Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Bicara, Mendengar & Percaya


__ADS_3

"Mas ...."


"M, maaf Mbak, Mbak gak bisa mengganggu privasi pemain. Tolong hargai itu Mbak," kata team medis itu, Yura mengerti dengan rasa ragu orang di hadapannya sekarang tapi mau bagaimana lagi? Yura harus segera menemukan cara agar Arkan menemuinya di Poliklinik itu.


"Gini aja, pas pertandingannya selesai, tolong bisikan saja nama saya sama Arkan! Saya mohon Mas, saya bukan fans nakal! Saya sengaja jauh-jauh dari Jakarta karena ada sesuatu yang sangat penting! Nanti, dia pasti mengerti kalau dia sudah dengar nama saya!" bujuk Yura, team medis itu sejenak menatap Yura. Ya, dia sebenarnya tak tega melihat kondisi Yura yang sungguh sangat lemas.


"Tapi saya gak jamin ya kalau Arkan akan datang kemari menemui kamu!"


"Iya, yang penting Mas-nya kasih tahu aja nama saya!"


"Oke!"


"Atau, berikan kartu identitas saya ini!" Yura menarik KTP dari dalam tasnya untuk meyakinkan orang itu.


"Oke-oke! Kamu tunggu aja, tadi udah masuk quarter terakhir kok! Ini ... minum obatnya, sementara saya akan kembali ke Arena!"


"Iya terima kasih banyak ya Mas sebelumnya!"


Orang itu hanya menukas dengan senyuman dan pergi beranjak meninggalkan Yura sendiri di ruang kecil itu.


'Datanglah Kak! Lihat aku, dengar penjelasanku!' batin Yura lirih sembari menunggu kehadiran Arkan.


Dan ya, saat kembali, pertandingan sudah selesai dengan kekalahan Sunrise. Semua orang tahu kalau penampilan Arkan sangat mengecewakan sore ini. Setelah selesai briefing terakhir, team medis itu menghampiri Arkan yang hendak berjalan menuju loker room bersama pemain-pemain lainnya.


"Mas, Mas Arkan tunggu sebentar!" tahannya, Arkan mengentikan langkahnya.


"Tadi ada penonton yang pingsan di tribun, dan setelah dilihat dari kartu identitasnya, ternyata dia supporter Sunrise dari Jakarta!" kata orang itu dan Arkan masih bersikap biasa, malah Arkan tampak malas menghadapi orang itu. Dia lelah dan ingin segera istirahat di kamar hotelnya.


"Ini, ini kartu identitasnya, m ... gadis itu minta saya untuk memberikan ini sama Mas!" Orang itu memberikan KTP Yura, awalnya ekspresi Arkan masih datar saja tapi setelah dia tahu itu kartu identitas Yura, barulah dia terkesiap seketika.


"Sekarang dia dimana?" tanya Arkan sigap.


"Di Poliklinik Mas! Apa benar Mas Arkan kenal sama gadis ini?"


"Dimana Poliklinik-nya?"


"Mari saya antar!"


Arkan setengah berlari menuju ruang dimana Yura masih bersandar lemah di brankarnya. Arkan kaget dengan kedatangan Yura, Arkan yakin kalau Yura datang untuk memberi penjelasan atas apa yang terjadi tadi pagi, Arkan hargai hal itu.


Dan akhirnya, Arkan mendapati kekasihnya begitu pucat dan lemah. Arkan berjalan beberapa langkah dan Yura sampai tak bisa menahan lagi air matanya.


"Kak ...." panggilnya dengan suara menggumam.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Arkan, ternyata suasana hatinya belum pulih 100%, Arkan masih ingat postingan menyesakkan tadi pagi.


"Aku kesini buat menjelaskan semuanya," tukasnya lalu Yura raih tangan Arkan. Saat ini dia benar-benar seperti tak ingin kehilangan cintanya lagi.


Sejenak Arkan diam, dia mencoba menetralkan emosinya tapi melihat Yura saat ini, hatinya juga semakin tak tega.


"Kak Arkan harus dengar penjelasanku! Aku sengaja datang kesini buat menjelaskan semuanya! Aku gak mau kamu termakan sama kesalah fahaman ini!"


