Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
HAPPINESS


__ADS_3

"Kayaknya masuk angin deh Kak, soalnya kepalaku pusing kleyengan terus perutku juga mual! Gak enak banget rasanya!" ungkap Yura, dia terduduk lemas di samping Arkan yang menatapnya lekat penuh rasa khawatir.


"Kita ke Dokter, biar tahu pastinya!" ajak Arkan, tapi Yura malah mengerutkan tubuhnya, malas melanda, tampak jelas kalau saat ini dia malas pergi ke luar rumah, untuk beranjak dari sofa itu saja pun sangat sangat sangat malas!


"Gak dulu deh, palingan ini cuma masuk angin! Aku mau rebahan di kamar aja!" tolaknya dengan manja.


"Ya udah!"


Arkan pun menggendong tubuh lemas Yura menuju kamar kemera di lantai atas. Tangan Yura yang lemas berpegangan pada pundai kokoh Arkan. Arkan juga bisa dengan jelas melihat betapa pucat wajah istrinya.


Perlahan Arkan baringkan Yura di pembaringan.


"Mau aku pijit-pijit pake minyak angin?" tawarkan Arkan.


"Heum, aku butuh aroma yang hangat-hangat!" sahutnya pelan.


Arkan mencari minyak kayu putih yang selalu ada di nakas di samping ranjang. lalu dia bubuhkan sedikit di telapak tangannya. Arkan oleskan di sekitar tengkuk Yura lalu memijatnya dengan perlahan.


"Uooooo!" aba-aba untuk muntah dan sendawa ringan keluar sebagai reaksi penanganan ringan yang Arkan lakukan. Yura merasa lebih baik walau tak henti-hentinya ia merasa mual.


"Kayaknya kamu kecapean! Kamu juga makannya sedikit akhir-akhir ini! Makanya jadi lebih gampang keserang kayak gini!" kata Arkan, Yura tak mampu menjawab, dia hanya ingin menikmati pijatan penuh kasih dari suaminya itu.


"Mungkin ...."


"Udah makan?"


"Belum!"


"Dari habis sarapan tadi?"


"Iya, belum!"


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan!"


"Gak usah, aku mau istirahat aja, sebentar!"


Yura meminta Arkan untuk menghentikan pijatannya. Yura ingin berbaring saja, kepalanya terlalu berat untuk tetap duduk.


"Ya udah, aku mandi dulu ya! Nanti aku pijat-pijat lagi," ujarnya lalu bersiap untuk membersihkan diri dari peluh yang membasahinya sepanjang sore ini. Yura hanya menyahut dengan anggukan kepala. Arkan naikan selimut untuk menyelimuti Yura dengan nyaman. Perhatian sekali.


***


"Makan ya? Dikit aja!" bujuk Arkan, sudah siang dan Yura masih berkutat di tempat tidur. Rasa pusing dan mual itu tak kunjung pergi.


"Iya Kak, nanti aja, sebentar lagi!" sahutnya, dia benamkan wajahnya yang semakin pucat dia dalam bantal, kondisinya membuat Arkan begitu cemas.


"Nanti kapan? Sejak kemarin siang kamu gak makan kan?"


"Gak ada sesuatu yang pengen aku makan ...."


"Ayolah!"


"Kecuali ...."


"Kecuali apa? Katakan! Aku akan carikan!"


"Heum, asinan bogor, seger kali kak!" pintanya lalu menampakan wajahnya itu. Arkan menautkan alisnya, dia merasa heran dengan gelagat aneh istrinya itu.


"Oke, tapi tetep ... kamu harus makan yang padat-padat dulu!"


"Apa? Cuma itu yang mau aku makan sekarang," sagutnya manja. Caranya merajuk membuat Arkan gemas. Siapa pula yang tega melihat istrinya dalam keadaan seperti itu.


"Ya udah, tunggu ya!"


Cup, sebelum pergi Arkan mengecup kening Yura penuh kasih, aaah, indahnya romansa pengantin baru.


Selepas Arkan pergi, Yura perlahan bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dia ingin menyegarkan harinya yang kuyu dan suntuk. Hasrat makan yang agak aneh itu membuatnya tak ingin makan sesuatu apapun kecuali yang tiba-tiba terlintas di otaknya.


"Aaah, kenapa aku kayak gini ya? Tiba-tiba mau yang segar-segar! Aku juga udah lewat seminggu gak dapat tamu bulananku! Apa mungkin?" pikirnya di depan cermin lebar wastafel di kamar mandi.


Yura perhatikan wajahnya yang sangat pucat, lalu dia usap-usap perutnya yang masih terasa mual. Sepertinya Yura bepikir kalau pergulatannya bersama Arkan di atas ranjang selama ini telah berhasil. Tapi, masih ada rasa ragu dan tak percaya karena Yura masih menganggap kalau dirinya hanya masuk angin.


"Tapi rasanya sih kayak masuk angin biasa! Cuma kok, rasa mualnya masih ada gak hilang-hilang!" gumamnya lagi masih menduga-duga.

