Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Dorongan Keita dan kawan-kawan


__ADS_3

Keita marah, Keita kecewa pada dirinya sendiri karena dia merasa apa yang Yura alami saat ini mungkin saja karena sikap kerasnya terhadap Tania.


Dia tak kuasa melihat keadaan Yura langsung, dia hanya duduk di bench tunggu di lorong sepi itu. Arkan juga tak tega melihat Yura begitupun dengan Vano.


"Gue yang bodoh! Harusnya gue tahu kalau si Tanis itu se-buas ini!" ucap Keita penuh sesal.


"Itukan baru dugaan Kei, kita tunggu dulu hasil penyelidikan!" tenangkan Vano.


"Jadi lo pikir Yura jatuh dengan sendirinya? Lo pikir dia baru belajar berjalan di tangga rumahnya itu?" bentak Keita penuh emosi.


"Yaaa gak gitu juga mungkin," sahut Vano lalu dia menunduk takut saat Keita marah seperti itu.


"Gue yakin! Gue yakin banget! Makanya jangan sampai si Tania masuk ke ruangan itu, jangan kasih dia kesempatan buat mengintimidasinya lagi!"


"Lo gak usah cemas!" kata Arkan lalu menepuk punggung Keita mencoba menenangkan.


"Ini bukan hal biasa Ar! Ini masalah serius dan jangan biarkan si Tania lolos! Dia hampir membunuh Yura!"


"Iya gue ngerti perasaan lo! Tapi, setelah ini bokap nyokap gue berencana mengambil alih hak asuh si Yura dari Ibu sambungnya itu!" kabarkan Arkan, Keita dan Vano semakin antusias dengan kabar baik dari Arkan barusan.


"Serius Ar? Jadi dia bakalan jadi sodara angkat lo?" tanya Vano.


"Belum tahu, tapi rencananya Tante Lulu sama Om Yuki yang nanti bakalan mengangkat si Yura jadi anak mereka! Nyokap gue cuma sebagai jalan, kita semua pengen yang terbaik kan buat dia?"


Kata-kata Arkan membuat Keita tenang, dia berharap rencana baik itu akan terwujud. Dia sudah tak tahan melihat betapa menderitanya Yura, gadis yang beberapa waktu ini sudah mulai menempati ruang terdalam dalam hatinya.


"Mudah-mudahan prosesnya lancar dan gak ada sengketa atau gugat menggugat! Kasihan banget si Yura, kok kalau lihat dia gue berasa kayak punya adek!" harap Vano.

__ADS_1


"Lo setuju kan Kei?" tanya Arkan.


"Ya gue setuju banget lah! Yura pantas dapat kehidupan yang lebih baik!" sahut Keita.


Ya, dan saat ini Lulu mau pun Yuki sudah ada di ruangan Yura. Lulu sampai menangis berderai air mata dan tak mau enyah dari samping tempat Yura berbaring sekarang.


Yura belum bisa banyak bergerak, dia hanya merespon dengan lirikan atau senyuman. Mungkin dia masih merasakan sakit di kepalanya.


"Yuraa, kamu ikut saya ya? Please! Saya janji, saya gak akan mengabaikan kamu! Saya akan jadi Ibu yang baik buat kamu!" bujuk Lulu, dia memohon dengan sangat.


"Gue udah ngomong sama Ibunya Lu, dan sepertinya dia menyerahkan semuanya pada keputusan Yura!" kata Nara memberi angin segar untuk Lulu.


"Benarkah?"


"Ya, kita tunggu Yura sampai pulih ya! Kita juga harus memberi ruang dan kesempatan buat Yura memikirkan ini matang-matang! Tapi gue yakin, lo akan mendapatkan keputusan terbaik!" kata Nara, Yura hanya tersenyum dan Lulu harap itu adalah sinyal positif untuknya.


"Yuraaa,"


Ibu tak tahan lama-lama ada di rumah sakit, dia tak tahan dengan pandangan penuh curiga dari orang-orang. Dia pun memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan Tania. Dia juga tentu saja mencemaskan kondisi mental Tania yang semalam sudah menjelma jadi monster jahat yang menyeramkan sampai mengakibatkan Yura hampir meregang nyawa.


