Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Penyesalan Ahsan


__ADS_3

Saatnya menyerahkan Yura lagi pada Arkan. Cukup untuk Keita terjebak dalam nostalgia menyakitkan selama beberapa jam. Jika tadi Yura berangkat bersama Keita, kini ia siap untuk pulang bersama Arkan.


"Thanks ya Kei udah jagain dia seharian ini!" kata Arkan sebelum dia masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Iya Ar, hati-hati di jalan!" sahut Keita lalu berpesan.


"Lo juga ya!" Arkan masuk ke dalam mobil, dan setelah berpamitan, Arkan pulang membawa Yura meninggalkan Keita bersama rasa getirnya di area parkir itu.


Ada rasa yang tertinggal tapi Yura pastikan itu bukan apa-apa. Yura masih agak dihantui oleh rasa bersalah.


"Mau makan apa?" tanya Arkan setelah mobil melaju agak jauh, meninggalkan Keita di area parkir gedung olah raga itu.


"Heum, apa aja! Atau ... mau aku masakin?" tawarkan Yura.


"Mau lah, tapi aku takut kamu kecapean!"


"Nggak kok, nggak kecapean! Sekarang staminaku kembali normal, udah gak ada morning sickness! Sekarang calon anak kita udah anteng kok gak minta yang aneh-aneh!" sahutnya dengan sedikit gurauan, Arkan tersenyum lalu meraih perut istrinya dengan tangan kirinya, mengusapnya penuh kasih.


"Anak baik, jangan bikin Mama mual-mual lagi ya ...." kata Arkan, manis sekali sampai membuat Yura merasa sangat damai.


"Iya Papa!" Yura malah menjawab lalu meletakan telapak tangannya di atas tangan Arkan yang masih mengelus perutnya. Bahagia rasanya dalam situasi seperti ini. Baik Yura maupun Arkan selalu berusaha saling percaya. Walau hampir seharian ini Yura bersama dengan Keita tapi tak ada kecurigaan dan skeptistik sama sekali. Arkan percaya Yura tak mungkin main-main dengan perasaannya.


***


Keita kecewa, sudah pasti tapi dia mencoba melawannya. Keita tak ingin menganggap kebahagiaan Yura dan Arkan sebagai deritanya, walau itu benar tapi Keita selalu berusaha menyingkirkan mind set itu. Dia akan ikhlas, benar-benar ikhlas.


Sudah seminggu dia di Jakarta dan nanti malam dia harus kembali terbang ke London. Dia sedang mengemasi barang-barangnya sampai Mami-nya datang dengan sebuah box yang tempak tak terlalu besar, Keita tak tahu apa isinya.


"Apa itu Mi?" tanya Keita, Mami mendekat dan duduk di tepi tempat tidur putera kesayangannya itu.


"Paket, dari Han Yura ...." jawab Mami lalu meletakannya di atas kasur. Keita jadi penasaran, apa yang Yura berikan untuknya, apakah semua kenangan mereka selama 3 tahun menjalin hubungan, dan jika itu benar, betapa keterlaluannya Han Yura, pikir Keita.


"Heh, ini apa? Kenapa dia kirim ini?"


"Mami gak tahu, coba kamu buka! Mami juga pengen tahu apa isinya!"


Keita membuka box itu dan ternyata ... isinya hanya beberapa toples kue dan Keita tersenyum dibuatnya. Keita kira itu barang-barang kenangan yang sempat ia berikan selama 3 tahun berpacaran.


"Oh, cuma kue! Mami kira apa ...."


Dengan semangat Keita mengambil salah satu toples dan mencobanya. Keita senang, dia senang dengan bentuk atensi Yura walau itu tak berarti apapun.


"Sayang ...."


"Iya Mi!"


"Apa ... kamu masih mencintai Han Yura?" Mami melontarkan pertanyaan yang membuat Keita tersenyum hambar.


"Jujur saja, iya Mi! Tapi, aku juga ikut bahagia kalau dia bahagia, sama Arkan!" jawabnya lugas.


"Sebesar itu kah hati kamu Nak?"


"Lagi pula, aku belajar ikhlas, sabar dan berbesar hati dari Han Yura kok! Dia sudah mengajarkan banyak hal berharga, bahkan mengajarkan ikhlas saat kita kehilangan seseorang yang kita sayang!"


Mata Mami berembun, dia terharu mendengar kata-kata puteranya. Kini Mami yakin kalau Keita sudah sangat baik-baik saja.


"Kamu memang anak Mami paling the best!" sanjungnya.


"Iya lah, paling the best, orang cuma sendirian ini kan?"


"Hehe, pokoknya kamu terbaik deh!"