"Kamu harus ke Dokter! Nanti salah satu official team akan antar kamu ke Dokter!" kata Arkan dan dia masih bersikap dingin. Yura takut, dan tentu saja Yura merasa sedih. Yura mengerti maksud Arkan, apa Arkan ingin segera enyah dari hadapannya dan meminta orang lain untuk mengantarnya ke Dokter?


"Kak Arkan marah? Dan gak mau dengar penjelasanku?" tanya Yura dengan mata berkaca-kaca.


"Aku cape! Mau istirahat!"


Jleb, jawaban Arkan begitu memilukan. Yura merasa kedatangannya ini sangat sia-sia. Apa benar Arkan semarah itu sampai tak mau mendengarkan Yura sama sekali?


"Gak usah kalau begitu, aku pulang aja ke Jakarta!" Yura langsung menyerah, Yura bangkit dan turun dari brankarnya. Yura merasa percuma membujuk Arkan untuk mendengarkan penjelasannya. Sikap dingin Arkan sudah cukup membuat Yura yakin, kalau apa yang dia lakukan saat ini begitu sia-sia.


'Benarkah? Jadi kamu juga udah termakan permainan Ahsan Kak? Jadi aku harus marah sama siapa? Apa aku boleh marah sama kamu? Kenapa kamu gak mau dengar aku sama sekali?' batinnya perih, bahkan air matanya meniti dan mengalir begitu saja, sikap savage Arkan terasa menamparnya dengan telak.


"Han Yuraa ...." tahan Arkan saat Yura sampai di ambang pintu poli klinik itu. Yura menahan langkahnya yang sedikit gontai karena perutnya masih terasa perih.

__ADS_1


"Percuma kan aku datang kesini!" kata Yura di dalam isak tangisnya yang sudah pecah sejak tadi.


"Tunggu disini!" kata Arkan lalu dia mendahului langkah Yura.


"Buat apa nunggu? Nunggu orang suruhan kamu datang kesini? Gak usah, aku bisa pergi sendiri!" ujarnya kekik, Yura sangat kesal.


"Tunggu saja! Aku harus ke loker! Tetap disini!" kata Arkan yang pada akhirnya tak tega melihat kondisi Yura.


Yura pun mengalah, dia akhirnya mau menunggu sampai Arkan kembali dari loker roomnya. Mungkin Arkan juga harus meminta izin kepada coach dan manager team untuk bisa pulang sendiri dan tak ikut bis team Sunrise.


Sembari menunggu, Yura mencoba menenangkan hatinya. Walau Yura sendiri ragu dengan sikap Arkan barusan.


'Apa dia semarah ini?' tanya Yura dalam hatinya sendiri. Dia tak menyangka kalau respon kekasihnya akan sebeku dan sekejam ini. Walau pada akhirnya Arkan mau mengalah untuk meluangkan waktunya walau sebentar.


Dan setelah sekitar 10 menit menunggu, Arkan kembali menghampiri di lorong yang menghubungkan ruangan lainnya dengan poli klinik itu. Yura hanya mampu berharap kalau dia masih memiliki kesempatan untuk mengklarifikasi semua kelicikan Ahsan tadi pagi, dengan begitu Yura masih punya kesempatan untuk bisa memiliki Arkan lebih lama lagi.


"Coach cuma kasih aku waktu sampai jam 9 malam, dan ini udah jam 7 lewat! Waktu kita gak banyak! Kita ke Dokter, terus cari kamar hotel buat kamu istirahat! Besok pagi kamu pulang!" tutur Arkan masih dengan sikap dinginnya.


"Kalau begitu gak usah ke Dokter! Waktu kita gak banyak, semoga dengan sisa waktu ini, aku bisa meyakinkan Kak Arkan tentang apa yang terjadi tadi pagi!" kata Yura.


"Kamu harus ke Dokter!"


"Gak! Aku bisa menyembuhkan rasa sakitku ini dengan cepat nanti! Tapi kalau aku harus kehilangan kamu gara-gara kejadian tadi pagi, mungkin rasa sakitnya gak akan hilang sampai bertahun-tahun!" ungkap Yura, dalam sekali dan perlahan, keangkuhan Arkan juga mulai memudar.


