Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Keputusan Zahran


__ADS_3

"Sejak kapan lo disini?"


Zahran masuk dan cukup mengagetkan Yura yang masih mengusap punggung Chiyo dengan sabar.


"Belum lama kok," sahutnya. Zahran berjalan mendekat, dia tatap adiknya itu dan masih terselip harapan untuk sembuh, pikir Zahran setiap ia menatapnya.


"Makasih ya, udah temenin dia sampai tidur begini!"


"Ya."


"Kemarin, Dokter bilang sel kankernya sudah hampir pudar! Mudah-mudahan, sekali lagi kemotherapi, kankernya benar-benar hilang!" kata Zahran sembari ia elus kepala Chiyo dengan penuh kasih sayang.


"Chiyo pasti sembuh!" semangati Yura.


"Ya, dia harus sembuh!"


Yura kembali merogoh tasnya, dia ambil amplop berisi sejumlah uang. Uang itu adalah akumulasi dari total 25% hasil penjualannya beberapa hari terakhir ini ditambah dengan uang yang Nara berikan tadi siang.


"Simpan ini! Mudah-mudahan nanti ada tambahannya lagi!" kata Yura, lagi-lagi Zahran tercekat. Dia malu, sungguh malu. Bagaimana bisa dia menyakiti orang yang sudah membantunya dengan nyata seperti ini.


"Ini adalah 25% dari hasil penjualan kookiesku beberapa hari ini, dan ada pelanggan yang memberi donasi cukup besar, sudah aku akumilasikan semuanya, ini!" Yura sodorkan lebih dekat.


"Kenapa lo lakukan ini semua Han Yura? Kenapa?" tanya Zahran, dia masih juga belum mengerti dengan sikap murah hati Yura. Tapi selebihnya, Zahran merasa malu atas sikap Yura ini, benar-benar malu.


"Kenapa? Karena aku peduli pada Chiyo!" tegas Yura.


"Tapi gue udah buat lo menderita!"


"Ini bukan demi siapa-siapa! Aku lakukan ini demi Chiyo!" tegas Yura lagi.


Zahran belum menerima amplop itu. Dia masih sangat malu sampai dia juga tak berani menatap Yura lagi.


"Ini gak banyak kok, cuma sedikit dan semoga bisa mengurangi beban biaya kalian!" Yura letakan saja amplop itu di atas brankar Chiyo.


"Han Yura ...." gumamnya.


"Aku akan kumpulkan lagi donasinya, sedikit demi sedikit! Jangan berpikir yang aneh-aneh ya, aku lakukan ini untuk Chiyo! Bukan buat kamu!" kata Yura mencoba menegaskan maksud baiknya itu.


"Oke kalau gitu! Gue akan simpan uangnya, buat kebutuhan Chiyo! Thanks!" akhirnya Zahran menyingkirkan rasa segannya, Yura senang akhirnya Zahran menerima uang itu.


"Sama-sama!"


"Ini udah malam, sebaiknya lo pulang! Ayo gue antar!"


"Gak usah! Aku bawa motor sendiri kok, tetap disini, jaga adikmu!"


Yura sudah pergi, meninggalkan Zahran yang lagi dan lagi merasa tersentil dan tertampar oleh kebaikan Yura selama ini.


***


Zahran sedang menunggu seseorang di sebuah cafe. Dia sudah menghabiskan setengah minuman yang dia pesan sekitar setengah jam yang lalu.


Akhirnya yang ditunggu datang ....


Dara, dia datang dengan penuh percaya diri. Dia memang sudah meraih kemenangan atas permainan liciknya, dia merasa sudah berhasil menyingkirkan Yura dan dia juga merasa sukses membuat Yura tampak tercela di mata orang-orang.


"Heum, sebenarnya kerjaan lo belum tuntas! Tapi, gue kasih separoh dulu ya, sisanya gue kasih kalau lo benar-benar sukses membuat si Yura frustasi!" kata Dara lalu dia berikan amplop cukup tebal ke arah Zahran.


Zahran diam saja, sama sekali tak menghitung isi amplop itu, bahkan untuk sekedar menyentuhnya saja tidak.


