
Tak menunggu waktu lama Azka datang, dia datang dengan amarah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. Dia marah pada Yuki yang terkesan menyembunyikan istri dan anaknya, dia juga marah pada Nara karena lari dari masalah dan yang lebih dia sesalkan adalah Nara lari berlindung pada Yuki.
Kini empat orang dewasa yang sedang terlibat cinta segiempat berdiri di tengah ruangan yang sama, dan masing-masing dari mereka memendam emosi dan kemarahan yang hampir sama.
Nara marah pada Azka dan Kalyla karena secara terang-terangan mengkhianatinya. Azka marah pada Nara dan Yuki yang terkesan bermain di belakangnya, Yuki marah pada Kalyla karena niat dan rencana busuknya sudah membuat situasi dan kondisi semakin kacau, dan Kalyla? dialah satu-satunya orang yang menikmati masalah pelik antara Nara, Azka dan Yuki.
Azka tatap Nara dengan tatapan yang amat sangat tajam, seperti tatapan burung elang yang siap menerkam mangsa. Nara tak ragu, dia membalas tatapan Azka, betapa dalam rasa kecewa Nara pada Azka dan itu tergambar jelas dalam sorot matanya saat ini.
"Apa ini yang kamu mau, heh?" tanya Azka pada Nara, tak ada rona dalam mimiknya saat ini, mukanya merah padam karena kemarahannya sudah hampir memuncak.
"Kita simpan dulu cerita tentang keberadaanku disini! sekarang coba jelaskan, apa yang kalian lakukan di Bar malam itu? apa?" tanya balik Nara setengah membentak, dia tak kuasa menahan emosinya.
"Udahlah, gak usah mengalihkan pertanyaan Azka! jawab saja!" ujar Kalyla mencoba mempengaruhi Azka. Yuki memicingkan matanya, Yuki benar-benar muak pada Kalyla dan kelicikannya.
"Gak! sebelumnya kalian harus jawab pertanyaanku tadi! karena ini semua, berawal dari sana!" kata Nara lebih tegas lagi, Yuki tak mencoba meng-interupsi, dia hanya akan menengahi jika keadaan semakin panas.
"Itu semua hoax! aku gak pernah melakukan itu secara sadar," dalih Azka, heh.. Nara menanggapinya dengan senyum super kecut.
"Tapi semuanya terlanjur jadi konsumsi publik! nikmati saja itu! kalian berhasil! kalian berhasil membuat berita besar!"
Azka melirik kearah Arkan yang bermain sendiri di tempat tidur, hatinya sakit menyaksikan anaknya harus jadi saksi pertengkaran hebat antara orangtuanya itu.
"Udahlah! sekarang kita pulang!" kata Azka lalu dia hendak menghampiri Arkan tapi Nara malah menghalanginya.
"Gak!" tahan Nara yang dengan sigap menghalangi langkah Azka dengan tubuhnya.
"Apa maksudnya?" tanya Azka tajam sekali.
"Selesaikan dulu masalah kalian! setelah itu, baru Arkan bisa bertemu dengan kamu!" jawab Nara tegas.
__ADS_1
"Heh, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini...eugggh! udahlah, sekarang kita pulang!" paksa Azka lalu dia menarik lengan Nara dengan kasar.
"Aku gak mau pulang sebelum kalian selesaikan masalah kalian!" Nara masih bersikeras, dia mencoba melepaskan diri tapi cengkraman tangan Azka terlalu kuat untuknya.
"Udahlah Azka! lihat saja, udah jelaskan kalau mereka sengaja bermain di belakang kamu!" kata Kalyla mencoba memanaskan lagi situasi.
"Diam!" ujar Yuki tegas.
"Apa? akui saja, ini rencana kita! ini rencanaku bersama Yuki! kami memang sengaja ingin memisahkan kalian!" Kalyla benar-benar jadi pemeran antagonis malam ini, kata-katanya mengaduk emosi Azka dan Nara, tapi Nara tak percaya padanya begitu saja. Nara yakin kalau Yuki bukan orang seperti itu.
Azka marah bukan main, dia melepaskan Nara lalu berbalik kearah Yuki dan...
