
'Setelah ini gue bisa memperlakukan lo sesuka hati kan?'
Kata-kata Arkan di super market tadi masih sangat mengganggu konsentrasi Yura. Dia mengendarai skuter matiknya. Dan sekilas, tiba-tiba Yura melihat Zahran beberapa meter saja darinya saat menepi di lampu merah. Yura penasaran karena saat ini Zahran membonceng seorang anak kecil, Yura sangat penasaran.
'Itu beneran si Zahran kan? Siapa anak kecil itu?' pikir Yura, sebenarnya dia tak ingin peduli tapi jujur saja sosok anak kecil itu malah membuatnya semakin penasaran.
Yura tak bisa menyingkirkan rasa penasarannya, dia pun mengikuti kemana Zahran pergi dan dia menepi ke sebuah Rumah sakit besar.
"Mau ngapain dia kesini? Sama anak kecil itu?" gumam Yura yang tanpa sadar telah memasuki area Rumah sakit. Bahkan Yura memarkir motornya tak jauh dari barisan motor Zahran hanya saja Zahran sama sekali tak menyadari kehadiran Yura. Yura rekatkan helmnya, dia tutup kaca helmnya berharap Zahran tak akan melihatnya.
"Abang harus temani aku yaa!" rengek anak lelaki berumur sekitar 10 tahunan itu. Yura dapat mendengar obrolan kecil keduanya.
"Iya, kamu gak boleh nangis ya!" kata Zahran sembari merapikan topi rajut anak kecil itu.
"Abang kan gak tahu kalau itu sakit banget!"
"Iya iya, gini deh, kalau nanti kamu nangisnya sedikit, Abang kasih mainan robot baru yaa!" bujuk Zahran lalu mulai berjalan bergandengan dengan anak lelaki yang hanya setinggi perutnya itu.
Yura tak dapat mendengar perbincangan Zahran dan anak kecil itu lagi karena mereka berjalan terus semakin menjauh dari area parkir. Yura sangat penasaran, apalagi Zahran pernah bilang kalau adiknya sakit. Apakah anak kecil tadi adiknya yang sakit?
Yura tak ingin berlama-lama dengan rasa penasarannya, dia malah terus mengikuti sampai ke dalam rumah sakit. Dia agak berlari berharap tidak kehilangan jejak Zahran, dan sialnya Yura benar-benar kehilangan jejaknya. Rumah sakit itu terlalu luas dan Yura tak dapat menjelajahnya.
'Huh, siapa sih anak itu? Kok bikin penasaran sih!' batinnya, dia malah kebingungan sendiri di lobi Rumah sakit dan DRDDD ... DRRDD, ponselnya tiba-tiba bergetar, Yura sejenak tepikan rasa penasarannya lalu mengangkat teleponnya.
"Iya halo? Oh iya iya, ini dengan LULU kookies, iyaa ... 20 toples kookies 4 varian? Iya, saya sanggup! Baik! Baik Bu, terima kasih, terima kasih atas kepercayaannya!"
Sepertinya Yura mendapat order banyak. Rasa penasarannya terhadap Zahran teralihkan. Dia sangat semangat saat ada telepon order masuk, dia pun tinggalkan Rumah sakit itu dan bersiap untuk memenuhi pesanannya.
***
WUUUUUZZZZ ....
Pesawat yang Keita tumpangi bersama Dara sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Keita pulang dengan rasa kecewa dan rasa marah. Apa yang dia dapatkan dari Yura adalah pengalaman buruk yang benar-benar mengganggu konsentrasi study-nya. Dan ternyata keputusannya tak main-main, dia mengambil cuti kuliah untuk beberapa bulan dan ingin rest dan pulang ke Indonesia.
"Kei!" Dara mencoba mengejar Keita yang berjalan tanpa merasa kelelahan sama sekali. Dara ingin mensejajarkan langkahnya dengan Keita.
"Kei, apa ada yang udah menjemput kamu?" tanya Dara yang terlihat sangat kelelahan.
"Jangan ikuti gue terus! Setelah dari sini, kita pulang masing-masing!" kata Keita ketus.
