Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Aunty dan Om baik


__ADS_3

Tanpa lelah sedikitpun Yura mengayuh sepedanya, masih ada dua orderan lagi yang harus dia antarkan. Saat di lampu merah dia menepi di garis Zabra cross dan di saat yang sama mobil Yuki dan Lulu juga ada di lampu merah yang sama.


Mata Lulu lekat memperhatikan sosok gadis bersepeda yang berjarak sekitar 5 meter dari mobilnya sekarang.


"Kamu lihat apa?" tanya Yuki yang diam-diam memperhatikan Lulu yang masih lekat melihat pada Yura.


"Lihat gadis itu!" jawab Lulu lalu menunjuk ke arah Yura, Yuki juga melihatnya sekarang.


"Kenapa? Itukan seragam cafe Sunkiss, dia pegawai Nara?" tanya Yuki yang belum mengetahui secara pasti siapa Yura.


"Iya, dan kamu tahu? Dia masih pelajar, adik kelasnya Arkan." jawab Lulu dan matanya belum beralih, sampai akhirnya lampunya sudah hijau.


"Oh ya?"


"Ya, tolong menepi di depan sebentar, aku mau ntapa dia, boleh ya?" pinta Lulu, Yuki mengangguk lalu tersenyum, dia mendahului laju sepeda Yura lalu menepi di pinggir jalan.


Lulu cepat-cepat keluar dan melambaikan tangannya pada Yura yang hampir sampai di depannya, Yura awalnya ragu tapi dia ingat kalau Lulu adalah orang yang beberapa hari lalu berkunjung ke cafe, Yura segera menepi.


Lulu menatapnya penuh kehangatan, bahkan Yuki juga ikut turun dari mobil.


"Sore tante," sapa Yura penuh kesopanan, Lulu membalanya dengan senyuman, Yuki juga.


"Kamu lagi anterin orderan?" tanya Lulu.


"Iya tante,"

__ADS_1


"Hati-hati lho di jalan ...." cemaskan Lulu.


"Iya tante,"


"Kenalin, ini suami tante ... sayang, ini teman sekolah Arkan, manis kan?" kenalkan Lulu, Yuki mengulurkan tangannya.


"Yuki," ucap Yuki lalu tersenyum hangat membuat Yura senang sekali melihatnya.


"Yu-Yura om!" sahutnya.


"Oh iya, kamu mau antar orderannya kemana?" tanya Lulu.


"Disini tante, kantor ini ...." jawab Yura lalu menunjuk gedung perkantoran tepat di depannya berdiri sekarang.


"Oh, ya sudah kamu cepat-cepat antarkan! Nanti bos kamu marah, hehe." goda Lulu.


"Kamu benar sekali, oh iya sebentar..." Lulu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Buat jajan!" kata Lulu lalu menyelipkan beberapa uang seratus ribuan di tangan Yura sampai Yura berdecak.


Yuki perhatikan Lulu, dia melihat sorot mata bahagia saat Lulu menatap gadis manis di depannya sekarang, Yuki juga merasakan energi positif yang ditunjukan oleh Yura.


"Ya ampun tante, ini banyak sekali ... saya gak bisa menerimanya," kata Yura yang malah merasa tidak enak.


"Ambil saja, siapa tahu kamu mau beli sepatu baru sayang!" kata Lulu lalu dia menatap sepatu Yura yang sudah sedikit jebol, Yura jadi malu. Ya, dia sebenarnya sama sekali belum pernah membeli sepatu lagi semenjak Ayah meninggal. Yura terharu dengan perhatian Lulu.

__ADS_1


"Itu bukan apa-apa kok, anggap saja itu rasa respect tante buat kamu karena kamu itu anak yang rajin! Tante salut sama kamu!" puji Lulu dan Yura semakin terharu dengan kebaikan Lulu.


"Ambilah, mau om tambah jumlahnya?" tawarkan Yuki, Yura semakin berdecak.


"Jangan! Jangan om! Terimakasih banyak, terimakasih banyak!" kata Yura berulang kali, rasanya senang sekali bertemu orang baik seperti Lulu dan Yuki di sore yang cerah ini.


"Ya sudah, selamat bekerja ya, hati-hati di jalan!" kata Lulu berpamitan, begitupun dengan Yuki.


Yura terdiam dan tertegun, dia eratkan genggaman tangannya lalu menatap lembaran uang dalam genggamannya itu. Yura benar-benar bersyukur.


Lulu dan Yuki berlalu, Lulu tak bisa mengalihkan pandangannya, dia masih menatap sosok Yura lewat kaca spion mobilnya sampai Yura benar-benar tak terlihat lagi.


"Kamu menyukainya?" tanya Yuki.


"Ya! Dia gadis yang manis, dan baik!" sahut Lulu tegas.


"Terus kenapa dia bekerja?"


"Huh, kamu tahu? Yura mengingatkan aku pada Nara di masa lalu, dan aku pikir apa yang Yura alami saat ini jauh lebih menyedihkan!"


"Benarkah?" Yuki ikut penasaran, diam-diam dia juga terkesan dengan sosok Yura yang senyumnya mampu membuat istrinya tampak sangat bahagia.


"Iya, orangtuanya sudah meninggal dan saat ini dia tinggal bersama ibu tirinya! Nara masih sedikit beruntung karena dia bisa mengelola cafe peninggalan mendiang Ayahnya, sedangkan Yura sekarang? Dia bahkan harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, lihat sepatunya tadi? Huh, dia pasti sudah lama sekali tak membeli sepatu!" cerita Lulu, bahkan dia sendiri merasa sesak saat menceritakan semuanya pada Yuki. Yuki sampai tertegun mendengarnya.


"Andai saja kita bisa memiliki anak yang manis seperti dia! Aku gak akan pernah menyia-nyiakan dia! Aku akan membahagiakannya sekuat hati!" harap Lulu, Yuki menggenggam tangannya.

__ADS_1


Apa benar Lulu berpikir untuk mengangkat Yura jadi anaknya? Mungkinkah?


__ADS_2