Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Cold mode on


__ADS_3

Nara ingin melupakan praharanya, dia tidak ingin masalahnya semakin larut. Pagi sekali dia bangun lalu memasak, dia memasak makanan favorit Azka. Dia sadar kalau dia tetap bertahan dengan egonya, masalahnya ini tidak akan pernah selesai, dan tentu saja ini bisa jadi celah untuk Kalyla.


Selesai memasak dia masuk ke kamar, memandangi Azka yang masih terbaring. Lalu dia hampiri Arkan yang mulai terbangun, dia segera menggendongnya...


Hiks...hiks...hiks..


Tangisan manjanya membangunkan Azka, Azka perlahan membuka mata, dan kepalanya masih terasa berat karena semalam dia memang minum terlalu banyak sampai dia mabuk dan setengah tidak sadarkan diri.


"Sayaaaang, kita mandi dulu ya..." Suara lembut Nara juga semakin membangunkan Azka, Azka termenung. Tapi entah apa yang dia pikirkan...


Setelah selesai memandikan Arkan, Nara kembali membereskan meja makan. Dia menata meja makan serapi mungkin, dia ingin Azka melupakan masalah mereka kemarin dan berharap dia terkesan dengan apa yang dia masak untuknya pagi ini.


Arkan Anteng dalam Baby bouncer, dia terbaring dan tertawa riang sendiri mencoba meraih mainan yang tergantung diatasnya, menggemaskan sekali.


Azka turun dari lantai atas, dia sudah terlihat segar tak seperti semalam, dia langsung mendekat kearah anaknya yang semakin hari semakin menghangatkan hatinya. Walaupun Azka bukan tipe papa yang pandai menghibur bayinya tapi dia sangat menyayangi Arkan lebih dari apapun.


"M...sarapan dulu," kata Nara agak canggung, setelah bertengkar situasi memang selalu menjadi canggung.


Azka meninggalkan Arkan lalu duduk di meja makan, dia sebenarnya senang karena pagi ini Nara memasak banyak sekali untuknya. Tapi karena masih sedikit kesal, Azka menahan kesenangannya, dia bersikap biasa-biasa saja.


Sudah hampir 10 menit mereka duduk bersama tapi tidak ada obrolan yang tercetus, Azka masih bersikap dingin, dan Nara benci situasi ini.


"M...aku akan membatalkan kerjasama bersama Yuki," kata Nara memulai obrolan, dia ingin memecah kebuntuan. Tapi Azka masih diam dan fokus menikmati sarapannya.


"Aku akan, serahkan seluruh urusan cafe sama Lulu! aku akan fokus mengurus Arkan!" tambah Nara, dan Azka masih diam.


Nara hampir menyerah, sudah lama sekali Azka tak bersikap dingin seperti ini dan hal ini sangat menyiksa batinnya. Sejak Nara mengandung Arkan, Azka sungguh sangat memperhatikannya sampai Nara selalu merasa jadi wanita paling beruntung di dunia. tapi sekarang? Azka seperti lupa akan janjinya untuk selalu memahami Nara dalam keadaan apapun. Ketakutan dan cemburu buta membuatnya menutup hati untuk mendengar setiap kata yang Nara ucapkan.


"Hari ini ada pertandingan ya?" tanya Nara lagi, Azka hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Nanti aku sama Arkan nonton langsung ya di tribun, waktu pertandingan di gelar di Bandung juga Arkan sepertinya gak terganggu dengan hiruk pikuk arena!" Cerita Nara *exite*d, dia mencoba memancing reaksi Azka, dan hasilnya? nihil! Azka tak menanggapinya sama sekali.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Azka? apa ada hal lain yang membuatnya berubah drastis seperti sekarang ini? Nara hampir hopeless tapi dia akan mencoba memperbaiki kesalahannya.


***


Nara menepati janjinya, dia datang ke pertandingan suaminya beserta Arkan. Arkan memang sama sekali tak terganggu dengan kebisingan disekitarnya, dia tetap asik dan nyaman dalam pelukan Nara. Nara sengaja duduk di tribun paling depan yang terletak tepat di belakang bench pemain, dia ingin Azka melihat kehadirannya bersama Arkan.


