Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Trauma Azka


__ADS_3

Sarapan pagi...


Azka dan Nara duduk berdua di meja makan, hari ini Nara yang masak dan Azka selalu punya semangat lebih kalau istrinya yang memasak. Gak bisa di pungkiri kalau kecakapan Nara di dapur menjadi salah satu alasan Azka sayang maksimal pada Nara.


"Oh iya, ada yang mau aku bicarakan," kata Nara memulai obrolan di meja makan.


"Bicarakan lah!" ujar Azka.


"Aku mau minta bantuan kamu,"


"Bantuan apa?"


"Cafeku kan agak sepi sekarang, mungkin aku kurang promosi dan innovasi..." Nara memulai, tapi sebenarnya dalam hati dia ragu meminta bantuan ini pada Azka karena dulu Azka pernah bilang pada Budi saat Cafe hendak berubah fungsi menjadi gym, Azka tidak mau wajahnya terpangpang di muka umum.


"Terus apa yang bisa ku bantu?"


"Kata Lulu, hampir 60% pengunjung cafe tuh fansnya Sunrise...Nah, aku pikir aku butuh kamu buat jadi objek promosi, mau yaaaah..." bujuk Nara, hatinya ragu pasti Azka akan memikirkan hal ini untuk waktu yang cukup lama.


"Jadi??" tanya Azka, dia menghentikan kegiatan makannya lalu memperhatikan Nara.


"Rencananya aku mau bikin Stan poster buat di pasang di depan cafe, nah...aku mau kamu jadi modelku," ungkap Nara, ekspresi Azka belum dapat diprediksi, masih datar dan belum menunjukan indikasi setuju atau menolak.


"Aku cuma perlu foto kamu kok, aku yakin kamu pasti bisa menarik perhatian para pelangganku lagi..." bujuk Nara lagi, Azka belum menjawab dia lanjutkan sarapannya.


"Kalau aku bayar model asli, aku butuh modal lagi buat sewa model yang punya popularitas, kan sayang uangnya, mending aku pake buat kebutuhan Arkan! nah, kalau kamu kan suamiku, punya cukup popularitas apalagi lagi di kalangan para suporter Sunrise!" Nara masih melancarkan bujukannya.


"Kamu kan tahu sendiri..." kata Azka tapi tidak begitu jelas, tapi Nara tahu kalau Azka pasti akan menolak permintaannya.


"Kamu tahukan aku juga pernah di tawari jadi Brand ambassador sebuah produk kesehatan? aku tolak, karena aku gak suka posterku di pajang di muka umum!" jelaskan Azka, ya itu memang benar. Setelah menikah pun banyak tawaran iklan untuk Azka dan dia selalu menolak karena dia memang sedikit krisis kepercayaan diri. Dia tidak mau potretnya dinikmati khalayak ramai.


"Iya sih..." ujar Nara pelan dengan nada kecewa.


"Kamu cari model lain aja, nanti aku bantu buat biaya promosinya!"


"Gak ah, sayang uangnya! ini bukan soal aku gak ada biaya, tapi buat efektifitas anggaran juga! ya udah sih kalau gak mau gak apa-apa..." Nara makin tidak semangat, dia lanjutkan kembali sarapannya dengan malas dan Azka tahu itu.


"Maaf ya..." kata Azka yang mulai merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa!" sahutnya dengan senyuman hambar.


"Oh iya, hari ini jadi kamu titipkan Arkan ke rumah ibu?" tanya Azka mengalihkan topik obrolan.


"Iya," jawabnya singkat, hatinya masih kecewa dan kesal.


"Ibu pasti senang!"


"Ya udah aku mandikan dia dulu!" kata Nara lalu dia beranjak dari meja makan.


Sebenarnya Azka tahu kalau istrinya sangat kecewa padanya tapi dia juga tak bisa memaksakan diri jadi model untuk produk cafe Nara, karena dia memang paling anti jadi perhatian publik kecuali jika berhubungan langsung dengan profesinya sebagai Atlet basket.


***


Nara dan Azka mengantar Arkan ke rumah keluarga besar, hari ini rencananya Arkan akan di titipkan pada ibu karena Nara ingin memulai kembali fokus pada Cafenya.


Ibu senang bukan main saat cucu kesayangannya datang, dia memang tak bisa mengalihkan perhatiannya pada baby Arkan yang mencuri seluruh kasih dan sayangnya. Begitupun dengan kakek, disisa umurnya ini dia merasa lengkap dan bahagia karena dia masih diberi kesempatan untuk momong cicit se-menggemaskan Arkan.


