
Azka pulang kerumah dan dia cukup kaget saat mendapati Ibu dan Bi Ija masih ada dirumahnya.
"aku kira ibu udah pulang.." kata Azka lalu duduk bergabung diruang tengah.
"mana mungkin ibu tega biarin Nara sendirian dalam kondisi seperti ini.." tukas Ibu, Azka lumayan terkejut lagi dengan tanggapan ibu, yang dia tahu selama ini ibu cukup cuek dengan Nara, Nara cuma senyum senyum sendiri, dia senang sekali hari ini.
"jaga baik baik ya den, jangan biarin non Nara kecapean!" kata Bi Ija.
"iya, pasti!"
"ya udah, kami pulang ya.. jaga dia dengan baik, Nara, ibu pulang dulu yah.. jangan cape cape, banyak banyakin istirahat.." kata Ibu penuh kehangatan, Azka masih tidak mengerti dengan perubahan ini.
"iya bu terima kasih.."
Ibu dan Bi ija bersiap untuk pulang.
"hati-hati bu.." kata Azka.
"iya!"
Setelah mengantar Ibu dan Bi Ija keluar Azka kembali masuk duduk disamping Nara yang duduk nyaman disofa.
"akhirnya.." kata Azka tampak lega.
"akhirnya apa?" tanya Nara yang senang setengah mati saat ini, selain mendapat anugrah yang kini tertanam dalam rahimnya dia pun bahagia karena Ibu berubah menjadi sangat hangat hari ini.
"Ada apa sebenarnya? kok bisa ibu berubah sangat drastis seperti ini.." tanya Azka curiga, Nara mencoba terlihat tenang, untuk sementara dia ingin menyimpan kabar bahagia ini pada Azka.
"m.. ya mungkin karena ibu udah sadar kalau gue ini pantas untuk anaknya.." jawab Nara, Azka tersenyum simpul.
"udah makan?" tanya Azka.
"udah.."
"jangan bohong.."
"udah, tadi Bi Ija yang masakin.. dia juga buatin makanan kesukaan lo!"
"aah iya, bi ija memang selalu perhatian.."
"ya udah sana makan, sendiri aja yaa.. gue mau tetap disini.."
"iyaa.."
__ADS_1
Manis sekali rasanya hari ini untuk Nara, dia tidak menyangka hidupnya jadi seindah ini, dia pikir saat kehilangan segalanya itu adalah akhir dari dunianya, ternyata hikmah dari kesabarannya adalah hidupnya yang indah saat ini, dia bersyukur untuk itu semua.
***
Ibu membawa kabar gembira kerumah, Kakek maupun Ayah sangat surprise dengan kabar itu. mereka sangat bersuka cita, bahkan Ayah yang selama ini terkesan datar dan tanpa ekspresi, hari ini dia menunjukan rasa senangnya.
"ya.. itu memang baru hasil dari alat tes kehamilan, tapi biasanya akurat kok.." kata Ibu yang dengan semangat menikmati makan malamnya.
"Wahh.. ternyata..sempat juga ya kakek menimbang cicit, mudah-mudahan umur kakek cukup ya.." sahut kakek semangat.
"kenapa gak segera periksa ke dokter untuk kepastiannya.." kata Ayah.
"Aku juga sudah bujuk, tapi hari ini dia sangat lemas dan bersikeras gak mau, aku gak mau paksa..pasti hari ini sangat berat untuknya dan oh iya, kami rencananya akan merahasiakan kabar ini sampai lusa, saat Azka ulang tahun, biar ini jadi kado yang tidak ternilai untuknya.."
"ide bagus.. kakek setuju.."
"terserah kalian saja.." tanggapi ayah .
tapi yang pasti mereka sangat senang dengan kabar ini.
***
Pagi berikutnya, Nara masih saja mengalami morning sick yang menyiksa, dia tak mau makan atau hanya sekedar bangkit dari tempat tidurpun dia sangat merasa berat, Azka jadi cemas dan bingung harus berbuat apa.
