
Alhasil, Arkan harus lebih rela lagi melihat Yura duduk di samping Keita. Jajanan yang saat ini dia nikmati tiba-tiba terasa sangat hambar, bagaimana tidak, Keita dan Yura asyik bercanda tepat di depan matanya bahkan Alika dan Vano juga mulai kelihatan akrab, tinggal lah dia sendiri dengan layar ponsel saja sebagai pasangannya.
'Huh, sialan!' batinnya.
***
Arkan pulang ke rumah dengan sisa-sisa semangatnya yang mungkin hanya tinggal secuil saja. Tapi dia sedikit lebih semangat saat sang Mama standby di rumah, biasanya Nara sibuk di cafe siang-siang begini, tapi hari ini dia ada di dapur membantu bi Marni memasak di dapur.
"Hai!" sapa Nara yang kelihatan sangat sibuk.
"Tumben Mama ada di rumah?" tanya Arkan yang masih agak terheran-heran.
"Hari ini ada arisan, kebetulan sekarang giliran di rumah kita."
"Oh," Arkan berlalu dari sana, tak ada hal yang menarik sampai sesuatu terpikir tiba-tiba saat dia baru sampai di anak tangga menuju kamarnya. Dia pikir Lulu pasti akan ikut hadir, itu artinya ada kemungkinan juga Yura akan ikut.
Arkan kembali lalu mendekat ke arah Nara lagi.
"Tante Lulu juga?" tanya Arkan tiba-tiba.
"Iya, ini kan arisan geng SMA! kenapa? Bukannya barusan kamu udah pergi ke kamar kamu?"
"M, gak kok!"
Arkan kembali pergi berlalu ke kamarnya.
BRUK, dia jatuhkan tubuhnya yang agak lelah di atas tempat tidurnya dan hal pertama yang dia pikirkan adalah Yura. Dia tarik ponselnya lalu berpikir cukup lama untuk merangkai kata-kata untuk isi pesannya pada Yura.
Drrrdd Drrrddd
Tak lama malah ada telphon masuk darinya, dari nomor dengan awalan +82, itu kode telepon negri ginseng kalau tidak salah, siapa yang menelphone dari Korea selatan?
"Halo?" sapa Arkan ragu-ragu begitu dia angkat telphonnya.
"Annyeong (Halo)." sapa seorang gadis dari seberang sana, sebenarnya Arkan sudah kenal dengan suara itu, suara khas itu membuat Arkan terdiam seketika.
Mungkinkah itu Alana? satu nama yang pernah Keita singgung beberapa hari lalu?
"Arkana, bogosipeo (aku kangen kamu)," ucapnya lagi, Arkan tersenyum simpul. Hampir saja dia melupakan cinta pertamanya karena kehadiran Yura.
"Apa kabar?" tanya Arkan mulai bersuara.
"Aku kesal!" jawab Alana, suara lembutnya mendarat mulus ke telinga Arkan.
"Kenapa?"
"Setelah berbulan-bulan kutunggu kenapa kamu gak pernah hubungi aku!" tuntut gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu.
"Maaf,"
__ADS_1
"Gak akan aku maafin, kecuali besok kamu stand by di bandara buat jemput aku!"
Arkan berdecak, gadis itu akan pulang ke Jakarta? besok?
"Besok?"
"Iya, aku dapat libur panjang, aku kangen Indo! Aku kangen Mama Papa dan tentunya aku kangen kamu, Arkana!"
Arkan tak henti-hentinya tersenyum, dia memang sangat mengagumi mantan kakak kelasnya itu tapi dia tak pernah mengungkapkannya secara gamblang dan itulah yang membuat Alana gemas dan penasaran dengan sosoknya.
"Arkana!" hentaknya, Alana merasa kesal karena Arkan terkesan tak senang dengan panggilannya padahal kenyataannya saat ini Arkan sedang senyum-senyum sendiri.
"Iya,"
"Jemput aku besok jam 11 siang di Bandara!"
"Iyaaa!"
"Janji yaaa!"
"Iyaa!"
"Ya udah deh, kayaknya kamu lagi gak mood banget aku hubungi, huhu sedih! Byeee,"
Alana malah pamit, dan Arkan memang tak banyak bicara, seperti biasa. Arkan terkenang lagi sosok Alana, sudah berbulan-bulan dia tak bertemu dengannya bahkan sebulan belakangan dia sudah tak pernah stalking akun media sosialnya lagi.
