Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
NO OTHER


__ADS_3

"Tolong aduk ikannya Kak, takutnya bumbunya gosong!" kata Yura yang sibuk mengerjakan yang lainnya. Dia sedang beraksi layaknya chef profesional dan Arkan adalah asistennya.


"Heum," dengan sigap Arkan melakukannya.


"Cicip juga Kak, apa seasoning-nya udah pas?" pinta Yura lagi, dan Arkan juga melakukannya dengan cepat, dia terburu-buru tanpa perhitungan sampai lidahnya kepanasan.


"Aaw!" ringisnya pelan, Yura menoleh dan cukup panik melihat hal itu. Menyiapkan makan malam bersama ternyata tak mudah walau momennya sudah sangat manis tapi masih saja ada insiden kecil.


"Ya ampun, hati-hati dong Kak!" kata Yura dan seketika dia mendekat dan melihat apa yang terjadi dengan lidah Arkan.


"Gak apa-apa kok! Its okay!"


Tanpa sadar Yura replect memegangi area mulut Arkan sampai hal itu membuat mereka stuck untuk beberapa saat. Saling berpandang dan terjebak dalam moment yang cukup intim seperti itu.


Dan ketika sepasang netra yang tengah jatuh cinta itu saling menjebak, maka pagutan bibir pun tak bisa dihindari. Arkan merebut bibir Yura dengan liar. Dia sampai harus membungkukan tubuhnya yang jangkung agar bisa meraih bibir ranum milik kekasihnya itu.


Kiss, kecupan manis namun penuh gairah sampai mereka tak sadar kalau mereka tengah meninggalkan masakan di atas wajan yang masih terletak di atas kompor yang masih menyala.


'Aaaah Kak Arkan!' batin Yura sembari memejamkan mata tapi dia ingat ... 'ikannya?'


Yura melepaskan diri secara tiba-tiba lalu berbalik memeriksa masakannya.


"Ya ampuun, kuahnya sampai ke reduse gini Kak! Hihi!" ucapnya saat kuah masakannya hampir saja menyusut banyak. Yura jadi malu, Arkan juga tak bisa terhindar dari perasaan yang semakin dan semakin menggelitiknya.


"Oh ya? Tapi masih bisa dimakan kan?" tanyanya lalu dia mendekat lagi lalu merangkul Yura tanpa sadar. Perlahan Yura menoleh ke arah tangan Arkan yang ada di bahu kanannya.


"Hm ... sebaiknya kita jaga jarak aman deh!" ucapnya pelan.


"Kenapa?" tanya Arkan dan dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Yura. Aaah, dari jarak seperti ini, Yura tak bisa menyembunyikan wajahnya lagi.


"Belum saatnya!" jawab Yura lalu dia menghindar pura-pura mengambil piring ke sudut lain dapur itu. Arkan hanya tersenyum simpul. Dia senang malam ini, sosok Yura, sikap Yura, sudah membuatnya begitu senang dan bersemangat.


"Kak Arkan tunggu di meja makan aja! Ini biar aku yang selesaikan!" kata Yura lalu kemudian dia hidangkan hasil karyanya bersama Arkan di atas piring saji.


"Oke lah!" setujui Arkan, lalu dia pun pergi ke meja makan yang hanya berjarak beberapa langkah dan hanya duduk manis, menunggu Yura menyajikan semuanya.


'Aku gak akan pernah melepaskan kamu Han Yura! Gak akan pernah!' batinnya sembari dia puas-puaskan matanya memandangi Yura. Selama seminggu ke depan mereka akan terpisah jarak dan selama itu pula Arkan tak akan mampu menyaksikan senyum dan kehadiran Yura lagi.


"Selesai! Ini piring Kak Arkan ...." kata Yura sigap lalu dia ambilkan nasi untuk Arkan. Sigap sekali seperti seorang istri yang sedang menyajikan makan malam untuk suaminya.


"Makan yang banyak ya," kata Yura lagi kali ini seperti Ibu yang bicara pada anaknya, gemas sekali sampai seorang Arkan dibuat terkekeh berkali-kali.


"Mungkin secepatnya kita bisa kayak gini setiap hari!" harap Arkan, Yura juga mengamininya dalam hati dan dia hanya menjawab dengan senyum ke arah Arkan.


