Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Welcome to Season 3


__ADS_3

Yura menggenggam tangan Lulu yang tengah terbaring lemah di atas brankarnnya, ada beberapa alat medis yang membelenggunya.


Sejak dua jam lalu Yura sama sekali tak beranjak dari sana, dia selalu memastikan kalau Ibu angkat baik hatinya itu dalam keadaan stabil.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Saat ini Lulu terbaring lemah dan bahkan mukanya sudah sangat pucat pasi, kepalanya pun di balut turban karena saat ini tak ada sehelai rambut pun yang tertinggal di kepalanya.


Ya, beberapa bulan yang lalu Lulu di vonis kanker rahim stadium akhir. Satu kenyataan pahit yang harus keluarga kecil yang baru saja merasakan bahagia itu terima. Tak ada yang tidak terpukul, semuanya berlangsung begitu cepat. Tapi Lulu masih sempat bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengenal Yura, ya! Dan Yura tak pernah sekalipun membuatnya kecewa selama kurun waktu 3 tahun terakhir ini.


Yura sudah menjadi warna baru dalam kehidupan Lulu dan Yuki, walau singkat tapi Lulu merasa sudah memiliki anak dalam hidupnya.


Selama perawatan Yura rutin menyumbangkan darah untuk Ibu angkat kesayangannya itu. Yura merasa itu bukan apa-apa jika dibanding dengan kasih sayang yang selama ini Lulu berikan padanya.


"Yura, istirahatlah, biar ayah yang jaga Ibu!"


Kehadiran Yuki membuyarkan lamunan Yura, Yura tersadar dan dia juga tak kuasa melihat bagaimana rapuhnya Yuki menghadapi kenyataan pahit ini.


"Iya Ayah," sahutnya lalu dia berjalan ke arah sofa di salah satu sisi ruangan.


Yuki menggantikan posisi Yura, dan sungguh pemandangan itu membuat Yura sangat tersentuh. Rasanya tak rela membiarkan dua orang terbaik dalam hidupnya saat ini mengalami nestapa seperti itu.


Jika mungkin bisa, Yura ingin mengorbankan jiwanya untuk Lulu. Yura ingin Lulu dan Yuki hidup bahagia dalam kebersamaan di ruang dan waktu yang sama. Tapi itu sulit, bahkan sejak dua hari lalu Lulu sudah tak memberi respon apapun.


 


***


 

__ADS_1


"Kenapa orang-orang baik begitu cepat diambil Tuhan? Karena Tuhan sangat menyayanginya, kita semua tahu, semakin lama dunia ini semakin kacau, pasti Tuhan tak ingin orang-orang baik terlalu lama hidup di dunia yang penuh tipu daya ini!"


Dengan seksama Yura mendengarkan kata-kata sahabat kampusnya, Yura mencoba menerima kata-kata itu sebagai penawar rasa sesaknya. Dia selama ini terlalu banyak bertanya pada Tuhan. Kenapa? Kenapa Tuhan mengambil orang-orang baik dalam hidupnya begitu cepat? Ayah? dan kini Lulu.


"Ya, itu benar," sahut Yura lalu dia menunduk lugu, dia mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Bagaimana pun juga takdir Tuhan itu mutlak dan selalu ada hikmah dari setiap kejadian.


"Yura, kamu harus yakin kalau ini semua bukan karena Tuhan ingin kamu hidup sendirian lagi, tapi ... mungkin saja Dia sedang merancang sesuatu yang lebih indah lagi dari ini!"


Yura mengangguk pasti, temannya itu memang motivator terbaik untuk Yura saat ini. Yura yakin kalau apa yang temannya itu katakan adalah nyata benar adanya.


"Duluan ya," dia berlalu begitu saja meninggalkan Yura sendiri di salah satu sudut kampus.


Huh, Yura mendengus, menghela lalu membuang nafas, mengamati orang-orang berlalu lalang. Perjalanan hidupnya belum seberapa tapi Yura malah merasa kalau kehidupannya penuh liku.


"Nih, biar gak galau terus."


Alika hadir dengan satu cup minuman yang dia bawakan khusus untuk sahabat terbaiknya yang tengah galau itu.