"gak ada.."
"ayolah..lo kan harus makan.. kalo gitu kita ke dokter ya.."
"gak mau, gue cuma pengen rebahan aja..udah, kalo mau makan, makan aja!"
Azka hampir menyerah.
"kalau gak ke dokter gimana kita bisa tahu lo sakit apa.. ayolah.."
'kalo sekarang kita ke dokter ,lo nanti tahu apa yang terjadi ' pikir Nara dalam benaknya.
"gue cuma butuh istirahat beberapa saat lagi.." kata Nara, lama lama Azka menyerah juga
Dia kesal lalu dia tekuk mukanya, ikut rebahan malas disamping Nara.
"perlakuan ibu kemarin benar-benar bikin gue ingat sama.. ibu..." tiba-tiba Nara bercerita, lalu hatinya seketika perih, dia sangat merindukan ibunya.
"dia itu.. sosok yang sangat lembut..huh, gue kangen sama dia.." kenang Nara, matanya berkaca kaca, Azka usap kepalanya.
__ADS_1
"dia akan sangat bangga melihat lo seperti sekarang ini.." kata Azka mencoba menguatkan.
"Ibu,ayah dan kakek..mereka juga keluarga lo juga sekarang, jadi lo gak sendirian.." tambah Azka, Nara coba melapangkan dada tapi tetap saja dia ingat dan rindu pada orangtuanya.
***
Ini sudah jam 12 tepat, Nara sengaja menahan rasa kantuknya untuk moment ini, dia perlahan meninggalkan kamar Azka dan pergi menuju kamarnya dulu.
Dia siapkan sebuah box kecil dengan hiasan pita yang manis, lalu dia letakkan tespek dengan 2 garis merah didalamnya, dia malah senyum senyum sendiri, dia merasa konyol saat ini tapi dia berharap Azka akan senang dengan kejutannya ini.
Lalu dia menulis sesuatu
'goes to be a daddy, hope it'll be the best gift '
Begitulah kira-kira isi dari tulisan Nara.
Setelah selesai Nara kembali ke kamar Azka, tapi langkahnya tertahan didepan pintu. sebelum benar-benar masuk kedalam kamar Nara dengar ponsel Azka berbunyi, sepertinya Azka mengangkatnya.
"halo.. Kalyla? ohhh.. aahh, iya.. makasih, ini jam berapa? iya..kamu orang pertama.. iya iya.. makasih ya.."
Ternyata yang menelphone Kalyla, sepertinya dia menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat pada Azka, Nara jadi malas! diapun urungkan kejutannya, dia kembali kekamarnya dan menyembunyikan kado kecil itu. dia kesal karena Kalyla lebih dulu memberi selamat pada Azka.
Akhir-akhir ini Nara memang sangat sensitif mungkin karena perubahan hormon yang dia alami, dia cenderung moody, ya begitulah.
"Nar.. Nara.."
terdengar Azka memanggil, sepertinya Azka mencari Nara yang tiba-tiba menghilang dari sampingnya.
Nara pura-pura tidur, dia gak mau Azka tahu kalau dia sedang menyiapkan kejutan untuknya.
Azka sudah sampai dikamar sebelah, dia heran kenapa Nara pindah kesana, dia duduk ditepi ranjang dimana Nara terbaring diatasnya.
"kok malah tidur disini?" tanya Azka. Nara diam pura-pura tidur dan pura-pura gak dengar.
"Nar.."
Nara masih membatu tak bereaksi.
"ya udah kalau mau disini, gue balik kekamar ya.." kata Azka pamit lalu dia pergi kembali kekamarnya.
Nara kesal, dia merasa Azka mengabaikannya, dia juga kesal karena Kalyla jadi orang pertama yang memberi ucapan selamat pada Azka.
'iihh, kok jadi kesel banget ya.. iiih ' gerutu nya dalam hati lalu dia tarik selimutnya dan mencoba terlelap dibawahnya walaupun hatinya masih sesak.
__ADS_1
Bersambung.