"Ibu akan menjaganya dengan sangat baik! gak usah cemas ya!" kata ibu menenangkan hati Nara.


"Iya bu, Arkan anteng kok dan sebentar lagi jam tidur siangnya, paling kalau ngantuk dia rewel sebentar..." sahut Nara.


"Kami pergi dulu ya!" pamit Nara, lalu mencium pipi Arkan sebelum dia benar-benar pergi.


"Bye..bye.. papa mama, Arkan gak akan rewel.. papa mama gak usah cemas yaaaa..." kata ibu belagak seolah Arkan yang bicara dan itu senguuh sangat menghangatkan suasana. Nara memang tak perlu cemas meninggalkan Arkan bersama ibu dan kakek yang sungguh sangat menyayanginya.


Dalam perjalanan menuju cafe, kebetulan siang ini Azka juga akan menjalani latihan rutin.


"Kenapa sih kamu gak pernah mau jadi model iklan? padahal kan lumayan buat nambah penghasilan, kamu juga bisa dikenal banyak orang!" tanya Nara yang sebenarnya masih kecewa dengan penolakan Azka tadi pagi.


Azka hanya tertawa kecil...


"Jujur aja, aku takut.." sahutnya.


"Takut kenapa?" tanya Nara antusias.


"Takut aja kalau suatu saat gambarku jadi media imaginasi liar para groupis! gak deh, gak bisa dibayangkan!"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kamu mau tahu sejarahnya kenapa aku anti seperti ini?"


Nara benar-benar penasaran, diapun segera memperhatikan Azka dengan seksama.


"Iya iya ceritakan lah, aku benar-benar penasaran kenapa kamu seperti takut sekali kalau postermu di pajang di muka umum,"


"Oke, jadi awal debut aku udah pernah jadi ikon untuk produk Suplemen, pemotretan berjalan lancar dan aku yakin kalau posterku yang bertelanjang dada akan sangat terlihat cool," Azka mulai bercerita dan Nara menyimaknya.


"Iya iya, aku ingat...dulu aku pernah lihat postermu seliweran dipapan reklame dijalan-jalan raya..." kenang Nara heboh saat ingat poster Azka memang cool dan keren.


"Nah itu, tapi sebenarnya yang buat aku mulai anti itu karena kejadian mengerikan lainnya sih..."


"Apa itu?"


"Jadi, Pradit gak sengaja menemukan sebuah akun fans fanatik Sunrise...mungkin karena terlalu kreatif dan imaginasinya terlalu liar, dia mengedit foto itu seolah-olah dia ada di sampingku dalam keadaan 'barenaked', huh...aku benci ingat hal itu!" Akhirnya kebenarannya terungkap, Nara bahkan baru tahu kalau Azka pernah jadi korban netijen yang tingkat halunya sudah sangat sempurna.


"Oh ya?" yakinkan Nara.


"Bahkan, bukan cuma satu orang aja...aaah, aku gak mau membayangkannya lagi!"


"Hehe, jadi...kamu pernah jadi objek halusinasi para groupis ya? ya ampun, aku jadi penasaran sama hasil editan poster kamu itu..." goda Nara.


"Gak usah, aku yakin kamu pasti akan marah melihat kegilaan para fans fanatik Sunrise,"


"Ya ampun, mereka tuh sampai segitunya ya sampai buat suamiku ini jadi alergi dan anti go public seperti ini..." goda Nara lagi.


"Jadi, kamu jangan marah ya...itu memang alasanku kenapa gak bisa bantu kamu saat ini," kata Azka lalu meminta maaf, Nara kini mengerti, dia mengangguk lalu tersenyum pada Azka.


" Iya aku ngerti, tapi kamu harus mulai menghilangkan rasa takut itu! percaya diri saja dan jangan pikirkan ulah fansmu itu!"


"Tapikan kelakuan oknum itu sudah kelewatan, bahkan dia lampirkan tulisan-tulisan bernada erotis di poster itu.. huh, menyebalkan!" gerutunya saat dia ingat lagi pengalaman buruknya itu.


"Mereka gak berhak lagi melakukannya, sekarang pria keren dalam poster itu sudah sah jadi milikku!" kata Nara membuat Azka tersanjung.


Ya dan akhirnya Nara mengerti dan dia sudah memaafkan Azka atas penolakannya tadi pagi. Dia tidak mungkin memaksakan Azka melakukan apa yang sangat dia takutkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2