
"Menikah? Sama Kak Arkan? Dua atau tiga tahun lagi? Hehe, dasar sahabat gak ada akhlak! Apa rasa suka kamu itu sampai mengalahkan rasa solidaritasmu pada Kak Keita? Iiih, kenapa kepikiran ini terus sih? Sebel deh!" gumam Yura sembari melamun sendiri di malam yang semakin larut. Sungguh, semua yang sudah terjadi belakangan ini seperti dirinya sedang menaiki sebuah roller coaster. Ada hal menegangkan, ada hal menyenangkan, ada tawa, ada emosi yang tak terungkapkan, begitulah! Itu lah yang Yura rasakan saat ini.
Lusa adalah jadwal operasi pencangkokan sumsum tulang belakang Chiyo, dan Yura juga memikirkan hal itu malam ini. Tak sabar rasanya menyambut kesembuhan Chiyo.
"Zahran pasti masih kekurangan uang, gimana ya? Tabunganku juga habis, gak mungkin juga aku minta sama Ayah Yuki," pikirnya lalu dia bangkit dari pembaringan lalu duduk di tepinya.
Yura melirik ke nakas di samping tempat tidurnya, masih ada frame kecil yang membingkai potretnya bersama Keita dan kenangan selama 3 tahun terusik kembali. Bagaimana pun juga, Keita tetaplah pria yang pernah merajai seisi hatinya walau kadang sosok Arkan sering tiba-tiba hadir mengganggu kesetiaan hatinya.
"Bukankah ini terlalu gak adil buatmu Kak? Apa benar kamu merekalakan aku untuk Kak Arkan?" gumamnya dan matanya tak lepas dari frame imut itu.
"Atau kamu sudah punya tambatan yang lain jauh sebelum kejadian ini terjadi? Aaah, kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak? Gak mungkin Kak Keita kayak gitu!" sangkalnya, malam ini Yura kembali berdebat dengan dirinya sendiri, seperti malam-malam yang telah berlalu.
Dan di London saat ini 7 jam lebih lambat dari Jakarta. Keita sedang menikmati sorenya bersama teman-temannya. Menikmati sore dengan sekaleng soda dan tumpukan buku di antara mereka. Teman-teman Keita tampak asyik mengobrol dan bercanda, hanya Keita yang tak merasakan kehangatan itu. Dia ingat Yura.
Ya, ternyata keduanya masih saling memikirkan, Keita dan Yura masih saling merindukan. Karena puluhan purnama yang mereka jalani tak mungkin pudar begitu saja dari dalam hati mereka.
'Han Yura, benarkah gue bisa merelakan dia buat Arkan? Heh, bodoh! Kenapa gue bodoh sekali!' batinnya penuh sesal, tapi kata-katanya tak bisa ia tarik lagi, semuanya sudah serba terlanjur.
"Hey Kei, are you okay?" sadarkan Sean, salah satu teman bule Keita, Keita tersadar dari lamunannya dan ia pun kembali mencoba berbaur dengan teman-temannya itu walau hatinya masih saja terasa hampa dan kosong.
***
"Kak Yura, kalau aku sudah besar nanti, aku akan traktir kakak makan yang enak-enak ya!" kata Chiyo, polos sekali. Yura menyambutnya dengan senyum hangat.
Dokter sudah mengklaim kalau sel kanker di aliran darah Chiyo sudah 99% sirna. Dan sebagai langkah penyembuhan, Chiyo harus menerima donor sumsum tulang belakang sebagai efek dari proses kemotheraphy yang dijalaninya beberapa kali selama kurun waktu beberapa bulan ini.
Yura memang hadir di saat yang sangat tepat. Dia menyumbangkan segenap jiwa raga dan materi yang dia punya untuk kesembuhan Chiyo, maka tak berlebihan kalau Chiyo menganggap Yura sebagai bidadari tak bersayap.
"Setelah ini, kamu belajar dengan tekun, sekolah yang rajin, oke?" kata Yura menyemangati.
"Oke Kak! Aku mau kerja keras seperti Kak Zahran!"
"Iya, kalian harus saling menjaga ya! Kamu harus sayang sama Kak Zahran! Dia juga sangat sayang sama kamu!"
