
"Yura! Yura!"
Ibu menggoyahkan tubuh Yura, dia panik karena Yura tak memberi respon apapun.
"Yuraaa! Yura bangunlah!" kata Ibu dengan derai airmata, dan tangan Yura bergerak sedikit, perlahan Ibu membalik tubuh Yura dan dia lihat tangan kirinya tak bisa di gerakan dengan sempurna, Kakinya juga lemas, tapi Yura masih sedikit membuka matanya hanya saja dia tak bisa berkata-kata, Ibu takut anak tirinya itu sekarat dan dia sadar hukum pidana akan menunggunya dan Tania jika Yura sampai benar-benar meninggal.
"Tunggu! Tunggu sebentar, bertahanlah!" kata Ibu lalu dia berlari keluar rumah, mungkin dia hendak meminta bantuan pada tetangga terdekat.
Yura hanya menangis, dia kesakitan, hampir sekujur tubuhnya tak bisa digerakan dengan baik. Dia tak habis pikir kalau dia nyaris terbunuh oleh ketidak sadaran Tania.
'Ayaaah! Ayaaaah!' panggilnya dalam hati, dia tak bisa bergerak, kaki dan tangannya mungkin patah dan dia juga merasakan sesuatu menetes perlahan dari lubang hidungnya, baunya amis sekali dan ternyata itu memang darah.
"Ayaaaaah," gumamnya lemah, bayangan ayah tiba-tiba hadir. Yura hanya mampu menggerakan manik matanya.
"Bertahanlah nak!" ujarnya, ujar bayangan itu.
"Sakit Ayah, sakiiit," gumamnya lirih.
"Ayah tahu! Tuhan akan membalas mereka, bersabarlah!" ucap Ayah lagi.
"Apa ayah datang untuk menjemputku?"
"Tidurlah, kamu akan baik-baik saja!"
"Ayaaaah!"
__ADS_1
"Bertahanlah Nak,"
Semakin lama bayangan itu pudar lagi, itu mungkin memang hanya delusi saat Yura merasa nyawanya ada di ujung kerongkongannya. Dia tak bisa merasakan apapun, hanya rasa sesak dan sakit yang luar biasa di sekujur tubuh dan kepalanya.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Beberapa tetangga datang, menyaksikan Yura hampir sekarat di dasar tangga.
"Dia jatuh pak, dia jatuh dari atas!"
"Tolong siapkan mobil, mobil siapa saja!" ujar seorang pria yang langsung memberikan pertolongan pertama pada Yura, dia langsung mengangkat tubuh Yura dan membawanya ke luar rumah, rumah penuh kenangan yang kini jadi saksi bisu seorang gadis malang hampir meregang nyawa di dalamnya.
BRAAAK
MEOWWW
Arkan terkaget, ada seekor kucing yang terdengar jatuh di kanopi shelter bench di court basketnya, saat itu dia sedang melakukan trik-trik ringan bersama Azka.
Kucing melompat dari kanopi dan langsung mendekat pada Arkan, jika diperhatikan kucing itu sama persis dengan kucing yang tadi menghampiri Yura.
Apakah ini sebuah firasat?
"Sejak kapan ada kucing di rumah ini?" tanya Azka heran, apalagi melihat kucing itu melingkar di kaki Arkan, manja sekali.
"Gak tahu, aku gak tahu kucing ini datangnya dari mana? Kok tiba-tiba ada disini?" tanya Arkan heran.
Di sudut rumah yang lain ....
__ADS_1
PRAK, sesuatu jatuh dari atas meja, Nara tak sengaja menyenggol meja makan dan sebuah gelas yang terletak di ujung meja jatuh kemudian pecah.
"Astaga, teledor banget aku ini!" katanya lalu dia mencoba mencari sapu dan pengki kecil untuk membereskannya.
"Biar saya aja non!" kata Bi Marni sigap mengambil alih pekerjaan Nara itu.
"Gak apa-apa bi, saya heran kok saya teledor sampai nyenggol meja makan dan saya juga lupa kalau saya menyimpan gelas itu terlalu dekat dengan tepi meja, hehe," cerita Nara.
"Namanya juga gak sengaja non!"
Nara hanya belum tahu saja, kalau saat ini Yura tengah sekarat karena perbuatan keji saudara tirinya dan bisa jadi kalau keteledorannya itu adalah tanda dari keadaan Yura sekarang.
Apakah Keita juga merasakannya?
Ya, dia terbangun karena jendela kamarnya tiba-tiba terbuka begitu saja, ada angin yang menerpanya dan Keita cukup heran karena sebelumnya jendelanya itu tak pernah terbuka secara tiba-tiba.
Dan semua orang merasakan pertanda itu, termasuk Lulu dan Yuki. Lulu juga tiba-tiba tak sengaja memecahkan gelas saat dia hendak meraihnya dari meja di samping tempat tidurnya, dia memang tak melihat ke arah gelasnya karena matanya malah fokus ke layar ponsel.
Tapi anehnya, gelasnya pecah padahal gelas itu jatuh di atas permadani yang cukup tebal, Lulu heran, seharusnya gelasnya hanya memantul tapi entah kenapa gelasnya terbelah menjadi beberapa bagian.
"Ya Ampun! Kebiasaan nih," gumamnya lalu dia hendak mengambil serpihan belingnya tapi Yuki lebih dulu melakukannya.
"Biar aku aja, kamu duduk aja disana!" ucapnya.
"Makasih honey!" ucap Lulu manja.
__ADS_1
Ya, dan semua orang belum tahu kalau semua itu adalah pertanda, pertanda kalau saat ini Yura sedang tidak baik-baik saja. andai mereka semua tahu, pasti tak mungkin mereka menyangka kalau peristiwa kecil mereka berhubungan dengan tragedi mengerikan yang Yura alami beberapa saat lalu.