
"Waw, apa itu sebuah pengakuan?" tanya Dara dengan nada memancing.
Sebelum semua orang menyadari kehadirannya, Keita menarik langkahnya dan pergi dari sana. Dia sudah cukup yakin kalau hubungannya dengan Yura memang ditakdirkan untuk tak berjalan mulus. Baru saja dia mendengar kalau ternyata sahabat terbaiknya juga memiliki perasaan cinta yang sama seperti yang ia rasakan.
Keita seperti mendapat pukulan telak. Dia tak bisa menentukan perasaannya saat ini. Gamang, ragu dan kecewa, bercampur jadi satu.
GRUUUUUNG, dia tancap gas sekencang-kencangnya. Dia tak tahan dengan kenyataan menyesakan yang baru saja dia dengar dari mulut Arkan.
"Sebaiknya lo cepat pergi! Gak usah ngancam-ngancam dengan cara klasik kayak gitu! Pergi!" usir Arkan.
"Oke! Aku rasa hubungan kalian bisa membantuku! Selamat ya, semoga kalian jadi pasangan sejati!" kata Dara masih sangat menyebalkan. Dara merasa kalau saja Arkan dan Yura bersama, maka Keita akan lepas begitu saja. Memang hanya itulah tujuan awal Dara sejak dulu.
"Bye! Selanjutnya kalian akan menjadi pasangan sensasional!" Dara berlalu, melenggang tanpa rasa bersalah meski dia sudah membuat Yura lemas karena kehabisan banyak darah.
"Sialan! Dasar sakit jiwa!" rutuki Arkan.
"Kita ke klinik terdekat aja! Lo udah kehabisan banyak darah!" kata Arkan sigap lalu dia kencangkan ikatan jerseynya. Yura baru sadar kalau Arkan baru saja mengorbankan baju jerseynya untuk membalut lukanya dan ya, saat ini Arkan bertelanjang dada di dekatnya. Aaah, itu sangat mengganggu, pikir Yura.
"M, aku rasa lukanya gak terlalu dalam kok," sahut Yura salah tingkah.
"Tapi lo kehabisan banyak darah!"
"Aku bisa obati disini dengan obat-obat yang ada! Kak Arkan harus latihan kan? Dan ... kenapa Kakak tiba-tiba ada disini?" tanya Yura heran, tanpa dia sadari kalau tadi dia yang menghubunginya.
"Ya udah, gue bantu obati ya!" ucapnya penuh pengertian. Mereka menepi ke wastafel dapur, Arkan membantu Yura membersihkan lukanya dan ya, luka Yura ternyata cukup memanjang. Yura sendiri sampai ngeri dengan lukanya sendiri.
"Aaah, ternyata lukanya lebar!" ucapnya lalu dia pejamkan matanya.
"Yakin gak mau ke klinik?" yakinkan Arkan.
"Ya, aku rasa masih bisa ditangani dengan obat yang ada, tolong Kak maaf, kotak P3K-nya ada disana!" pinta Yura lalu menunjuk kotak P3K yang ada di salah satu sudut ruangan.
Arkan ambilkan obatnya dan dia sendiri yang merawat dan mengobati luka Yura. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Arkan membersihkan luka akibat sayatan cutter itu lalu membalutnya dengan kain kassa. Yura hanya meringis dan memejamkan matanya. Dia tak kuasa melihatnya dan diam-diam, di saat-saat seperti itu Arkan mengambil kesempatan untuk memandanginya dengan lekat.
'Heh, kenapa lo manis sekali Han Yura?' cetusnya dalam hati, dia memang tak bisa berbohong lagi, bahkan tadi dia mengakui perasaannya di hadapan Dara.
"Astaga! Yur! Yuraaa! Ada apa ini? kamu dimana?" Ada suara Alika di depan rumah, pasti dia terkejut dengan pintu rumah yang masih terbuka dan ceceran darah yang ada di lantai.
"Yur! Han Yuraaa!" teriaknya panik, Yura hanya tersenyum.
"Udah selesai Kak?" tanya Yura saat lukanya sudah berhasil ditangani.
"Udah, tapi buat menghindari infeksi sebaiknya secepatnya lo ke klinik!" jawab Arkan lugas seperti seorang Dokter yang menangani pasien.
"HAH!"
Alika akhirnya menemukan Yura di dapur, Alika terbelalak dengan keberadaan Arkan yang bertelanjang dada. Pikiran liarnya langsung timbul, Alika hanya belum tahu kalau Arkan menggunakan bajunya untuk menahan aliran darah Yura.
