
Azka dan Nara lebih banyak menghabiskan waktu dimeja makan, sejak menikah mereka makan sama-sama.
"kapan gue bisa mulai lagi kelola cafe itu ??" Nara membangun topik pembicaraan.
"kapan pun lo siap." tukas Azka
"tapi kan tempatnya belum dikosongkan, trus alat-alat fitnes itu mau disimpan dimana coba ??"
"siapa bilang ??"
Nara menyimak.
"Budi udah lelang semuanya, sekarang tempat itu udah kosong.."
"Oh ya ?? wah, pasti lo rugi banyak.." Nara merasa bersalah. Azka tidak menggubris dia terus melahap makan siangnya.
"lo juga,.. udah bayar mahal cafe itu, tapi sekarang.." nara menahan kalimatnya, dia lihat ekspresi Azka, ternyata masih datar saja.
"sekarang lo malah balikin itu ke gue.."
"lo urus aja cafe itu dengan baik.. jangan kecewakan orang tua lo .." kata Azka bikin Nara tersentuh, dia tahu dibalik sikap 'savage'nya ternyata tersimpan sisi lembut dan manis.
"lo juga gak punya modal buat mulai semuanya dari awal lagi kan ??" tanya Azka,'ya itu benar' batin Nara, dia hanya mengangguk.
"kasihan banget ya istri gue ini.." goda Azka, Nara tersipu. apa maksud Azka bicara seperti itu, itu kan sukses membuat Nara tersanjung walaupun cuma pura-pura.
"apa itu artinya lo akan kasih gue pinjaman ??"
"ya.. mau gimana lagi, sekarang kan gue ini suami lo, mau gak mau gue harus selalu mendukung usaha lo !!"
Nara tersipu lagi, lebih dari tersanjung. senang sekali rasanya punya suami perhatian seperti Azka.
walaupun pura-pura...
"makasih sekali lagi.."
***
Nara mulai merancang lagi desain cafe yang sempat direnovasi untuk Gym oleh Budi, dia mulai mengecat ulang dan mengatur layout cafenya. dia dibantu beberapa pekerja, disana juga ada Azka yang turut menemani.
"m.. barang-barang yang dulu disimpan dimana ya?? Budi gak membuangnya kan??" tanya Nara pada Azka .
"coba cari di gudang belakang.."
"oh iya mungkin di gudang.." Nara bergegas kegudang belakang, dan benar saja barang-barang dan propertinya yang dulu masih tersimpan rapi di gudang, Nara senang dan lega.
'Ukh..ukh..' gudang terlalu berdebu sampai dia terbatuk-batuk. Azka juga ternyata mengikuti langkah Nara, dia bosan hanya melihat para pekerja.
"Ini semua masih bisa di pakai?" tanya Azka yang tampak tidak nyaman dengan gudang yang berdebu ini.
"Mudah-mudahan bisa, jadi gak harus keluar banyak lagi biaya, gue kan gak mau terlalu merepotkan suami gue ini.." Nara balas menggoda Azka, Azka hanya tersenyum, sedikitpun dia gak Baper seperti yang selalu Nara rasakan.
__ADS_1
'Diih, datar aja reaksinya.. gak mempan gue goda-goda kayak gitu, huh.. dasar..' pikirnya.
Nara masih memilih barang yang mungkin masih bisa dia pakai, tiba-tiba.. krkk.. terdengar suara, seperti suara barang yang akan terjatuh.
Dan ternyata.. Brakkk.. Tangga besi yang ada didekat Nara terjatuh, beruntung Azka sigap menghalanginya sebelum sampai menghantam kepala Nara, Azka tahan dengan punggungnya yang kokoh.
'Aw..' Azka meringis, dia lumayan kesakitan dan Nara yang kaget sampai panik melihat Azka tepat didekatnya ,melindunginya dari bahaya.
"arrgggh.. ya ampun.." pekik Nara panik, pekikan Nara cukup keras dan sampai terdengar oleh para pekerja, mereka pun datang menhampiri.
"tolong..tolong pak.." kata Nara, lalu mereka mengamankan tangga yang barusaja menghantam Azka , dia mencoba menahan rasa sakitnya tapi tetap saja terasa sakit.
"kita ke klinik ya.." ajak Nara panik.
"gak, gak usah.." tolak Azka.
"gak usah gimana ?? tadi benturannya cukup keras, kalo kita langsung periksa ke dokter sekarang setidaknya kita tahu ,punggung lo baik-baik saja atau mungkin ada luka serius.." kata Nara masih panik.
"gak usah, kita pulang aja.."
"tapi.."
"ayo, pulang aja..".
