
Pertandingan sudah berjalan beberapa babak. Pertandingan di dalam Arena begitu sengit sama sengitnya seperti perjuangan Alana dan Keyla berlomba merebut perhatian Arkan. Walau saat ini Keyla melakukannya secara terselubung tapi Alana pun mulai curiga pada Keyla yang selama ini mampu menyembunyikan perasaannya terhadap Arkan.
"Aah iya, ngomong-ngomong kamu terganggu gak sih sama pemberitaan media gosip tentang kamu dan Arkan belakangan ini?" tanya Alana membangun topik pembicaraan saat pertandingan jeda.
"Entahlah Kak, aku gak tahu kenapa orang-orang salah mengartikan! Apa karena gesturku dan gestur Arkan kelihatan aneh gitu? Mereka kan cuma belum tahu kalau dulu kami ini schoolmate!" jawabnya santai seolah-olah dia merasa biasa-biasa saja.
"Ya mungkin karena masalahnya kamu ini artis terus jarang meng-ekspose pasangan ke khalayak, makanya sekalinya kamu kelihatan flirting dengan cowok di depan mata kamera, jadi lah beritanya dibesar-besarkan!" tanggapi Alana.
"Mungkin, bisa jadi begitu Kak."
"Apa mereka gak tahu kalau Arkan sudah menikah?"
"Mungkin mereka gak tahu! Udahlah Kak, biarkan saja itu kan cuma angin lalu! Lagi pula siapa yang menduga Arkan sudah menikah!"
"Ya, bahkan aku sendiri tahu setelah mereka 3 hari menikah!" keluh Alana lalu matanya memicing ke arah tempat duduk Yura dan Alika. Setiap melihat Yura hatinya terasa sakit.
"Mereka cukup keterlaluan ya Kak," Keyla malah ikut memanas-manasi, dia menggugah kembali rasa kecewa Alana terhadap Arkan dan rasa bencinya terhadap Han Yura.
"Ya, mereka sangat keterlaluan!"
"Sudahlah, pasti suatu hari mereka akan dapat balasannya. Mungkin mereka gak sadar kalau pernikahan mereka menyisakan luka untuk orang banyak!" timpali Keyla lagi dan lagi, 'Termasuk aku!' pungkasnya dalam hati.
Yura mencoba tetap fokus ke lapangan walau Arkan dan rekan-rekannya sedang menepi di bench pemain menikmati jeda istirahat menjelang babak terakhir. Yura tak tahu kalau dua perempuan prestise yang terhalang beberapa orang itu tengah mendoakan yang buruk untuknya, Yura tak peduli.
Dalam setiap kesempatan, Arkan selalu melempar pandangannya ke arah Yura yang selalu menukas pandangannya itu dengan senyuman manis. Kedua orang yang di awal tak mempercayai statusnya sebagai istri Arkan mulai merasa terheran-heran pasalnya Arkan terus melirik ke arah mereka seolah-olah Arkan sedang menatap mereka.
"Enak banget duduk disini ya, serasa ter-notice gitu sama Arkana! Aaah, pandangannya itu lhoo, nyeeees banget!" bisik salah satunya.
"Iyaa, apa karena dukungan kita heboh banget? Perasaan dari tadi dia lihat ke arah sini terus deh!" sahut yang satunya, Yura yang mendengar itu dengan jelas hanya tersenyum masam. 'Kepedean sekali mereka, Kak Arkan kan lihat ke arah sini karena memang ada istrinya disini, heh,' pikir Yura kekik.
"Eh, udah pada dibilangin ya, kalau yang duduk samping kalian ini bininya Arkana Putera Azka! Makanya dia lihatnya ke arah sini terus!" Malah Alika yang sigap menyela obrolan kedua orang itu.
"Hiiih, halu akut! Pake ngaku-ngaku istrinya Arkan lagi!" orang itu masih saja mencibir.
"Ya ampun Yur, coba kamu suruh Arkan nyapa kesini, biar pada percaya!"
"Udah lah Al," tenangkan Yura berbisik, Yura malah merasa geli saja bagaimana sengitnya Alika membelanya.
"Habisnya ...."
