
kemana Nara pergi??
Azka maupun orang-orang suruhan Ayah belum ada yang berhasil menemukannya. ini membuat Azka hampir depresi, apalagi Nara pergi dengan kekecewaan dalam kondisi hamil yang baru saja dia ketahui.
Sampai larut seluruh keluarga masih menunggu dirumah, Ibu sudah lelah memikirkan ini.
Azka duduk tertunduk, banyak sekali penyesalan yang dia pikul diatas pundaknya saat ini.
"gak mungkin Nara pergi kalau dia gak merasa kecewa, Ibu gak tahu apa yang terjadi tadi.. " kata Ibu seakan menghakimi Azka.
"Aira.." tenangkan kakek.
"kita lanjutkan pencarian besok, berdoa saja agar dia dalam keadaan baik-baik saja!" kata Ayah.
Ibu menarik tasnya lalu pergi begitu saja tanpa memberi pelukan hangat pada Azka seperti biasanya.
"sudah, sekarang istirahat saja!" kata Ayah lalu dia berjalan keluar menyusul ibu.
"kakek yakin dia aman di suatu tempat, jangan terlalu panik ya, besok kan ada satu pertandingan lagi.. jangan biarkan ini mempengaruhi mu.." kata Kakek kali ini, dia pun pergi menyusul Ibu dan Ayah.
Tinggal lah Azka sendiri.
***
Ternyata Nara menepi dirumah Lulu, dia duduk diteras rumahnya karena sampai saat ini Lulu belum pulang juga. Nara gak tahu kalau Lulu juga sedang panik mencarinya.
"Nara.."
Akhirnya Lulu datang dan ini sudah sangat larut,
"Ini udah malam Lu, lo kemana aja?" tanya Nara innocent.
"heh, lo gak tahu.. kita semua panik nyariin lo! " kata Lulu ketus, dia kesal karena Nara sudah membuat semua orang panik.
"udahlah.. cepet buka kuncinya gue kedinginan.."
"gue harus telphon Azka!" lulu menarik ponsel dari saku celananya dan hendak menghubungi Azka tapi Nara segera menahannya.
"gak! tolong jangan kasih tau dia!"
"lo ini kenapa sih, lo tahu gimana paniknya dia saat ini? keluarganya juga! hey.. sekarang ini lo bukan gadis lagi yang bebas minggat sana minggat sini! kalau ada masalah cepat selesaikan.." omeli Lulu
"lo gak ngerti apa yang gue alami.."
" pokoknya Azka harus tahu lo disini.."
"ya udah, kalo gitu gue akan pergi cari tempat lain buat tidur malam ini.." Nara merajuk lalu dia memacu langkah untuk pergi, Lulu makin panik dia gak mau Nara hilang lagi.
"eit..eit.. ngambekan banget sih lo, iya.. iya.. ayo masuk, tapi lo harus cerita jujur ya.." tahan Lulu, Nara tekuk wajahnya.
Mereka masuk, karena sejak tadi pegal menunggu Lulu, Nara langsung baringkan tubuhnya diatas kasur.
"Nar, ada apa? cerita dong.." kata Lulu lebih soft
"gue.. pengen sendiri dulu.." sahutnya lalu memejamkan mata.
__ADS_1
"ya gak bisa Nar, lo pikir pernikahan itu main-main.. saat lo memutuskan untuk menikah dengan Azka, otomatis lo juga harus berhubungan dengan keluarga besarnya, sebesar apapun masalah lo sama Azka saat ini, tapi lo gak boleh menghilang dan bikin semua orang panik.." Lulu mencoba bicara pelan. Nara belum bereaksi, dia masih pura-pura tidur.
"Setiap masalah pasti bisa diselesaikan, dan lo tahu sendiri.. besok si Azka ada pertandingan penting, dengan sikap lo seperti ini, dia pasti gak akan fokus lagi, kita semua tahu dia itu cukup central di sunrise, Nah kalo besok sunrise kalah.. lo tega suami lo dihujat habis-habisan sama semua orang ??" lanjut Lulu, Nara mulai berpikir.
"m.. setidaknya, kasih dia kabar.. kalo lo baik-baik aja, kalo memang lo masih mau sendiri..ya bilang aja yang penting dia tahu bahwa keadaan lo baik.."
Nara buka matanya lalu melirik kearah Lulu.
"biar gue telphon dia ya.. biar dia tenang.."
Akhirnya Nara mau, dia mengangguk pelan.
Lulu senang dan dia segera hubungi Azka.
"tapi bilang sama dia, jangan jemput gue sekarang!"
