
BRAK
Yura dan sepedanya jatuh cukup keras ke jalanan beraspal, apa yang sebenarnya terjadi?
Saat tadi Yura melewati rumah Arkan, Arkan juga baru akan keluar dari dalam gerbang rumahnya itu dan Yura yang datang begitu saja tanpa bel peringatan panik dan tak bisa mengerem sepedanya dengan replect dan alhasil, body depan motor Arkan menabrak Yura dan sepedanya sampai agak terpental dan kini Yura kesakitan terbujur bersama sepeda kesayangannya di atas aspal.
"Sorry, sorry ...." Arkan yang panik langsung turun dari motornya lalu menghampiri Yura yang kesakitan. Yura sudah tak peduli pada pesona Arkan yang pasti saat ini dia sangat kesakitan.
Suara hantaman tubuh Yura cukup keras dan menarik perhatian orang-orang sekitar termasuk Nara yang saat itu sedang menyirami bunga-bunga di pelataran rumah.
"Arkan! Ada apa?" Nara setengah berlari menghampiri Yura yang juga saat itu sudah dikerumuni beberapa tetangga yang kebetulan ada disana.
"Arkan? Astaga! Ayo bantu dia masuk ke dalam rumah, kita obati luka-lukanya!" kata Nara panik sekali, Yura mendapat beberapa luka lecet, Nara juga takut para tetangga menghakimi Arkan. Sebenarnya Arkan kesal dengan keributan di pagi ini tapi dia pasrah saja dari pada dia disalahkan habis-habisan oleh tetangga. Arkan membantu Yura bangkit lalu memapahnya dengan hati-hati masuk ke dalam rumahnya.
Yura? Saat Arkan memapahnya dia baru sadar kalau dia sedang melakukan kontak fisik sedekat itu.
DEG DEG DEG, frekuensi detak jantungnya hampir terdengar, walaupun dia merasa kesakitan tapi bantuan yang Arkan lakukan membuatnya sedikit lupa akan luka baret di lutut dan di tangannya.
'Oh mygod! Sedekat ini? Aaah, Arkan ... dia tampak lebih tampan dari jarak dekat begini!' batinnya dan mereka sudah hampir sampai di dalam rumah, Yura semakin takjub karena dia juga berkesempatan masuk ke dalam rumah siswa populer yang diidamkan siswi-siswi lainnya di sekolah.
Nara mengikuti langkah anaknya lalu memapah sepeda Yura masuk ke dalam gerbang yang mungkin rusak di bagian stangnya.
"Astaga Arkan, stangnya sampai bengkok begini," gumamnya lalu dia cepat-cepat menghampiri Arkan dan Yura yang sudah duduk di ruang tengah. Arkan cukup sigap, dia langsung membawa kotak obat.
"Maaf ya nak, maafin Arkan." ucap Nara yang terlihat sangat menyesal atas kejadian pagi ini.
"Gak apa-apa kok tante, gak apa-apa." sahut Yura, Nara sejenak stuck saat dia meangkap manik di bola mata Yura. Nara menatap Yura dengan tatapan yang dalam.
"Sakit gak?" tanya Arkan saat dia menekan sedikit bagian engkel Yura.
__ADS_1
"aw!" ringis Yura tapi selebihnya dia masih merasakan nervous yang luar biasa.
"Pelan-pelan Arkan!" peringatkan Nara yang beberapa detik tadi menatap Yura dengan lekat.
"Mungkin kakinya terkilir ma!" kata Arkan yang tampak sangat serius menangani luka yang Yura alami dan Yura malah terbawa perasaan saat seorang Arkan sedikit memijat-mijat kakinya dengan lembut.
'Astaga! Sedekat ini? Uuh, dia juga manis banget sampai serius banget menangani lukaku ini, so sweet!' batinnya lagi dan Yura terus mencoba menikmati lukanya itu. Toh dia juga jadi memanfaatkan kesempatan dalam kesempatan ini.
"Kita bawa ke klinik aja, bentar mama ganti baju dulu ya, kamu tolong bawa ... Yura, iya Yura! Bawa Yura ke dalam mobil!" kata Nara penuh kepanikan.
