Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Pagi yang menyakitkan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari rumah Arkan hingga mereka sampai di depan rumah Yura tak ada obrolan yang terjalin. Arkan benar-benar membuat emosi Yura naik turun, Yura merasa baru menemukan sisi lain di diri Arkan.


"Makasih," ucap Yura lalu dia lucuti safety beltnya.


"Yakin sendirian di rumah?" tanya Arkan karena saat ini rumah Yura juga mengalami pemadaman listrik massal.


"Ya," jawab Yura singkat lalu dia benar-benar turun dari mobil Arkan.


Tak ada kata maaf, tak ada penjelasan lagi ....


GRUUUUNG, Arkan berlalu dari hadapan Yura. Sisi lain yang liar dan gelap. Yura tak habis pikir kenapa Arkan menunjukan hal itu padanya hari ini.


'Ada apa denganmu Kak?' batinnya.


***


Ckttt ... Yura membukakan pintu.


"Kak Keita?" sapanya, saat pintunya terbuka Yura mendapati kekasihnya berdiri mematung dengan wajah masam dan marah.


"Kapan Kakak pulang? Kenapa gak kasih tahu aku dulu? Apa ini kejutan?" tanya Yura girang, dia senang bukan main saat lelaki yang sudah menjadi pacarnya selama 3 tahun ini datang secara tiba-tiba. Yura memeluk Keita tapi apa yang terjadi ....


BRUK, Keita menghempaskannya sampai terjatuh di lantai. Itu kasar sekali, sampai Yura merasa begitu sakit hati. Setelah bertahun-tahun, Keita datang dengan kemarahan yang Yura sendiri tak tahu apa sebabnya.


"Kak ...."


"Kamu keterlaluan! Kalian keterlaluan!" desis Keita dengan kekecewaan yang tampak jelas menggantung di wajahnya.


"Maksudnya apa Kak?"

__ADS_1


"Perbuatan kalian tak bisa dimaafkan!"


"Apa Kak? Aku gak ngerti," Yura bangkit lalu menarik tangan Keita, tangannya yang dingin.


"Aku merindukanmu Kak, kenapa Kakak datang dengan rasa marah seperti ini?" tambah Yura memelas lalu dia eratkan genggaman tangannya itu.


"Aku setia sama kamu tapi kamu main-main di belakangku! Jadi selama ini semuanya 'fake'? Jadi selama ini kamu anggap aku apa, huh?" bentak Keita, dan sungguh rasanya baru kali ini Yura mendengar suara tinggi Keita. Yura takut, dia pikir Keita sedang membahas masalah ciumannya dengan Arkan semalam. Yura sangat menyesal.


"Dengarkan aku Kak! Dengarkan penjelasanku!"


"Gak usah di jelaskan lagi! Aku cukup tahu aja, kalau selama ini aku salah besar sudah percaya sama kamu dan Arkan!"


"Kak!" Walau Keita marah tapi Yura kembali memeluk Keita yang masih berbalut mantel tebal saat ini. Tangan dan tubuh Keita memang terlihat kedinginan, Yura sendiri merasa heran karena faktanya pagi ini Jakarta begitu cerah ceria.


"Lepas!" Sekuat tenaga Keita mencoba melepaskan tangan-tangan Yura dari tubuhnya.


"Gak Kak! Tolong dengarkan aku sebentar saja!" ratap Yura, dia juga masih tak habis pikir bagaimana Keita tahu kejadian semalam dan bagaimana pula dia tiba-tiba ada di Jakarta tanpa konfirmasi apapun, apa Keita melakukan teleportasi? Pikirnya.


"Gak, Kakak harus percaya sama aku! Masuk ya, biar aku jelaskan semuanya! Masuklah, badan Kakak seperti kedinginan, biar aku buatkan minuman hangat, yaaa," bujuk Yura perlahan dan akhirnya Keita pun mau, Yura menarik tangannya untuk masuk dan mengajaknya duduk di ruang tengah.


Yura masih bertanya-tanya, apa yang terjadi pagi ini terasa begitu cepat. Kedatangan Keita membuatnya shock sekaligus merasa sangat bersalah. Apa yang terjadi semalam bersama Arkan murni karena kesalahan Arkan, bukan kesalahan Yura. Itulah yang ingin Yura katakan pada Keita saat ini tapi kemudian Yura memikirkan bagaimana nasib persahabatan keduanya kalau Yura katakan hal yang sejujur-jujurnya itu.


