
Bangunan cafe yang kini sudah resmi jadi milik Azka masih tutup, tidak ada kegiatan apapun. dari luar terlihat kalau disana akan dijadikan sebagai pusat kebugaran.
Malam ini Nara pulang dan sengaja melewati cafenya itu, dia hanya menyentuh jendelanya dan hatinya sakit sekali. seharusnya sampai saat ini dia ada didalamnya, mengurusnya dan mengelolanya.
'tapi setidaknya tempat ini jatuh ketangan yang tepat..' batinnya.
Tiditt..tiditt
Ada seseorang membunyikan klakson dengan lantang, mobil itu baru saja terparkir didepan Nara, Nara perhatikan dan ternyata itu Azka, ternyata Azka mengikutinya, Nara sampai kaget.
***
Mereka masuk kedalam, setiap sudut sudah diisi dengan peralatan-peralatan fitness, Azka mengecek satu-persatu barang-barangnya. Nara sebenarnya kecewa, karena bagaimanapun dia merasa masih memiliki peninggalan ayah ini.
"gue udah keluarkan banyak uang buat menyiapkan ini semua.." kata Azka dan masih memeriksa Gymnya.
"pasti.." tukas Nara singkat.
"tapi.." kata Azka tapi dia menahan kalimatnya, lalu dia perhatikan seisi ruangan lalu dia melirik kearah Nara yang tampak tak semangat.
"tolong jaga bangunan ini dengan baik ya! setahu gue, dulu ayah merintis usahanya ini dengan susah payah..walaupun sekarang sudah beralih fungsi, tapi setidaknya , lo pasti akan menjaga cafe ini dengan baik.." kata Nara.
"tempat ini pasti sangat penting dan berharga buat lo kan?" tanya Azka serius, Nara gak mampu jawab kalau dia bilang iya, hatinya akan sakit karena kenyataannya dia tidak mungkin memilikinya lagi.
"lo boleh memilikinya lagi!" Kata Azka sangat mengejutkan sampai Nara terpaku.
'seriuss?' batinnya.
"tapi ada syaratnya.." kata Azka penuh teka teki, Nara menyimak menunggu apa yang Azka katakan selanjutnya. dia akan lakukan apapun asal Cafenya ini kembali jatuh ke tangannya.
Azka menghela Nafas, diam..membuat Nara makin penasaran, Azka fokus menatap Nara yang bengong gak sabar ingin tahu apa syaratnya..
"apa? bilang aja, gue akan lakukan apapun asal cafe ini jadi milik gue lagi!" lama-lama Nara gak tahan dan bertanya langsung pada Azka.
"Lo harus mau jadi istri gue!!!"
Nara terpaku dan membeku, gak mampu berkata apa-apa, speechless.
"gue harus terlihat tegar didepan orang-orang, dan lo tahu? gue gak akan bisa seperti itu tanpa lo disamping gue!"
Brrrr, Nara makin menggigil.
"Gue harus tunjukan kalau Kalyla bukan segalanya buat gue!!" lanjut Azka lalu berjalan mendekat.
"lo ngerti maksudnya kan?" tanya Azka kini berdiri lebih dekat dengan Nara.
Nara dilema, dia ngerti maksud Azka..
"cuma pura-pura kan?" tanya Nara pelan dan dia tidak berani menatap Azka.
"iya.."
"tapi cafe ini jadi milik gue lagi kan?" tanya Nara lagi.
__ADS_1
"ya, bahkan lo boleh mengubahnya lagi jadi seperti yang lo mau kapanpun lo mau!"
Nara berpikir keras, tawaran ini sayang sekali untuk dia lewatkan. tapi dia tahu kalau pura-pura jadi istri Azka mungkin akan membuatnya terluka kelak.
"gue pikir-pikir dulu.." kata Nara.
***
Hari-hari berlalu, bahkan sudah 2 hari Nara gak datang kerumah Azka. dia merasa sangat dilema, ada banyak hal yang dia pertimbangkan.
Pagi sudah berlalu, Nara masih berkutat diatas kasurnya. dia lupa banyak hal, lupa makan, lupa mandi dan yang dia pikirkan hanya tawaran Azka beberapa hari lalu.
'gak mungkin gue gak jatuh cinta sama dia nanti.. dan saat gue benar-benar sayang sama dia nanti, dia putuskan buat mengakhiri perjanjian ini. tapi... gue harus dapatkan kembali cafe itu, dan sekarang gue hampir dapatkan cafe itu lagi !!' hatinya berdebat , sudah berhari-hari dan masih dilema.
***
Azka juga menunggu kesepakatannya bersambut baik dari nara. dia tahu keputusannya ini memang agak konyol, tapi dia hanya ingin menunjukannya pada Kalyla dan orang-orang yang menganggapnya lemah saat ini.
Dia berdiri didepan jendela, dia tatap jalanan dan berharap ada Nara ada disana berjalan menuju kearahnya.
