Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
ARKAN atau KEITA?


__ADS_3

Sepulang pertandingan, Arkan dan Nara menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Lulu, mereka juga ingin melihat keadaan Yura.


Sementara Nara, Lulu dan Yuki duduk santai di dalam rumah, Arkan dan Yura duduk menikmati guyuran sinar rembulan di taman kecil di belakang rumah, disana ada kolam ikan kecil dan gemerincik air membuat suasana semakin damai dan syahdu.


"Udah merasa baikan?" tanya Arkan yang saat itu masih mengenakan jersey basketnya, penampakannya yang gagah sempat membuat Yura terpesona.


"Udah Kak,"


Sejenak suasana hening lagi, hanya percikan air dari pancuran kecil yang menjadi backsound kebersamaan dua anak remaja itu.


"Jadi, lo benar-benar gak akan menuntut mereka ke meja hijau?" tanya Arkan kembali melanjutkan obrolan.


"Nggak Kak, aku takut urusannya semakin panjang. Biarkan aja mereka hidup dengan kehidupan baru mereka toh sekarang aku bisa hidup lebih baik jadi rasanya gak guna aku mengurusi mereka lagi." jawabnya yakin.


"Tapi, aaah, gue sampai gak tega membayangkannya! Dia sengaja mendorong lo sampai lo jatuh dari ujung ke dasar tangga, lihat keadaan lo sekarang! Apa lo gak merasa dendam sedikitpun?" kali ini Arkan sedikit lebih kritis dan cerewet dan Yura merasa tersanjung dengan sikap peduli Arkan itu.


"Dendam? Mungkin ada, sedikit. Tapi aku coba berpikir positif aja, bisa jadi kejadian ini adalah awal aku bisa tinggal bersama keluarga baruku ini, iya kan?"


Arkan tatap Yura yang wajahnya tampak bersinar karena pantulan cahaya rembulan tepat menerpa wajah manisnya. Arkan salut dengan sikap Yura, dia jadi semakin yakin kalau Yura adalah definisi 'orang baik' yang sebenarnya.


"Heh, gimana bisa lo berpikir seperti itu?" tanya Arkan dengan nada nyeleneh, walau sebenarnya dalam hati dia benar-benar merasa salut.


"Eummm, sebenarnya sulit dan mungkin saja kalau saat ini aku sedang munafik! Tapi, mendiang Ayah selalu mengajarkan aku untuk selalu menarik hikmah dari setiap kejadian, kejadian tragis sekalipun!" jawab Yura lugas, dan Arkan pikir apa yang Yura katakan itu memang benar adanya.


Tak ada gunanya bergelut dengan dendam, biarkan Tuhan saja yang membalasnya. Setiap kebaikan ataupun kejahatan akan menemui balasannya cepat atau lambat dan Yura sudah membuktikannya. Kesabaran dan sikap lapang dadanya telah membawanya pada kehidupan indah yang sebenarnya.


"Oh iya, apa kalian lolos ke babak final?" tanya Yura mengalihkan topik pembicaraan, dia tak ingin berlarut-larut dalam kisahnya.


"Ya!" jawab Arkan tegas.


"waaah, selamat ya! Aku udah janji mau nonton langsung di tribun kalau kalian berhasil masuk final!" sambut Yura penuh suka cita.


"Janji sama si Kei?" tanya Arkan dan seketika wajah Yura memerah.


"M, iyaa." jawabnya malu-malu.

__ADS_1


"Kalian udah jadian?" tanya Arkan sedikit kepo.


"Nggak kok,"


"Mungkin secepatnya!" ujar Arkan menduga-duga.


"Ha?" Yura sampai melongo mendengarnya.


"Mungkin setelah turnamen selesai si Kei akan langsung nembak lo buat jadi pacarnya."


"Aah, mana mungkin."


"Dia suka sama lo sejak pandangan pertama!" goda Arkan, ya walau dengan gaya dinginnya dan itu malah membuat Yura semakin tersipu, senang sekali rasanya bisa berbincang santai dengan kakak kelasnya itu.


"Aah masa sih!".


"Iya lah, masa lo gak peka siih, gue aja yang bertindak sebagai sahabatnya sampai gak pernah lihat si Kei kasmaran kayak gini! Lo itu cukup penting buat si Kei saat ini!"