"Tunggu-tunggu tante, gak usah repot-repot." tahan Yura yang jadi merasa gak enak karena sudah membuat Nara panik.
"Nggak repot kok, malah tante harus meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena Arkan sudah membuatmu seperti ini!" sahut Nara penuh sesal, dan kembali dia menatap Yura dengan lekat.
"Saya gak kenapa-napa kok, gak usah ke klinik. Hari ini ada ulangan penting di sekolah, saya mau melanjutkan perjalanan saya ke sekolah saja!" ucap Yura membuat Nara semakin terkesan.
"Benarkah? Kamu maunya begitu?" yakinkan Nara.
"Tapi engkel lo terkilir!" kata Arkan yang masih berjongkok di depan Yura saat ini.
"Iya sayang, kita harus periksa ke ahlinya biar kakimu cepat sembuh ..." bujuk Nara.
"Nggak kok, ini cuma terkilir nanti juga pasti rasa ngilunya reda. Maaf sudah merepotkan," ucap Yura sopan sekali.
"Ya sudah kalau maunya begitu, Arkan tolong Yura membersihkan luka-lukanya, di pasang plester saja dulu kalau begitu ya," kata Nara akhirnya menyetujui keinginan Yura untuk tak pergi ke klinik.
Arkan menurut, dengan hati-hati dia membersihkan luka di lutut Yura dengan cairan alcohol dan setelahnya dia pasangkan plester di atasnya, dia lakukan hal yang sama di lengan kanan Yura dan Yura semakin terbawa perasaan saja.
'Berasa jadi pacarnya tahu gak sih? Gimana reaksi orang-orang di sekolah ya kalau mereka lihat adegan manis ini!' batin Yura sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, tante antar kamu ke sekolah ya," tawarkan Nara, dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pagi ini pada Yura.
"Gak usah tante, terimakasih banyak,"
"Udahlah ma, biar aku boncengin dia! Mama kan ada pekerjaan penting di cafe pagi ini, iya kan?" handle Arkan dan hal itu semakin, semakin dan semakin membuat Yura merasa mendapat banyak kejutan di pagi ini.
"Iya sih, pagi ini Mama harus ke cafe!"
"Kita berangkat sama-sama!" kata Arkan pada Yura yang merasa mendapat jackpot pagi ini.
"Iya Kak." jawab Yura tegas, Yura benar-benar mencuri kesempatan dan kesempitan.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati ya! Arkan kamu juga jangan ngebut-ngebut lho!" pesan Nara lalu membantu Yura bangkit dan kembali berjalan ke depan rumah. Yura tak peduli walaupun pergelangan kakinya masih terasa ngilu, yang penting dia bisa dekat-dekat dengan Arkan sekarang.
'Tragedi membawa berkah!' batinnya tengil sekali.
Arkan sudah bersiap di atas tunggangannya, menaiki motorsport Arkan adalah impian hampir seluruh sisiwi di sekolah dan Yura mendapatkan kesempatan itu pagi ini. Nara membantu Yura untuk naik dengan hati-hati, kedua belak kaki Yura sampai gemetaran saat itu.
"Hati-hati ya! Arkan, hari ini kamu harus tanggung jawab lho, jaga Yura di sekolah! temani dia kalau dia mau pergi ke kantin atau kemana pun! Mama mau kamu belajar mempertanggung jawabkan kesalahan kamu!" kata Nara semakin memberi tambahan surprise untuk Yura.
"Heum!" sahut Arkan singkat lalu dia berikan helmnya pada Yura yang sudah duduk dengan segala rasa nervous di belakang punggungnya.
"Yura, kalau ada apa-apa di sekolah kamu minta bantuan Arkan ya," kata Nara.
"I-iya tante," sahutnya agak terbata.
"Hati-hati ya," pesan Nara sekali lagi.
'Oh mygod, mimpi apa aku semalam? Atau ini semua cuma mimpi? kok berasa jadi pacarnya Arkan ya pagi ini? momen ini momen langka yang harus aku manfaatkan sebaik-baiknya.' batin Yura tengil sekali.
__ADS_1
Gruuuuung, Arkan mulai menarik gasnya dan mereka pun pergi sama-sama ke sekolah.
Bersambung.