Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Never Ending Problem


__ADS_3

PLAK!


"Dasar pelakor! Gak tahu malu!"


Seorang wanita 30 tahunan menyerang Tania secara frontal. Menjambak, menampar berkali-kali dan hal itu menjadi tontonan para warga yang ada di gang sempit rumahnya itu.


"Apa untungnya pacaran sama suami orang, huh? Cari pria muda! Jangan ganggu keharmonisan rumah tangga orang lain!!!" tambahnya lalu dia menarik rambut Tania ke belakang sampai kepalanya mendongak, dia diam saja, seperti pasrah dengan keadaan.


"Cukup! Maafkan anak saya kalau memang dia salah Nona, tolong, biarkan dia menjelaskan alasannya!" Ibu memohon sembari berjibaku di bawah kaki wanita itu. Keadaannya memang benar-benar kacau.


"Rumah tangga saya berantakan Bu! 7 tahun rumah tangga saya hancur gara-gara anak Ibu ini! Bagaimana bisa saya menahan emosi saya? Coba bayangkan!"


Tak lama Yura datang. Hatinya miris sekali disuguhi peristiwa memalukan seperti ini. Dia segera menengahi dan membantu Ibu bangkit, tak kuasa melihat Ibu menangis berlutut seperti itu. Tak peduli walau dulu Ibu tak begitu peduli padanya.


"Tolong tenang dulu Mbak, kita bisa bicarakan ini baik-baik di dalam!" kata Yura memohon. Mata wanita itu mendelik menusuk ke arah Yura. Siapa pun yang membela Tania, pasti akan menjadi musuhnya juga.


"Siapa kamu? Gak usah ikut campur urusan saya!"


"Saya adiknya!"


"Heum! Sudahlah! Kalau memang kamu adiknya! Tolong beri tahu Kakakmu yang tak tahu diri ini, jauhi suami saya! Kalau dia masih nekat mengusik rumah tangga saya lagi, saya pastikan hidupnya! Dan hidup kalian juga gak akan pernah tenang! Kecamkan itu!" ancam wanita itu lalu pergi meninggalkan Ibu, Tania dan Yura.


"Ayo masuk Kak!" kata Yura lalu menarik tangan Tania tapi Tania malah cepat-cepat menghempaskannya dengan kasar.


"Gak usah sok peduli!" ucapnya penuh kebencian, setelah bertahun-tahun ternyata kebencian Tania tak juga surut.


"Sayaaang, ayo masuk! Yuk, malu di lihatin tetangga!" bujuk Ibu kali ini, Tania pun masuk lebih dulu bahkan dia menabrak bahu Yura, Yura tak peduli, dia masuk ke dalam rumah mengikuti langkah saudara tirinya itu.


Tania duduk di kursi rotan usang itu sembari menghisap rokok dalam-dalam. Yura semakin miris, ternyata Tania sudah berubah begitu jauh. Sebenarnya Yura mengkhawatirkan hal ini sejak lama. Yura tahu betul kalau Tania memang punya jiwa pemberontak dan liar. Maka tak heran kalau saat ini dia terlihat seperti perempuan nakal.


"Kak, coba lihat Ibu! Kasihani Ibu, kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku! Sebenarnya apa yang terjadi?" Yura mencoba bicara dari hati ke hati, tapi tentu tak akan mudah. Sejak awal Tania sudah tak suka dengan Yura, bahkan sejak mereka resmi menjadi saudara sambung bertahun-tahun lalu.


"Sayaaang, Ibu cuma mau tahu, apa tuduhan wanita itu benar? Jadi selama ini, kamu pacaran sama suami orang?" tanya Ibu kali ini.


Sebenarnya, kalau harus jujur, Yura sudah tak peduli dengan Tania. Yang Yura cemaskan hanyalah kondisi Ibu tirinya yang semakin menua dan semakin ringkih. Walau mungkin tak ada secuil kasih sayang di hati Ibu sambungnya itu, tapi Yura tetap saja menyayangi dan menghormatinya.