"Gak perlu semua orang tahu kok, faktanya kan udah jelas kalau aku ini istri sahnya Kak Arkan! Kamu ini kok seneng banget berdebat sih, tuh! Quarter terakhir sebentar lagi mulai!" tenangkan Yura yang memang tak suka dengan keributan. Alika mengalah lagi walau kedua orang tadi masih mencibir dan memandang sebelah mata.
Dan saat pertandingan selesai ....
Yura menunggu suaminya menyelesaikan briefing di depan gerbang area gor tempat diselenggarakannya pertandingan hari ini. Disana juga masih lumayan ramai dengan para supporter yang tak lekas pulang. Biasanya mereka akan menunggu seluruh pemain pulang untuk memberi semangat dan penghormatan, begitu lah dunia olah raga dengan para fansnya.
Yura menunggu sendiri karena Alika lebih dulu pulang dengan sepeda motornya. Yura menunggu dengan sabar. Dan saat mobil dan kendaraan para pemain mulai keluar dari basement parkir gedung olah raga itu, para supporter yang masih tersisa memberikan teriakan semangat dan chant-chant heboh, mereka masih bersemangat sampai di luar lapangan, terlebih hari ini Sunrise menang dengan poin sempurna.
"Itu dia ... suamiku ...." gumamnya bangga saat mobil Arkan keluar, tak sabar rasanya ingin segera naik ke mobil Arkan dan memberinya selamat.
"Aaah itu mobilnya Arkaan ya ... Arkaaan i love you!!!!" teriak seseorang di belakang Yura, dan saat Yura menoleh, itu adalah dua orang yang tadi duduk di sampingnya saat masih di dalam gor. Yura kesal karena teriakannya begitu mengganggu.
Arkan menepi tepat di depan Yura berdiri, dan orang-orang kembali histeris.
"Lah, kok berhenti, apa sejak di dalam gor tadi dia udah lihat keberadaan kita?" ujarnya penuh percaya diri membuat Yura semakin kesal.
Yura membukakan pintu mobil Arkan dan orang-orang itu semakin heran dan bengong.
"Nah kok ... kok orang itu masuk?"
Yura melirik ke arah keduanya sebelum benar-benar naik ke mobil suaminya itu.
"Duluan ya!" pamit Yura dengan puas, sampai membuat kedua orang itu cukup terkaget. Dan mereka ingat kalau Yura adalah orang yang tadi duduk di samping mereka yang mereka anggap mengaku-ngaku sebagai istrinya Arkan.
"Laaaah, jadi ...."
"Jadi beneran cewek yang tadi itu bininya Arkana?"
"Aaaaah, kok bisa sih!"
__ADS_1
Arkan sudah meninggalkan pintu gerbang, dan Yura masih sempat-sempatya melihat situasi yang ia tinggalkan sembari terkekeh-kekeh 'hihi' membuat Arkan curiga.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan.
"Ha?"
"Kamu kenapa? Kok kayaknya seneng banget!" Arkan mengulangi pertanyaannya.
"Ya, seneng lah ... terlebih aku bangga karena hari ini kamu bermain sangat bagus!"
"Karena ada kamu!"
"Heum."
"Karena ada kamu aku jadi semangat!"
"Oke, jadi ... hadiah apa yang kamu mau Kak?" tanya Yura dengan nada menggoda. Arkan senang bagian ini, sungguh indahnya dunia pernikahannya dengan gadis yang tak sengaja dia tabrak 5 tahun yang lalu di depan rumahnya itu.
"Jadi boleh request sendiri hadiahnya?"
"Heumm, ya ... karena ini kemenangan di hari pertama dengan poin sempurna, dan kamu juga mencetak banyak poin! Jadi ... hadiahnya spesial, boleh request sendiri!"
Tanpa banyak bicara, Arkan tancap gas, seperti tak sabar ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Tawaran istrinya soal hadiah di pertandingan pertama ini membuatnya semakin semangat, tak peduli walau lelah selepas pertandingan tapi Arkan malah makin semangat.
"Kok ngebut-ngebut sih?" tanya Yura ketakutan, Arkan malah menukas dengan senyuman.
"Kita cari makan malam dulu, habis itu langsung pulang ke rumah!"
"Iya tapi gak usah ngebut-ngebut juga kan ...."
"Aku mau malam ini jadi malam yang panjang!"