'Astaga Keita! Kenapa hatinya sekeras ini???' batinnya kesal. Ternyata walaupun dia sudah bisa menyingkirkan Yura, jalan untuk mendapatkan hati Keita masih sangat terjal. Walau secara resmi Yura dan Keita sudah putus tapi dalam hati Keita, Yura masih menjadi sosok yang tetap melekat di dalam hati dan benaknya. Kemarahannya saat ini berasal dari rasa cintanya yang terlalu dalam.
"Aku gak bisa hubungi orang rumah, aku takut mereka telat jemput aku, kita barengan lagi ya pulangnya!"
"Huh," Keita hanya mendengus.
"Kei, bisa gak kamu lihat aku sebentar saja!"
"Lihat sebagai apa?"
"Ya, teman! Kita sudah kenal sejak sekolah menengah! Masa kamu gak mau bantuin aku sih! Bahkan aku bela-belain ikut cuti sama kamu! Aku gak mau kamu kenapa-napa selama di Jakarta!"
"Heh, emang gue yang minta?"
"Huh, Kei ...."
Dara tak tahu harus dengan cara seperti apa lagi untuk bisa meruntuhkan kokohnya hati Keita. Dara kadang ingin menyerah, tapi dia ingat lagi bagaimana dia berkorban banyak saat memisahkan Keita dan Yura, dia kembali bangkit, ambisinya kembali bergejolak.
'Aku gak akan pernah menyerah Keita! Lihat saja!' batinnya ambisius. Keita sudah sampai pada mobil yang menjemputnya. Sang sopir sudah membantunya memasukan kopernya ke dalam bagasi dan Dara masih bengong dari jarak beberapa meter dari letak mobil Keita sekarang.
"Hey! Jadi ikut pulang gak?" teriak Keita yang sudah duduk di jok depan.
__ADS_1
"Iya!"
Dara pun masuk, dia tak peduli dengan sikap dingin da ketus Keita. Selamanya pun ia tak akan pernah menyerah.
Yura belum tahu kalau saat ini mantan kekasihnya sudah tiba di Jakarta. Jaraknya dan jarak Keita kini tak terhalang benua dan samudra lagi.
Yura sedang fokus dengan profesi barunya. Semakin hari orderan kuenya semakin banyak. Dan hal itu benar-benar berhasil meminimalisir rasa stress akibat hubungan rumitnya bersama Keita dan Dara.
"Yuraaa!"
Itu suara khas Alika, Yura segera bergegas walau membukakan pintu dan pintu gerbang. Hari ini Alika akan membantu Yura karena Yura tak bisa menghandle semua pesanannya sendiri.
"Ada tambahan order Yur, 3 toples nastar, 3 toples kastengel dan 2 yang milky kookies original bentuk hati!" kata Alika penuh semangat lalu dia kenakan apronnya, Yura makin dan semakin semangat.
"Wah, catat dulu ya, soalnya dari tadi masih banyak juga order masuk, ya ampun Al, gak nyangka banget loh kalau usahaku sepesat ini!" Kata Yura sibuk sekali, dia catat pesanan barunya dalam note kecil dan menempelnya di papan stereofoam di salah satu dinding dapurnya.
"Syukur Yur, aku juga ikut seneng, kalau usahamu maju, aku gak akan jadi pengangguran lagi!"
"Kita berdo'a aja ya, semoga kita bisa sama-sama membangun usaha ini! Dan kalau ada rezeki, kita bisa buka gerai kecil dan pemasaran kita jadi lebih luas!"
"Iya, ayo semangat! Kerahkan strategi bisnismu sist!" semangati Alika dan Yura sudah sangat semangat sejak tadi.
Mereka mulai bekerja lagi. Yura menakar tepung, telur, margarine dan bahan-bahan lainnya ke dalam hand mixer. Dia terlihat sangat lugas, tangan Yura begitu terampil dan mulai tak canggung lagi. Alika sampai kagum melihat kecepatan kerja Yura.
"Ya ampun Yur, tanganmu luwes banget loh, terkesima aku lihatnya ...." sanjung Alika.
"Iya kah?"
