Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
DEBUT


__ADS_3

Yura sedang asyik melayani chat orderan pelanggannya sampai dia senyum-senyum sendiri. Dia bisa sedikit melupakan masalah-masalahnya dengan itu. Bisnis kecilnya lumayan berkembang dan dia senang bukan main.


"24 toples siap meluncur besok siang!" ucapnya sambil terkekeh, dia sangat bangga karena hari esok dia punya orderan dalam jumlah cukup banyak untuknya.


DRRDD ... DRRDD ... ponselnya tiba-tiba menerima panggilan masuk. Arkan! Ya, Arkan yang menghubunginya saat ini. Euporia Yura sedikit terganggu dengan panggilan masuk dari Arkan.


'Huh, pasti Kak Arkan mau tanya soal hubunganku sama Kak Keita! Aku harus jawab apa?' batinnya serba salah, tapi mau tak mau Yura harus hormati panggilan Arkan. Yura pun mengangkatnya sembari berjalan ke depan rumah.


"Halo Kak?"


"Gue di depan!"


Yura tahu karena dari ambang pintu dia melihat mobil Arkan terparkir di depan gerbang rumahnya. Yura menghela nafas lalu walau berat dia langkahkan kakinya menghampiri Arkan.


'Apa yang bisa aku katakan? Huh, sampai kapan aku diam saja dan membiarkan orang lain membenamkanku dalam kubangan prasangka?' batinnya terus menerus. Saat ini Yura sangat gamang karena keputusannya untuk memutuskan Keita demi Dara mendapat kecaman dari orang-orang terdekatnya.


Yura sudah membuka gerbangnya, dan menunggu Arkan keluar dari mobilnya. Yura menunggu di ambang gerbang dan akhirnya Arkan keluar juga dari depan kemudinya.


"M, masuk ...." persilakan Yura.


"Gak usah, kita bicara disini aja!" jawabnya tegas lalu Arkan berjalan mendekat. Yura tahu kalau saat ini Arkan kelihatan begitu kecewa terhadapnya. Walaupun Arkan menyukai Yura, tapi kalau Yura mengkhianati Keita dengan pria lain, dia juga akan marah dan kecewa.


"Coba kasih gue alasan kenapa lo lakukan ini semua sama si Kei?" tanya Arkan yang berdiri menjulang di hadapan Yura yang sedikit kuyu malam ini.


"Maaf ...."


"Lo gak perlu minta maaf sama gue! Seharusnya lo gak usah marah waktu gue lakukan ciuman itu! Ternyata lo emang se-gampang itu!"


Kata-kata Arkan terdengar sangat sarkas dan menusuk ke hati Yura, rasanya sakit sekali. Tapi sekali lagi, Yura tak bisa membela diri. Dia hanya diam dan pasrah saja dihakimi seperti itu oleh Arkan.


"Siapa orangnya? Apa dia lebih hebat dari si Kei? Apa dia lebih hebat dari gue?"


"Maaf Kak, gak ada yang bisa aku jelaskan! Semuanya sudah terjadi!" jawab Yura sama sekali tak membuat Arkan puas, dia malah semakin memandang benci kepada Yura.


"Ternyata selama ini gue udah salah menilai! Apa yang lo dapat dari cowok brandalan itu? Heh, kepuasan? Ternyata seperti ini lo selama ini, gue sampai gak habis pikir dan nyesel udah pernah suka dan kagum sama lo!"


Lagi dan lagi, Arkan belum puas merutuki Yura. Bahkan Arkan telah menaruh stigma kepada Yura, Yura hanya diam menerima hinaan itu. Marah, membantah dan membela diri adalah salah satu jalan bunuh diri untuknya.


"Jadi lo gak bisa jelaskan apa-apa?" tanya Arkan yang jelas terlihat kalau saat ini dia sangat kecewa pada Yura, Yura tetap diam dan itu malah menguatkan dugaan Arkan kalau Yura memang benar-benar menduakan Keita.


"Jadi, suatu hari gue bisa membayar lo juga kan?" bisik Arkan semakin membuat Yura terluka. Sungguh posisinya saat ini membuatnya begitu hina tak terelakan lagi.


