Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Confession in the midle of sunset


__ADS_3

Arkan dan Yura sengaja menunggu waktu agak senja agar tak terlalu terik. Mereka juga sengaja menunggu sunset, sunset di pantai Kuta memang masih jadi salah satu tujuan wisatawan melancong ke bali.


"Kasihan deh sama Kak Kei!" kata Yura saat mereka berhenti berjalan dan berdiri di satu spot yang cukup strategis untuk melihat Sunset.


"Kenapa?" tanya Arkan.


"Dia tertarik buat menjalani trainee di Sunrise tapi Orangtuanya malah berniat mengirimnya ke UK," cerita Yura, ya selama dua bulan ini Yura adalah salah satu tempat Keita mencurahkan keluh kesahnya.


"Maminya pengen dia kulian disana kan?" tebak Arkan.


"Iya, tapi Kak Kei sendiri maunya tetap di Jakarta! Kalau menurutku sih, passion sama pendidikan itu sama pentingnya!" ucapnya, Arkan melirik lalu menatap wajah Yura yang mulai berwarna jingga karena langit di ufuk barat mulai berwarna jingga.


"Selain itu, si Keita juga gak mau jauh dari lo!" cetus Arkan, Yura malah tersipu.


"Gak sih, menurutku dia benar-benar ingin menjalani passionnya di bidang basket!"


Arkan tersenyum hambar, dia menertawakan Yura yang tak sadar kalau sosoknya sudah menjadi alasan kenapa Keita ingin tetap kuliah di Jakarta. Bahkan Arkan sampai sempat berniat untuk merebutnya juga.


"Oh iya, gimana kabar hubungan Kak Arkan sama kak Alana?" tanya Yura malah mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah bahas itu!" sahutnya malas.


"Oh, ya udah."


"Yur," panggil Arkan yang sepertinya akan menyatakan sesuatu yang krusial lagi pada Yura.


"Heum," sahutnya ringan.

__ADS_1


"Lo ingat kapan kita bertemu buat yang pertama kalinya?"


"M, kapan ya? Aku ketemu Kak Arkan setiap hari di sekolah sejak aku masuk SMA Harapan Bangsa," jawab Yura ngasal.


"Tapi gue gak pernah menyadari keberadaan lo!"


"Iya lah! Aku ini kan anak baru yang gak punya popularitas seperti Kakak, aku juga gak terlalu eksis di sekolah sedangkan Kak Arkan itu hampir setiap orang kenal Kakak!" cerita Yura, ya mereka tampak sangat cair lagi senja ini. Mereka bercerita sampai tak sadar kalau bola raksasa jingga mentari hampir tenggelam di lautan lepas pantai Kuta itu.


"And then, lo datang mengantarkan buku tugas gue yang ketinggalan di rumah!" kata Arkan.


"Ah iya iya, itu adalah awal aku bisa bertemu sama Kak Arkan secara intens! Bahkan kita sempat terlibat insiden kecil, huh, beberapa bulan lalu!"


Arkan kembali tatap siluet wajah manis Han Yura yang semakin memancarkan auranya sampai dia kini benar-benar yakin kalau hatinya sangat menginginkan Yura. Ya, walau saat ini Arkan merasa sangat jahat karena memikirkan hal gila untuk mengambil Yura dari Keita tapi desakan hatinya juga tak bisa dia lawan, ingin sekali dia ungkapkan isi hatinya sekali lagi.


'Han Yura, sadarkah lo? Gue tergila-gila sama lo! Aneh tapi ini yang gue rasakan sekarang!' batinnya berteriak namun sayang Yura tak dapat mendengarnya.


"Heh, inseiden itu." sadari Arkan kembali menatap lurus ke lautan lepas.


Melihat sunset dalam damai membuat keduanya ingin bicara soal isi hati mereka, Yura sudah mengungkapkan sebagian isi perasaannya tapi belum dengan Arkan, mungkin dia sedang memikirkan konsekuensi jika dia bicara jujur lagi pada Yura.


"Apa si Keita yang benar-benar membuat hidup lo berwarna?" tanya Arkan mencoba memancing reaksi Yura.