"Aku pengen ikut ke Surabaya! Tapi ...." kata Yura tapi kemudian dia menghentikan alasannya, Arkan jadi penasaran.


"Tapi kenapa? Kalau kamu mau kesana biar aku siapkan tiket pesawat sama akomodasinya!" tukas Arkan semangat.


"Heum, gak dulu deh! Aku kan baru beberapa hari merintis usaha kecilku, masa langsung ditinggal sih? Lagian, kami juga cukup kewalahan karena pesanan selalu ada tiap hari!"


"Iya sih, ya mau bagaimana lagi?"


"Kak ...."


"Heum."


"Semangat ya, dan ... jangan terjebak dalam permainan siapapun!" kata Yura, dia seperti sedang mengungkapkan ketakutannya.


"Maksudnya?" tanya Arkan heran, Arkan hanya belum tahu kalau Yura masih saja mengalami tekanan. Dan saat ini yang selalu terasa menerornya adalah Ahsan. Yura tahu betul kalau Ahsan sangat tidak suka dengan hubungannya bersama Arkan dikarenakan Alana. Dan Yura takut, saat nanti mereka terpisah jarak lagi, Ahsan akan melakukan sesuatu yang akan menimbulkan salah faham.


"Aku percaya kamu, dan kamu juga harus percaya sama aku!" tegas Yura.


"Sure!" sambut Arkan juga dengan keyakinan yang penuh. Yura harap Arkan mengerti apa maksudnya. Arkan tatap Yura, dia merasa ada yang tidak beres.


"Apa ada yang menakuti kamu lagi?" tanya Arkan penuh curiga, Yura tak tahu harus jawab apa! Mau jawab 'iya', tapi Yura tak ingin ada perselisihan sengit antara Arkan dan Ahsan karena Yura tahu kalau itu akan menjadi konflik berkepanjangan.


"Gak kok, ya intinya kita harus saling percaya karena cuma itu kuncinya, kunci agar hubungan kita bisa terus berlanjut sampai kedepannya!"


"Iya sayang!" sahut Arkan.


"Ya udah, habiskan makanannya, aku harus cepat-cepat pulang Kak," keduanya lanjutkan makan malam sederhana mereka itu.


"Ya, masakan kamu enak! Boleh minta tambah lagi?" sanjung Arkan lalu dia sodorkan piringnya. Benar-benar menggemaskan sampai membuat Yura tersanjung dan tertawa kecil dibuatnya.


"Wah, iya kah?? Boleh banget!"

__ADS_1


"Sering-sering ya, masakin aku!"


"Iya iya!"


***


Ahsan datang lagi!


Lagi dan lagi, bahkan Ahsan datang sebelum toko Yura dibuka. Dia sudah stand by di depan toko dan Yura yang baru sampai disana sampai dibuat kesal sekaligus ketakutan. Apalagi saat ini didepan tokonya masih sepi.


"Apalagi sih? Tolong jangan lakukan ini! Saya kan gak pernah ganggu kamu!" kata Yura kesal saat Ahsan menyambutnya dengan senyum licik.


"Yuraa ... yuraa! Kamu lupa kata-kata saya kemarin? Saya gak pernah main-main ya! Dan ya! Hari ini pacarmu itu sudah pergi ke luar kota! Kita bisa bersenang-senang di belakangnya!" kata Ahsan licik sekali, bahkan dia berani menyentuh Yura dengan lancang.


"Lepaskan! Kenapa kamu ini gak sopan sekali ya! Gak usah buat coba-coba mengancam saya! Saya gak selemah yang kamu kira!" tegas Yura lalu dia hempaskan tangannya.


"Wah, menarik! Saya suka gaya kamu!"


"Cukup! Tolong pergi, karena kita gak punya kepentingan!" usir Yura, dia sangat berani. Benar-benar berani walau hatinya sangat takut. Apalagi saat Ahsan kembali mencengkram lengannya dengan kuat sampai Yura pun meringis dan kesakitan.


"Apa lagi ini? Tolong lepaskan!"


"Dengar baik-baik Han Yura! Saya harus mendapatkan kamu!" desis Ahsan, ambisius sekali, Yura kini benar-benar takut. Sosok dan sikap Ahsan mengingatkannya pada Dara. Dan kini traumanya terasa terbit lagi. Yura sangat ketakutan karena Ahsan begitu kasar padanya.