Yura semakin dan semakin tersipu dan entah kenapa Arkan menikmati suasana malam ini, dia tampak cair dan mengalir. Bahkan sesekali Arkan merasakan sesuatu yang aneh bergetar dalam hatinya setiap menatap senyum lepas Yura. Mungkin kah Arkan jga tertarik dan jatuh cinta pada Yura?


"Lo juga suka kan sama dia?" tanya Arkan membuat Yura tiba-tiba merasa sangat deg-degan. Entah apa yang dia rasakan saat ini, setiap ada di dekat Arkan atau saat ada di dekat Keita getaran yang Yura rasakan hampir sama.


'Apa aku suka pada kedua kakak kelasku ini? Hehe, kenapa aku maruk sekali, hehe.' batinnya dan berulang kali dia tersenyum geli saat menganalisis perasaannya sendiri saat ini.


"Jangan takut, si Kei itu orang baik kok! Dia gak pernah macam-macam," sambung Arkan.


'Ya, kalian memang orang-orang baik! Kamu dan Kak Kei, Kak Vano juga, kalian adalah warna baru dalam kehidupanku!' batin Yura lagi.


Nara, Yuki dan Lulu sampai merasakan kehangatan yang sama saat melihat Yura dan Arkan berbincang akrab di taman belakang itu.


"Lihat anak-anak kita, manis sekali yaa!" kata Lulu bangga.


"Arkan seperti seorang Kakak buat Yura," sahut Nara.


"Semua ini terasa seperti sebuah kebetulan! Dan melihat Yura tersenyum lepas kayak gitu, gue sampai merasakan kebahagiaan yang rasanya sulit gue gambarkan dengan kata-kata! Dia pantas bahagia!" ungkap Lulu membuat suasana sedikit mengharu biru.

__ADS_1


"Dia pantas mendapatkan kasih sayang kalian!" imbuh Nara lalu dia merangkul Lulu dengan hangat.


Kebersamaan mereka adalah gambaran kebahagiaan yang selalu Yura dambakan selama ini, masa-masa kelam itu sudah berlalu dan kini tinggal manis dan terang saja yang akan Yura jelang di hari-hari berikutnya.


***


Yura tak menyerah, dia terus berjalan menggunakan tongkat. Setiap hari dia berlatih di sekitar rumah barunya ....


TIDIIIIT TIDIIIT


Ada seseorang berhenti di depan pagar rumah, Yura menoleh dan itu ternyata Keita. Yura senang sekali, tapi selebihnya perasaan salah tingkah dan malu-malu yang tampak.


"Boleh masuk gak?" seru Keita dengan nada agak bergurau, Yura berusaha meraih ujung pagar tapi dia tak lekas-lekas membukakannya, dia takut Lulu tak berkenan dengan kedatangan Keita.


"Ibu sama Ayah gak ada di rumah," kata Yura dan mereka hanya berdiri dan dibatasi pagar rumah, Keita masih di atas sepeda motornya dan Yura bertumpu pada kedua tongkatnya.


"Ya udah deh, disini aja." sahut Keita pasrah.


"Maaf ya,"


"Gak apa-apa kok, nih gue bawain lo ini!" kata Keita lalu dia menyodorkan satu cup minuman kekinian ke atas pagar dan Yura meraihnya dengan senang hati.


"Waaah, makasih banyak kak." ucapnya sambil tersenyum manis membuat Keita bahagia tak terkira melihatnya.


"Cepat sembuh yaa, biar kita bisa jalan-jalan bareng lagi, kayak waktu itu." kata Keita berharap.


"Iya Kak, aku coba yaaa," Yura menancapkan sedotan di atas cup minuman itu, dia seruput perlahan dan senyum bahagia terbit lagi. Hal-hal sederhana seperti ini sulit sekali Yura nikmati di masa lalu dan sekarang, semua orang yang ada di sekitarnya ada untuk selalu menerbitkan senyum di wajah manisnya.


"Ya udah, gue pamit ya. Nanti gue chat ya," kata Keita yang kembali menyalakan mesin motornya.


"Iya, Kak, makasih banyak ya jajan nyaa." ucapnya.


"Byee!"


Keita berlalu, dia hanya ingin membawakan minuman itu untuk Yura, sederhana memang tapi hal itu sungguh sangat manis dan membuat Yura terbawa perasaan.

__ADS_1


__ADS_2