Dan begitulah, Mami berharap Keita benar-benar baik-baik saja. Karena apa yang Keita rasakan memang samar terlihat, hanya dirinya sendiri yang tahu pasti, baik-baik saja atau masih saja menyimpan luka?


Yura sudah kembali ke Toko, walau tak banyak yang bisa ia kerjakan. Dia tahu malam ini Keita akan kembali ke London dan masih ada rasa bersalah yang mendalam, Yura tak ingin menyalahkan takdir, tapi memang situasi yang terjadi saat ini tak cukup adil untuk Keita.


'Tuhan, berikan dia kebahagiaan, kebahagiaan yang sama seperti yang aku rasakan sekarang!' harap Yura sembari melamun di meja kasir.


"Hayoloo gak boleh melamun!" Alika datang mencoba mengusik lamunan Yura.


"Gak ada yang melamun kok!"

__ADS_1


"Iya, gak boleh banyak melamun ya! Kamu harus relax, have fun! Jangan lesu!"


"Oke my bestie!"


"Huh, hidup kamu Yur! Benar-benar komplek! Banyak hal tak terduga terjadi, luka, suka dan duka kamu lalui dengan ikhlas! Harusnya aku belajar dari kamu," kata Alika dalam sekali membuat suasana dalam toko sore ini menjadi sedikit mengharu biru.


"Kita bisa mengambil pelajaran dari siapa saja, dimana saja dan kapan saja! Aku juga melakukannya Al, oke, aku memang sampai pada kebahagian yang nyata saat ini tapi gak jarang juga aku menyesal karena mungkin masih banyak orang yang terluka dengan kebahagiaanku ini!" ungkap Yura.


"Go on Yur! Jangan pikirkan hal itu, jangan pikirkan mereka, ini lah takdir kamu! Walau memang benar ada banyak yang terluka, tapi kamu tak menyakiti mereka secara langsung kan? Mereka cuma gak bisa ikhlas, ikhlas seperti yang selalu kamu tunjukan selama ini!"


"Heum, entahlah! Tapi aku selalu berharap yang lain juga bisa merasakan seperti yang aku rasakan sekarang!"


"Yes, ini lah dirimu Han Yura! Karena kebesaran hati kamu, kamu sangat, sangat, sangat pantas ada di titik ini!"


"Makasih ya Al, kamu adalah salah satu yang selalu membuat aku berpikiran terbuka! Kamu emang bestie sejatiku!"


"Aaaah, sini peluk dulu!"


Han Yura dan Alika berpelukan, menghabiskan waktu petang mereka di dalam toko dengan penuh keharuan dan kebahagiaan. Tali persahabatan yang terjalin semakin erat, perasaan saling sayang dan saling pengertian adalah kunci persahabatan mulus mereka. Yura selalu mendukung dan mendoakan Alika, begitu pun sebaliknya.


"Aaah itu dia suamiku datang, kita beres-beres aja yuk! Kayaknya udah gak akan ada pembeli lagi!" suasana haru itu berakhir kala mobil Arkan terparkir di luar toko.


"Oke, oh iya, laporan keuangan dan statistik penjualan nanti aku kirim via email ya! Nanti malam aku cek!" kata Alika kembali ke pembicaraan pekerjaan.


"Oke Al!"


Arkan masuk dan selalu hadir menyapa dengan sorot mata yang langsung tertuju pada Han Yura, begitu pun dengan Yura, dia selalu menyapa dan menyediakan senyum manis terbaiknya begitu Arkan datang, itu lah bagian terbaiknya, bagian yang selalu Arkan senangi.


"Tunggu ya Kak, beres-beres dulu sebentar!" izinnya, Arkan mengangguk sembari tersenyum, ia pun tak hanya berdiam diri, dia membantu sedikit-sedikit.


"Kamu duduk aja, biar aku sama Alika aja yang beres-beres!" kata Arkan sigap.


"Gak apa-apa, ini gak nguras tenaga kok!"


"Eh, susah ya kalau dibilangin!"


"Iya tuh Kak, bandel, gak bisa diem bumil yang satu ini!" goda Alika, mereka tersenyum bersama menyelesaikan pekerjaan mereka.


***


"Kamu kurusan Alana! Jelek!" kata Ahsan menggoda saat melihat Alana yang sedikit lebih ringkih. Alana memicingkan matanya ke arah Kakaknya itu, sejak beberapa menit duduk di meja makan, Alana belum menyelesaikan sarapannya, belum sedikitpun.


"Ayolah Al, cheer up! Let it go! Kamu harus menjelang harapan baru, kebahagiaan yang baru!" kata Ahsan mencoba menghibur.


