
Hari-hari berlalu, tak terasa baby Arkan sudah menginjak usia 3 bulan. Dia sedang belajar telungkup dan itu membuat papa mamanya semakin gemas padanya, tak terasa makhluk mungil itu sudah tumbuh jadi boneka hidup yang membuat siapapun selalu merindukannya.
Hari ini ibu dan ayah datang berkunjung, mereka membawakan banyak hadiah untuk cucu kesayangan mereka itu. Bahkan ayah dengan semangatnya membawa skutermatic mini untuk Arkan, padahal masih butuh beberapa tahun lagi sampai Arkan bisa menggunakannya.
Nara senang, karena sejak Arkan lahir dia semakin merasakan kehangatan ayah dan ibu. Nara seperti merasakan kasih sayang ayah dan ibu kandungnya yang telah lama meninggalkannya ke alam baka.
"Uuuuh, Arkana sayang... Nenek kangen sama kamu sayang..." sapa ibu yang langsung menggendong Arkan yang menatap dengan mata bulatnya sampai membuat ibu dan ayah tak tahan ingin terus menciuminya.
"Sini kakek gendong..." Ayah malah berusaha merebut Arkan dari Ibu.
"Iiih, ayah! belum sampai satu menit juga ibu gendong Arkan, masih kangen tauuu..." tukas ibu yang malah menjauhkan Arkan dari ayah, Nara hanya tersenyum melihat interaksi manis itu.
"Huh, memangnya ibu aja yang merasa kangen..." gerutu ayah,
"Oh iya, kok kakek gak ikut?" tanya Nara saat menyadari kalau kakek tidak ikut serta dengan mereka.
"Tadi kakek agak gak enak badan, tapi dia titip salam dan cium hangat buat Arkan, muaachh," sahut ibu.
"Kakek kenapa?" tanya Nara lagi.
"Katanya pusing, tadi Dokter pribadinya sudah cek, kakek butuh istirahat."
"Oh, Syukurlah kalau baik-baik saja!"
"Oh iya, Azka kemana?" tanya ibu.
"Azka latihan, lusa dia harus menjalani pertandingan tandang ke luar kota bu." sahut Nara.
"Kemana?"
"Bandung,"
"Wah, gimana kalau kita ke Bandung? kita kan udah lama gak dukung Azka secara langsung, sekalian liburan...gimana yah?" saran Ibu.
__ADS_1
Ayah hanya mengangguk.
"Kamu juga ya?" kata ibu pada Nara.
"Tapi Arkan..."
"Gak apa-apa, Arkan perlu di ajarkan sejak dini untuk mendukung papanya! ibu jamin aman kok, yah..." bujuk ibu, akhirnya Nara setuju.
"Oke..."
"Asyik, lusa trip pertama kamu sayang...kita dukung papa ya, biar jadi juara lagi musim ini! yeee..." ibu terus mengajak Arkan untuk bicara seolah-olah Arkan mengerti dengan semua perkataannya.
***
Azka pulang saat Arkan sudah terlelap, dia sedikit kecewa. Dia hanya bisa melihat makhluk kecil itu terlelap manis di box tidurnya.
"Jangan di ganggu ya..." kata Nara sewot, dia duduk di meja riasnya lalu menyisir rambutnya yang agak messy karena sejak punya anak dia sulit sekali untuk bersolek secara total.
"Huh, lihat Arkan seperti ini...rasanya damai sekali," kata Azka yang masih anteng memandangi Arkan yang tidur nyenyak dengan wajah gemasnya.
"Kalian, keajaiban yang nyata!" ujar Azka lebih dalam, Nara tersanjung. Dia tahu kalau Azka bukan mimpi-mimpi lagi untuknya, Azka dan Arkan adalah kebahagiaan yang nyata untuknya.
Nara hanya berharap kalau apa yang dia dapat saat ini akan selalu indah seperti yang sudah dia dapat sejauh ini. Walau pada kenyataannya tidak ada sesuatu pun yang sempurna dan abadi. Tak ada kehidupan yang konstan, pasti suatu saat akan ada badai yang menerpa.
***
Ting tong...
Ada yang bertamu, entah siapa yang pasti bi Marni segera membukakan pintu. Nara masih sibuk mendandani Arkan yang baru saja selesai mandi, Nara fokus sampai dia tidak sadar kalau yang datang adalah Kalyla.
"Non, ada tamu..." kata bi Marni, Nara menoleh dan dia cukup terkaget dengan kedatangan Kalyla, dia datang dengan senyum hangat dan bingkisan manis untuk Arkan.
Ekspresi Nara menunjukan kalau saat ini tiba-tiba dia merasa takut, sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu dengan Lyla. Melihat penampilan Kalyla yang selalu on point membuat Nara jadi insecure, akhir-akhir ini Nara melupakan penampilannya sendiri demi fokus mengurus Arkan.
__ADS_1
"Hai, halo sayaang..." sapa Kalyla yang langsung mendekat menghampiri Arkan. Nara mencoba bersikap biasa-biasa saja.
"Hai, apa kabar?" sapa Nara mencoba terlihat normal, padahal hatinya benar-benar insecure.
"Baik, aku gak perlu tanya kabar kamu! pasti, kehidupan kamu semakin indah kan sejak kehadiran bayi manis ini?" kata Kalyla, Nara tersenyum getir.
"Ya!"
"Ya ampun gemas banget! halo...halo sayaaang..." Kalyla terus menyapa Arkan dengan gemas, Nara berusaha berpikir positif. dia berharap kedatangan Kalyla murni karena dia mau menengok Arkan bukan untuk hal-hal lainnya.
"Mau minum apa?" tanya Nara.
"Gak usah, aku gak bisa lama-lama.. masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan!" sahutnya.
"Oh..."
"Kamu, benar-benar beruntung ya! kamu sudah jadi wanita yang sempurna! aku...kadang iri, kamu mendapatkan segalanya yang selalu aku impikan selama ini!" Kalyla mulai melancarkan kata-kata ambigunya lagi, Nara tidak mengerti maksud Kalyla bicara seperti itu.
Kalyla menatap Nara, tersimpan rasa iri dalam tatapannya. Nara merasa ketakutannya akan menjadi nyata saat melihat obsesi terselubung dalam sorot mata Kalyla saat ini. Walaupun Kalyla tidak mengatakannya dengan jelas tapi Nara bisa merasakan niat Kalyla lewat senyum hambar yang berkali-kali Kalyla lempar padanya.
"Harusnya aku yang ada di posisi ini!" ujar Kalyla lagi semakin mempertegas prasangka Nara.
"Aku harap, kamu bisa segera move on! kami sudah sangat bahagia...kamu cuma perlu bersabar, kamu juga akan mendapatkan yang kamu impikan selama ini! secepatnya," Nara mencoba tetap bersikap bijak diantara rasa skeptisnya.
"Semoga!" tukasnya.
Kalyla menatap Arkan, dia semakin merasa sesak dan iri, dia selalu merasa menyesal karena pada akhirnya dia harus menerima kenyataan bahwa pria yang dulu mengharapkannya kini sudah menemukan cinta sejati dan kebahagiaannya.
"Ya, aku juga akan segera menemukan kebahagianku! secepatnya! entah itu dengan Yuki, atau orang baru atau bahkan, orang lama... mungkin saja!"
Deg, hati Nara kembali ketakutan, kata-kata Kalyla sungguh mengusik kedamaiannya selama ini. firasatnya kuat kalau Kalyla memang punya niat tidak baik saat ini.
Apa rencana Kalyla?
__ADS_1
Apakah orang lama yang dia harap adalah Azka?
Bersambung.