"Aku selalu menunggu saat-saat pulang ke Jakarta Yura! Alasan terbesarnya adalah karena aku ingin cepat-cepat ketemu sama kamu! Tapi apa yang kamu lakukan di belakangku ini? Kamu benar-benar keterlaluan!" ungkap Keita masih dengan rasa marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.


"Semalam ...."


"Apa? Itu bukan yang pertama kan? Itu bukan ciuman pertama kalian kan?" sambarnya lalu kembali Keita ajukan pertanyaan yang membuat Yura benar-benar terpojok.


"Gak Kak! Semalam ... gak seperti yang Kakak bayangkan, itu semua salah faham, tolong percaya Kak."

__ADS_1


"Entahlah, sepertinya kita gak bisa meneruskan hubungan ini lagi!" putuskan Keita dan itu seperti sebuah sambaran petir untuk Yura.


Yura menyesali perbuatannya, padahal apa yang terjadi semalam itu murni karena kelancangan Arkan. Andai Yura bisa memutar kembali waktu, Yura akan memperbaiki alur cerita di hari kemarin. Yura menyesal, benar-benar menyesal.


"Secepat ini Kak?" Yura menatap Keita dengan mata berkaca-kaca yang menatap balik kearahnya dengan tatapan tanpa rasa kasihan sedikit pun.


"Untuk apa dipertahankan? Hubungan kita yang sudah bertahun-tahun terjalin terasa sia-sia! Apa kamu mau menyangkal? Kamu yang menghancurkannya dengan perbuatan kamu sendiri!" kecam Keita, hati Yura semakin sakit. Entah apa lagi yang bisa dia jelaskan pada Keita.


"Aku setia Kak, aku benar-benar setia sama Kakak ...." ucapnya di antara isak tangisnya.


"Bohong!" sambar Keita, seperti tak ada lagi kepercayaan untuk Yura.


"Semalam itu murni karena kesalahan Kak Arkan Kak, tolong percayalah!" ratap Yura, air matanya sudah berderai-derai.


"Tapi kamu menginginkannya kan? Kamu juga suka sama Arkan kan?"


Deg, Yura sedikit tersentil. Dia merasa saat ini Keita benar-benar sudah membaca isi hati dan isi kepalanya. Tapi sikap Keita sudah sangat membuat mental Yura jatuh, sikapnya begitu dingin dan sarkas, selama ini tak pernah sekalipun Keita bersikap seperti ini kepadanya dan ini sungguh sangat menyakitkan.


"Dan kamu tahu Han Yura? Setelah lulus nanti, rencananya aku akan langsung melamar kamu!" ungkap Keita semakin membuat Yura merasa menyesal.


"Kamu adalah satu-satunya gadis yang ada di pikiranku selama 3 tahun ini! Tak ada gadis yang lebih menarik buatku selain kamu! Kamu adalah yang teristimewa dan satu-satunya yang ada disini!" kata Keita lalu dia tepuk-tepuk bagian dada sebelah kirinya dengan emosi, Yura sampai tak kuasa mendengar semua kata-kata dan pengakuan Keita itu.


Kesalahan fatal semalam sudah menjadi bencana yang nyata untuk hubungannya bersama Keita. Tak ada yang bisa Yura katakan lagi, tiba-tiba bibirnya kelu.


"Penantianku sekarang benar-benar terasa sangat sia-sia! Kamu keterlaluan! Salah aku sudah menilai baik terhadap kamu selama ini! Arkan, heh ... ******** dia! Dia pecundang, aku bersumpah gak akan pernah menganggap dia sebagai teman lagi!" Keita masih mengungkapkan kemarahannya dan Yura masih menikmati rasa sesak dan tangis perihnya.


Keita Bangkit dan bersiap untuk pulang ....


"Jangan berharap apa-apa lagi, hubungan kita berakhir sampai disini! Pagi ini! Hari ini!" kata Keita terakhir lalu dia beranjak meninggalkan Yura sendiri tapi Yura tak tinggal diam, dia susul langkah Keita yang kini sudah melewati pintu rumahnya.

__ADS_1


"Kak!" panggil Yura tapi Keita sudah tak sudi walau sekedar untuk menoleh saja.


"Kaaaaaak!"


__ADS_2