"Iya! Masalah?" jawab Tania tegas lalu dia bertanya dengan nyeleneh, Yura hanya geleng-geleng kepala. Dia hanya mampu mengelus dada menyaksikan sikap Tania ini.


"Sayaaang ...."


"Aku gak bisa ninggalin dia Bu! Aku hamil! Aku hamil anak suami wanita menyebalkan tadi!" cetusnya, santai sekali dan tahukan bagaimana reaksi Ibu? Dia terkejut sekali, mulutnya sampai ternganga dan Yura pun tak kalah kaget.


Hamil? Tania hamil oleh suami orang? Bagaimana ini? Yura sampai tak habis pikir dan Tania bersikap santai-santai saja.


"Tania!" hentak Ibu kali ini menunjukan kemarahannya.


"Apa Bu? Ibu mau marah sama aku? Marah aja ... mau usir aku? Usir aja! Lagian aku udah gak mau kok tinggal sama Ibu lagi disini! Mending aku tinggal sama Mas Ario saja, dia pasti bisa menjamin kehidupanku! Dengan kehamilan ini, dia gak mungkin mengabaikan aku!"


Ibu menangis sejadi-jadinya. Ibu terluka, lebih dari terluka. Anak yang dia sayangi dan dia bangga-banggakan selama 21 tahun ini begitu menyepelekan kasih sayang dan perhatiannya. Ibu merasa perhatian dan pengorbanannya selama ini begitu sia-sia.


Yura ingin marah, tapi untuk apa? Siapa yang akan peduli dengan kemarahannya. Tania pasti akan balas menghardik jika Yura lakukan itu.


"Selama aku hidup! Rasanya aku gak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati! Ibu gak pernah bisa memenuhi semua kebutuhanku! Sejak dulu! Makanya aku lari sama Mas Ario! Cuma dia yang bisa membahagiakan aku secara lahir maupun batin! Gak usah menangis begitu Bu, itu gak akan membuatku merasa menyesal! Jangan buang-buang air mata Ibu!"


Sekali lagi, ingin sekali rasanya Yura menyumpal mulit lemes Tania. Tapi dia tahu kalau itu sama sekali tak akan menyelesaikan masalah.


"Apa yang bisa Ibu berikan padamu Tania! Ibu menyayangimu sepenuh hati Ibu! Kenapa kamu lakukan ini, sayaaang!"


"Huaaaah, aku ngantuk! Sialan! Tamparan wanita gila itu cukup keras dan pipiku jadi merah! Sialan! Suatu hari pasti aku akan membalasnya!" Dan yang lebih tak beradab lagi, Tania pergi begitu saja ke dalam kamarnya meninggalkan Yura dan Ibu berdua saja.


Satu kata saja untuk Tania, 'Durhaka!' pikir Yura. Sejak pertama mengenal sosoknya, Tania memang tak pernah menunjukan hormat pada Ibu sama sekali, Yura sangat tahu hal itu.


"Apa salahku Tuhan? Apa aku durhaka pada mantan suamiku? Apa ia murka karena aku sering menyakiti anaknya?" ucap Ibu penuh emosi dan Yura mendengarnya dengan seksama. Apa barusan Ibu tirinya itu sedang menyesali perbuatannya padanya selama ini?


"Ternyata selama ini yang malang itu bukan dirimu, Yura! Tapi, aku! Satu-satunya orang yang aku sayangi, satu-satunya orang yang aku banggakan, ternyata sama sekali tak menganggap kasih sayang dan kebanggaanku!" lanjut Ibu, Yura ikut terenyuh, Yura ingin memeluknya tapi Yura takut Ibu akan menolaknya.

__ADS_1


"Sekarang, hidupku ini benar-benar terasa tak ada artinya! Benar-benar tak berarti!" racau Ibu.