"Aku sayang sama Kak Zahran, aku juga sayang sama Kak Yura!" ungkapnya, Yura sampai terharu. Bahagia sekali rasanya melihat anak lelaki itu sudah mulai bangkit dari penyakitnya.
Tak lama Zahran datang. Sudah beberapa minggu Zahran bekerja 2 shift. Dari pagi sampai malam. Itu ia lakukan untuk Chiyo. Malam ini dia tampak kelelahan. Jelas sekali tergambar dari wajahnya.
"Kakak!" Sapa Chiyo.
"Hey! Kamu udah makan?"
"Udah dong, Kak Yura yang suapin aku!"
"Diih manja, kan kamu bisa makan sendiri!" cibir Zahran dengan nada gurauan, Chiyo hanya menukas dengan senyum tengilnya.
"Kamu besok harus ambil libur! Kamu harus bed rest kan?" kata Yura.
"Iya, gue udah ambil cuti buat 3 hari!" sahutnya.
Yura mengambil sesuatu dari tasnya, pasti itu uang lagi, pikir Zahran. Zahran tak habis pikir dan dia sungguh merasa tidak enak dengan semua kebaikan Yura selama ini.
"Kamu harus cepat-cepat selesaikan biaya administrasinya kan?" tanya Yura lalu dia berikan lagi amplop dengan sejumlah uang. Sekali lagi Zahran menatap Yura dengan sangat dalam.
"Cukup Yura, lo sudah terlalu banyak membantu! Terima kasih banyak!" tahan Zahran.
"Ini ambil, gak banyak sih, tapi ... tapi mudah-mudahan bisa nambahin kekurangannya!"
"Gue gak tahu harus bilang makasih berapa kali lagi sama lo! Simpan uangnya, lo jangan khawatir! Bos beri pinjaman uang! Tadaa!" kata Zahran dan dengan bangga dia tunjukan segepok uang dari tasnya.
__ADS_1
Yura lega, akhirnya Zahran mendapatkan uang biaya oprasi untuk Chiyo walau uang dari hasil meminjam. Setidaknya itu lebih baik dari pada uang dari Dara, pikir Yura.
"Jadi Bos kamu sudah tahu?"
"Iya, awalnya dia gak percaya, tapi semalam dia kesini jengukin Chiyo! Akhirnya dia mau meminjamkan uang, thanks ya Yura, uang pinjaman dari Bos gue ini sebenarnya gak sebanding dengan pengorbanan lo selama ini! Gue juga, pasti akan mengganti semua uang yang sudah lo kasih buat pengobatan Chiyo, pasti! Suatu hari nanti!"
"Gak perlu! Lagian itu kan uang yang aku kumpulkan dari beberapa pelanggan, walau gak banyak, mereka sangat senang bisa turut membantu dan mereka juga mendo'akan kesembuhan untuk Chiyo!"
Zahran tersenyum manis sekali, tak diragukan lagi kalau Yura melakukan kebaikan ini dengan penuh ketulusan. Zahran merasa sangat beruntung bisa mengenal Yura walau berawal dari momen yang sangat tidak mengesankan.
"Ya udah, gue selesaikan dulu masalah administrasinya ya! Biar besok, prosesnya berjalan lancar!" kata Zahran lalu dia masukan kembali uangnya ke dalam tas.
"Ini, buat jaga-jaga, takutnya uangmu kurang!" kata Yura lalu dia juga menyodorkan uangnya, Zahran sejenak diam tapi dia tak mengambil uang itu.
"Lo simpan dulu ya, eumm, gimana kalau uang itu kita pakai buat santunan ke anak yatim, sebagai tanda syukur atas kesembuhan Chiyo!" usul Zahran, Yura senang sekali dengan sikap positifnya.
"Oke lah kalau begitu!"
"Tolong jaga Chiyo sebentar ya!"
"Siiip!"
Zahran berlalu lagi meninggalkan Yura dan Chiyo berduaan lagi. Yura merasa tak mengkhawatirkan apapun lagi. Do'a dan harapannya untuk kesembuhan Chiyo sudah hampir terjawab dan terkabul.
"Kak, terima kasih banyak ya sudah banyak membatu aku dan Kak Zahran!" kata Chiyo, ucapan tulus yang keluar dari mulut kecilnya membuat Yura begitu tersentuh. Sejak beberapa menit lalu ada di ruangan itu, Chiyo sudah mengucapkan belasan kali ucapan terima kasih.