"Iya, lihat kamu masak begini berasa nonton acara masak memasak kayak di TV gitu, aku yakin Yur kalau suatu hari, cepat atau lambat, kamu akan mencapai tujuan kamu!" harap Alika, Yura melempar senyum dan ada kata 'aamiin' dalam senyumnya itu.
"Oh iya Yur, udah cek instagram?" Sepertinya Alika akan beralih topik.
"Keita udah di Jakarta!"
Barulah Yura mulai tak fokus lagi. Yura tahu kalau Keita akan pulang dan ia tak tahu kalau Keita sudah benar-benar sampai di Jakarta.
"Jadi dia benar-benar pulang?" tanya Yura yang kembali pura-pura fokus dengan adonan kuenya.
"Iya, katanya dia cuti buat satu semester! Apa menurut kamu retaknya hubungan kalian ada hubungannya dengan keputusan besarnya ini?"
"Mungkin! Huh ...." sejenak Yura benar-benar menghentikan kegiatan memasaknya. Yura benar-benar merasa bersalah. Karena kandasnya hubungannya dengan Keita sangat berdampak buruk untuk fokus akademi Keita.
"M, maaf Yur, aku gak bermaksud bikin semangatmu hilang," kata Alika yang juga merasa tak enak karena sejak perbincangan itu dimulai Yura malah terlihat agak murung.
"Gak apa-apa kok Al!" Dia kembali mengerjakan sisa pekerjaannya.
"Let it go aja Yur, walau pun sebenarnya kejadian ini adalah kombinasi dari kelicikan Dara dan kebodohan kamu! Dan ini hasilnya, kolaborasi kalian membuat Keita benar-benar hancur dan terluka!" gurau Alika, Yura hanya tersenyum getir dan apa yang Alika katakan memang benar adanya.
"Kamu bener kok Al! Ini semua karena kebodohanku, tapi sekarang semuanya udah terjadi, sekarang bukan saatnya aku memberikan pembelaan!"
"Ya, kebaikan hatimu memang patut diapresiasi Yur, tapi tetap saja, kamu gak memikirkan perasaan Keita! Kamu cuma terpaku sama ancaman Dara!"
"Huh, kenapa penyesalan selalu hadir di akhir cerita!" keluh Yura dan kini dia hanya bisa menerima nasibnya.
"Udahlah, kita simpan dulu cerita itu! Sekarang kita fokus sama karir, oke? Semangat! Semangat! Semangat!"
"Yes! Aku semangat!"
"Heum, apa yang bisa aku bantu?"
"Tolong tambahkan toping-toping di atas milk kookies Al, gak usah banyak-banyak ya."
__ADS_1
"Oke ibu boss!"
Situasi kembali cair saat keduanya move on dari obrolan semula. Penyesalan akan segera larut dalam semangat baru! Itu lah prinsip Yura saat ini walau hatinya sendiri tak bisa dibohongi. Dia masih sangat berharap hubungan baiknya dengan Keita masih bisa diperbaiki, seridaknya mereka masih bisa berteman baik di kemudian hari.
Ya, walau Yura tak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa mendatang walau sekedar untuk hari esok, tak ada satu pun makhluk apa yang akan terjadi dalam setiap detik yang akan mereka jelang di hidup mereka.
Dan tanpa Yura tahu, sejak beberapa menit lalu Keita memantau kediamannya dari jauh. Keita benar-benar sangat terpukul dengan putusnya jalinan cinta ini. Dia sampai rela memarkirkan mobilnya dari jarak agak jauh untuk memantau apa yang akan terjadi dan apa yang Yura lakukan di belakangnya. Dan sialnya, malam ini Zahran kembali berkunjung dan stand by di depan gerbang rumah Yura.
Keita mulai curiga, hatinya meradang. Kedatangan Zahran seolah-olah menegaskan kalau hubungan Yura dan Zahran tak main-main.
TIDIIIT TIDIIIT
Zahran kembali membunyikan klaksonnya dengan lantang, itu memang sudah biasa dia lakukan setiap hari. Kadang Yura menghiraukannya kadang tidak dan sialnya lagi hari ini Yura keluar menghampiri tapi beserta Alika. Keita masih memantau.
