Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Hasil yang mengecewakan


__ADS_3

Mereka memasuki tribun yang sudah dipadati ratusan supporter dari kedua team yang akan bertanding sebentar lagi.


Lulu memapah Yura dengan sangat hati-hati sampai akhirnya mereka sampai di tribun paling depan yang sudah Nara siapkan untuk keduanya. Yura duduk di antara kedua wanita dewasa baik hati itu.


Yura juga merasakan atmosfer baru dalam hidupnya, baru kali ini dia menonton pertandingan basket team sekolahnya seperti sekarang ini, sebelumnya dia terlalu sibuk bekerja.


"Gimana keadaan kamu sekarang?" sapa Nara.


"Sudah jauh lebih baik Bu." jawab Yura, dia memang masih memanggil Nara seperti saat dia masih bekerja di cafe dulu.


"Syukurlah, Ibumu merawatmu dengan baik kan?" tanya Nara lalu melirik ke arah Lulu.


"Sangat baik, Ibu dan Ayah merawat saya dengan sangat baik! Saya akan segera sembuh!" jawab Yura tegas.


"Saya ikut senang mendengarnya!"


Tak lama satu persatu pemain dan team pelatih dari kedua sekolah yang akan berlaga memasuki lapangan, dan dengan mudah Keita maupun Arkan bisa menemukan letak duduk Yura.


Keita tampak semangat, Yura adalah ekstra spirit untuknya dan sepertinya Arkan juga diam-diam mencuri-curi pandang terhadap gadis yang sama, Yura. Entah kenapa akhir-akhir ini Arkan sering memikirkannya walau dia sendiri tahu dan sadar kalau Keita lebih dulu mendeklarasikan rasa sukanya kepada Yura.


"Astaga, bidadari gue datang juga akhirnya!" gumam Keita, dia memang jadi sedikit lebay sejak jatuh cinta pada Yura.


"Heh," Arkan hanya tersenyum getir kearahnya.


Yura memandang lurus ke depan, sebenarnya pandangannya juga masih menjadi misteri, entah Keita atau Arkan yang sebenarnya dia perhatikan.


"Hey Yur!" sapa Vano yang tiba-tiba hadir di antara Yura, Nara dan Lulu.


"Vano," sapa Nara.


"Eh tante, aku ikut gabung disini ya, disana berisik banget!" kata Vano lalu menunjuk ke belakang tribun yang sudah ditempati para team hore yang meneriakan chant-chant dengan suara lantang mereka.


"Boleh, Yura! Kamu mau duduk dekat Vano?" tanya Nara, Yura hanya mengangguk, dia pikir duduk di antara Nara dan Lulu membuatnya agak canggung. Mereka pun bertukar tempat dan akhirnya Yura bisa sedikit lebih santai duduk di samping Vano.


"Ciee ciee," bisik Vano menggoda, Yura hanya menoleh.


"Kenapa?" tanya Yura heran.


"Bentar lagi ada yang jadian nih!" godanya lagi.

__ADS_1


"Maksud Kak Vano siapa?"


"Eumm, lihat aja deh nanti!"


"Iiih, Kak Vano bikin penasaran deh!"


"Gak usah pura-pura gak tahu deh! Selepas pertandingan ini, bakalan ada yang mengungkapkan perasaannya sama lo!"


"Masa sih?"


"Cieeee!"


Vano memang senang sekali menggoda Yura sampai Yura dibuat baper olehnya. Apalagi saat dia lihat lagi ke tengah lapangan, sosok Keita begitu manis tapi kadang sosok Arkan juga mengalihkan perhatiannya


PRIIIIIT, play off babak pertama sudah di mulai, pertandingan sore ini memang tak mudah karena yang Arkan dan kawan-kawan hadapi adalah salah satu team unggulan.


Semua orang bersorak, semua orang bersemangat, dan semua orang juga tegang bahkan saat ini Arkan dan team tertinggal dengan poin yang cukup jauh.


Yura jadi khawatir, dia takut kalau kehadirannya malah menjadi beban untuk Keita karena sejak tadi Keita sulit sekali memasuki area pertahanan lawan.


"Yaaah, ayo Kei semangat!" teriak Vano saat Keita gagal melakukan lay up di bawah ring.


"Mereka bermain baik kok! Bisa sampai final saja sudah sangat membanggakan! Mereka sudah menyingkirkan puluhan peserta!" sahut Lulu.