"Iya, kamu udah seperti adik buat Kakak! Semangat ya, setelah ini kita bisa bermain lama-lama di luar sana!"
"Boleh aku peluk Kakak?"
"Tentu saja!"
"Aku sayang Kak Yura!" gumam Chiyo.
"Iya, Kakak juga sayang kamu!"
***
Sejak tahu berita menyesakkan dari Dara, Keyla menjadi tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Dia kehilangan banyak fokus dan itu sangat mengganggu.
"Key! 10 menit lagi kita on air nih! Kamu siap kan? Kok dari tadi cuma melamun saja!" tegur sang Manager, dia cemas melihat Keyla yang hanya bengong di antara kru acara TV yang sedang sibuk berlalu lalang mempersiapkan performanya.
"Iya iya, aku siap kok!" imbuhnya lalu bangkit menuju studio. Sang Manager sangat mengkhawatirkan keadaan artisnya itu, karena sudah dua hari ini Keyla selalu murung. Dan penyebab dari semua ini adalah Yura, ya, Han Yura.
Dan hari ini, operasi pencangkokan akan dilaksanankan, Yura harap ini akan berjalan lancar. Hari ini dia benar-benar menepi dari kesibukannya. Dari pagi hingga sore saat operasinya akan digelar, Yura menemani Chiyo. Bahkan Yura mengiringi brankar Chiyo yang dibawa oleh beberapa suster ke ruang operasi, dan pintu ruang operasi menjadi pemisah antara keduanya. Sejak dalam ruangan Chiyo memegang erat tangan Yura, begitu pun sebaliknya.
"Kakak ...." rengeknya manja.
"Ini akan segera selesai! Kamu jangan takut ya!" kata Yura dan setelah itu pintunya benar-benar tertutup. Hanya Yura yang menungguinya karena Zahran masih dalam masa pemulihan setelah dia menjalani prosedur pengambilan stem cell-nya. Proses transflantasi ini memang tidak akan berlangsung lama. Walau Zahran dan Chiyo memiliki ikatan darah dan gen yang cukup identik tapi operasi pencangkokan seperti ini tetap saja mengandung resiko dan Yura mengkhawatirkan hal itu.
DRDDD ... DRRDD ...
Ponselnya berbunyi, aah Nara, Nara yang menelpon, Yura yakin kalau Nara akan memberinya motivasi. Setelah sekian minggu turut merawat Chiyo, Yura memang pantas untuk diapresiasi.
"Sayaaang, kamu masih di Rumah sakit?" tanya Nara, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Yura.
"Iya, Bu!"
"Chiyo sudah masuk ruang operasi?"
__ADS_1
"Sudah, barusan!"
"Ya sudah kamu makan dulu ya sambil nunggu! Jangan biarkan kesehatanmu terganggu juga! Kamu juga harus kuat, demi Chiyo!" Yura merasa hangat, kata-kata dan perhatian Nara adalah satu hal yang dia butuhkan saat ini. Walau hanya via telepon tapi perhatian Nara terasa memeluk tubuh dan kecemasan Yura saat ini.
"Yuraa ...."
"Iya Bu," sahutnya.
"Kamu percayakan prosesnya sama Dokter! Kami disini juga turut mendo'akan kelancaran dan kesembuhan untuk Chiyo!"
"Iya Bu, terima kasih banyak!"
Nara akhiri obrolan itu. Malam ini dia sedang menikmati gelap selepas petang di teras belakang rumah berasama Azka. Menikmati tenangnya air kolam dengan secangkir teh dan beberapa toples kookies buatan Yura.
"Huh, Han Yura, dia adalah salah satu figure sempurna! Rasanya sulit sekali mencari cloning-nya!" Nara bangga lalu kemudian bergurau.
"Ya, Yuki harus bangga memiliki anak sebaik dia! Tapi kenapa Yura merahasiakan pengorbanannya ini pada Yuki? Padahal Yuki akan ikut membantu biaya penyembuhan anak itu?" tanya Azka heran, ya selama ini Yura memang meminta Nara untuk tak memberitahu hal ini pada Yuki yang ada jauh di Australia sana.