"Ya ampun! Emangnya Kak Arkan gak cape apa? Hari ini tenaga Kak Arkan kan terkuras habis di pertandingan tadi!"
KRIIIIING, ponsel Arkan berbunyi. Saat dia tatap layar ponselnya yang menelphonenya saat ini adalah Vano. Arkan segera angkat dan berbicara lewat ear piece agar bisa tetap berkendara dengan baik.
"Iya Van, ada apa?" tanya Arkan.
"Iya, ada apa? Apa yang bisa gue bantu Van?" tanya Arkan sigap, dia merasa Vano sedang tidak baik-baik saja. Yura juga merasakan kekhawatiran Arkan dan dia jadi ikut tak enak hati.
"Gue lagi di Rumah sakit Ar, barusan gue mengalami kecelakaan! Dan ternyata orang yang terlibat tabrakan sama gue itu Alana! Karena menghindari tabrakan yang lebih parah sama gue, dia nabrak pembatas jalan! Gue gak tahu ke adaannya gimana sekarang ...."
"Kak ... ada kecelakaan!" seru Yura saat di tengah perjalanan dia melihat kerumunan masa dengan sebuah sepeda motor dan mobil yang sudah tak ada pemiliknya, bisa jadi itu adalah kecelakaan yang melibatkan Vano dan Alana. Dan ya, itu memang mobil Alana dan sepeda motor Vano.
Arkan menepi sejenak ....
"Iya Van, gue kesana sekarang! Share aja alamat Rumah sakitnya!"
"Oke, Ar! Thanks ya!"
Arkan dan Vano mengakhiri perbincangan itu. Dan Yura semakin penasaran.
"Ada apa Kak? Kak Vano ...."
"Itu motor Vano!"
"Oh ya? Terus Kak Vano-nya sekarang dimana?" Yura begitu panik mendengar kabar mengejutkan itu.
"Udah dibawa ke Rumah sakit, dan itu mobil Alana! Mereka udah dievakuasi ke Rumah Sakit sekarang!" jelaskan Arkan dan Yura semakin terkaget-kaget.
"Kak Alana? Ya ampun, barusan kan tadi kita nonton bareng?" Yura sampai tak percaya.
TING, ada notifikasi, mungkin itu pesan dari Vano. Ya, Arkan sudah dapat alamat Rumah Sakit dari Vano dan tanpa berlama-lama lagi, Arkan segera memutar arah dan pergi kesana.
Mungkin semuanya terjadi begitu cepat, secara kebetulan Alana mengalami kecelakaan dengan Vano. Vano terlihat tak begitu mengalami luka parah, dia hanya mengalami cedera di kaki dan lecet di bagian tangannya. Entah dengan Alana, Alana masih ada di ruang ICU, dan saat ini Arkan mau pun Yura sedang ada di ruang perawatan Vano.
"Kok bisa Kak, apa yang terjadi?" tanya Yura penuh tanya, dia merasa prihatin, terlebih belum lama tadi Yura menonton pertandingan Arkan bersama Alana di tribun yang sama beberapa saat lalu.
"Gue gak tahu pasti, yang pasti tadi gue gak sengaja menghindari lubang kecil di jalanan dan ternyata mobil yang ada di belakang gue tuh, Alana! Mungkin dia replect juga, karena takut nabrak gue, dia malah banting setir sampai nabrak pembatas jalan! Entahlah, kejadiannya begitu cepat, gue gak ingat pasti apa saja yang terjadi tadi!" tutur Vano, dia memang sedikit shock dan trauma.
__ADS_1
"Ya ampun, terus ... apa luka Kak Alana parah banget ya sampai dibawa ke ICU?"
"Tadi gue lihat sekilas, kayaknya dia mengalami benturan parah sih, yang gue lihat ... pas dievakuasi dari mobilnya, dia udah gak sadarkan diri!"
Yura semakin prihatin, tapi sepertinya tidak dengan Arkan. Arkan cuma fokus dengan kondisi Vano saja, dia sama sekali tak peduli dengan keadaan Alana.
"Biar aku lihat keadaannya ya, siapa tahu dia sadar dan butuh sesuatu!" kata Yura penuh rasa peduli.