__ADS_1


KRIIIING, ponselnya di dalam kamar berdering. Dengan langkah yang terseret agak gontai Yura hampiri dan ambil ponselnya, Alika yang menelphone.


"Iya Al ...."


"Akhirnya diangkat juga! Kamu kemana aja Yur? Kamu kenapa? Sakit?" tanya Alika deras sekali, ya dia memang sangat mengkhawatirkan keadaan Yura yang sejak kemarin lost contact.


"Maaf ya Al! Sejak kemarin aku gak pegang hape sama sekali! Kamu pasti kewalahan," sahutnya lemas.


"Kamu sakit ya? Kenapa Yur? Its okay, kamu istirahat aja dulu!"


"Makasih ya, gimana? Kamu udah dapat orang buat bantu-bantu di toko Al?"


"Aah iya, saking sibuknya di toko aku sampe lupa! Ya udah, nanti aku cari lagi deh Yur! Semangat ya ... jangan lupa minum obat!"


"Iya Al, makasih banyak ya!"


Yura kembali ke kamar mandi.


Dan saat dirinya sudah sedikit segar bugar, Arkan kembali dengan makanan yang diidamkannya tadi. Yura senang sekali, tapi Arkan memaksanya untuk memakan roti terlebih dahulu karena dia tahu kalau asinan bogor hanya serupa appetizer yang tak mengandung karbohidrat yang bisa menguatkan.


"Makan ini dulu, sedikit aja!" bujuk Arkan, dan sampai akhirnya Yura pun mau mengunyahnya walau malas.


"Habis ini kita ke Dokter ya!" bujuk Arkan.


Dia duduk di samping Yura yang duduk agak terbenam di sofa, tangan Arkan mengusap-ngusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Hangat sekali, membuat Yura sedikit kehilangan rasa sakitnya.


"Kak ...."


"Iya sayang."


"Aku ... telat!"


"Telat kenapa?" tanya Arkan antusias, dia cemas dengan kata-kata Yura yang terdengar ragu-ragu.


"Telat datang bulan ...."


"Oh ya? Apa itu artinya?"


Baru mendengar clue seperti itu Arkan terlihat begitu senang dan semangat. Dia sangat antusias mendengar itu walau belum pasti.


"Kalau gitu, kita ke Dokter habis ini ya?" ajak Arkan sungguh antusias.


"Jangan dulu deh, nanti kita cari tahu pake alat tes kehamilan aja ya, aku malas banget kena sinar matahari," tolaknya manja.


"Ya udah, biar aku beli dulu tespek-nya ya!"


"Iya!"


Arkan kelihatan semangat sekali. Bagaimana tidak, sejak lama dia memang tak ingin menunda memiliki anak. Arkan semakin sayang dengan istrinya, meski mereka masih muda, tapi mereka siap untuk menjadi orang tua.


Dan hasilnya ....


Begitu selesai dari kamar mandi, dia hampiri Arkan yang menunggu di depan pintu kamar mandi dengan harap-harap cemas. Perlahan garis pertama muncul dan mereka menunggu garis selanjutnya.


"Kita harus dapat dua garis kan?" tanya Arkan.


"Iya, mulai kelihatan kan?"


Semakin lama, semakin samar dan semakin lama garis kedua yang awalnya samar mulai terlihat jelas.


"Ya Tuhan, apa itu benar-benar dua garis?" gumam Arkan pada Yura yang masih menatap alat itu ditangannya.


Yura mengangkat wajahnya lalu menatap Arkan dengan wajah berseri, walau pucat tapi saat dia tahu hasilnya dua garis merah, wajahnya kembali sedikit merona.


"Apa ini nyata?" tanya Yura hampir-hampir tak percaya.


"Yes, its true!"


Arkan cepat-cepat memeluk Yura penuh kasih. Apa yang mereka dapatkan hari ini adalah anugrah yang tak terkira nilainya.


***


Arkan bukan tipe orang yang suka memposting kegiatan apapun. Dan hari ini semua orang tahu kalau istrinya hamil lewat postingan sebuah tanda dua garis merah di dalam sebuah tes alat kehamilan.

__ADS_1


Semua orang melihatnya, termasuk Keita.


Keita melihatnya dengan jelas. Ada rasa senang tapi tak munafik selebihnya dia masih merasakan rasa cemburu dan iri yang menggebu-gebu. Masih ada rasa ingin memiliki, tapi sekuat tenaga dia mencoba menerima dan bahagia untuk mereka.


'Selamat, selamat buat kalian! Ya ... walau ini terasa gak adil buat gue, tapi gue gak punya alasan lain buat gak ikut bahagia!' batinnya dengan hati yang besar.


Selanjutnya, postingan itu menyebar, sampai kepada Azka dan Nara. Nara sampai terkesiap begitu dia tak sengaja scroll layar ponselnya dan melihat postingan sang putra.


"Sayaaang! Lihat deh!" kata Nara lalu menunjukan layar ponselnya pada Azka yang sedang fokus mengemudi.


"Apa itu?" tanya Arkan yang tak bisa melihat dengan jelas karena fokus dengan jalanan.


"Kita akan segera mendapatkan cucu!" jawab Nara penuh semangat.