"Davina udah pergi?" tanya Alika lalu dia tengak tengok kanan kiri mencoba mencari keberadaan Davina, gadis yang beberapa menit lalu masih berbincang dengan Yura.


"Dia udah pergi."


"Let it go Yur! Lepaskan semuanya! Tante Lulu pasti bahagia di surga sana! Dia adalah penyelamat buat kamu di saat kamu benar-benar ada di titik terendah, do'amu adalah yang paling dia butuhkan sekarang!" kata Alika mencoba menguatkan Yura lagi.


Ya, Yura memang masih berkabung, sudah hampir satu pekan Lulu meninggalkannya dan meninggalkan Yuki di dunia yang fana ini.


Yura menyesal karena dia merasa belum membalas semua kebaikan Lulu.


Dan setelah kepergian Lulu, di rumah hanya tertinggal dirinya dan Yuki yang selalu mencoba tegar menghadapi kenyataan pahit ini. Seperti malam ini, di meja makan hanya ada mereka berdua saja.

__ADS_1


"Yura," panggil Yuki mencoba memulai obrolan.


"Iya ayah ...." sahutnya.


"Ini keputusan yang cukup berat tapi Ayah sudah putuskan," kata Yuki lalu dia menghela nafas, Yura belum tahu pasti apa yang akan Yuki katakan dan putuskan saat ini.


"Yura, Ayah sudah putuskan untuk meneruskan karir kepelatihan di luar negeri, ada salah satu club yang tertarik dengan jasa Ayah," ungkap Yuki dan Yura mencoba turut berbahagia dengan kabar itu.


"Waah, itu hebat Yah!" tanggapi Yura.


"Ya, ayah pikir ini kesempatan untuk Ayah mendapat lisensi dan Ayah juga rasanya ingin menepi dari kenangan-kenangan manis yang tertinggal di rumah ini!" ungkap Yuki dan Yura sangat mengerti hal itu. matanya yang tiba-tiba berembun menatap ke sekitar, Yura rasanya tak kuasa melihatnya.


"Iya, dimana pun Ayah berada, do'aku akan selalu menyertai."


Yuki menatap Yura dengan tatapan bangga, lalu dia mengusap pundaknya.


"Makasih ya, dan tetaplah tinggal di rumah ini,"


"M, Aku pikir, aku mau mulai mandiri, sebentar lagi kuliahku selesai, aku mau cari tempat tinggal sendiri saja!" putuskan Yura.


"Kenapa begitu? Kami sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri, rumah ini rumahmu juga, tetaplah disini, jaga rumah ini baik-baik!"


"Tapi ...."


"Kamu harus tetap disini! Kelak, kalau Ayah sudah tiada, semua ini mutlak menjadi milikmu! Jujur saja, kamu adalah salah satu hal yang membuat Ibumu bahagia, walau singkat tapi Ayah merasa dia menikmati masa-masa bersamamu! Kamu, sangat berarti untuknya, untuk saya, untuk kami! Jangan merasa sungkan, aku tetap Ayahmu kan?"


"Baiklah, kalau begitu aku akan menjaga rumah ini dengan baik untuk kalian,"


"Raihlah mimpi-mimpimu! Walau nanti kita terhalang jarak dan waktu tapi kamu tetaplah anakku!"

__ADS_1


Yura tersenyum rekah, ada rasa haru juga di dalamnya sampai membuat matanya ikut berembun. Banyak hal tumbuh, gugur, datang dan pergi silih berganti. Detik-detik berlalu menciptakan kisah-kisah bahagia, nestapa dan harapan. Walau singkat, tapi Lulu dan Yuki adalah pemeran penting dalam kisah hidup Han Yura. Segala kebaikan dan kasih sayang yang telah mereka berikan membuat Yura yakin akan takdir.


Yura akan memulainya lagi, walau sendiri tapi setidaknya kenangan Lulu dan Yuki akan selalu hidup di dalam hati dan benaknya. Yura juga sudah siap dengan kisah-kisah lainnya, dia kini mulai beranjak dewasa. Dia akan menjelang mimpi dan cinta masa depannya, segera.


__ADS_2