Arkan hanya datang tak lebih dari 10 menit, setelah mengatakan kata-kata yang agak merendahkan Yura dia beranjak tanpa kata-kata apapun lagi. Yura terpaku, terlalu sakit untuk melangkah ke dalam rumah mendahului Arkan.


'Aku bodoh! Ya aku memang terlampau bodoh! Lalu sekarang, kalau aku ungkapkan kebenarannya, apa orang-orang akan percaya?'


***


Lagi dan lagi, saat Yura keluar dari gerbang, Zahran sudah stand by di depan gerbangnya. Yura sangat malas menghadapi Zahran.


"Hai pacar!" sapanya tengil dan selalu tengil.


"Kamu gak usah tiap hari kesini!" kata Yura kesal.

__ADS_1


"Siapa tahu lo butuh tumpangan!"


"Gak!" Yura segera memesan taxi online, dia tak mau banyak-banyak berurusan dengan Zahran. Tapi sialnya, taksinya tak kunjung dapat.


"Ayo, kemana aja gue antar! Sebelum gue masuk kerja siang ini!" ajak Zahran, Yura masih enggan.


Tak lama sebuah mobil berhenti di belakang Zahran dan Yura tahu betul kalau itu adalah mobil Maminya Keita. Yura semakin terjebak. Hancur sudah reputasinya sebagai anak baik di mata orang-orang.


"Siapa dia? Kurir?" tanya Mami dengan nada sinis begitu dia turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Yura yang hanya berdiri mematung.


"Saya? Saya pacarnya!" cetus Zahran dan semakin kuat dugaan Mami kalau kabar angin yang dia terima selama ini ternyata bukan hanya issu.


Mami menatap Yura yang tak bisa menegakkan lagi kepalanya. Semuanya hancur lebur sampai tak ada puing yang bisa dipungut.


"Saya gak ngerti! Saya gak ngerti Yura! Apa yang kamu lihat dari dia? Apa Keita tak cukup baik untukmu?" Mami langsung menghakimi Yura, Yura mencoba terbiasa karena sudah beberapa orang yang menanyakan hal yang sama padanya.


Zahran hanya menonton dengan wajah tanpa rasa bersalah dan dia menduga-duga kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Maminya Keita.


"Maaf tante, saya ...."


"Gak usah minta maaf! Kamu gak bisa dimaafkan!"


Dia pergi lagi, seperti menaruh pandangan jijik terhadapa Yura dan Yura? Pasrah! Seperti itulah dia. Mami benar-benar tak ingin berlama-lama disana sampai dia langsung enyah lagi tancap gas dan meninggalkan Yura dengan rasa penyesalannya.


"Mantan calon mertua?" tanya Zahran membuat Yura kesal lagi dan terus menerus.


"Pergi!" usir Yura, matanya menyala-nyala, tak pernah sekalipun Yura terlihat marah seperti sekarang ini. Zahran menatapnya, mungkin kini dia sadar kalau Yura memang korban paling nyata dari obsesi gila Dara.


Yura malah masuk kembali ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan Zahran lagi. Pagi ini satu lagi hal menyakitkan dia dapatkan setelah semalam Arkan juga menghina martabatnya. Yura tak ingin melakukan apa-apa, dia simpan lagi toples-toples kue yang hendak dia antarkan tadi dan dia membenamkan tubuhnya di atas tempat tidur. Langkahnya menjadi sangat berat, saat ini dia malah jadi seperti buronan yang kabur dari penjara.


Zahran diam untuk beberapa saat, mungkin saja dia kini sadar kalau rencana jahatnya bersama Dara membuat seseorang sangat dirugikan.


'Maafin gue! Maafin gue Han Yura! Gue butuh uang!' batinnya lalu dia juga kembali pergi dari sana.


Dan hari ini Arkan debut bersama Sunrise, dia akan menjalani pertandingan pertamanya walau harus menunggu dari bangku cadangan. Semua orang mempersiapkan diri menyambut hari yang cukup penting ini. Seperti Alana, dia langsung membeli atribut-atribut Arkan untuk ia pakai nanti sore di Venue.