GRUUUUNG, beruntung! Beruntung sekali ada yang datang dan itu Zahran. Zahran merasa asing dengan sosok Ahsan tapi dia tahu kalau saat ini Yura sedang ada di bawah tekanan.


"Siapa lo?" tanya Zahran begitu dia turun dari sepeda motornya. Ahsan memandang benci. Dan Yura kelihatan cukup lega dengan kedatangan Zahran walau sebenarnya dia takut akan ada perkelahian karena Zahran maupun Ahsan sama-sama berwatak keras.


"Siapa dia sayang?" tanya Ahsan menyebalkan sekali.


"Yura!" sapa Zahran, Zahran sedang meminta dan menunggu penjelasan Yura atas situasi cukup kacau yang ia saksikan itu.


"Gak ada apa-apa! Ini cuma salah faham!" kata Yura lalu dia mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman Ahsan dengan sekuat tenaga dan akhirnya dia berhasil.


"Selesai! Urusan kita selesai!" kata Yura lalu perlahan berlindung di balik punggung Zahran. Zahran memang tampak siap siaga, dia seperti tameng untuk Yura saat ini.


Ahsan merasa gagal membawa Yura pergi, dan dia muak dengan kehadiran Zahran. Dia tak tahu siapa Zahran, tapi dia sedang tak ingin adu jotos pagi ini.


"Tunggu saya Han Yura! Saya akan kembali lagi!" kata Ahsan innocent lalu dua kembali masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Yura yang cukup kesakitan dan Zahran yang datang bak pahlawan.


"Udah, lupain aja! Bukan siapa-siapa kok!" jawab Yura lalu dia mulai membuka kunci tokonya.


"Apa dia mengintimidasi lo?"


"Udahlah, dia orang gak penting kok!"


"Jangan diam aja kalau ada yang ganggu lo Yur! Siapa tahu gue bisa bantu! Siapa tahu gue bisa selesain masalah lo!" kata Zahran sigap membuat Yura senang dan bangga. Akhirnya anak lelaki menyebalkan itu kini selalu ada di pihaknya.


"Iya, makasih sebelumnya!"


"Lo gak usah takut Yur! Gue akan selalu menjaga lo dari pengganggu! Tapi gak usah salah faham dulu ya! Gue lakukan ini karena gue mau menebus semua kebaikan lo! Gue juga mau nebus kesalahan gue!" jelaskan Zahran, Yura sambut dengan senyuman.


"Iya, makasih banyak ya! Karena kamu udah mau jadi temanku juga, dan kamu sudah banyak membantu!"


"Ya!"


"Terus kamu ngapain disini? Kamu gak kerja?"


Mereka masuk ke dalam ruang toko.


"Ini hari libur gue! Hari ini gue mau bantuin lo!"


"Wah! Tapi kenapa gak ambil waktu istirahat aja, kamu kan sekarang kerja dua shift terus! Emangnya gak penat?"


"Bantuin lo lebih gue prioritaskan! Kata si Alika katanya lo kewalahan! Dan hari ini gue bisa bantu lo nganterin orderan online-nya!"


Yura bertambah senang, kehadiran Zahran dan semua kebaikannya membuatnya kembali bersemangat tak peduli walau barusan Ahsan menekannya lagi dan lagi.


"Heum, makasih ya sebelumnya ...."


"Udah dong, gue belum melakukan apa-apa lo udah bilang makasih berkali-kali!" canda Zahran dan Yura hanya tersenyum dibuatnya.


"Wah wah, pagi-pagi udah ramai aja nih!" Alika datang dan menyapa, semakin lengkap personil toko hari ini.


"Ya, hari ini kalian kedatangan pekerja ekstra!" sahut Zahran bangga.

__ADS_1


"Heum oke! Akhirnya kamu datang juga, aku kira semalam kamu cuma membual aja mau datang kesini buat bantuin kita!" kata Alika.


"Semalam? Kalian saling chat ya?" tanya Yura bersiap untuk menggoda, apalagi Alika dan Zahran tiba-tiba terlihat salah tingkah.


