Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Papi Amanda


__ADS_3

Amanda, Diya, Nadya, Keita, Arkan dan Yura berdiri berderet di hadapan Bu Ratna dan Pak Rudi di ruang kepala sekolah. Yura sudah tampak lebih baik Karena Keita memberikan jaketnya untuk Yura.


"Oke, Amanda! Saya akan memberi kesempatan pertama untuk kamu untuk menjelaskan peristiwa ini versimu sendiri!" kata Bu Ratna,


"Bu saya sudah menghubungi Pak Danu untuk segera datang kesini!" bisik Pak Rudi yang ternyata sudah menghubungi Papinya Amanda untuk segera datang.


"Bagaimana? Apa beliau bisa datang?"


"Bisa bu!"


Amanda merasa ada di atas angin, dia pikir kedatangan papinya nanti akan menjadi tameng dan senjata untuknya saat ini. Yura malah semakin takut, tapi tidak dengan Arkan dan Keita, dia percaya kalau keadilan bisa ditegakkan.


"Ayo Manda! Saya mau dengar penjelasan kamu!" desak Bu Ratna.


"Saya juga gak akan melakukan ini semua kalau mereka tidak memulainya Bu! Mereka lebih dulu membully saya secara verbal, mereka sering ngata-ngatain saya!" jelaskan Amanda, dia memang drama quenn sejati, dia bersikap seolah-olah selama ini dia korban.


Keita dan Arkan hanya mengerutkan keningnya dan semakin muak dengan kelakuan Amanda. Yura? Yura malah ketakutan walaupun sebenarnya dia sama sekali tak pernah melakukan apapun pada Amanda.


"Benarkah? coba apa contoh kekerasan verbal yang kamu terima itu?" tanya Bu Ratna lagi, dia sedang mencoba menelisik alasan Manda yang terlalu mengada-ngada itu.


"M, ya ngata-ngatain saya centil lah, genit lah, sok kaya! Ibu pasti tahu kalau kata-kata seperti itu bisa melemahkan mental seseorang!" dalih Amanda, saat ini dia benar-benar sedang playing victim dan itu malah membuat Keita dan Arkan tertawa geli.


"Heh, alibi!" cibir Keita.


"Nah, kayak begini-begini juga Bu, itu kan ngata-ngatain saya! Gak enak kan kedengarannya!"


"Heh, terus apa kabar kata-kata ejekan yang selalu keluar dari mulut lo itu?" Keita balik menyerang.


"Iih, lo tuh bener-bener ya!"


"Hey! Amanda! Keita!" peringatkan bu Ratna, akhirnya mereka diam.


"Ya sudah, sekarang kita bahas kejadian hari ini saja! Yura, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Ratna pada Yura kali ini, Yura tak tahu harus jawab apa, dia juga tak berani melihat ke sekelilingnya, apalagi melihat ke arah Amanda.

__ADS_1


"Ayo Yura, katakan yang sebenarnya! Jangan lihat ke arah si Amanda!" bisik Keita.


Yura masih ragu, sebenarnya dia ingin ini selesai begitu saja tanpa harus ada pengusutan selanjutnya, Yura yakin kalau ini semua akan berbuntut panjang dan jadi sangat rumit.


"Yura!" sadarkan Bu Ratna.


"M, ini mungkin cuma salah faham Bu." jawabnya singkat.


"Salah faham? Salah faham bagaimana? Jelaskan!"


"Saya ... mungkin, karena saya sempat pulang bersama dengan Kak Arkan dan itu menyinggung perasaan Kak manda!" dalih Yura pelan sekali,


"Besarkan volume bicaramu!"


"Maaf bu, saya gak tahu pasti mungkin saya sudah menyinggung perasaan Kak Manda tanpa saya sadari!", Yura memilih jawaban aman saja dan Keita maupun Arkan sampai gregetan karena Yura tak memberikan penjelasan yang spesifik.


"Tuh kan Bu, dengar! Dia sudah mengakui kesalahannya sendir! Dia memang sudah bikin saya sakit hati," sambar Amanda.