"Bu, tenanglah!" kata Yura, dia tak ingin Ibu semakin tertekan. Dia tahu kalau saat ini Ibu sangat terluka.


"Apa permintaan maafku sekarang masih berlaku? Apa kamu bisa memaafkan Ibu tirimu yang kejam ini Han Yura?" Ibu kembali bicara penuh emosi, dia memegangi pundak Yura dan tatapan matanya yang penuh penyesalan begitu menyentuh hati Nurani Yura.


"Tenang dulu Bu, aku sudah memaafkan Ibu! Ibu tenang dulu, ya ... kita akan selesaikan masalah ini bersama-sama!" kata Yura lalu dengan penuh ketulusan dia usap air mata dari pipi Ibu.


"Sebenarnya aku sangat sadar kalau aku sangat jahat padamu Yura ...." ratapnya, kata yang terucap tersengal di antara isak tangisnya.


"Sudahlah Bu, kalau memang Ibu menyesal, kalau memang Ibu mau menebusnya, tolong ... tolong sayangi aku sebagai anakmu juga, aku sayang Ibu kok, walau Ibu bukan Ibu kandungku, walau Ibu kadang kasar padaku, tapi sungguh, aku sayang sama Ibu!" tutur Yura, tangis Ibu semakin deras. Kini ia benar-benar sadar kalau anak yang sering dia dzolimi, anak yang sering ia sakiti selama ini begitu tulus menyayanginya. Kehadiran dan ketulusan Yura lumayan mengobati luka Ibu di sore yang kelabu ini.


"Yuraaa ...." Ibu membelai wajah Yura.


"Apa benar yang aku lihat ini? Apa tak ada dendam di hatimu?" tanya Ibu masih dalam situasi yang sendu ini.


"Dendam apa Bu? Ibu sudah kenal aku bertahun-tahun kan?"


"Ya, hatimu sama seperti hati Ayahmu! Tulus dan berharga, tak semestinya aku menyia-nyiakannya!"


Yura bisa bernafas lega. Sedikitnya dia merasa kalau Ibu tirinya itu akan berubah walau sedikit demi sedikit. Yura selalu yakin kalau setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.


"Walau sekarang kita gak tinggal di satu atap yang sama, tapi aku ini tetap anakmu, dan Ibu tetap akan menjadi Ibuku! Ibu jangan sedih ya ...."


Yura benar-benar serupa kilau berlian, senyumnya hangat sehangat mentari pagi. Jiwa dan hatinya berharga dan tak salah kalau Arkan maupun Keita begitu terpikat dengan kecantikan hatinya. Dan yang tak mampu menyaingi kebaikannya, maka mereka akan merasa iri dan dengki sampai melakukan berbagai upaya untuk menjatuhkan citra baiknya.


"Terima kasih banyak Yura, walaupun nanti bukan aku yang akan membalas kebaikan hatimu, pasti Tuhan akan selalu menjamin kebahagiaanmu! Itu pasti!"


"Iya Bu, sekarang Ibu percaya kan kalau aku sayang Ibu?"


"Ya! Aku tahu Yura!"


Tania kembali dari dalam kamarnya dengan tas besar, kembali mengguncang ketenangan Ibu. Yura kesal pada Tania. Tapi dia bisa apa?


"Sudah selesai drama-nya?" tanyanya masih dengan nada nyelenehnya.


"Stttt ...." Tania malah meminta Ibu untuk tak bersuara, dia sedang mencoba menghubungi seseorang.


"Halo, Mas Ario! Kita harus ketemu!" Ternyata pria beristri itu yang kini Tania hubungi, pria yang 'katanya' telah menghamilinya.


"Heum, aku tunggu! 15 menit pokoknya kamu harus udah sampai di depan gang rumahku! Ya ... cepat ya!" lanjutnya.