"Kenapa? Lo gak mau duitnya?" tanya Dara heran, dia sungguh heran karena biasanya Zahran semangat ketika dihadapkan dengan uang.


"Hey Zahran! Masih untung ya gue kasih lo kerjaan ringan kayak gini! Lo gak usah buang-buang tenaga dan lo dapat uang yang banyak dari gue! Jangan manja deh! Gak usah sok jual mahal! Gue gak bisa lama-lama, gue harus cabut!" kata Dara dengan gaya nyelenehnya, dia rapikan lagi tasnya dan bersiap untuk beranjak lagi dari cafe itu.


"Ambil lagi uang lo itu!" cetus Zahran, akhirnya dia buka suara. Dara tak mengerti apa maksud Zahran menyuruhnya membawa lagi uang itu.


"Maksud lo apa?"


"Kita akhiri pekerjaan ini!" tegas Zahran.


"Maksud lo apa Zahran?"


"Ambil uangnya! Udah cukup! Gue gak mau nerusin drama ini lagi!" kata Zahran kali ini berhasil membuat Dara ciut. Seketika dia merasa ketakutan, dia takut kalau Zahran benar-benar tak mau ada di pihaknya lagi.

__ADS_1


"Omong kosong apa ini? Jangan sok jual mahal gitu deh! Masih untung ya gue kasih lo duit!"


"Gue gak mau nyakitin si Yura lagi!" akui Zahran.


Heh, Dara tak habis pikir. Berkali-kali dia melempar senyum kecut dan masam ke arah Zahran.


"Lo jangan main-main Zahran! Lo mau meras gue? Oke, berapa lagi uang yang lo butuhkan?" Saat ini tampak jelas kalau Dara sangat ketakutan. Dia takut Zahran berkhianat dan otomatis, rencana yang sejauh ini ia rancang akan hancur berantakan.


"Cukup Dara! Gue nyesel udah ngikutin semua permainan lo ini! Gue sangat menyesal udah bikin orang sebaik si Yura ada di posisi yang sangat dirugikan!"


"Ini maksudnya apa sih Zahran? Si Yura udah bayar lo lebih banyak dari apa yang gue tawarkan? Lo jangan gila! Jangan coba-coba meras gue!" Dara semakin merasa tertekan.


"Gak! Dia gak menawarkan apa-apa! Gue cuma sadar aja sekarang, kalau dia itu orang baik! Gue gak mungkin hancurin reputasi dia!"


"Sialan lo Zahran! Jangan main-main ya, ambil uangnya dan selesaikan pekerjaan lo!" Dara semakin histeris, intonasi bicaranya meninggi dan menarik perhatian orang-orang seisi cafe. Zahran masih bersikap tenang, dia sama sekali tak terpengaruh dengan ancaman Dara.


"Gue gak main-main! Ambil uang ini, dan kesepakatan kita batal!" kata Zahran tegas lalu dia lah yang lebih dulu meninggalkan cafe itu.


Dara terpaku, dia terduduk lemas dan dia tahu saat ini posisinya sangat terancam. Zahran adalah kunci dari rencana jahatnya selama ini. Jika Zahran membuka mulut, maka rencana dan kemenangan yang Dara raih sejauh ini akan terasa sia-sia.


Dara masih tak percaya, dia tak percaya kalau Zahran berubah haluan secepat kilat.


"Aaaaarrrggggghhhhh! Sial!" pekiknya histeris sampai membuat para pengunjung cafe itu ketakutan.


"Gak! Gak boleh! Gue gak boleh kalah!" kata Dara lalu dia juga bergegas dan mencoba mengejar Zahran yang kini sudah sampai di area parkir cafe itu. Dara berhasil mengejar dan menahan langkahnya.


"Zahran!" Dara menyalip langkah Zahran yang sudah hampir sampai di dekat sepeda motornya terparkir.


"Apa lagi?" tanya Zahran dengan sikap dinginnya.


"Jelaskan! Apa mau lo?"


"Ya gue mau ini selesai sampai disini aja!"


"Lo suka sama si Yura? Lo jatuh cinta sama dia?"


"Heh, ngawur lo!" cibir Zahran lalu dia kembali melanjutkan langkahnya sampai dia sudah naik ke atas sepeda motornya.