Tak ada yang mau menjawab, Yura juga pantang menjawab hal itu karena dia rasa apa yang Amanda lakukan tadi begitu mengerikan untuk kembali diceritakan.


"Kita tunggu saja orangtua kalian datang!" kata Bu Ratna, dan dia putuskan untuk menahan murid-muridnya itu di dalam ruangannya. Amanda dkk sebagai tersangka, Yura sebagai korban dan Keita maupun Arkan sebagai saksi. Sedangkan seluruh siswa lainnya sudah mulai kembali ke kelas mereka masing-masing.


10 menit, 20 menit akhirnya Papinya Amanda datang dengan seragam lengkapnya membuat Yura semakin gentar, pikiran polosnya malah takut kalau dia akan dituntut secara hukum karena sudah membuat Amnada merasa sakit hati.


Tidak dengan Keita dan Arkan yang tampak santai. Mereka tak takut karena mereka yakin kalau kebenaran dan keadilan itu harus segera ditegakkan.


"Selamat siang Pak Danu!" sapa Bu Ratna dan Pak Rudi, Papinya Manda memang sosok yang sangat tegas dan membuat Yura semakin ketakutan.


"Maaf, Orangtua Diya dan Nadya tak bisa datang biar saya yang wakilkan!" kata Papi tegas.


"Oke, tidak apa-apa pak, terimakasih atas kedatangannya!"


Papi melirik kearah Amanda dan dia membalas tatapan Papinya itu dengan muka memelas, dia benar-benar bersikap seolah-olah saat ini dia korban.

__ADS_1


"Maaf sudah mengganggu waktu anda, tapi saya rasa masalah anak-anak kita ini juga perlu segera ditangani sebelum menjadi polemik yang lebih besar lagi!" kata Bu Ratna memulai perundingan menegangkan itu.


"Papi ...." panggil Manda manja.


"Ya Bu, silahkan lanjutkan!" kata Papi tegas.


"Jadi, hari ini ada kejadian yang seharusnya tidak terjadi pada anak-anak kita! Mungkin semuanya berawal dari kesalah fahaman, tapi apa yang putri Bapak dan teman-temannya lakukan sudah sangat keterlaluan! Hari ini, dia melakukan perundungan terhadap Yura, dan sebenarnya kejadian ini bukan yang pertama kali bahkan keluhan sudah mulai terdengar sejak Manda duduk di kelas 11!" jelaskan Bu Ratna dengan lugas, Papi melirik kearah Yura yang menunduk malu dan takut.


"Papiii, mereka jahat lho sama aku!" ucapnya manja.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya lalu menatap Manda dalam sekali.


"Dia ngejek-ngejek aku lho, makanya aku kasih dia pelajaran!" jawabnya semakin membuat Keita dan Arkan muak.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Papinya lagi ke arah putri manjanya itu.


"Aku cuma ...."


"Cuma apa?"


"Diya sama Nadya kok yang eksekusi! Mereka cuma membenamkan kepalanya ke tong air!" akui Amanda tapi kemudian dia mengambing hitamkan kedua temannya, kelakuan Amanda benar-benar membuat siapapun gemas dan muak.


Bu Ratna tampak miris mendengar pengakuan itu.


"Cuma?" tanya Papi, Amanda mengangguk pelan.


"Bu kepala sekolah, saya ucapkan maaf yang sedalam-dalamnya, saya akan mendidik anak saya lebih baik lagi di rumah!" kata Papi mengejutkan semua orang, ternyata asumsi liar yang menyebutkan kalau Papi Amanda itu keras salah besar. dia memang tegas tapi dia merupakan anggota polisi yang bijak.


"Papiiiii" hentak Manda.


"Apa? Kamu mau buat Papi malu? Kamu juga harus minta maaf pada temanmu itu!" perintah Papinya, Amanda kesal bukan main dan yang lainnya merasa sangat lega dengan sikap bijak Papinya Amanda.


Yura yakin kalau masalah ini akan segera menemui titik terang, karena setiap orang menjalankan perannya masing-masing dengan sangat baik, Yura merasa tak khawatir lagi, hari ini semua orang sudah mendapatkan keadilan.

__ADS_1


__ADS_2