"Ya, kalah menang mereka tetap kebanggaan kita semua!"


Yura setuju dengan asumsi Nara dan Lulu, kalah menang hal biasa dalam sebuah pertandingan. Dan sepertinya petang ini memang bukan hari keberuntungan untuk Arkan dan kawan-kawan. Mereka sudah tertinggal 9 poin sementara waktu hanya tinggal beberapa detik lagi.


"Semangat brooo, kalian hebat! Kalian tetap yang terhebat!" Teriak Vano mencoba membakar semangat Arkan dan Keita yang sudah kelihatan kecapean dan kecewa dengan hasil yang mereka dapat hari ini.


Dan ya, sayang sekali hari ini mereka kalah. Mereka hanya berhasil merebut tempat sebagai runner up, mereka kecewa tapi para supporter tetap memberikan semangat dan dukungan pada anak-anak remaja yang kelelahan itu.


Yura mencemaskan keadaan mental Keita dan Arkan, keduanya tampak sangat terpukul dengan kekalahan itu, bahkan keduanya tak berani mengangkat kepala mereka.


Setelah seluruh kegiatan selesai, walau kecewa tapi Arkan dan kawan-kawan tetap mendapat apresiasi apalagi Keita dinobatkan sebagai pemain sebagai pencetak poin terbanyak sepanjang turnamen. Memang sedih rasanya merasakan euphoria team lawan tapi Arkan dan kawan-kawan mencoba tetap tegar.


Seisi Venue sudah kosong hanya tinggal beberapa orang saja.


"Kak!" Panggil Yura pada Keita yang masih bertahan di tengah lapangan, Kei menoleh dengan separuh semangat yang tersisa.

__ADS_1


Dara dan Keyla yang masih ada di tribun juga lumayan tertarik dengan kehadiran Yura yang berdiri di pagar pembatas tribun dengan tongkat di tangannya.


"Apa itu si Yura?" tanya Keyla mencoba meyakinkan.


"Ya, kenapa dia?" tanya balik Dara.


"Entah, tapi kayaknya ada hubungannya sama si Tania! Apa kita tanya secara langsung aja?"


"Gak usah sekarang deh, males banget lihat interaksi mereka berdua! Nyesek tau gak?" gerutu Dara lalu dia pergi cepat-cepat meninggalkan area tribun. Dia tak akan kuat melihat kedekatan Yura dan Keita.


Keita berjalan mendekat ke arah Yura.


"Maaf ya hari ini gue kalah!" kata Keita penuh kekecewaan.


"Gak apa-apa! Tadi itu kalian bermain sangat bagus! Aku bangga sama kalian!" kata Yura mencoba tetap memberi semangat, Keita menyunggingkan senyum tapi senyum hambar.


"Makasih ya!" Kata Keita.


"Tetap semangat bro!" kata Vano yang datang mendekat.


"Makasih banyak buat semua dukungan kalian!"


"Yuraa! Ayo pulang!" seru Lulu.


"Duluan ya!" pamit Yura, lalu dia kembali berjalan menghampiri Lulu dengan susah payah.


"Kei, tetap semangat ya! Kalian hebat!" seru Lulu.


"Iya, makasih banyak tante!" sahut Keita.


"Kami duluan ya, byee!" pamit Lulu dan Yura, Yura hanya melambaikan tangannya, dan Yura merasa masih harus menyemangati Keita bagaimanapun caranya.


Nara juga tengah berjuang menguatkan Arkan yang sangat kecewa dengan hasil pertandingan hari ini, bahkan dia berlindung dalam pelukan Nara.


"Gak apa-apa sayang! Buat Mama, kamu dan teman-teman kamu tetap yang terhebat!" kata Nara yang sejak tadi langsung menghampiri Arkan ke tengah lapangan.


Arkan enggan menjawab, yang pasti saat ini dia sangat kecewa.


"Kita pulang ya!" ajak Nara, Arkan hanya mengangguk dan Nara mengerti sekali bagaimana perasaan putranya saat ini. Kalah dalam pertandingan puncak memang sangat menyakitkan tapi seluruh supporter tetap memberi apresiasi.

__ADS_1


Kalah menang itu cuma masalah di hasil akhir, kemenangan yang sebenarnya adalah saat kita benar-benar sudah mengerahkan semua kemampuan terbaik.


__ADS_2