***
Sesampainya dirumah, Nara bantu Azka membuka jaket dan pakaiannya, lalu Nara periksa langsung kondisi punggung Azka, ternyata ada luka lebam disana, lukanya cukup memanjang..Nara panik,sangat panik!
"udah..udah, gak usah panik.."
" gak panik gimana? gimana kalo lo cedera, gue akan jadi orang yang paling bersalah kalau sampai ada apa-apa sama lo, kita ke dokter ya.." bujuk Nara.
"cuma luka lebam kan?"
"iyaa.."
"sekarang lo ambil air es, trus bawa juga handuk kecil.."perintah Azka.
"buat apa.."
"ambilkan aja dulu!"
"iya..iya.." nara bergegas ke dapur membawa air es dalam wadah kecil dan juga sebuah handuk seperti yang Azka minta. lalu dia kembali kelantai atas menuju kamar Azka lagi.
"ini..udah gue bawain.."
"lo rendam handuknya sebentar, trus kompres punggung gue dengan itu..",
Azka telungkup, dia menunggu Nara mengompres punggungnya yang terluka. Nara lakukan seperti yang Azka bilang, dia mulai meletakan Handuk dingin itu dibagian yang terluka, Azka terlihat merasa lebih baik.
Dengan telaten Nara lakukan itu berkali-kali.
__ADS_1
'lihat luka ini , dia lakukan itu semua buat melindungi gue,.huh, maaf ya..gue jadi merasa bersalah..' batinnya.
Lama-lama Nara baru sadar kalau saat ini dia hanya berdua saja dikamar Azka dengan Azka yang bertelanjang dada, dia deg-degan lagi. gak bisa dipungkiri, Nara gak tahan melihat itu didepannya.
'ini lagi.. godaan apalagi ini..' batinnya lagi.
"kalo udah tolong siapkan bathup ya.. " kata Azka.
"i..iyaa.."
Nara bereskan wadah dan handuk kecil itu , lalu dia pergi kekamar mandi Azka, dia nyalakan air lalu menuangkan sabun ke bak mandi. sembari menyiapkan bathup untuk Azka dia malah punya pikiran aneh dan kotor.
'asyik kali ya, berendam bareng di bathup ini sama dia ,huh..gak bisa gua bayangkan..dia peluk gue dari belakang, duduk diantara busa yang wangi ini.. uuhhh, dunia serasa milik berdua..' pikirnya, dia mengkhayalkan sesuatu yang intim bersama Azka.
'ya, dan hal ini lah yang selalu gue takutkan, jangan sampai khayalan tinggi gue ini membuat gue terjatuh.. itu pasti akan sakit sekali..sekarang gue cuma perlu melayani dia sebagai boss ,bukan sebagai suami yang sedang dia perankan saat ini..'
Lamunannya masih berlanjut.
Tanpa dia sadari Azka sudah bersiap untuk menggunakan bathupnya.
"Buka pakaian lo!" kata Azka tegas yang saat ini sudah berdiri dihadapannya, Nara kaget.
"Apa ??"
"Buka! kitakan udah married.. udah gak ada jarak lagi diantara kita.." kata Azka lagi lalu dia membantu Nara melepaskan kancing-kancing bajunya.
Udah gak kebayang lagi gimana deg-degannya Nara saat itu, dia kaget tapi dia memang mau.
"ini.. ma..maksudnya apa.."
"Kita berendam bareng ya, kita nikmati malam biru kita ini.." Azka semakin brutal , lalu dia tanggalkan handuknya dan mulai masuk kedalam bathup, Nara masih diam, dia juga sudah hampir '*****'
"Masuk.." ajak Azka lalu meraih tangan Nara dan menariknya sampai Nara masuk juga kedalam bathup.
Dia duduk dipangkuan Azka, lalu Dengan lembut Azka kecup tengkuknya.
Hasratnya tak terbendung lagi, Azka memperlakukannya dengan lembut.
'Apa ini.. kegilaan apa ini? setan apa yang merasuki kami..'batin Nara berkecambuk.
"Jangan takut, gue akan memperlakukan lo dengan lembut.." bisik Azka tepat dibelakang telinganya semakin merangsang gairahnya.
"Ke..kenapa lo lakukan ini?" tanya Nara gugup.
"Kenapa? lo kan udah resmi jadi istri gue, salahnya dimana?"
"tap.. tapi kan kita pura-pura.."
"tapi kalo gue mau lo layani gue malam ini, gimana? lo keberatan?" bisik Azka lagi, Nara tak mampu jawab. Azka terlanjur membangkitkan gairah sexnya. apalagi Azka memperlakukan Nara dengan lembut.
malam biru bersama didalam bathup
__ADS_1
Bersambung.