"Iya, dan gue gak mau terlibat lagi!"


"Dan lo akan membongkar rencana gue ini ke semua orang?" tanya Dara, dia masih menahan tangan Zahran agar tak menyalakan mesin motornya. Jelas sekali kalau saat ini Dara sangat ketakutan.


"Ya!" jawabnya tegas.


"Gak bisa!" tegas Dara.


"Udahlah! Minggir!"


"Gak bisa! Lo gak bisa menghancurkan rencana gue Zahran!"


"Minggir!"


Zahran tak peduli lagi dengan Dara, dia segera nyalakan mesin motornya dan menarik gas agar bisa segera lepas dari kuncian Dara.


Tapi sepertinya Dara gak akan diam saja, dia pasti tengah merancang rencana yang lebih gila lagi. Bagaimana langkahnya selanjutnya? apakah ini adalah akhir dari petualangannya?


Hari ini Sunrise bertanding lagi. Dan walaupun Arkan sudah bersikap sinis padanya belakangan ini, Yura tetap menyempatkan diri untuk menonton. Dia menonton bersama Nara, Nara sengaja meninta Yura untuk duduk di dekatnya dan sial memang, saat itu Nara sudah lebih dulu duduk di dekat Keita dan Vano. Situasi menjadi sangat canggung dan Nara sangat mengerti akan hal itu.


"M, tante ... maaf ya, aku pindah ke belakang, aku udah janjian sama Dara sejak dari rumah tadi!" kata Keita sungguh terasa menusuk tepat ke hati Yura. Tapi dia mencoba tetap kokoh.


"Oh, m ... boleh!" kata Nara sembari sesekali ia melirik ke arah Yura yang hanya diam membatu.


Keita benar-benar pergi, menghindari Yura. Sebesar itukah rasa benci Keita pada Yura? Sampai ia tak ingin duduk di dekat Yura lagi.


"Seharusnya kamu cepat-cepat klarifikasi ini Yur, biar Keita gak lama-lama salah faham sama kamu!" bisik Nara.


"Iya, nanti Bu, pasti Keita akan tahu kebenarannya!" sahutnya pelan. Vano, yang biasanya bersikap cair pada Yura, kali ini dia juga benar-benar bersikap dingin tapi Yura mencoba menerima hal itu, dia akan kesampingkan dulu masalah ini. Setelah Chiyo pulih, baru ia akan mengklarifikasi kekeliruan ini.


Dara senang bukan main saat Keita tiba-tiba memutuskan untuk duduk di sampingnya. Ya, walau detik ini dia sedang merasa resah atas keputusan Zahran, tapi kehadiran Keita setidaknya sudah membuat dia sangat bahagia.


"M, kok Vano ditinggal sendiri?" tanya Dara berbasa-basi, Keita tak jawab dan pura-pura fokus dengan pertandingan di lapangan.


'Huh, selangkah lagi gue akan berhasil! Jangan sampai si Zahran menghancurkan ini semua!' batinnya.

__ADS_1


"Oh, apa yang duduk sebelahan sama Mama-nya Arkan itu si Yura?" tanya Dara kembali berbasa-basi, Keita hanya mengangguk malas.


"M, pantesan aja kamu langsung badmood begini!"


Dara perhatikan lagi Keita, dan dia rasa dia bisa mempengaruhi Keita sekali lagi supaya Keita benar-benar yakin dengan rasa bencinya pada Yura.


"Kei, diam-diam mereka sering nginep bareng loh!" panas-panasi Dara, Keita meradang tapi dia masih menahannya.


"Si Zahran bilang si Yura itu hyper! Agresif! Dia malah sekarang pengen mutusin si Yura karena takut, si Zahran takut si Yura hamil terus minta tanggung jawab!" Sungguh keterlaluan Dara, tak cukup sampai membuat Yura putus dengan Keita, kini Dara kembali menyalakan bara kebencian di hati Keita.


"Bukan urusan gue lagi!" desis Keita kesal.


"Semoga kamu gak sempat melakukannya ya, karena kamu bisa saja kena imbasnya! Karena banyak yang bilang dia sering lakukan ini dengan sembarang lelaki!" hasud Dara, sempurna. Walau terdengar mustahil tapi saat hati seseorang sedang marah dan membenci, maka hasudan jahat seperti itu bisa langsung masuk meresap dan menambah kadar kebencian Keita terhadapYura.