"O my god!" gumamnya sangat, sangat, sangat terkejut.
"Hai Al!" sapa Yura.
"Ada apa sih Yur? Itu darah siapa? Terus si Dara-nya kemana?" tanya Alika deras sekali, lalu dia berjalan mendekat.
"Ya udah, udah ada temen, gue balik ke mess ya!" kata Arkan yang sedikit tak cemas lagi setelah Alika datang.
"Iya, makasih banyak Kak, tapi ... Kak Arkan gak mungkin pergi tanpa pake baju begitu kan?"
Arkan baru sadar kalau dirinya tak memakai baju, dia hanya memakai celana jersey saja. Arkan tak sadar kalau abs-nya dan dadanya yang bidang sangat membuyarkan konsentrasi Yura sejak tadi.
"Heum ...."
"M, sebentar aku bawakan jersey punya Ayah Yuki ya!"
Yura segera bergegas mencarikan Arkan pakaian yang bisa ia pakai untuk sementara.
GRUUUUNG, Arkan sudah berpakaian rapi lagi dan dia pergi meninggalkan Yura yang baper dan Alika yang speechless dengan apa yang lihat barusan.
"Huh, tadi tuh mencekam banget tahu gak sih Al!" kata Yura yang masih teringat kejadian tadi.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alika.
"Kak Dara datang, aku kaget dan sejak awal aku udah sangat takut tapi ... mana mungkin aku gak mempersilakan dia masuk, dan ya, dia mengancam lagi dan dia semakin menggila, aku cuma sempat ngirim chat ke kamu dan bahkan aku gak tahu kenapa Kak Arkan tiba-tiba datang!" cerita Yura secara garis besar.
__ADS_1
"Bahaya banget si Dara ini! Beruntung Kak Arkan datang, kalau nggak, gimana coba? Dia nekat bikin kamu luka begini!"
"Ya, bahkan Kak Arkan mengorbankan bajunya buat membalut lukaku tadi ...." kenang Yura dan dia jadi senyum-senyum sendiri.
"Hmmm!" gretak Alika, Yura jadi malu.
"Aku rasa, ada yang jatuh cinta sama Han Yura-ku ini! Heumm!" goda Alika, sepertinya Alika merasakan aura cinta yang terpancar di diri Arkan tadi.
"Huh, udahlah, yang penting sekarang, semuanya selesai, walau tadi dia sempat mengancam buat melukai Chiyo, aku jadi takut Al!" Kemudian Yura mengingat Chiyo. Dia sangat mencemaskannya.
"Sekarang, kamu tarik nafas dulu, terus hembuskan perlahan, relax! Baru kita akan memikirkan ini untuk kedepannya!" bimbing Alika, Yura pun melakukan apa yang Alika sarankan. Yura bisa sedikit lebih tenang.
"Bener-bener bahaya Yur, kita gak bisa biarkan orang kayak si Dara ini berkeliaran bebas, kamu bisa laporkan ini ke polisi, lukanya jelas kok, saksinya juga ada!"
"Gak Al! Aku gak mau bikin semuanya semakin rumit!Tapi setidaknya sekarang Kak Arkan tahu, jadi, aku gak terlalu takut lagi sekarang!"
"Huh, Yura ... Yura, emang ada aja ya yang iri dengki sama orang baik! Aku beresin dulu darah yang berceceran itu ya!" kata Alika lalu ia sigap membersihkan lantai berdarah itu.
"Maaf ngerepotin ya Al!" kata Yura.
"Oke, gak apa-apa!"
Yura mengingat lagi, sungguh, kisah cintanya ini terasa begitu tragis. Kemudian dia ingat pengakuan Arkan tadi, dia juga jadi mengkhawatirkan hal lain. Kalau saja Alana tahu hal ini, pasti akan menimbulkan masalah baru. Serumit ini kah kisah cintaku? Pikir Yura.
Yura juga belum tahu kalau Keita sangat terluka saat ini. Keita semakin dan semakin terluka lagi. Walau kini dia sudah tahu kalau Yura terpaksa mengkhianatinya tapi kemudian dia juga tahu kalau Arkan ternyata menyimpan perasaan cinta juga pada Yura, rumit sekali.