Beberapa saat Arkan tatap Yura, dia sadar, seharusnya Arkan tak bersikap dingin seperti tadi. Tapi amarahnya masih saja menguasai dirinya terlebih hari ini team basketnya kalah dan Arkan akui kalau fokusnya terpecah gara-gara unggahan Ahsan tadi pagi.


"Ya udah, kita cari makan dulu!" kata Arkan lalu dia tarik tangan Yura dan menggandengnya berjalan ke luar gedung arena basket itu. Yura merasa sedikit lebih tenang walau Arkan masih sedikit beku, tapi setidaknya tuntunan Arkan membuat Yura mendapat sedikit harapan dan angin segar.


Kemana mereka pergi?


Mereka menepi di sebuah Resto di salah satu sudut kota Surabaya yang ramai. Sepertinya Arkan sedang ingin makan makanan jepang. Mereka menikmati suasana malam di bilik bambu yang tersedia disana dengan beberapa sajian khas yang menggugah selera.


Arkan masih saja diam dan Yura sendiri sampai bingung harus mulai dari mana.


"Kaaak ...."


"Tadi pagi, dia tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah dan seperti biasa, berlaku kasar dan maksa aku buat masuk ke dalam mobilnya!" tutur Yura, Arkan menyimak dengan seksama.


"Saat aku mencoba untuk menghubungi Kak Arkan, dia malah rebut handphone-ku dan itu tadi, dengan cepat dia malah mengambil swafoto tadi dan dia sendiri yang mempostingnya di media sosialku!" jelaskan Yura, Arkan marah, kini dia tahu kebenarannya dan dia yakin kalau kekasihnya itu tak mungkin berbohong. Tangan Arkan mengepal di atas meja, ada kemarahan yang begitu besar tapi dia tak bisa meluapkannya sekarang. Selain karena terpisah jarak, Arkan juga ingin fokus dulu pada sisa pertandingannya.


"Aku gak bisa merebut handphone-ku kembali, dia menahannya dan saat Kak Arkan menelpon, dia sendiri yang me-rejectnya! Bahkan dia melemparnya sampai hancur ke halaman parkir tokoku!" lanjut Yura dan Arkan semakin tak habis pikir.


"Apa maunya? Kenapa dia sampai berlaku kurang ajar begitu?" tanya Arkan penuh kebencian.


"Dia mau kita putus!"


"Heh, jadi dia juga menginginkan kamu?"


"Gak! Cuma satu tujuannya! Dia cuma mau kalau Kak Arkan itu lanjut sama Kak Alana!"


Arkan benar-benar tak habis pikir. Dia memendam kemarahan yang luar biasa tapi dia mencoba mengolah emosinya dengan baik. Arkan tak ingin pertandingan selanjutnya dia kalah lagi.


"Aku gak mau kehilangan Kak Arkan!" kata Yura jujur dari dalam hatinya, Arkan menoleh lalu menatapnya lagi.


"Jangan takut! Kita gak akan pernah putus! Aku jamin itu!" tegaskan Arkan sembari memegang pundak Yura dan akhirnya, akhirnya Yura bisa benar-benar bernafas lega. Yura yakin kalau keraguan Arkan sudah selesai.


"Jadi Kak Arkan percaya?"


"Seharusnya aku percaya sejak awal!"


Yura senang, dia senang sekali karena praharanya akhirnya bisa diselesaikan. Benar kata orang, masalah itu memang harus cepat-cepat dibicarakan, jika dipendam, maka akan mengendap dan akan semakin rumit.


"Yur, maaf ya tadi aku sempat meragu ... Aku ... aku takut kalau yang terjadi tadi pagi itu fakta! Aku juga gak mau kehilangan kamu!" ungkap Arkan pada akhirnya dan kebahagiaan Yura semakin bertambah.


"Iya, aku ngerti banget kok Kak! Kejadian tadi pagi pasti sangat membuat Kak Arkan marah dan salah faham dan beruntung, beruntung aku punya sahabat kayak Alika! Dengan sigap dia memesankan tiket kereta express, dan hasilnya, aku bisa tiba disini dengan cepat walau tadi sikap Kakak sempat bikin aku down!"

