
Nasib yang Yura alami saat ini seperti dejavu, situasi yang dia hadapi hampir serupa dengan apa yang Nara hadapi di masa lalu. Hidup bersama dua anggota keluarga yang sama sekali tak ada kaitan darah dengannya dan memperlakukannya dengan semena-mena.
Yura sudah menghadapi situasi sulit ini sejak beberapa tahun lalu, ayah meninggal karena sebuah kecelakaan kerja. Dia sangat terpukul tapi setelah berlalu beberapa tahun dia mencoba menerimanya dengan hati lapang dan kembali menjalani hidupnya penuh semangat. Ayah selalu hidup bersama nasihat-nasihat yang selalu Yura simpan rapi di dalam hatinya.
Ayah dulu adalah seorang kontraktor dan saat beliau meninggal perusahaan memberinya tunjangan, uangnya Ibu pakai untuk usaha kecil-kecilan. Ibu membuat usaha kookies rumahan yang dia pasarkan secara online.
"Yuraaa!" teriaknya dari arah dapur, dia sedang memasukan kookies-kookies yang sudah jadi ke dalam toples-toples cantik yang sudah berlabel itu, 'TANIA KOOKIES', Ibu sangat bangga dengan brand itu.
Yura datang dari arah pencucian, belum juga selesai dia mencuci pakaian-pakaian kotor yang menggunung, dia harus segera sigap menghampiri ibu yang memanggilnya dengan suara penuh power.
"Kenapa Bu?" tanya Yura dan tangannya pun masih basah dan beraroma detergent.
"Antarkan kue-kue pesanan ini!" jawabnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Iya, tapi aku masih nyuci bu, tanggung."
"Hey, kamu mau pelanggan-pelanggan Ibu pada kabur huh? Makanya kalau kerja itu yang gesit dong! masa cuma nyuci satu jolang kecil aja kok lama banget sih," omel Ibu, seperti biasa. Yura diam saja tak membantah, percuma juga kalau dia menyahut menyampaikan pembelaan karena itu semua tak akan berarti apa-apa.
"Selesaikan pekerjaanmu dalam waktu 5 menit setelah itu bersiap antarkan kue-kue ini!" titah Ibu, Yura mengerti dan dia setengah berlari kembali ke tempat pencucian. Dia harus laksanakan titah itu dengan cepat kalau tidak pasti Ibu akan mengambil jatah makan malamnya.
Kehidupan Yura yang cukup memilukan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Arkan. Arkan tak pernah merasa terbebani sedikitpun dalam hidupnya. Dia hanya perlu serius belajar dan sisanya dia hanya perlu bersyukur. Hampir setiap hal yang dia inginkan selalu dia dapatkan, selain orangtua yang mapan dan pengertian, dia juga cucu kesayangan kakek neneknya.
Sore ini sepulang sekolah Arkan bermain di rumah Kakek Neneknya. Dia mendapatkan seluruh perhatian yang dia inginkan. Bahkan Bi Ija yang sudah cukup tua pun memperlakukan Arkan seperti cucunya sendiri. Bi Ija setia mengabdikan hidupnya untuk keluarga Azka sejak dulu.
__ADS_1
"Papa kamu juga suka sekali pancake yang disiram saus maple seperti ini," kata Bi Ija seraya menyodorkan 4 layer pancake yang dia buat spesial untuk tuan mudanya.
"Oh ya?"
"Iya, Huh ... melihat kamu sekarang bibi jadi merasa 27 tahun lebih muda," ucapnya lagi lalu dia tatap Arkan yang mewarisi segala yang nampak didiri Azka di masa lalu.
"Ya, aku memang keren kayak Papa kan? Atau bahkan aku lebih keren dari Papa!" sahut Arkan dengan nada gurauan dan Bi Ija hanya tersenyum mendengarnya.
"Sayaaaaang," Panggil nenek, Ibu sudah beruban dan kini dia sudah menjadi nenek. Dia berjalan menghampiri cucunya yang tengah duduk santai di meja makan.
"Iya nek,"
"Malam ini kamu nginap disini ya?" bujuknya.
"Tapi aku punya satu permintaan," Arkan malah memberi syarat.
"Tolong bujuk Papa sama Mama buat mengizinkan aku memiliki mobil sendiri nek," pintanya manja.
"Oh itu ya, umur kamu kan belum genap 17 tahun sayang, bersabarlah hanya tinggal beberapa bulan lagi kan? Nanti nenek sama Kakek akan memberimu hadiah mobil yang kamu inginkan!"
"Aaah, Nenek sama saja!" dengusnya.
"Kita kan harus patuh peraturan sayang, bahkan kamu belum bisa membuat sim C secara resmi kan, apalagi untuk sim A sayaang ...."
__ADS_1
"Aku pulang deh," Arkan merajuk lalu bangkit dari duduknya, dia memang paling bisa membuat Neneknya merasa bersalah.
"Yaaah, kamu marah?"
"Nggak, aku ditunggu teman-teman." pungkasnya lalu dia ambil tas gendongnya dan memakainya.
"Ya sudah, hati-hati ya sayaang."
Ya itulah sebagian kebahagiaan yang Arkan dapat dalam hidupnya, seluruh anggota keluarga sangat menyayanginya bahkan keinginannya adalah prioritas.
Beda jauh dengan apa yang Yura alami, belum juga dia menghela nafas setelah mengerjakan satu pekerjaan rumah yang cukup berat dia harus kembali memenuhi perintah Ibunya. Hanna tenteng beberapa tas berisi paket kookies yang sudah Ibu beri nama dan alamat. Ibu memanfaatkan tenaga Yura untuk menekan biaya operasional. Jika dia antarkan kue-kue itu dengan kurir maka keuntungannya juga akan berkurang, begitulah strategi bisnis Ibu, klise memang tapi dia benar-benar mengeksploitasi tenaga Yura.
Yura kayuh lagi sepedanya, sepeda hadiah ulang tahunnya yang ke 14, dua tahun yang lalu. Sepeda itu adalah hadiah terakhir dari mendiang ayah.
"Permisi!" seru Yura saat sampai di alamat pertama, Yura menunggu dengan sabar sampai sang pemilik rumah keluar. Yura sudah menjalani profesinya ini selama satu tahun terakhir ini.
Saat Ayah masih hidup, hak-hak Yura sebagai anak terpenuhi. Walau kadang Ibu sering memperkerjakannya saat Ayah tugas keluar kota tapi setidaknya Yura tak kehilangan kasih sayang dan perhatian. Kini semuanya pudar begitu saja, tak ada yang bisa Yura anggap sebagai tempat berlindung tapi Yura memang anak yang tak suka mengeluh, dia tetap menjalani hari-harinya dengan ceria dan penuh syukur.
"TANIA KOOKIES?" tanya sang pemilik rumah meyakinkan kedatangan Yura.
"Iya mbak!" sahut Yura dengan senyum manis, dia memang sudah mahir jadi seorang sales yang andal.
Yura harus mengantarkan paket-paket itu ke 5 alamat berbeda, jaraknya pun cukup jauh dan baru juga mengantarkan ke tiga alamat tapi dia sudah mulai kelelahan. Untuk beberapa menit dia beristirahat di bahu jalan, mungkin sebotol minuman dingin akan mengobati rasa lelahnya tapi sayang sekali dia tak punya uang sepeserpun untuk membelinya.
__ADS_1
Malang sekali nasib Yura, bisakah dia meraih kebahagiaan dengan sikap sabarnya yang dia pupuk sejak dini ini?
Bersambung