BRUUUK, dia kembali melayangkan bogem mentahnya pada Yuki yang langsung tersungkur, keadaan makin,makin dan semakin chaos.
"Hentikan!" hentak Nara lalu dia hampiri Yuki yang kembali mendapat luka di wajahnya, Azka marah karena Nara malah mendekat pada Yuki, bukan padanya.
"Lihat aja! perlahan dia akan pergi ninggalin lo kalau sikap lo tetap kayak gini!" kata Yuki benar-benar memprovokasi Azka yang hendak menyerang Yuki lagi tapi Kalyla menahan tubuh jangkungnya dan Nara juga menghalangi Yuki dari terjangan Azka.
Azka cemburu, dia sangat cemburu karena Nara lebih memilih melindungi Yuki.
Whooaaa...Whooaaa...
Arkan menangis lantang, mungkin dia shock dengan keributan yang terjadi.
"Pergi!" usir Nara semakin membuat Azka sakit.
"Pergi! kita akan segera menyelesaikannya!" kata Nara lagi yang kadung emosi, Nara membantu Yuki bangkit, lalu dia berjalan mendekat pada Arkan lalu menggendongnya mencoba menenangkan.
Azka mematung, pernyataan Nara serasa merobek hati nuraninya, apa maksud Nara? menyelesaikan masalahnya atau menyelesaikan pernikahannya? Azka tak dapat mencerna kata-kata Nara dengan baik.
__ADS_1
Siapa yang paling bahagia malam ini?
Tentu saja Kalyla, dia merasa sangat sukses memporak porandakan keutuhan rumah tangga Azka dan Nara. Dia diam dan hatinya bersorak riang.
Azka masih mematung, dia tak percaya dengan keputusan Nara yang begitu cepat, Nara memang terlalu emosi, dia tak memikirkan dampak dari kata-katanya tadi.
"Ayo pulang!" ajak Kalyla lalu dia berusaha menarik tubuh Azka dari sana.
"Sebentar, secepat itu?" tanya Azka pada Nara yang masih menggendong Arkan yang masih menangis.
"Buat apa kita teruskan hubungan yang udah gak sehat ini? aku sudah mencoba bersabar! dan kamu sama sekali gak berhasil meyakinkan aku malam ini! kamu gak menjawab apa-apa! kamu gak bisa jelaskan apa yang terjadi malam itu di Bar!" tukas Nara yang lagi-lagi menangis.
"Gak! itu cuma alasan! alasan biar kamu bisa lebih dekat sama dia kan?" tuduh Azka lalu menunjuk benci kearah Yuki.
"Gak usah memutar balikan fakta! sudah jelaskan, sudah gak ada pengertian di antara kita! untuk apa di teruskan lagi?"
Azka marah, sangat marah dia menarik langkahnya dari sana dan meninggalkan Nara dan Arkan bersama Yuki, saat ini dia memang tak bisa berpikir jernih. Kalyla mengikuti Azka, dia senang bukan main.
Nara tak percaya ini semua akan berakhir, baru saja Azka berjanji padanya untuk selalu sayang dan setia padanya, tapi apa sekarang? Azka sama sekali tak bisa mengatasi masalah mereka yang awalnya sepele, tapi karena keduanya tak mau saling mendengarkan, jadilah rumah tangga mereka yang menjadi korbannya.
Kalyla berlari dan mampu menyusul Azka yang baru saja memasuki lift, dan hanya ada mereka dalam lift itu...
"Im so sorry..." kata Kalyla belagak berempati, Azka tak peduli, dia sedang menikmati rasa sakit dan sesak di dadanya.
Kalyla? dia menang kali ini...
Dia merasa satu langkah lebih dekat pada puncak ambisinya, dia yakin sudah tak ada lagi aral untuknya.
"Sepertinya sudah lama mereka bermain di belakang kamu!" kata Kalyla memperkeruh lagi kemelut di benak Azka.
__ADS_1
"Mereka keterlaluan ya!"
Azka tak mampu berkata-kata, dan kata-kata Kalyla semakin meracuni pikirannya saat ini. Kini dia rapuh, dia merasa tak berguna karena tak bisa membawa Nara pulang, malah Nara lebih memilih untuk berlindung pada Yuki.