"Kebahagiaanku cuma dia!" sahutnya tegas.


"Kamu harus singkirkan pikiran itu jauh-jauh! Terima kenyataan!"


"Maaf untuk saat ini belum bisa Bang!"


"Kamu berhak bahagia, tapi bukan dengan dia! Kamu harus sadar itu!"


BRAAK, Alana masih agak emosional, dia melempar sendok garfunya di atas piringnya dengan agak kasar lalu beranjak meninggalkan Ahsan sendiri dengan rasa sesal yang cukup dalam. Mungkin Ahsan menyesal karena tak bisa membantu adiknya dan mungkin juga Ahsan menyesal karena tak bisa mendapatkan hati Yura sebelum akhirnya hati Yura terkunci oleh Arkan.


'Han Yura ... kenapa kita harus bertemu dengan momen seperti ini? Kenapa harus seperti ini?' batinnya dan dia sendiri sudah tak bernafsu untuk meneruskan sarapannya.


Dan memang, tak ada dan tak akan ada lagi yang mampu mengusik kebahagiaan Yura dan Arkan. Sekuat apapun Alana dan Keyla mencoba menggoda di awal pernikahan, itu sama sekali tak berarti apa-apa. Apalagi saat ini telah hadir kebahagiaan lainnya dalam rahim Han Yura, aral seberat apapun tak akan menggoyahkan keutuhan cinta mereka lagi.


Sayang sekali, minggu ini Arkan akan menjalani pertandingan di luar kota, pertandingan away. Dia sedang mengemas barang dibantu Yura.


Detik demi detik, menit demi menit, waktu terus berjalan, hari berganti hari dan bulan demi bulan telah berlalu cukup cepat, tapi tidak untuk Yura. Dia menghitung waktunya yang tiba-tiba terasa lamban. Menanti kebahagiaannya lahir begitu terasa lama.


"Nanti Mama kesini, nginep disini nemenin kamu, dan besok kalian bisa pergi ke Bandung sama-sama!" kata Arkan sembari memperhatikan Yura memasukan barang-barangnya ke dalam tas besarnya. Penampakannya dengan postur berbeda membuat Arkan semakin gemas saja.


"Iya, bisa sekalian belanja-belanja kebutuhan Baby kita ya," sahut Yura.


"Iya, belanja lah sepuasnya!"


"Semuanya sudah masuk, gak ada yang ketinggalan!" Yura sudah menyelesaikan tugasnya.


"Kayaknya Mama ada urusan sebentar, paling dia datang agak sorean, kamu gak boleh ke mana-mana ya!" pinta Arkan.

__ADS_1


"Iya, sudah ada dua pegawai baru di toko, Alika bisa menghandle-nya dengan baik!"


"Perut kamu udah gak sakit lagi kan?" tanya Arkan penuh perhatian lalu mengusap-usap baby bump Yura yang sudah semakin terlihat, ini sudah memasuki minggu ke-22.


"Nggak kok, cuma ... pas gerak-gerak, sedikit agak ngilu gitu, gerakannya makin aktif dan intens, dan ... aku ngerasa kalau anak kita kembar!"


Arkan tersenyum lebar, dia amini dugaan Yura, kebahagiaan yang berlipat-lipat ganda kalau benar istrinya itu mengandung bayi kembar, anugrah super kombo pastinya.


"Benarkah?"


"Gak tahu juga sih, sudah lama gak cek up, harusnya rutin setiap bulan, tapi karena aku merasa sehat aku jadi malas chek up ke Dokter!"


"Ya udah, tunggu sampai pertandingan tandangku selesai ya! Semoga benar kalau kita dapat Bayi kembar, kebayang kan? Gimana lucunya nanti mereka," harap Arkan dan dia masih asyik mengusap-ngusap perut Yura yang berdiri di depannya yang masih terduduk di tepi tempat tidur.


"Semoga, kamu bahagiakan Kak?"


"Sejak awal kita resmi pacaran, aku sudah sangat bahagia, dan sekarang kebahagiaan itu sudah berlipat-lipat! Makasih ya sayang!"


"Iya, ya udah, bersiaplah, jangan sampai kamu terlambat!"


"Honey, Papa pergi dulu ya, jangan kuat-kuat geraknya, kasihan Mama ya ... love both of you!" Kiss, Arkan melakukan ritual wajib sebelum dia pergi jauh. Berbincang dengan si jabang bayi lalu menuntaskannya dengan kecupan selamat tinggal.


"We love you too!" sahut Yura semakin menambah semangat ekstra untuk Arkan. Sedetik, dua detik, tiga detik Arkan puaskan matanya dengan memandang istrinya dengan lekat, dia akan merindukannya sampai besok hari.