Saat telphonnya berakhir, dia kembali ingat pada Yura. Sebelum Alana menelphone secara mengejutkan tadi, dia sebenarnya berniat untuk menghubungi Yura dan ...
Sebelum Arkan memencet tombol hijau bergambar gagang telphon di layar ponselnya itu Yura malah lebih dulu menghubungi Arkana.
Sungguh banyak kejutan hari ini.
"Heum?" sapanya santai padahal dalam hati dia senang karena akhirnya Yura menghibunginya lebih dulu.
"Kak, sekarang aku menuju kesana lho," jawab Yura.
"Oh, ngapain?" tanyanya masih pura-pura cuek.
"Ikut Ibu, katanya ada acara arisan di rumah Kak Arkan."
"Oh,"
"Kak Kei juga rencananya mau kesana!"
Dan baru lah, saat mendengar nama Keita disebut Arkan kembali merasa sesak dan kecewa.
"Oh,"
"Ajak Kak Vano juga kak!"
__ADS_1
"Ya, nanti gue ajak si Vano juga!" sahutnya malas.
"Ya udah, bentar lagi aku nyampe kok!"
"Heum!"
Mereka akhiri obrolan singkat itu, dan Arkan lempar ponselnya ke belakangnya.
Dua gadis yang berhasil merangsak masuk ke dalam hati seorang Arkana baru saja menghubunginya dalam waktu yang berdekatan. Arkan tak bisa menentukan perasaannya saat ini, saat ini hatinya lebih condong pada siapa, Alana? atau Yura?
Yura memang masih dalam perjalanan, dia duduk di seat depan di samping Ibunya yang sedang fokus mengemudi. Hari ini Yura semakin memperlihatkan pesonanya, dia kenakan dress floral selutut dan dia bentuk hairbun dengan bandana kain yang melingkar di atas poninya, dia sudah bergaya ala-ala gadis korea dan dia memang orang Indo campuran Korea.
"Yuraaa," panggil Lulu.
"Iya Bu." sahutnya.
"Kamu sebelumnya tinggal di komplek ini juga kan?" tanya Lulu saat mereka sudah melewati gerbang komplek perumahan menuju rumah Arkan dan Nara.
"M, iya bu, cuma beda cluster." jawabnya lagi dan sejenak dia tiba-tiba teringat akan berbagai macam kenangan di rumahnya yang dulu terutama kenangan kelam saat terakhir dia menginjakan kaki di rumah itu.
"Kamu boleh mengunjunginya nanti,"
Lulu hanya belum tahu kalau rumah itu juga sudah disita oleh pihak Bank karena ulah Ibu dan Tania dan lagi, saat ini Yura tiba-tiba terkenang Ibu dan Tania.
"Rumahnya sudah disita bu," ungkap Yura
Lulu terbelalak, dia baru mengetahui fakta itu dan dia sangat terkejut.
"Benarkah? Astaga! Terus sekarang mereka tinggal dimana?"
"Entah, tapi aku bersyukur karena sekarang aku udah ada di rumah Ibu dan Ayah."
"Iya sayang, beruntung kamu sudah ada di rumah kami! Sudah, gak usah pikirkan mereka lagi yaa?"
"Iya bu."
Mereka sampai di depan rumah Arkan, Lulu parkirkan mobilnya di halaman rumah yang hanya muat untuk beberapa mobil saja itu.
Arkan juga menyaksikan kedatangan Yura lewat jendela kamarnya yang ada di lantai atas, dia terpana! Walau dari kejauhan tapi dia bisa melihat pesona Yura dan dia semakin terpana.
'Sial!' gerutunya, mungkin dia merasa sial karena pada akhirnya gadis manis itu akan segera menjadi milik sahabatnya sendiri.
Dan hari ini Yura lupa memakai tongkatnya, dan tentu saja langkahnya tertatih-tatih.
"Kok bisa sih kamu sampai ketinggalan tongkat?" tanya Lulu dan dia membantu Yura berjalan.
"Entah, kayaknya aku lupa masukin bu, mungkin ketinggalan di halaman rumah Ibu!" sahutnya.
"Ya sudah, nanti kamu duduk aja yaa, gak usah terlalu banyak gerak ya!"
__ADS_1
"Iya bu."