Keita sudah tak nyaman lagi. Perasaannya begitu sesak. Dia ingin pergi menjauh dan menepi di tempat dimana dia tak akan menyaksikan kisah cinta Yura lagi. Dia menyerah, Keita merasa semuanya sudah kacau dan tak bisa diselamatkan lagi.
Keita mengemasi barangnya, dan Maminya kembali heran dengan gelagat putra kesayangannya itu.
"Sayaaang," sapanya lalu dia duduk di tepi tempat tidur Keita.
"Aku udah dapat tiket buat penerbangan lusa!" kata Keita dan dia sudah memasukan banyak barang-barangnya.
Mami hanya mampu menatap Keita dengan tatapan penuh rasa iba dan sayang. Malangnya nasib percintaan putra semata wayangnya itu, tapi ia bisa apa?
***
Yura kesulitan, dengan satu tangan dia tak bisa bekerja maksimal. Tapi untung ada Alika yang senantiasa membantu. Dan malam ini Zahran mampir, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu dengan Yura.
"Heh, bener-bener gila ya si Dara!" ucapnya.
"Semoga setelah ini dia sadar!" harap Yura.
"Sadar dari mana Yur! Dia gak akan berhenti kecuali kita laporkan dia ke pihak berwajib!" kata Alika.
"Betul!"
"Gak! Aku rasa itu gak akan menyelesaikan masalah!" kata Yura beralasan.
"Terus, kemarin Keita kesini kan?" tanya Zahran, Yura heran, dia tak tahu kalau Keita kemarin datang dan mendengar pengakuan Arkan.
"Gak, gak ada dia kemarin!" sahut Yura terheran.
"Lho, katanya dia mau temui lo, kemarin dia kebetulan servis mobilnya di bengkel gue, gue bilang semuanya, dan dia katanya mau minta maaf sama lo!" kabari Zahran.
"Gak ada kok ...."
"Yur, jangan-jangan dia beneran kesini, tapi karena lihat Kak Arkan, dia keburu salah faham!" bisik Alika.
DEG, Yura takut. Yura takut kalau Keita datang saat Arkan mengakui perasaannya. Ya, Yura yakin kalau Keita pasti datang saat itu. Sungguh Yura kembali merasa bersalah.
"Biar masalahnya clear! Sebaiknya lo hubungi dia!" usul Zahran dan ya, Yura cepat-cepat hubungi Keita tapi ....
"Nomorku masih di blokir!" keluh Yura.
"Coba kamu temui dia langsung deh! Jangan biarkan ini berlarut-larut Yur, tapi setidaknya sekarang Kak Kei udah tahu kebusukan si Dara, nah ... kamu tinggal minta maaf aja dan jelaskan apa yang terjadi selama ini!" usul Alika, Yura masih meragu.
"Betul, lo harus jelaskan secara langsung, cepat atau lambat si Dara bakalan bikin akal-akalan lagi!" dorong Zahran kali ini.
"Ingat Yur! Kamu sama Kak Keita udah pacaran 3 tahun lebih! Kamu mau semuanya berakhir seperti ini? Setidaknya kamu ada upaya buat menjelaskan! Kamu harus temui dia secara langsung!"
"Tapi aku malu kalau harus ke rumahnya langsung, aku segan sama maminya!"
__ADS_1
"Kamu harus jelaskan Yur! Kalau kamu diam, kekeliruan ini gak akan pernah selesai!"
"Ya, itu betul!"
Yura sedang mengumpulkan keberaniannya. Apa yang dibilang Alika dan Zahran ada benarnya. Dan setelah mengumpulkan keberanian itu, akhirnya Yura mengalah, dia temui Keita langsung ke rumahnya. Yura juga takut kalau Keita mendengar pengakuan Arkan tadi.
Pembantu Keita sudah membuka kan pintu gerbang dan kebetulan, saat itu Mami sedang ada di halaman rumah tengah menyirami bunga-bunga di taman kecilnya. Dia cukup marah dengan kedatangan Yura. Tutur lembut, tatapan dan sambutan hangat sudah tak ia berikan lagi pada Yura. Mami menganggap kalau Yura adalah mood breaker untuk puteranya.
"Mau apa kamu kesini lagi? Cukup ya Yura! Apa yang kamu lakukan pada Keita, itu keterlaluan tahu gak?" sapaan sinis menyambut, Yura sangat mengerti dengan kemarahan Mami dan dia pasrah saja.
"Gak ada lagi, gak ada kesempatan buat kamu! Tanpa kamu sadari kamu sudah menghancurkan Keita secara perlahan!" lanjutnya.