Nara dan Azka tak kalah excited, mereka tak sabar melihat Arkan berlaga di Arena besar sebagai salah satu pemain club Basket kebanggaan Ibu kota.


"Pertandingannya jam 4 sore kan?" tanya Nara yang sedang mencocokan jersey baru yang dia pakai dengan tas dan outfit lainnya.


"Iya! Heum, kamu semangat sekali!" goda Azka yang berdiri tepat di belakang Nara yang beraksi di depan cermin.


"Iya dong! Anak kesayangan dan kebanggaan kita berdua akan menjalani debutnya petang ini! Bagaimana aku gak semangat coba?"


"Iya sih ...."


"Gak kerasa ya anak kita udah sebesar ini! Huh, waktu berjalan begitu cepat! Gak pernah menyangka juga kalau kita telah melewati 20 tahun lebih pernikahan kita ini!" kata Nara sedikit mengenang, Azka mendekap tubuhnya dari belakang, ya, mereka memang tak pernah menyangka kalau pernikahan pura-pura mereka malah berjalan sampai 2 dekade lamanya. Mereka sudah melewati aral dan pahit manis kehidupan bersama-sama. Mereka juga mengarungi bahtera mereka melawan berbagai badai dan ombak tinggi.


"Terima kasih karena udah melengkapi hari-hariku yang awalnya terfokus pada satu hal," kata Arkan agak berbisik tepat ke belakang telinga Nara.


Nara menoleh dan mendelik ke arah suami jangkungnya itu, "Siapa? Kalyla?"


"Jangan sebut lagi namanya!"

__ADS_1


"Tapi fokus kamu di jaman dulu itu cuma Kalyla, iya kan? Sampai kamu bucinnya setengah mati! Untung ada aku, kalau gak ada aku gak tahu lagi dulu kamu jadi kayak gimana!" Kata Nara kekik lalu merasa bangga. Azka hanya menanggapinya dengan senyuman. Banyak suka dan duka yang sudah dia lewati selama ini.


"Iya iya! Untung ada kamu, kemudian untung ada Arkan! Setelah itu, kebodohan itu benar-benar sirna!"


"Jadi, rasa suka sama Kalyla kamu anggap kebodohan?" tanya Nara tengil, setelah belasan tahun dia memang merasa menang dan tak mengkhawatirkan lagi kesetiaan Azka.


"Ya!"


"Jangan ada lagi Kalyla-Kalyla lainnya dalam kehidupan rumah tangga kita!" harap Nara.


"Gak akan pernah ada yang bisa menggoyahkan cinta kita berdua lagi!" Kata Azka lalu dengan manis dia daratkan kecupan manisnya di pipi istrinya yang masih ia dekap dari belakang itu.


Ya, walaupun mereka sudah memasuki usia kepala 4 tapi romansa di antara keduanya tak pernah padam. Mereka selalu menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Tak ada alasan untuk tak bersyukur dan untuk tak saling mencintai dengan tulus, mereka memiliki kehidupan yang sangat sempurna dan itu fakta.


"Ayo kita berangkat! Venue pasti udah penuh sesak!" kata Nara lalu melepaskan diri dari dekapan Azka yang masih gagah di usia matangnya ini.


"Oke, cepat dandannya, aku tunggu di mobil ya!" kata Azka lalu dia pergi terlebih dulu meninggalkan Nara yang sejenak memandangi Azka sampai benar-benar berlalu dari pintu ....


'Oh my sweet savage boss!' kenangnya.


Nara ingat semuanya, bagaimana pertama kali mereka bertemu. Sosok Azka yang arogan dan ketus masih lekat di ingatannya. Image itu melekat sebagai kesan pertama yang Nara dapat, tapi sungguh, hal itu tak mengurangi rasa sayang dan cintanya sampai saat ini. Nara ingat, berapa kali Azka membentaknya, memandang sinis dan melontarkan kalimat-kalimat sarkasme padanya, kalau ingat itu semua Nara jadi senyum-senyum sendiri.