"Aku pergi dulu ya!"


"Ayo aku antar sampai ke depan!"


Mereka pergi, menuntaskan acara pamitan yang terasa begitu panjang. Arkan mengais tasnya di pundak kirinya dan tangan kanannya menggandeng tangan Yura dengan erat.


"Byeee!"


Yura mengantar sampai ke depan gerbang, melambaikan tangan saat mobil Arkan berlalu dan semakin menjauh tanpa dia sadar kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari jarak cukup jauh, dan saat mobil Arkan pergi mobil itu mendekat dan berhenti tepat di depan gerbang saat Yura belum selesai menutupnya dengan sempurna.


Itu dia, Yura tahu itu mobil siapa. Ahsan! Rasa ragu dan takut muncul tiba-tiba. Setiap ada Ahsan, banyak hal yang Yura takuti. Yura melindungi kandungannya, dia agak skeptis pada Ahsan, berkaca pada kasus Dara yang sadis, dia tahu kalau Ahsan selalu mencoba mengusik.


"Han Yura ...." Ahsan mendekat, dan apapun kondisi Yura saat ini malah membuatnya semakin tertarik. Ahsan sudah jatuh hati sejak lama, sejak beberapa bulan lalu.


"Mau apa? Kita sudah gak ada urusan!" tegas Yura mencoba berani walau sebenarnya hatinya sangat takut.


"Heh, Han Yura ... setakut itu kah kamu sama saya?"


'Ya! Kalian obses! Kalian menakutkan!' ungkap Yura dan trauma kecilnya sedikit terusik.


"Tolong jangan ganggu kehidupan kami lagi, kalian bisa mendapat kebahagiaan di luar sana!"


Ahsan menatapnya lekat membuat Yura semakin takut, dia berlindung di balik pintu pagar gerbang yang hampir tertutup, Ahsan cukup menakutinya.


"Jangan takut Han Yura, keluarlah! Saya cuma mau minta maaf sama kamu!"


'Minta maaf?' batin Yura, dia tak mengerti apa maksud kedatangan Ahsan yang sebenarnya.


"Han Yura, maafkan kami ... maafkan saya dan Alana, pasti selama ini kamu merasa terintimidasi kan? Kami ingin minta maaf! Saya akan membawa Alana pergi ke Swiss! Tapi sebelum dia pergi, tolong maafkan dia, Alana pasti, tak akan mampu mengucapkan kata-kata maaf ini di depan kamu secara langsung!"


Yura tak mengerti apa maksud Ahsan, tapi Yura apresiasi dan hargai permintaan maafnya, Yura berharap kata-kata Ahsan benar-benar lahir dari dalam hatinya yang terdalam.


"Itu saja, cuma itu yang mau saya sampaikan sama kamu pagi ini! Gak ada lagi benci, maafkan saya!"


Menunggu beberapa saat sampai akhirnya Yura mengangguk, dia mencoba percaya kalau kata-kata Ahsan itu benar.


"Selamat ya, atas kebahagian kalian! Kamu terlihat semakin cantik saja! Andai saat itu kita gak bertabrakan di Bandara, mungkin saya akan mendapatkan hatimu lebih dulu sebelum Arkan mendapatkannya!"


Deg, itu lah yang Yura takuti, tapi jika di lihat dari sorot matanya, Ahsan memang tak punya niat jahat padanya pagi ini, tapi kata-katanya membuat Yura terheran-heran.


"Masuklah! Tutup gerbangnya rapat-rapat!"


Setelah puas memandangi Yura yang hanya diam saja, Ahsan berbalik dan pergi masuk ke dalam mobilnya lagi, Yura malah bengong dengan sikap Ahsan yang semakin berubah sampai 180° daripada pertama kali mereka bertemu.


'Gue menyesal bertemu dengan dia! Gue menyesal karena gue terlambat menyadari rasa cinta ini sebelum akhirnya dia bahagia dengan yang lain! Han Yura, i love you ... tapi semoga, kalian bahagia!' itulah ungkapan hati Ahsan sebelum dia tancap gas dari depan pagar rumah Arkan dan Yura.


Yura masih terheran-heran, tapi dia berharap kalau Ahsan benar-benar minta maaf padanya dan pergi dan tak berniat untuk kembali menjadi duri lagi.

__ADS_1


'Orang itu ....' batin Yura lalu perlahan dia menutup pagar gerbangnya. Dan sampai hampir seharian ini, Yura jadi terus kepikiran Ahsan dan kata-kata terakhirnya.


__ADS_2