, kapan kompetisi musim baru dimulai Kak?" tanya Yura mencoba mencairkan suasana di sisa perjalanan.
"Pekan depan," sahutnya singkat.
"Waah, gak sabar rasanya, aku akan nonton di tribun paling depan Kak!" sambutnya penuh semangat.
"Semoga gue dikasih jam bermain!" harapnya.
"Pastilah, bukan gak mungkin Kak Arkan juga akan langsung masuk squad inti."
"Semoga."
Mereka akhirnya sampai di kediaman Arkan, dan Yura tak sabar untuk menemui Nara dan Azka, dua orang yang juga menyayanginya seperti anak mereka sendiri.
__ADS_1