'Apa benar lo kayak gini Han Yura? Kenapa lo lakukan ini di belakang gue?' batinnya benci, dan sekelebatan dia ingat ciuman mesra yang pernah Yura berikan padanya kala Yura berlibur di London beberapa pekan lalu. Keita merasa skeptis, dia pikir Yura memang sudah berubah dari Yura yang dulu ia kenal.


"Ya, bagaimana pun juga, anak yang hidup lama tanpa bimbingan orang tua utuh, ia gak akan bisa menjaga dirinya dengan baik! Cuma, yang aku salut, dia itu bisa berakting dengan sangat baik! Heum, semoga kamu gak pernah melakukannya ya ...." pancing Dara, Keita memicingkan matanya.


"Sorry!"


"Jangan bahas tentang dia lagi, oke?" pinta Keita dengan tegas.


"M, oke!"


Dara sebenarnya masih sangat takut kalau Zahran akan berhasil menghancurkan rencananya ini. Sesungguhnya saat ini, Dara sedang frustasi dengan perbuatannya sendiri. Dara menjadi sangat kalap dan serakah. Padahal Yura tak pernah sekalipun melawannya.


Yura melirik ke arah Vano yang tampak fokus dan bersorak heboh ketika Arkan mendapat bola. Begitu pun dengan Nara, saat ini hanya Yura yang merasa kesepian di antara hiruk pikuk arena. Yura hampa, jika ingat bagaimana Keita begitu membencinya saat ini, Yura sangat sakit tapi dia coba tahan lagi egonya. Dia akan selesaikan satu persatu misinya. Saat ini dia ingin benar-benar fokus dengan Chiyo.


***


Pagi sekali Zahran datang ke rumah Yura, dia tak ingin lancang. Dia hanya menunggu di depan gerbang dan menunggu Yura menghampirinya saja.


"Ada apa?" sapa Yura yang hanya berdiri di ambang gerbang. Dia masih bare face dengan daster tidur imutnya.


"Heh, anak gadis jam segini masih dasteran?" cibir Zahran.


"Heh, masalah buat kamu?" tanya Yura Kekik.


"M, ada yang mau gue bicarakan, dan Chiyo ... katanya hari ini dia mau jalan-jalan! Lo bisa gak nemenin dia?"


"Bisa! Tapi, hari ini ada beberapa pesanan yang harus aku antar!"


"Pesanannya udah ready?"


"Udah, siap antar!"


"Sini! Gue yang anterin, sementara lo mandi dan dandan! Kasih gue alamat lengkapnya!" Zahran menawarkan jasa, Yura cukup terkesan dengan kebaikannya.


"Heum, oke! Jangan sampai salah alamat!"


"Iya, nanti lo tinggal konfirmasi sama si penerima!"


"Ya udah, tunggu sebentar!"


Zahran menunggu, dia tetap menunggu di luar gerbang. Zahran harap dia bisa menebus kesalahannya kepada Yura walau dia rasa itu memang sangat tidak mungkin.


'Han Yura, gue janji gue akan mengembalikan nama baik lo! Gue akan membantu usaha lo! Gue janji!' batinnya.


Dan Yura kembali dengan tiga tas berisi beberapa toples kookies. Dia berikan pada Zahran yang sudah siap berperan sebagai kurir pagi ini.


"Ada alamat di setiap tasnya, berikan dengan ramah ya," pinta Yura.


"Heum," sahut Zahran sembari melihat satu persatu alamat yang akan dia tuju.


"Ada ongkos kirimnya gak nih?" tanya Yura bergurau.


"Heh, lo pikir gue kurir?" tanya Zahran kekik, Yura hanya tertawa geli. Ya, belakangan mereka mulai berteman baik memang walau kadang Yura benci setiap ingat bagaimana hubungannya dengan Keita hancur gara-gara kehadiran Zahran.


"Makasih ya!" ucap Yura.


"Ya, sana cepat mandi!"


"Iya iya!"

__ADS_1


__ADS_2