Yura masih mencoba membuat Ibu tenang, Yura sudah kukuhkan hatinya. Dia akan lupakan dulu masalah lainnya, kali ini dia ingin mengobati luka hati Ibu tirinya itu.


"Jangan cari aku ya Bu! Anggap saja kalau aku ini sudah mati! Aku bosan dengan kemiskinan ini! Aku benci dengan kehidupan ini, semua karena Ibu gak bisa memberikan apa yang aku mau, seperti Mas Ario!" kata Tania, renyah sekali. Tak ada penyesalan sedikitpun di raut wajahnya.


Yura menggenggam tangan Ibu, Yura berharap Ibu tak menahan langkah Tania, Yura ingin mengajarkan ketegaran hati pada Ibu sambungnya itu.


Dan tak menunggu lama, Tania benar-benar pergi meninggalkan rumah kontrakan usang dan meninggalkan Ibunya yang sudah mati rasa itu. Dan setelah Tania sudah melangkah cukup jauh ....


"Yura! Ibu harus kejar dia! Dia gak boleh pergi dari sini!" ucapnya tapi Yura masih menahan tangan Ibu untuk tetap duduk tenang bersamanya.


"Biar aku yang cari tahu! Ibu disini aja ya! Nanti, aku kasih kabar ke Ibu, kemana dan sama siapa Kak Tania pergi! Ibu harus tetap tenang! Jangan biarkan kejadian ini membuat Ibu drop! Ibu harus tetap kuat!" yakinkan Yura, Ibu rasa apa yang Yura katakan ada benarnya. Dia bisa menyerahkan masalah kompleknya ini pada Yura.


"Baiklah! Ibu serahkan semuanya sama kamu," pasrahkan Ibu, Yura senang niat baiknya bersambut baik. Yura yakin kalau dia pasti bisa menemukan titik permasalahan Ibunya ini.


"Ibu tetep disini ya! Jangan kemana-mana!" Yura bangkit dan dia bersiap untuk stalking kepergian Tania. Yura yakin dia akan bisa menangani kasus rumit ini sama seperti dia memberikan atensi untuk Chiyo selama ini. Yura selalu bisa mengatasi masalah beberapa orang.


Yura pergi, mengendap mengikuti langkah Tania yang sedang menunggu seseorang di mulut gang. Yura berharap bisa mengingat wajah pria yang nantinya akan menjemput Tania.


'Kak Tania, kenapa kamu sebodoh ini? Apa yang kamu cari? Ya ampun, lihat Ibu ... kamu sungguh sangat keterlaluan!' batinnya dan masih menunggu.


5 menit, 10 menit sudah berlalu dan akhirnya, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan Dara. Seorang lelaki dewasa dengat stelan cukup rapi keluar. Yura ingat kalau pria itu bukan pria yang ia temukan tengah bermesraan di sebuah lorong super market beberapa bulan yang lalu.


'Ya ampun, berapa banyak suami orang yang kamu goda Kak? Huh, apa yang ada dalam pikiranmu itu, Kak!' batinnya lagi dan dia semakin tak habis pikir.

__ADS_1


"Mas! Bawa aku pergi jauh!" ucap Tania, Yura bisa mendengarnya walau sayup.


"Ada apa ini? kenapa kamu bawa tas besar, huh?" tanya pria itu dan dia tampak tak suka dengan tas besar yang tengah Tania tenteng saat ini.


"Aku minggat dari rumah! Ibuku bisa membunuhku kalau dia tahu tentang kehamilanku ini Mas!"


"Huh, kamu ini naif sekali!"


"Naif? Apa maksudmu Mas?"


"Apa beberapa menit lalu, istriku datang kemari? Melabrak kamu?"


"Iya! Dia keterlaluan! Dia tampar aku berkali-kali!"


"Aaaah, masuklah, kita bicarakan ini dengan serius! Masuklah!" pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Tania dan Tania pun masuk, Yura kesal karena setelah ini dia akan segera kehilangan jejak. Tapi setidaknya Yura bisa mengenali wajah pria itu.