'bantu gue !! bantu gue tunjukan sama orang-orang kalau gue bisa tanpa Kalyla!' pikirnya.
***
Ada pertandingan hari ini..
Sebelum playoff Azka menyisir tribun, dia tidak menemukan yang dia cari, dia malah mendapati Kalyla yang semakin berani menunjukan kedekatannya dengan Yuki, dia datang bersama beberapa kru dan dengan percaya diri dia kenakan jersey dengan no punggung Yuki.
Azka mencoba membiasakan diri, tapi tetap saja menyakitkan .
***
Azka pulang dengan sisa-sisa semangatnya yang sebenarnya hampir habis. dia heran kenapa pintu tidak terkunci, dia masuk dan..
TADAA..
Ada Nara disana sedang menyiapkan makan malam, Semangat Azka terisi penuh otomatis. melihat Nara seperti melihat kebahagiaan yang sudah lama tidak ia temukan.
Dia berjalan mendekat.
"sebentar lagi selesai.. sana tunggu dimeja makan!" kata Nara yang masih berkutat di dapur, Azka tersenyum, gummy smilenya itu lho..tak akan ada seorangpun yang tidak terpikat dengan pesonanya, itu lah yang membuat Nara takut, dia takut jatuh cinta terlalu dalam padanya.
"sepertinya lo udah punya jawaban.." kata Azka, Nara tidak jawab dan malah fokus menyajikan masakannya.
"hey.." panggil Azka, dia kesal dicuekin..
Nara hanya menoleh
"apa?"
"jawaban lo!!" kata Azka ketus kali ini.
Nara menghela nafas lalu menghadap Azka, dia angkat wajahnya karena Azka terlalu tinggi untuknya.
__ADS_1
"tapi gue mau cafe itu kembali beralih nama jadi nama gue.." kata Nara memberi syarat.
"secepatnya!" tambahnya.
"iyaaaa.. apa lagi?" tantang Azka.
"m..gue mau tetap dapat gaji bulanan dari lo.."
"oke, ada lagi?"
"pagi gue beres-beres dirumah ini, trus pergi ke cafe..sepulang dari cafe baru gue beres-beres lagi disini.."
sepertinya Azka setuju dengan syarat-syarat yang Nara ajukan.
"oke.."
Kini Nara sudah final dengan keputusannya, dia hanya berharap langkahnya ini adalah keputusan terbaik, walaupun dia sendiri gak yakin.
******
Azka membawa Nara ke rumah keluarga besarnya. Nara canggung tapi Azka kelihatan yakin sekali dengan ini. tanpa ragu dia bawa Nara kehadapan keluarganya.
Ibu,Kakek dan Ayah sampai terkejut melihat hal itu, Terlebih Ibu dan Kakek yang sudah tahu bahwa Nara itu ART Azka.
"sebenarnya waktu itu Azka bohong, dia memang bukan ART, tapi .. dia pacar Azka!" kata Azka memantik reaksi dari ibu khususnya, sedang kakek maupun ayah belum bereaksi banyak, mereka masih menyimak.
"benarkan dugaan ibu.." desis ibu ,kesal.
"Kami akan menikah!" kata Azka to the point, kini Ayah dan Kakek benar-benar kaget.
"apa maksudmu?" tanya kakek.
"ya.. Azka ingin menikahi Nara!" tegasnya.
"sayang, kamu belum cukup mengenal dia, kami juga belum mengenal personal dan keluarganya..kamu tahu kan pernikahan itu bukan untuk main-main.." kata Ibu mencoba membujuk Azka untuk mengurungkan niatnya.
"kami sudah saling kenal, Azka.. sudah merasa nyaman dengan hubungan ini, kalian tahu? Nara ini sebatang kara, dia gak punya keluarga, orang tuanya sudah lama meninggal, jadi aku merasa harus segera menikahinya biar dia gak merasa sendiri lagi.."
Nara terhanyut dengan jawaban Azka, apa yang dia katakan memang benar,saat ini dia memang sendiri tak ada seorangpun yang bisa dia anggap keluarga.
Kakek sebenarnya sudah merasa simpati pada Nara sejak pertama bertemu, dia merasa kalau niat Azka saat ini cukup mulia.
"Kalau itu memang yang kalian mau, kakek.. setuju-setuju saja.." kata Kakek.
"kakek.." kata Ibu yang dari tadi sangat kontra dengan keinginan Azka.
"Aira, anakmu sudah dewasa! kita harus mendukung niat baiknya.." kata Kakek.
"tapi kek.."
"apalagi? bagaimana denganmu Yoga, lihat anakmu.. dia sudah besar, lihat niat mulianya ini..seharusnya kalian bangga padanya!"
Ayah yang dari tadi diam saja, kali ini dia menatap Nara untuk beberapa detik.
__ADS_1
"Ya, menikahlah kalau memang kalian sudah siap!" kata Ayah cukup meyakinkan Azka kalau seluruh keluarganya setuju walaupun ibunya agak menentang.
Bersambung.