"Saya mau bicara, sebentar saja tante ...." pinta Yura memelas, dia sangat ingin bertemu Keita saat ini.
"Gak! Maaf Yura, saya gak akan membiarkan kamu menyakiti dia lagi!"
"Mi ...." akhirnya Keita datang. Yura senang sekali, Yura sangat ingin menjelaskan semuanya sampai sejelas-jelasnya.
"Sayaang, kamu mau suruh dia pergi kan?" tanya Mami memojokan posisi Yura saat ini.
"Dia gak salah apa-apa kok Mi, semua ini ada dalangnya! Nanti aku ceritakan sama Mami ya," kata Keita dan Mami sama sekali tak mengerti apa maksudnya.
Yura lega, dia merasa Keita memang sudah mencerna penjelasan Zahran.
"Ada apa lagi ini?" tanya Mami tak mengerti.
"Nanti aku jelasin! Aku boleh ajak Yura masuk kan?" pinta Keita, Mami tak bisa menolak kalau Keita yang memintanya.
"Masuklah!"
Yura sangat lega. Apalagi saat Keita menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah besarnya itu. Bahkan Keita mengajaknya ke kamarnya langsung, Yura masih agak meragu.
Saat masuk ke dalam kamar, Yura heran saat melihat koper besar ada di atas tempat tidur Keita.
"Aku udah tahu semuanya! Seharusnya aku tahu ini sejak awal!" kata Keita, Yura lega mendengarnya.
"Syukurlah, maafin aku ya ...." ucap Yura.
"Aku juga, mau minta maaf karena udah larut sama permainan si Dara!"
"Ini bukan salah siapa-siapa kok, ini murni kesalahan Kak Dara!"
Keita menghela nafas, dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang penting pada mantan kekasihnya itu. Keita tatap Yura dengan lekat, seperti itu adalah tatapan terakhirnya.
"Tapi ...." Keita menahan kalimatnya membuat Yura menjadi sangat penasaran, Yura menunggu.
"Kita tetap gak bisa meneruskan ini semua!"
BYAAAAR, rasanya hati Yura hancur sekali mendengarnya. Jadi walaupun kebenarannya sudah terungkap tapi Keita tetap akan menganggap jalinan cinta mereka berakhir begitu saja?
"Kenapa Kak?" tanya Yura dengan mata berkaca-kaca, walau Yura sudah siap dengan keputusan apapun tapi tetap saja, putusnya hubungan cintanya dengan Keita secara resmi seperti ini sangat membuatnya terluka.
"Aku rasa, ada yang bisa lebih melindungi kamu dengan baik disini! Aku harus meneruskan study-ku di London!" dalih Keita.
"Apa kamu gak mau aku menunggu?"
"Gak usah menunggu! Mungkin, aku gak akan pulang buat waktu yang lama!"
"Kak ...."
Keita belai rambut Yura penuh kasih, dia juga menyelipkan anak rambut indahnya di balik telinga Yura. Yura terharu, mungkin momen manis ini adalah momen manis terakhirnya dengan Keita.
"Huh, berat! Tapi aku harus melepaskan kamu ... pasti Arkan bisa menjaga kamu dengan lebih baik," ungkap Keita, benar dugaan Yura, pasti Keita tahu soal pengakuan Arkan, Yura sangat merasa bersalah.
"Kak ...." ratapnya lalu dia menarik ujung t-shirt Keita dengan erat, itu seperti sebuah isyarat kalau Yura tak ingin kehilangan Keita begitu saja.
"Kamu akan selalu jadi pacar terbaikku!"
Hiks! Yura tak tahan lagi, dia menangis begitu saja di hadapan Keita. ya, memang berat, tapi keputusan sudah diambil, Keita sudah putuskan, kalau ia akan fokus dengan study-nya. Dia akan melupakan Han Yura, jika ia mampu.
"Kalau memang ini keputusan kamu, baiklah ... apapun yang terbaik untuk kita berdua, tapi kamu harus tahu, aku sayang sama kamu Kak!" ungkap Yura, GAP, Keita menjatuhkan kepala Yura dalam dekapannya, ya ... dekapan terakhirnya, mungkin.
"Semoga ini yang terbaik!"
__ADS_1
Yura puaskan tangisnya di dalam pelukan Keita, karena Yura merasa kalau itu adalah pelukan terakhirnya.