"M, bisa jadi! Tapi, kehadiran teman-teman baru seperti Kak Arkan dan Kak Vano juga adalah warna baru dalam hidupku!"


BYAAAR, kenapa Yura hanya menganggap Arkan sebagai teman? Tak bisa lebih dari itukah? Misalnya salah satu yang pernah membuat hatinya bergetar? Mungkin itu lah yang Arkan pikirkan saat ini.


"Apa lo akan serius menjalani hubungan lo sama si Kei sampai nanti kalian dewasa?" wartawan Arkan kembali beraksi.

__ADS_1


"Hehe, gak tahu lah! Rasanya masih terlalu mentah membayangkan hubungan kita di masa depan!"


"Tapi bukan tidak mungkin kan?"


"Ya, bisa saja! Kita kan gak tahu, bisa saja Kak Kei bosan, bisa saja Kak Kei menemukan cewek lain yang bisa lebih membuat dia senang dan nyaman, aku sih gak mau memaksa tapi selama kita bersama, aku akan selalu berusaha support dia dalam hal-hal positif! Aku juga akan selalu setia menemani dia sampai dia mencapai cita-citanya!"


Ya, dan jawaban itu yang Arkan butuh jika suatu hari dia bertukar posisi dengan Keita. Naif memang, tapi entah kenapa perasaan Arkan begitu menuntut banyak saat ini. Tak pernah satu waktu pun Arkan ingin merebut dan memiliki satu hal yang telah dimiliki orang lain terlebih milik sahabatnya sendiri. Apakah Arkan sedang merasakan cinta gila?


'Damn! I love you! Kenapa lo datang untuk Keita! Sialan! Gue juga butuh satu yang seperti lo Han Yura! Kenapa lo harus hadir dalam peran ini! Ayolah, gue baru genap 17 tahun dan gue sudah berpikir gila untuk merebut lo dari tangan sahabat gue sendiri! Lo sudah membuat gue menggila! Kenapa?' batin Arkan jujur sekali, dia tak bisa menahan lagi kata-kata itu bersembunyi dalam benaknya.


"Kak, ambil potoku dong, biar jadi siluet gitu! Yaaa, toloong!" pinta Yura, Arkan hanya mengangguk.


Yura sudah berjalan ke sisi yang lebih lengang agar dia bisa mengambil gambar dengan sempurna. Dia jadi agak salah tingkah saat hendak berpose, dia malu-malu tapi akhirnya dia putuskan untuk membelakangi Arkan dan saat kameranya siap dia menoleh dengan senyum manis semanis gula yang lagi dan lagi menambah kadar perasaan cinta Arkan untuknya.


"Begini aja yaa?" kata Yura agak genit dan Arkan hanya tersenyum simpul.


"Tahan!"


Jepret, jepret! Arkan sudah mengambil beberapa gambar bahkan saat Yura tak siap berpose pun dia iseng mengambilnya.


"Apa hasilnya bagus?" tanya Yura lalu berjalan mendekat mencoba melihat hasil posenya.


"Lumayan!" sahut Arkan singkat padahal dalam hati dia ingin berkata 'you're so amazing, just the way you are ....'


"Whoaaa, bagus banget kak, kayak hasil jepretan profesional! Aku kelihatan gorgeous banget disini!" puji Yura, memuji Arkan dan memuji dirinya sendiri sampai membuat Arkan tertawa lepas sekali, kedekatan itu memang menunjukan betapa mereka sudah merasa nyaman satu sama lain walau bukan sebagai apa-apa.


Arkan sudah mengungkapkan perasaannya beberapa kali tapi tidak dengan Yura. Prinsipnya cukup kokoh dan dia hanya ingin tetap setia pada Keita walau sebenarnya ada rasa juga yang tersaji untuk Arkana dalam hatinya.

__ADS_1


"Pulang yuk!" ajak Yura yang merasa sudah cukup puas setelah melihat Sunset yang luar biasa itu.


"Ya!" setujui Arkan dan setelah itu mereka berjalan beriringan pulang menemui orangtua mereka.


__ADS_2