"Benarkah?"


"Iya, ini postingan Arkan! Dia memposting alat tes kehamilan dengan dua garis merah di dalamnya. Ya ampun, senang banget deh!"


"Kalau begitu kita temui mereka!"


"Ide bagus! Ayo kita temui mereka!"


"Oke!"


Azka memutar arah mobilnya, setelah melihat postingan itu mereka segera meluncur menuju rumah Arkan dan Yura.


"Ya ampuun sayaang, sabar ya ... setiap calon Ibu memang akan mengalami morning sickness seperti ini, terima kasih banyak ya sudah memberikan kabar bahagia ini," kata Nara dan mengelus-ngelus anak menantunya itu dengan hangat.


"Aku kira kemarin aku cuma masuk angin Ma," gumamnya menyahut.


"Ya, rasanya memang seperti itu, tak jauh dari rasa masuk angin namun tekanannya lebih hebat!"


"Lihat itu, jangan sakiti Ibu dan istrimu, apapun alasannya! Seperti itulah rasanya awal kamu hadir!" kata Azka memberi nasihat berharga untuk putranya.


"Iya Pa! Selama ini aku selalu menyayangi mereka dengan sepenuh hati! Trust me!" sahut Arkan.


Yura senang sekali melihat interaksi hangat di antara keduanya. Yura juga amat sangat bahagia bisa berada di antara Arkan dan Papa Mamanya. Kehampaan yang dia rasakan dulu selama belasan tahun terbayar sudah. Kesabaran dan ketulusan hatinya sudah mendapatkan ganjaran terbaik dan terindah dari Tuhan.


'Ayah, Ayah benar sekali! Kesabaranku mendapat ganjaran yang setimpal! Lihat aku sekarang Ayah, aku memiliki orang tua angkat yang sangat baik, dan sekarang aku juga mendapat keluarga baru yang membuatku merasa hangat dan nyaman! Terima kasih untuk kasih sayang dan semua nasihat berhargamu, aku akan selalu mengingat dan menyayangimu!' batin Yura kala ia merasakan kehangatan luar biasa dari Arkan, Azka dan Nara sebagai keluarga barunya.


"Coba katakan Yura, kamu mau makan apa siang ini? Biar Mama masakan!" tanya Nara.


"Heum," Yura masih berpikir.


"Masakan Mama mertuamu ini sangat enak! Jangan sungkan, katakanlah!" kata Azka menggoda, Yura hanya tersenyum.


"Iya, masakan Mama memang terda-best, tapi buat sekarang ini, buatku kapasitas Mama sebagai ratu di dapur kalah sama kapasitas Han Yura, istriku!" tambah Arkan, membuat Yura semakin terkekeh, godaan Arkan membuatnya tersipu dan hal itu menambah semangat untuk hari-hatinya yang terasa lamban dan suntuk.


"Heum, oke! Nanti kalau kamu sudah sehat, kita duet di dapur ya!" kata Nara.


"Iya Ma!" sahut Yura semangat.


"Terus sekarang kamu mau makan apa? Katakanlah!" bujuk Nara bersikeras.


"Heum, apa yaaa?"


"Masakan nusantara? Western? Terserah kamu sayang!"


"Apa aja deh, yang penting Mama yang masak!" jawab Yura manja, ada di dekat Nara seperti ini dia merasa ada di dekat Almarhum Ibu angkatnya, Lulu.


Dan begitulah, pahit getir yang Yura hadapi di masa lalu kini telah mengendap lalu menguap dan berganti jadi kebahagiaan yang hakiki. Orang tua angkat yang luar biasa baik, suami yang sempurna dan mertua yang perhatian. Tak ada alasan untuk tidak bersyukur.


***


Beberapa minggu kemudian ....


"Iya, usia kandunganmu sudah 7 minggu, selamat ya!" kata Dokter yang hari ini Yura dan Arkan datangi. Setelah beberapa minggu berlalu akhirnya Yura mau cek ke Dokter kandungan. Gejala Morning sick-nya pun sudah perlahan pudar walau dia belum bisa beraktifitas normal seperti biasanya.


"Tapi keadaan istri saya baik kan Dok? Maksud saya, sudah berminggu-minggu dia lemas kayak begini, susah makan juga, saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk!" tanya Arkan, dia sigap sekali membuat Yura baper luar biasa.


"Jangan terlalu cemas, gejala mual muntah, pusing, nafsu makan hilang, itu biasa! Tapi usahakan untuk selalu memgkonsumsi sesuatu yang bergizi walau cuma satu atau dua suapan ya! Nanti saya kasih vitamin untuk menambah nafsu makan!"


Penjelasan Dokter membuat Arkan sedikit lebih lega. Selama Yura mengalami Morning sick dia tak bisa berhenti merasa khawatir padahal seperti yang sudah Dokter jelaskan, hal seperti ini biasa Ibu-ibu hamil rasakan. Bahkan performanya di team Sunrise agak menurun walau berkali-kali Yura meminta Arkan untuk tetap fokus dan tak mengkhawatirkannya.

__ADS_1


__ADS_2