"Justru Yura gak mau merepotkan Ayahnya. Yura bilang, dia mau Yuki tetap fokus di Aussie, Yura juga ingin Yuki tenang disana tanpa banyak memikirkan dan mengkhawatirkan keadaannya disini! Memang bener-bener ya Yura ini, aku mana bisa mempunyai hati yang besar seperti dia saat seusianya dulu!" jelaskan Nara dan Azka mengerti, Azka juga semakin salut dengan gadis berusia 20 tahun itu.
"Kamu juga hebat sayang!" sanjung Azka mencairkan suasana yang sempat mengharu biru.
"Heum, hebat! Hebat apanya?"
"Kamu bisa sabar menghadapi ibu dan saudara tirimu! Coba kamu ingat-ingat, dengan tega mereka mengambil alih rumahmu, terus menjual bagianmu juga, itu kan sangat keterlaluan tapi kamu bisa menghadapi mereka dengan sabar!" tutur Azka dan Nara jadi mengenang sesuatu, dia jadi senyum-senyum sendiri.
"Ya ampun, tapi hikmahnya aku bisa sama kamu sekarang ini kan? Memiliki putra dan kehidupan yang sempurna seperti ini!" kenang Nara.
"Iya, itu namanya jalan takdir!"
"Coba kamu ingat-ingat lagi bagaimana kejamnya kamu padaku dulu, huh?" tuntuk Nara dengan kekik dan Azka hanya tertawa geli.
"Iya iya, aku akui dulu aku savage terhadapmu!" akui Azka dengan nada gurauan.
"Aaah, tatapan dan kata-kata sinis kamu gak bisa aku lupakan begitu saja!" gerutu Nara.
"Ayolah sayaang, itu udah berlalu puluhan tahun yang lalu!" goda Azka.
"Tapi itu kenangan buruk yang mengawali kenangan indah kita, aku gak mungkin melupakannya!"
"Iyaa, aku juga ingat semuanya!"
"Ingat kan saat kamu menyuruhku membawa pengacara terbaik untuk melayani tuntutan? Astaga, saat itu aku cuma berdiri seperti orang bodoh yang menuntut cafenya untuk dikembalikan!"
"Ya, saat itu kamu gak tahu kalau aku sedang sangat kelelahan! Coba bayangkan, baru saja menjalani pertandingan yang sangat berat, hampir kalah dan saat pulang ke rumah, malah disambut gadis ketus yang menuntut pengembaliam cafe dan aku gak tahu kamu siapa dan berasal dari mana!"
"Helehh, andai kamu tahu betapa ketus dan menyebalkannya kamu kala itu!" cibir Nara, Azka hanya tertawa lagi.
"Kamu juga menjengkelkan! Dan akhirnya, terpaksa aku terima kamu jadi ART, ya ampun, andai saja semua itu tak terjadi mana mungkin kita bisa hidup bersama seperti ini, mana mungkin juga ada Arkan saat ini!"
"Tunggu sebentar! Jangan dulu diakhiri obrolan ini! Apa kamu juga ingat waktu di Jogja? Kamu nyuruh aku nyari bakmi jawa padahal kala itu aku masih jetleg, huh?" Nara masih mengenang, lalu menghakimi Azka dengan kekik. Lucu sekali memang, momen-momen menyebalkan di masa lalu menjadi sangat precious karena itu lah yang mengawali kisah cinta dramatis selang 20 tahun lebih ini.
"Huh, kamu ingat detailnya?"
"Tentu saja! Bagaimana aku bisa lupa! Jetleg, disuruh muter-muter di sekitar Malioboro, nyari-nyari bakmie Jawa yang enak! Huh, mana dompet dan ponselku juga ketinggalan! Asem kan?"
"Udah dong sayang! Oke oke, nanti kita gantian! Nanti aku yang akan mencarikan bakmie itu kalau kita ke Jogja lagi!" goda Azka.
Nara memicingkan matanya, tapi kemudian dia tertawa juga. Mereka tertawa bersama. Aaah, kenangan itu tak begitu menyesakkan karena itu adalah awal dari cerita indah selanjutnya sampai kini Nara dan Azka sampai di tahap emas dari pernikahan mereka.
__ADS_1
Mereka habiskan waktu santai itu dengan secangkir teh, kookies dan kenangan.