"Semuanya benar-benar indah pada waktunya!" gumamnya sembari merapikan kembali penampilannya. Dia sudah siap dan dia segera menyusul mantan bos nya itu yang sudah menunggu di dalam mobil.


Apakah Yura akan mampu melewati aral terjal seperti yang Nara lakukan seperti ini? Sebenarnya, apa yang Yura alami rasanya tak terlalu jauh dengan apa yang Nara lewati di masa lalu. Hanya saja, kisah cinta Yura saat ini terasa lebih komlpek dan rumit. Yura selalu ditempatkan pada posisi yang sulit walau bisa saja dia bertindak egois dan membiarkan alam menjalankan tugasnya. Tapi kebaikan Yura malah disalah gunakan oleh orang-orang jahat di sekitarnya. Tak ada yang Yura harapkan selain balasan yang lebih indah dari Tuhan di masa mendatang.


"Wah terima kasih banyak ya, sampai diantar langsung sama pembuatnya lhoo ...."


Yura sedang mengantarkan beberapa pesanan kuenya. Dia mengantarkannya door to door sebagai langkah promosi untuk usaha kookiesnya ini.


"Iya Bu, terima kasih banyak ya sudah mau pesan kue-kue saya! Semoga suka dan selamat menikmati!" kata Yura sangat ramah, dia memang marketing yang andal, dia kerahkan keramahannya sampai 100% untuk memikat para konsumen.


"Iya, saya pernah coba pas saya arisan di rumah teman saya, saya perhatikan labelnya, makanya saya order sendiri aja, soalnya kue-kue ini memang enak!"


"Wah, terima kasih banyak ya Bu, terima kasih kalau memang Ibu suka! Ya sudah, saya pamit ya ... jangan lupa order lagi yang banyak ya Bu!"


"Oke mbak!"


Yura senang bukan main. Respon positif para pelanggannya membuat ia lupa kalau saat ini dia sedang dirundung masalah yang sangat hebat. Yura lupakan sejenak beban-bebannya, dia sedang menapaki karirnya dan dia akan berusaha fokus.


DRRDD ... Ada notifikasi masuk, Yura cek dan dia sadar kalau hari ini adalah debut Arkan di Sunrise. Dia sampai menyimpan jadwal pertandingan Arkan di fitur pengingat dalam ponselnya.


Sejenak Yura terdiam, dia juga menghentikan langkahnya. Dia jadi ingat apa yang Arkan katakan padanya semalam. Kata-kata sinis dan sarkas dari Arkan kini berputar-putar dalam benaknya, sangat mengganggu.


'Ini hari penting untuknya! Apa aku harus datang? Atau abaikan saja?' batinnya seketika bimbang. Kalau ingat bagaimana semalam Arkan merendahkannya, rasanya Yura tak sudi untuk datang ke Gor dan memberi dukungan secara langsung pada Arkan. Tapi dia ingat lagi, kalau prasangka orang-orang disebabkan oleh dirinya sendiri, karena terlalu bodoh, Yura harus menerima nasib kalau saat ini dirinya lah yang paling bersalah.


"Huh, bagaimana ini? Pergi jangan ya ...." gumamnya masih merasa gamang. Dia tak tahu harus segera pulang ke rumah atau pergi ke Gor tempat Arkan bertanding?


Dan ya, pertandingan masih sekitar 30 menit lagi tapi Gor sudah dipadati para supporter yang siap mendukung para pemain dan menyambut kompetisi musim terbaru. Setelah puluhan tahun berlalu, Sunrise masih menjadi kebanggaan dari generasi ke generasi.


Orang-orang terdekat Arkan hadir, Azka dan Nara, Vano, Alana bahkan Keyla menyempatkan diri untuk menonton di sela-sela kesibukannya. Untuknya, pertandingan perdana Arkan lebih penting dari jadwal padat dan rasa lelahnya.


Tinggal satu orang yang tiba-tiba Arkan tunggu kehadirannya, apakah dia masih mengharapkan kehadiran Yura setelah semalam dia mengecam dan merendahkannya?

__ADS_1


__ADS_2