"Sayaaang!" sapa Ibu, saat Ibu datang Tania sedang santai menyantai mie instan dalam cup, tak ada rasa cemas, takut ataupun rasa bersalah dalam dirinya saat ini.


"Si Yura gak jadi mati?" tanyanya santai sekali, dan kini Ibu mulai cemas kalau anaknya itu memiliki sikap pshyco.


"Ibu mohon, jangan bersikap seperti ini!" kata Ibu penuh emosi.


"Bersikap bagaimana? Kalau dia lenyap, hidupku akan tenang bu!"

__ADS_1


"Tania, Ibu mohon!" belum juga kering airmatanya Ibu kembali harus kembali menitikannya pagi ini. Dia sangat khawatir dengan sikap Tania saat ini


"Apa ini artinya Ibu membela dia? Apa ibu menyalahkan aku, huh?"


"Bukan begitu, tapi apa yang kamu lakukan semalam itu gak benar sayang, Ibu mohon, sadarlah!"


"Terserah, pokoknya aku gak mau sekolah lagi, aku gak mau ketemu orang-orang lagi! Aku juga gak mau melihat si Yura lagi! Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini? Kenapa? Apa benar dia itu anak yang baik? Begitu?" Tania meracau dan dia tak bisa mengendalikan emosinya, Ibu rasa dia harus membawa Tania untuk konseling tapi dia rasanya tak punya waktu untuk itu, bahkan hari ini adalah kesempatan terakhir dia tinggal di rumahnya ini karena sebentar lagi pihak bank akan segera datang menyita tempat bernaungnya ini.


Ibu menyesali nasibnya, dia hanya belum menyadari kalau apa yang dia alami saat ini adalah balasan atas semua sikap tidak adilnya terhadap Yura selama ini.


Nara, Lulu, Azka dan Yuki memberi kesempatan untuk Arkan dan kawan-kawan. Saat ini giliran mereka yang menemani Yura dalam ruang itu.


"Maafin gue ya," kata Keita, dia lah yang berdiri lebih dekat dengan Yura saat ini. Yura hanya tersenyum.


"Astaga ade gue! Andai kita tahu apa yang akan lo alami semalam!" kata Vano kali ini, bahkan Vano pun merasa Yura adalah adiknya.


"Lo udah pertimbangkan tawaran tante Lulu kan?" tanya Keita, Yura tak menjawab dan masih menukas dengan senyuman.


"Gue harap senyuman itu berarti 'iya'!" harap Keita.


"Mereka itu orang baik! Jangan sia-siakan kesempatan ini! Lo juga pantas mendapat perhatian dan kasih sayang mereka!" kata Arkan kali ini, dia mencoba mendorong Yura untuk mengambil keputusan terbaik.


'Benarkah? Apa benar ini kesempatan baik? Aku cuma takut kalau suatu hati aku gak bisa membalas budi mereka! Aku juga takut mengecewakan mereka! Tuhan, apa aku harus menerimanya? Apakah benar ini kesempatan untuk hamba?' ungkap Yura dalam hati, dia masih membatasi geraknya karena dia ingin segera sembuh dan pulih.


"Lo gak usah kerja lagi di cafe nyokap gue! Lo jadi punya lebih banyak waktu buat belajar dan menikmati masa-masa remaja lo!" dorong Arkan lagi.


"Makin banyak waktu buat kita hangout bareng lagi, dan pastinya lebih banyak waktu buat diapelin si Kei, ciee ciee!" tambah Vano lalu menggoda, dia membuat suasana sendu jadi sedikit cair dan ceria.

__ADS_1


Keita tersenyum malu, dia sedang membayangkannya.


"Jadi gue harap, lo putuskan sebaik-baiknya setelah lo pulih nanti! Dan lo tahu kan keputusan terbaik itu apa?" tanya Arkan dan kini Yura benar-benar sudah mendapatkan keputusannya.


__ADS_2