"Iya sih, tadi Suster kesulitan menghubungi pihak keluarganya karena seluruh anggota keluarganya ada di Luar Negeri kan?"
"Ya udah, biar aku yang urus-urus masalah administrasinya!"
"Oke, makasih ya Yur!" kata Vano, sebenarnya Arkan setuju dengan hal itu, Arkan takut Alana tak berkenan karena dia tahu kalau selama ini Alana sangat tak menyukai istrinya itu. Arkan takut kalau rasa peduli Yura akan menjadi sia-sia.
"Tapi lo gak kenapa-napa kan Van?" tanya Arkan.
"Fisikly gue baik-baik aja Ar, tapi gue shock! Dan gue juga cemas Alana kenapa-napa Ar! Gue sadar kecelakaan ini emang kesalahan gue!"
"Udah udah! Jangan nyalahin diri sendiri Van! Dia pasti baik-baik saja!" yakinkan Arkan.
"Semoga."
Yura berjalan menuju ruang ICU dan beruntung, saat dia tiba Alana baru saja akan dipindah ke ruang perwatan, sepertinya tak ada luka terbuka, tapi yang Yura khawatirkan, Alana mengalami luka dalam.
"Han Yuraa ...." gumamnya saat dia melihat Yura mengkuti brankar yang membawanya menuju ruang perawatan.
"Kak, gimana? Kondisi Kakak baik-baik aja kan?" tanya Yura, tak ada rasa culas sedikitpun, Yura benar-benar mengkhawatirkan Alana.
Alana hanya mengangguk pelan dengan keterbatasannya. Yura mengikuti sampai ke ruangan Alana.
"Kamu kerabatnya?" tanya Dokter yang baru saja menangani Alana.
"I-iya, saya temannya Dok!" jawab Yura.
"Oh, apa ada pihak keluarga yang bisa kami hubungi?"
"M, untuk sementara ini gak ada Dok, tapi saya bisa menjamin semuanya! Jadi, bagaimana kondisi Kak Alana?"
"Sejauh ini kami tak melihat luka serius, tadi dia hanya mengalami trauma di kepala, semoga tak ada luka dalam yang serius!"
"Aah iya semoga saja!" harap Yura.
"Kalau begitu, kami tinggal ya ... kalau ada apa-apa segera hubungi Suster!"
"Iya Dok!"
Yura berjalan mendekat ke tempat Alana terbaring lemah. Gerak Alana masih terbatas, mungkin benturan yang hebat membuat tubuhnya kaku tak karuan.
"Kok kamu ada disini?" tanya Alana heran sedikit menggumam.
"Tadi Kak Vano telepon, dan kasih tahu kecelakaan ini ...."
"Vano?"
"Iya Kak, sepeda motor yang Kak Alana hindari itu motornya Kak Vano! Sekarang dia ada di ruang perawatan di ujung koridor ini!"
"Oh, Vano ya?"
Alana terlihat sangat lemas dan Yura jadi lebih kasihan lagi, terlebih saat ini Alana benar-benar sebatang kara di Jakarta. Walau Alana sempat membuatnya takut tapi sisi humanis Yura tergerak untuk ber-empati lebih pada Alana.
"Kamu datang sama Arkan?" tanya Alana, dan satu nama yang sudah pasti dia tanyakan, Arkan.
"Ya, dia ada di ruangan Kak Vano!"
"Kenapa dia gak datang kesini?"
"M, biar aku suruh dia kesini ya Kak!" kata Yura, lalu dia menelphone Arkan yang terpisah beberapa divisi dari ruangan Alana sekarang. Yura hanya ingin Alana merasa lebih baik. Dan Yura harap kedatangan suaminya bisa menghibur Alana saat ini.
'Heh, Han Yura ... apa kamu benar-benar peduli sama aku? Atau ini semua cuma pura-pura buat menarik rasa respect-ku? Heh, Han Yura ... apa sebesar ini hatimu? Apa kamu gak takut kalau aku mencari celah dan kesempatan?' batin Alana sembari dia tatap Yura yang masih mencoba menghubungi Arkan.
__ADS_1
Mungkinkah Alana akan percaya akan ketulusan hati Yura? Atau Alana akan tetap menganggap Yura sebagai saingan terberatnya.