
"Ibu gak akan terlalu mengekang kamu! Kalau kamu suka, kamu boleh menjalin pertemanan spesial sama siapapun, mau sama Keita atau Arkan terserah, yang penting kamu seneng!" kata Lulu sembari dia rapikan baju yang saat ini Yura kenakan.
"Terimakasih bu," sahut Yura lalu dia tatap dirinya di cermin.
"Asal kalian bisa menjaga diri!"
"Iyaa bu."
Yura sudah siap dengan stripped dress hitam putih yang dipadu padankan dengan jaket denim cropped. belakangan Yura memang jadi lebih stylish semenjak jadi anak kesayangan Lulu dan Yuki.
"Kamu manis banget deh, kalau boleh jujur, kamu itu ngingetin Ibu sama Nara di masa lalu. Persis kamu! Bahkan kisah hidup kalian aja hampir sama!" puji Lulu lalu kembali dia mengenang sosok Nara di masa lalu.
"Oh ya?" yakinkan Yura.
"Iyaa, ya sudah! sudah cukup dandannya! Jangan terlalu manis nanti Keita kena diabetes kan kasian! Hihi," canda Lulu lalu dia membantu Yura bersiap dengan tongkatnya, Yura hanya senyam senyum menanggapi candaan Lulu. Mereka memang berhasil membangun bonding yang kuat dengan sangat baik. Walau baru berjalan beberapa hari tapi Lulu dan Yura sudah kompak layaknya seorang Ibu dan anak gadisnya.
Keita menunggu di teras rumah, tak sabar rasanya menjelang first date mereka. Keita memang merasakan kasmaran yang luar biasa begitu bertemu Yura saat satu atau dua kali bertemu. Dia bahkan baru menyadari kalau dia punya adik kelas super manis seperti Yura yang sebelumnya jarang sekali dia temui di sekolah.
"Pulangnya jangan malam-malam lho yaaa." terdengar suara Lulu dan ketukan tongkat Yura dari balik pintu semakin mendekat keluar rumah. Keita segera bersiap dan saat Yura keluar dari balik pintu itu ....
He stop, stare and stuck for a moment! Seperti ada tombol pause yang tiba-tiba tak sengaja dia pencet dalam dirinya. Yura manis sekali, saat didandani seperti ini kecantikan Yura semakin terpancar dengan sempurna.
"Kei, saya serahkan Yura sama kamu sampai jam 8 malam nanti!" kata Lulu menggoda.
"Iya, iya tante! Saya akan jaga Yura dengan baik!" sahut Keita penuh keyakinan.
"Gak boleh di apa-apain ya!" Lulu masih sempat-sempatnya menggoda membuat Yura maupun Keita merasa salah tingkah dibuatnya.
"Nggak lah Tan, dijaga pastinya!"
"Oke, saya percaya sama kamu! sama kalian! Jangan sia-siakan kepercayaan saya ini ya!" pesan Lulu untuk yang terakhir kalinya.
"Siap Tan!"
Kei kembali membantu Yura berjalan, dengan hati-hati dia iringi langkah Yura yang semakin lama semakin mahir berjalan dengan tongkatnya itu.
"Oh iya, jangan ngebut-ngebut yaaa!" seru Lulu saat Keita sudah membukakan pintu mobilnya untuk Yura.
"Oke Tan!" balas Keita, dia pun bersiap di depan kemudinya, menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk meluncur menuju kencan pertama mereka.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ....
"Lo manis banget sore ini." puji Keita, pujian itu sudah tertahan di ujung bibirnya sejak saat tadi Yura keluar dari pintu rumah. Tak ada lagi yang Yura rasakan selain perasaan nervous dan malu-malu.
"Gue senang karena akhirnya lo mendapatkan orangtua terbaik kayak Tante Lulu maupun Om Yuki!" tambah Keita.
"Ya, mereka sangat baik."
"M, kita nonton dulu atau makan dulu?"
"Terserah Kak Kei aja!"
Drdd, Drrrdddd ... ponsel Keita yang terletak di dashboard samping bergetar sampai menghasilkan suara cukup keras. Keita tatap layar ponselnya dan yang menghubunginya adalah Vano.
'Aaah, ganggu aja!' batinnya kesal.
Drddd, Drrdddd ... Vano kembali menghubunginya.
"Angkat dulu Kak, mungkin penting!" kata Yura, akhirnya Keita pun pasrah, dia tarik earpiecenya dan mengangkat telphone dari Vano walau malas.
"Heum!" sapa Keita malas, dia merasa Vano sudah mengusik kebersamaannya bersama Yura.
"Apa? Serius Van? Dimana? Dimana? Iya yayaya! Gue kesana, gue kesana!"
"Kenapa Kak?" tanya Yura ketakutan.
"Arkan sama Vano diserang anak-anak SMA sebelah!" jawab Keita panik lalu dia bersiap untuk melaju lagi.