"M, ya ... chat itu doang! Nanyain kerjaan di toko ini Yur!" dalih Alika.


"Cieee cieee ...." gantian Yura yang menggoda kali ini.


"Iiih apaan sih!" sangkal Alika lalu dia beranjak ke bagian belakang toko dengan rasa gugupnya. Yura senang melihat momen manis itu.


"Jangan disia-siakan ya! Alika itu gadis yang sangat baik! Good luck!" kata Yura pada Zahran lalu dia menepuk pundaknya sampai akhirnya Yura juga beranjak ke bagian belakang toko untuk mempersiapkan diri mengerahkan segenap tenaga dan semangatnya untuk hari ini.


Zahran makin salah tingkah, dia hanya garuk-garuk kepala saking salah tingkahnya.


***


Arkan sudah tiba di Surabaya. Sebelum menjalani latihan jelang pertandingan, para pemain diberi waktu untuk menikmati waktu istirahat mereka beberapa jam. Dan seperti biasa, Arkan mendapat kamar hotel yang sama dengan Rado.


"Semangat bro! Tiga pertandingan lagi dan kompetisi pertama lo selesai! Dan kita cuma butuh dua kemenangan saja kalau secara hitung-hitungan buat mengunci kemenangan!" kata Rado penuh semangat.


"Iya Bang!" sahut Arkan.


"Ya, tiga pertandingan kita selesaikan dengan kemenangan, itu lebih baik!"


"Heum."


"Dan lo harus bangga Ar, ini musim debut lo dan lo udah dapat tempat di team inti! Ini tuh sebuah pencapaian baik buat pemain muda baru kayak lo!"


"Ya, berkat dukungan kalian!"


"Dah lah! Pokoknya gue bangga sama lo! Di awal debut di Dandi kan sering tuh meremehkan lo! Nah sekarang, lo udah beli semua cemoohan dia dengan prestasi! Gue bangga karena lo gak kepancing sama provokasinya! Good job bro! Keren, keren!"


"Dan lo tahu siapa mentor gue Bang? Yang udah bikin gue bisa menekan emosi gue?"


"Bokap lo kan?" tebak Rado.


"Bukan!"


"Siapa?" tanya Rado penasaran.


"Calon mertua gue!" jawab Arkan bangga, makin membuat Rado berdecak.


"Waah, Yuki maksud lo?"


"Ya!"


"Calon mertua? Jadi lo beneran udah jadian sama Han Yura?"


"Iya lah!"


"Gilaaa! Gercep amat lo! Baru aja gue mau sambar dia!" goda Rado, Arkan memicingkan mata.


"Sorry ya, dia udah ada pemiliknya!" tegasnya.


"Iya iya, well, selamat deh!"


Ya, Arkan selalu bangga dengan hubungannya bersama Yura. Ternyata cinta yang dia rasakan, cinta yang dia pendam selama ini memang tak main-main. Prosesnya juga memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sekarang ini dia berhasil mengukuhkan dirinya sebagai pacar dari seorang Han Yura.


"Tapi, gue lihat juga di salah satu berita online, diam-diam Keyla juga fans lo ya?" tanya Rado beralih topik, Arkan hanya mengerutkan dahi.


"Itu, penyanyi muda yang lagunya lagi hits di spotipy! Aah lo mah, pura-pura kagak tahu, mentang-mentang udah punya Han Yura!"


"Iya gue tahu bang! Lagian dia mah teman SMA gue kok!"


"Oh, pantesan! Tapi dia nyebut nama lo beberapa kali dalam wawancaranya sama beberapa wartawan."


Arkan diam saja, tak menanggapi, dia memang cuma memikirkan Yura saja saat ini. Tak ada yang lain lagi.


"Gue curiga dia juga kesemsem sama pesona lo Ar!"


"Udah tidur! 3 jam lagi kita latihan ekstra!" sela Arkan.


"Aah lo mah! Padahal kan gue masih pengen bergosip sama lo Ar! Soalnya gue penasaran banget sama sikap si Keyla ini, kayaknya dia beneran suka sama lo!"


Arkan benar-benar tak ingin membahas Keyla, dia pun cepet-cepat membenamkan dirinya di atas tempat tidur dan berharap bisa bertemu kekasihnya walau hanya dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2