__ADS_1


Kiss, dengan mesra Arkan daratkan kecupannya di kening Yura, maniis sekali. Akhirnya Arkan sudah bisa menyingkirkan keraguannya.


"Maaf ya, andai kamu tahu, aku cuma takut kalau aku harus kehilangan kamu! Jujur aja, masalah ini, hampir bikin aku putus asa! Aku marah, aku cemburu sampai aku kehilangan logikaku sendiri!"


"Its okay! Jadi ... mulai sekarang kita cuma perlu saling percaya Kak! Cuma itu kok kuncinya!"


"Iya, kamu juga jangan pernah takut dengan ancaman siapapun! Kamu harus berani bicara ya ...."


"Iya Kak."


"Heum, kayaknya kita harus cepat-cepat nikah deh!"


Yura berdecak dan seketika hatinya menjadi gugup, ide Arkan barusan membuatnya tersipu.


"Masih terlalu cepat Kak!" sangkalnya malu-malu.


"Tapi, kalau kita nikah, mungkin gak akan ada yang lancang ganggu kamu lagi! Aku juga bisa lebih leluasa melindungi kamu 24 jam full! Kamu akan terjaga aman di rumahku, rumah kita nanti!"


Sungguh wacana yang membuat hati Yura dag dig dug ser, tapi kalau dipikir-pikir, apa yang Arkan katakan ada benarnya juga. Dengan menikah mereka juga akan terhindar dari perbuatan maksiat yang mungkin satu waktu tak akan bisa mereka hindari. Saat dua insan yang tengah dimabuk asmara bersama, terjangan nafsu biasanya tak bisa ditahan lagi. Tapi ... aaah, rasanya geli sekali membayangkannya, pikir Yura.


"Sayaaang ...." panggil Arkan sembari mencari wajah Yura yang menunduk dan bersembunyi, Arkan tersenyum melihat Yura yang masih saja tersipu malu di hadapannya.


"Aaah, Kak Arkan."


"Kita harus menikah secepatnya!"


"Kaak ...."


"Kenapa? Gak mau? Gak yakin?"


"Bukan gitu, tapi ... kita kan belum begitu dewasa, aku ... aku belum begitu siap, jadi tolong simpan wacana ini ya ...."


"Belum siap apa? Kamu itu gadis yang rajin kok, kamu juga jago masak, umur kita juga udah lewat 20, apalagi?" tanya Arkan lagi-lagi membuat Yura merasakan gelitikan di area perutnya, saat seseorang yang sedang jatuh cinta merasa nervous, memang itulah yang dirasakan dengan jelas.


"Apa kamu gak siap ...." Arkan melempar tatapan curiga yang menggoda.


"Apa?"


"Kamu belum siap melayaniku di atas ranjang?"


DEG, aaaah obrolan ini semakin liar, batin Yura. Dia tak ingin meneruskannya karena dia tak bisa mengendalikan rasa gugupnya itu. Arkan masih menatapnya dengan tatapan menggoda.


"Iiiih, Kak Arkan apaan siih!" sangkalnya sementara pipinya semakin memerah.


"Kalau buat itu kita bisa menundanya sampai kamu siap, aku gak akan maksa kok, yang penting kamu jadi istriku, dengan begitu, aku bisa melindungi jiwa raga kamu 24 jam kalau perlu!"


Yura semakin baper, sikap Arkan yang awalnya dingin kini berhasil membuatnya baper tingkat dewi.


"Udah ah, geli tahu ...." gumam Yura lalu memalingkan wajahnya.


"Apa? Geli? Aku kan gak gelitikin kamu?"


"Kak Arkaaan ...." sangkalnya manja.


"Iya calon istriku!"


"Iiih Kak Arkan!"


Arkan mencubit hidung Yura dengan gemas. Obrolan yang awalnya tegang dan dingin seketika meleleh saat mereka saling mendengar, saling bicara dan salaing percaya. Itulah kunci dalam sebuah hubungan yang harmonis.


"Mau ya? Setelah kompetisi selesai aku akan lamar kamu!"


"Tapi ...."


"No debate!" tegas Arkan menyambar sanggahan yang hendak Yura lontarkan.

__ADS_1


"Kaak ...."


"Sudah, cepat makan, kamu harus istirahat!"


__ADS_2