"Lho kok? Maksudnya gimana?" tanya Yura semakin panik.
"Kamu ingat gak peristiwa tawuran yang melibatkan murid-murid sekolah kita sama murid-murid SMA tetangga setahun lalu?" tanya Keita.
"Kalau gak salah itu kan ulah beberapa oknum Kakak kelas kita yang udah pada lulus tahun ini?"
"Nah, generasi ke bawahnya masih menyimpan dendam! Kami gak terlibat dalam tawuran itu tapi beberapa minggu terakhir anak-anak Harapan Bangsa diserang secara random! Entahlah, ini udah chaos banget situasinya!"
"Terus sekarang, Kak Vano sama Kak Arkan?"
"Mudah-mudahan mereka gak luka parah!"
__ADS_1
Keita terus mencari sampai dia lihat sebuah kerumunan dipinggir jalan, dia juga lihat sepeda motor Arkan terparkir di antara kerumunan itu. Keita langsung menepi dan menghampirinya.
"Orang-orangnya udah dikejar kok!" kata salah satu warga, dan saat Keita mendekat tangan Arkan terluka parah, seperti lengannya terkena sabetan senjata tajam sampai seluruh pakaiannya hampir ternoda darah yang tak berhenti mengucur, beruntung para warga melakukan pertolongan pertama dengan membebatnya agar darahnya tak terus mengalir.
"Astaga! Ar ada apa ini?" tanya Keita yang langsung mendekat.
"Biasa tadi ada gerombolan anak sekolahan, nyerang mereka berdua gitu aja!" kata salah satu warga.
"Ya udah deh, naik-naik ke mobil gue! Kita ke rumah sakit yuk, titip motornya sebentar ya pak, nanti kami ambil lagi!" Kata Keita sigap lalu membantu Arkan bangkit.
"Iya iya, hati-hati, hati-hati!"
Yura melihat Arkan berlumur darah dari balik jendela mobil Keita dan dia sungguh tak kuasa melihatnya.
"Kak Arkan!" hentaknya apalagi saat dia melihat Arkan sudah ada di belakang seatnya.
"Thanks Kei!" kata Arkan pada Keita yang sigap membantunya.
Keita lupa dengan rencana kencannya, dia langsung meluncur ke Rumah sakit terdekat.
"Kalian mau kemana?" tanya Vano penuh curiga, Arkan juga sejak masuk mobil tadi lumayan gagal fokus dengan keberadaan Yura di jok depan.
"Kalian yang mau kemana? Terus, kalian gak war dulu kan sama anak-anak rese itu?" tanya balik Keita yang masih panik dengan keadaan Arkan.
"Si Arkan jemput gue dari sekolah! Gue emang sengaja minta dia jemput soalnya gue merasa udah diintai sejak di gerbang sekolah!" cerita Vano.
"Sialan mereka! Kenapa kita yang jadi korban! Tawurannya kan udah lewat setahun lalu! Kita juga gak terlibat." rutuki Keita, dia marah karena sahabatnya menjadi korban.
"Kayaknya mereka sengaja memprovokasi buat memicu tawuran selanjutnya!" sahut Arkan yang masih menahan rasa sakitnya.
"Jangan! Kalian jangan sampai terprovokasi! Yaa, please! Biarin aja mereka begitu, kita jangan sampai terpancing!" sela Yura di sela-sela obrolan penuh emosi itu, Arkan gagal fokus lagi, apalagi saat Yura menoleh ke arahnya, Arkan juga diam-diam merasa pangling dengan penampilan Yura sore ini.
"Bener sih kata Yura! Mendingan kita diemin aja mereka! Jangan sampai kejadian ini bocor sama anak-anak! Kalau anak-anak tahu pasti mereka bakalan pasang badan dan balas semua ini, dan ujungnya ini bakalan jadi tawuran turun temurun!" sambut Vano, dia mencoba berpikiran positiv.
"Ya gak bisa lah, lihat kondisi si Arkan sekarang? Apa gue harus diam aja?" tanggapi Keita yang masih penuh emosi.
"Please Kak, jangan! Kita sama-sama rugi kalau terus menyimpan dendam berkepanjangan!" cegah Yura lalu dia usap pundak Keita berharap itu bisa sedikit meredam amarahnya.
"Tapi,"
__ADS_1
"Ayolah! Kita lupakan dulu ini sejenak, kita pastikan dulu kalau luka Kak Arkan baik-baik saja! Yaaa ...." Yura benar-benar menjalankan tugasnya sebagai peredam amarah Keita dengan sangat baik, udah kayak pacar yang menenangkan Keita dengan amarah meluap-luapnya.
Vano sampai senyum-senyum sendiri menonton adegan itu dari seat belakang dan diam-diam ternyata ada yang agak terbakar api cemburu juga.