***


Sudah beberapa hari ini Alana tampak sangat berbunga-bunga. Sejak makan malam bersama Ayah Bunda dan Arkan beberapa malam lalu, dia seperti mendapatkan energi positif berkali-kali lipat.


'Aku hampir sampai Arkan! Pastikan kalau aku adalah penghuni rumah baru kamu itu!' batinnya sembari dia rapikan baju rancangannya yang melekat pada sebuah manequin cantik di salah satu sudut butiknya. Tanpa sadar, dia terus tersenyum sepanjang hari sampai para karyawannya juga bertanya-tanya dengan sikap bosnya belakangan ini.


"Mbak Alana benar-benar sedang jatuh cinta!" bisik salah satunya.


"Iya! Makin cantik aja kalau auranya sedang jatuh cinta! Aaah, Mbak Alana dan Arkana, cocok banget ya mereka!" sahut yang satunya.


"Iya lah, cocok banget! Designer muda bersanding sama atlet basket yang super keren! Udah pasti cocok banget dong!"


Kedua karyawan Alana masih terkekeh membicarakan tingkah bos cantik mereka yang tengah berbunga-bunga itu.


"Hmmm!" gretak Alana yang tahu-tahu sudah ada di belakang mereka.


"Eh, Mbak Alana ...."


"M, sore ini saya mau keluar, kalian jaga butik ini baik-baik ya!" pesan Alana, sepertinya dia bersiap untuk pergi, mungkin menuju venue karena sore ini Arkan akan melakoni pertandingan terakhirnya di Jakarta sebelum bertandang ke kota lain ke markas team lainnya.


"Oh, mau nyemangatin Kak Arkan ya Mbak?" tanya salah satu karyawannya agak menggoda.


"Kalian juga tahu kalau hari ini jadwal pertandingan Sunrise?" tanya Alana.


"Tentu saja Mbak, kami juga menontonnya lewat layar kaca! Kami juga supporter Sunrise kok! Walau dari jauh ...."


"Heum, benarkah?"


"Ya!"


"Apa kalian mau menontonnya sore ini?"


"Iya, kami akan segera nyalakan televisinya!"


"Heum, sudahlah! Kalian bersiap saja! Kita akan menonton di Venue secara langsung! Bersama-sama!"


Kedua karyawan Alana terlihat sangan bahagia, ketika Alana sedang jatuh cinta, suasana hatinya yang berbunga-bunga berimbas baik pada orang-orang di sekitarnya. Auranya sangat terpancar, padahal sebenarnya Arkan belum memberikan keputusan apapun kepadanya.


Arkan sendiri sebenarnya masih dan malah semakin gamang saat ini. Antara Yura dan Alana masih belum, dia masih belum bisa menentukannya. Alana, yang selalu setia menunggunya, atau Yura yang kian lama kian lekat dalam benaknya.


Arkan harus memilih antara ego dan perasaan Alana.


Semuanya masih begitu membuat Arkan dilema, dan dia hanya punya waktu beberapa bulan lagi untuk menentukan pilihannya.


"Terima kasih banyak Mbak!" ucap karyawan Alana, ajakan Alana begitu membuat mereka bersemangat.


"Iya, ayo kita pergi sama-sama! 45 menit lagi pertandingannya akan dimulai!"


Dan bagaimana dengan urusan Yura?

__ADS_1


Ternyata, setelah Chiyo sembuh, urusan Yura tak jua reda. Kini ia merasa harus mencari tahu keberadaan dan kondisi Tania, demi Ibu. Yura sepertinya ditakdirkan untuk menjadi solusi untuk masalah beberapa orang yang membutuhkannya. Yura selalu bersedia mengenyampingkan masalah pribadinya untuk membantu masalah orang lain sekalipun orang itu telah menyakitinya berkali-kali.


__ADS_2