
"Halo Yuraa!" sapa Nara yang sedang asyik menghias cupcake yang dia siapkan untuk tamu-tamunya nanti.
"Hai Bu," sapa balik Nara.
"Arkan mana yaa? Biar dia temani kamu!" kata Nara, Yura rasanya ingin bertemu Arkan cepat-cepat di rumahnya itu.
"Yang lain masih di perjalanan! Apa yang bisa gue bantu nih?" tanya Lulu dan sesekali dia mencicipi kue-kue yang sudah Nara siapakan.
"Udah, duduk aja sana, gue udah selesai kok!"
Arkan akhirnya menampakan diri, dia turun dari kamarnya dan bergabung dengan Nara, Lulu dan Yura. Arkan masih mencoba menyembunyikan luka di lenagannya dengan memakai sweater tebal, sweater manis itu memang cocok sekali Arkan kenakan walau siang menjelang sore ini terasa terang dan terik.
"Hai tante," sapa Arkan lalu memberi salam pada Lulu.
"Halo Arkan,"
"Sayaang, takutnya Yura bosan dengan acara Mama nanti, kalian main bareng aja gih di court basket kamu!" anjurkan Nara dan tentu saja Yura maupun Arkan sangat menyetujui anjuran itu.
"Iya Ma, yuk!" ajak Arkan dan dia langsung mengulurkan tangannya.
"Tolong dipapah ya Ar, Yura lupa gak bawa tongkatnya!"
"Iya tan,"
Arkan mulai memapah Yura dengan perlahan, jarak mereka sungguh dekat. Anak lelaki dengan sweater rajut hangat itu memapah gadis dengan dress bunga-bunga, mereka serasi sekali.
"Hehe," Yura malah terkekeh melihat Arkan saat ini.
"Kenapa?" tanya Arkan heran.
"Diluar panas terik lho Kak,"
"Terus?"
"Ngapain Kakak pake sweater begini?"
"Kamuflase!"
"Oh, iya iya aku ngerti!"
"Terus lo kenapa sampai lupa bawa tongkat, huh?" tanya balik Arkan bergantian menghakimi.
__ADS_1
"M, ya lupa aja!"
"Jangan bilang lo sengaja biar bisa memanfaatkan momen ini!"
"Maksud Kak Arkan?"
Arkan jadi salah tingkah sendiri, sebenarnya dia yang benar-benar merasa senang saat harus memapah Yura seperti ini. Ini adalah kesempatan yang cukup langka dan mereka berjalan bersama seperti sepasang kekasih yang saling menopang satu sama lain.
Mereka sampai di court basket kecil itu, Arkan membiarkan Yura duduk di bench dan kemudian dia duduk di bawah bench. Mereka memang sudah cocok jadi sepasang kekasih yang duduk bersama di pinggir lapangan menikmati langit biru yang cerah di sekali siang menjelang sore ini.
"Kak Kei kok gak ada ngabarin lagi ya?" gumam Yura lalu dia mencoba mengecek ponselnya berharap dia dapat kabar dari Keita yang berencana datang juga hari ini.
"Si Vano gak bisa datang!" kabari Arkan.
"Oh, kenapa?" tanya Yura.
"Katanya ada oma opanya dari Luar kota!"
"Oh, yaaah Kak Kei juga gak bisa datang nih!" dengus Yura penuh kekecewaan, tapi itu malah jadi seperti angin segar untuk Arkan.
"Kenapa?"
"Dia harus nganterin Mamanya belanja!"
'Syukurlah!' ungkap Arkan dalam hati, diam-diam Arkan mulai nakal, dia mulai berniat untuk menikung Yura secara diam-diam.
"Berarti cuma berdua aja dong!" kata Yura tampak lesu, Arkan mulai mempersiapkan diri untuk menghabiskan sore ini bersama Yura.
"Yura."
"Ya Kak,"
"Jawab jujur."
"Jawab apa?"
"Lo suka juga sama si Kei?" tanya Arkan dengan lagak sok cueknya padahal dalam hati dia harap-harap cemas berharap Yura memberi jawaban yang akan membuatnya merasa menang.
"M, gak tahu ..."
"Gak tahu, aneh!" cibirnya.
__ADS_1
"Ya gak tahu, jujur aja aku belum pernah punya teman sedekat ini sebelumnya dan Kak Kei benar-benar menunjukan hal-hal manis yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan sebelumnya."
"Oh, berarti lo suka sama dia!"
"M, mungkin." sahut Yura malu-malu.
"Ya, dia emang baik!"
" Baik banget Kak, dia benar-benar pengertian dan setia kawan, aku salut sama dia!"
"Berarti lo udah siap jadi pacarnya, iya kan?" tanya Arkan dan mulai membuat Yura merasa heran, biasanya Arkan tak pernah banyak bertanya seperti ini, kenapa sore ini dia kritis sekali.
"Aah iya, tangan Kakak masih sakit?" tanya Yura cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan.
"Sedikit."
"Aah iya, Kak Alana kabarnya mau pulang dari Korea ya?" tiba-tiba Yura juga membahas Alana, dari mana Yura tahu kabar itu, Arkan saja yang diklaim sebagai teman terdekatnya baru tahu kabar itu barusan.
"Dari mana lo tahu?"
"M, postingannya, m, aku ini pengagum rahasia Kak Alana, aku mengikuti semua kegiatannya lewat postingannya di media sosial." ungkap Yura, Arkan hanya mengerutkan keningnya.
"Heh," dia malah tersenyum geli.
"M, dia itu mantan pacar Kak Arkan kan?" tanya Yura agak ragu tapi pertanyaan itu tak sabar ingin dia lontarkan sejak tadi, Keita menoleh lalu menatap Yura dengan tajam.
"Itu penting?"
Yura rasa Arkan tidak suka dengan pertanyaan itu, Yura juga berusaha menghindari tatapan Arkan.
"Yura!" panggilnya dan mau tidak mau akhirnya Yura mau membalas tatapan Arkan.
"Boleh gue katakan sesuatu?" ucap Arkan menambah tegang suasana, Yura hanya mengangguk.
"Lo sudah berhasil membuat gue merasa aneh!" ungkapnya, kini Yura yang mengerutkan dahinya, dia tak mengerti apa maksud dari kalimat Arkan barusan.
"Ma, maksud Kak Arkan apa?" tanya Yura.
Satu, dua dan tiga detik akhirnya Arkan menyerah juga. Dia tak berani melanjutkan tatapan matanya.
"Lupain aja!" kata Arkan lalu dia bangkit dan menjauh dari Yura, Arkan mengambil bolanya lalu bermain-main ringan dengan tangan kirinya.
__ADS_1
Yura sampai bengong memikirkan maksud dari pernyataan Arkan tadi, dia benar-benar bingung walau hatinya menduga-duga kalau Arkan juga benar suka padanya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Yura lepas dari dilema besar yang dirasakannya saat ini?