Dan saat para pemain memasuki lapangan, Azka memang langsung menyadari kehadiran Nara dan Arkan. Dia tampak termotivasi walaupun sikapnya terhadap Nara masih saja dingin.


'Sudah lama dia gak bersikap dingin seperti ini, jujur saja...aku tersiksa! tolong, kembalilah! kembali jadi Azka yang menyayangiku sepenuh hati!' batin Nara perih dan lirih, dia takut kehilangan Azka.


"Hai!"


Tiba-tiba Nara dikejutkan dengan kehadiran Kalyla yang tiba-tiba duduk tepat disampingnya. Nara sungguh sangat terkejut, Kalyla datang dengan ceria, kontras dengan keadaan Nara yang dilanda galau berkepanjangan.


"Halo sayaaaang..." sapa Kalyla pada Arkan, dia bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa semalam, Nara kesal.


"Silahkan," sahut Nara malas.


"Sudah lama aku dan Azka gak berbincang dari hati ke hati, seperti semalam!" kata Kalyla mulai memanas-manasi lagi, dia sepertinya sengaja mencari kesempatan untuk mengorek luka dan kekesalan Nara saat ini.


Nara diam, pura-pura tak mendengarkan Kalyla.


"Senang rasanya bisa saling bertukar cerita lagi, setelah sekian lama..." pancing Kalyla, Nara masih diam.


Tangan Arkan tak bisa diam sampai tak sengaja Arkan menghentakan tangan mungilnya dan mengenai lengan Kalyla.


"Aaah, sayaaang... mau di gendong ya, sini..." Kalyla malah ingin mengambil Arkan dari pangkuan Nara.

__ADS_1


"Gak usah!" ujarnya tegas.


"Heh, ya ampun! sikapmu ini!" gerutu Kalyla.


"Ingat ya, aku gak akan terpancing! jangan coba-coba mengganggu hubungan kami!" bisik Nara pelan, dia tak ingin siapapun mendengarkan percakapannya dengan Kalyla.


"Kita lihat aja, seberapa jauh Azka bisa menahannya!"


"Apa maksudnya?"


"Lihat saja nanti!"


Nara semakin kesal dengan sikap Kalyla, ingin rasanya dia enyah dari sana. tapi sudah tak ada kursi lain yang tersisa, hari ini seluruh kursi penuh oleh para supporter yang antusias mendukung Azka dan team.


"Aaah iya, apa kamu tahu apa hal mengejutkan yang terjadi pada kami semalam?" tanya Kalyla, Nara tidak peduli, dia mencoba fokus dengan pertandingan.


"Dia memberikan ciuman hangatnya, dan jujur saja, semalam adalah ciuman pertama kami!"


Deg, serasa disambar petir di siang bolong, kata-kata Kalyla semakin mengusik kedamaiannya, Nara tak tahan lagi, apa yang Kalyla katakan sungguh sangat keterlaluan. Hati Nara hancur seketika, dia tak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Setelah itu, entah apalagi yang akan terjadi pada kami!" tambah Kalyla semakin memprovikasi.


Tanpa berpikir panjang Nara beranjak dari sana, dan Kalyla merasa sukses membuat Nara meradang, dia memang licik, cinta butanya pada Azka membuatnya berubah jadi monster jahat yang mengancam keutuhan rumah tangga orang lain.


Nara keluar dari Arena, dia setengah berlari menjauh dan meninggalkan keramaian, dia ingin mencari tempat sunyi dan menangis sekencang-kencangnya, apa yang dia dengar barusan sungguh menyakitkan walaupun Nara tidak tahu pasti kebenarannya.


'Ya tuhan, kenapa ini jadi seperti ini? apa itu benar? apa mereka benar-benar melakukannya? kalau benar, mereka sangat keterlaluan! ini gak bisa dibiarkan!' batinnya semakin lirih lagi, apalagi saat menatap baby Arkan yang tak berdosa, hati Nara sangat teriris.


Nara tak ingin berlama-lama, diapun mendapatkan taxi dan segera dia enyah dari sana, meninggalkan Kalyla dan kelicikannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2