"Cukup ya! Cukup! Berisik tahu gak? Ganggu banget!" omeli Yura sampai Alika berdecak dibuatnya. Rasa-rasanya Alika belum pernah lihat Yura marah-marah seperti itu.
"Kita harus bicara Yur! Please, ikuti skenario si Dara, sekali lagi aja! Gue bener-bener butuh duit!" bujuk Zahran dan kali ini ekspresi tengilnya tak ada, yang ada saat ini dia memohon sambil memelas pada Yura, apa mungkin ada hubungannya dengan anak kecil yang dia bonceng tadi siang? pikir Yura.
"Sebenarnya apa tujuan kamu melakukan ini semua?" tanya Yura, Alika hanya menyimak.
Zahran bangkit, turun dari sepeda motornya lalu berdiri tepat di hadapan Yura.
"Sorry sebelumnya! Gue bener-bener gak mau bikin lo dalam posisi sulit ini! Tapi andai lo tahu kalau saat ini gue sangat butuh banyak uang! Dan untuk saat ini, tawaran si Dara ini yang paling mudah dan cepat buat gue!" kata Zahran, Yura jadi ingin bertanya soal anak kecil tadi, anak kecil yang berboncengan dengan Zahran tadi siang.
"Jadi siapa yang sakit?"
"Adik gue!"
Alika masih menyimak, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Yura dan Zahran perdebatkan. Yura kembali merasa bimbang, Yura pikir Zahran tak berbohong soal adiknya yang sakit.
"Yur, gue gak akan lancang kok! Ayolaaah, kalau lo mau melakukan skenario ini, secara gak langsung lo juga udah bantu adik gue!" Zahran masih membujuk.
"Emangnya dia sakit apa?" tanya Yura masih penasaran, Zahran menghela nafas, dia seperti berat sekali untuk mengungkapkan penyakit adiknya itu.
"Leukimia!"
Yura terkaget, tersentak dan hatinya tiba-tiba menciut. Alika juga merasa apa yang Zahran ungkapkan cukup mengejutkan walau dia tak tahu pasti apa yang terjadi antara Yura dan Zahran.
"Stadium 3! Gue harap masih bisa diselamatkan!" tambah Zahran menambah rasa prihatin Yura.
Tapi, sesuatu yang lebih mengejutkan lagi hadir. Keita melaju mendekatkan jarak mobilnya dengan tempat Yura, Zahran dan Alika berdiri sekarang.
Kacau! Situasinya menjadi sangat kacau. Yura tahu betul kalau mobil itu adalah mobil Keita, dia semakin dilema dan dia yakin kalau Keita sudah semakin salah faham dengannya.
"Yur!" Alika menggenggam tangan Yura dengan erat, Alika yakin kalau ini semua akan menjadi kekacauan yang semakin rumit.
Keita turun dari mobilnya dengan rasa marah dan kecewa yang semakin jelas terlihat. Tegang sudah pasti tapi cerita Zahran barusan juga membuat Yura semakin gamang.
"Jadi benar? Jadi benar kalau selama setahun terakhir ini yang kamu lakukan di belakangku?" Keita langsung menekan Yura dengan suara tingginya.
Apa yang bisa Yura jelaskan? Semuanya sudah serba terlanjur.
'Leukimia stadium 3? Anak sekecil itu?' batinnya malah terus mengingat sosok anak kecil tadi.
"Sorry bro! Lo siapa?" Zahran mulai berakting lagi, dia pura-pura tak mengenal Keita dan Keita langsung menyeringai kepada Zahran.
"Jadi lo orangnya? Heh, apa yang Yura lihat dari lo?!" desis Keita sembari memandang rendah kepada Zahran. Jika dilihat dari penampilan, Keita memang jauh lebih baik dari Zahran.
"Akui saja bro! Biarpun lo lebih kaya dari gue, tapi nyatanya Han Yura lebih milih gue!" Zahran terpancing dan membalas, membuat Yura berada di tengah-tengahnya. maju, mundur, ke kiri, ke kanan sama-sama akan terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
__ADS_1