"iya..iya.."
Azka langsung mengangkat telphonnya.
"ha..halo, m.. dia ada disini.."
mendengar kabar dari Lulu, Azka yang sedari tadi terduduk lemas segera bangkit dengan semangat.
"share lokasinya..gue kesana sekarang!"
"gak,gak!! tahan dulu.. m.. dia katanya belum mau pulang, dia mau disini dulu, tapi setidaknya kan sekarang kalian bisa tenang, tolong.. penuhi dulu permintaannya ini.." tahan Lulu.
"tolong gue mau bicara sama dia.." pinta Azka.
"tapi, dia baik-baik aja kan?"
"iya, dia baik-baik aja!"
"kalau memang itu maunya, tolong jaga dia malam ini ya, jangan biarin dia pergi dari sana.." pesan Azka yang mulai merasa tenang.
"iya.."
Lulu akhiri telphonnya.
"kalau besok sunrise sampai kalah dan gagal jadi juara musim ini, lo adalah salah satu penyebabnya.." kata Lulu lalu dia ikut berbaring,menarik selimut dan segera tidur, dia sangat lelah hari ini.
Nara mulai berpikir keras, dia ingat kata-kata Kalyla tadi siang, dia kesal dan takut lalu dia juga ingat apa saja yang sudah dia lewati bersama Azka, dia termenung dan dia juga pikirkan kata-kata Lulu, dia pikir Lulu ada benarnya juga.
***
Sepanjang malam sampai pagi menjelang Azka gak bisa tidur, dia terus memikirkan Nara. walaupun sudah tahu kalau Nara aman, tapi dia ingin sekali menemuinya, dia ingin memeluknya dan meminta maaf.
Ting, Budi memberi pesan pengingat bahwa Azka harus bergabung dengan team pagi ini.
Azka sama sekali tidak semangat.
***
Seluruh keluarga akhirnya bisa lega, karena Azka sudah mengabarkan bahwa Nara baik-baik saja.
__ADS_1
"katanya, Nara ada dirumah temannya.." kata Ibu.
"oh, syukurlah.." kata Kakek.
***
Azka masih tertahan di loker room, dia mencoba menghubungi Lulu..tapi Lulu tak kunjung mengangkatnya, Azka jadi gak fokus lagi.
"ka, ayo.. semua orang udah kumpul buat latihan.." kata Budi mengingatkan, Azka hanya mengangguk.
***
Ternyata Nara yang meminta Lulu untuk tidak mengangkat telphon dari Azka..
"jahat bener lo.." cibir Lulu.
"ya udah, ayo kita ke cafe.." Nara malah bersikap innocent lagi.
"Nar, hari ini dia tanding lho.. pertandingan penting yang menentukan !! lo masih mau bersikap seperti ini, tega banget sih lo.." omeli Lulu lagi.
"bawel!"
"iih, lo di kasih tau ya malah ngatain kayak gitu.."
"ayo ah, udah siang nih.."
Lulu hampir menyerah, hari ini Nara masih berhati keras, dan dia jadi ingat terus dengan Azka.
***
"Azka, kamu siap kan untuk melakoni game krusial ini?" tanya bang banyu.
Azka mengangguk, semua orang khawatir dengan semangat Azka yang hari ini sepertinya hilang.
"mana semangatmu? kalau seperti ini, saya gak akan memasukanmu kedalam line up!" bang Banyu mulai tegas pada Azka.
Azka mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangatnya.
"saya siap coach!!!" kata Azka tegas.
"saya butuh keseriusan, jujur.. saya sangat kecewa pada mu dipertandingan kemarin , dan lihat hari ini.. saya tidak lihat semangat yang kamu punya seperti saat pertama kamu bergabung dengan team.."
Beberapa teman mencoba menyemangati, pradit juga terlihat menepuk pundaknya, begitupun dengan Yuki, dimas dan yang lainnya, mereka sangat peduli pada Azka.
"ayo.. ayo.. Azka, lo pasti bisa!!" kata pradit, dan disambut teriakan semangat dari teman-teman lainnya, itu lumayan menaikan mood Azka.
***
Seharian Nara melamun, banyak yang dia pikirkan..
lama-lama Nara jadi cemas pada Azka, ini pertandingan terakhirnya dan beban besar ada dipundak Azka sebagai pemain yang diandalkan.
Dia mulai takut kalau Azka tak bisa bermain prima hari ini, dia juga membayangkan bagaimana nanti orang-orang akan mencemoohnya.
Bersambung.
__ADS_1