
Arkan sampai di depan rumah Yura ...
Dia segera turun lalu membantu Yura yang masih kesakitan untuk berpijak sendiri, Arkan benar-benar mempertanggung jawabkan perbuatannya tadi pagi.
"Terimakasih banyak kak," ucap Yura yang merasa jadi kekasih Arkan seharian ini.
"Ya, sepeda lo biar gue benerin dulu!" sahut Arkan dan dia kembali naik ke atas tunggangannya.
"Han Yura!"
Teriakan itu sejenak menghentikan niat Arkan untuk benar-benar berlalu dari sana, Arkan merasa harus menemui orangtua Yura dan meminta maaf atas apa yang menimpa Yura hari ini.
"Nyokap?" tanya Arkan pada Yura yang jadi merasa canggung, dia malu karena Ibu berteriak seperti itu saat ada Arkan di depannya.
"Ya," sahutnya.
"Hey Yura!", Ibu sudah sampai di luar gerbang rumah, pandangannya langsung tertuju pada Arkan yang kembali turun dari sepeda motornya dan segera berdiri berderet di samping Yura.
"Siang tante," sapa Arkan santun.
"Oh, udah berani pacar-pacaran ya kamu! mau ngelangkahin Kakakmu huh?" tanya Ibu ngegas, membuat Yura sangat malu, Yura malu pada Arkan yang hanya bengong mendengar omelan Ibu tiri Yura.
"Bukan bu," bantah Yura.
"Terus ini apa? dan sepedamu mana huh?" omel Ibu lagi, Arkan baru tahu kalau Ibunya Yura se-annoying itu dan dia jadi kehilangan respect terhadap Ibu.
"Ini Kakak kelasku bu, pagi ini aku jatuh dari sepeda sampai kakiku luka, terus Kak Arkan bantuin aku sampai dia juga anterin aku pulang!" jawab Yura, dia menyembunyikan cerita yang sebenarnya. Yura tak ingin Ibu menekan Arkan, Arkan sendiri sampai berdecak dengan pengakuan Yura.
__ADS_1
"Huh, teledor! Kalau begini gimana bisa kamu anterin kue-kue Ibu, huh?"
Arkan melirik ke arah Yura, dia terkesan dengan cara Yura menghindarkannya dari omelan Ibunya yang cerewet itu.
"Terimakasih banyak ya Kak, sampai jumpa!" kata Yura lalu dia mengisyaratkan Arkan untuk segera pergi dari hadapan Ibunya. Yura mengedipkan matanya dan Arkan sangat mengerti maksud Yura.
"Saya pamit ya," ucap Arkan lalu dia kembali bersiap di atas sepeda motornya.
"Hari ini orderan banyak! Ibu gak mau tahu pokoknya kamu harus antar semuanya, dengan atau tanpa sepeda!", Ibu masih melanjutkan omelannya sampai dia masuk ke dalam gerbang rumahnya lagi dan Yura mengikutinya dari belakang.
Sejenak Arkan menahan tarikan gasnya, dia menyaksikan bagaimana Yura mendapat perlakuan yang tidak baik dari Ibunya, bahkan tadi Yura sempat menyembunyikan fakta tentang kecelakaannya agar supaya Ibu tidak mengomel pada Arkan.
Mungkinkah Arkan terkesan dengan sosok Yura?
Yura merasakan warna berbeda dalam hidupnya, perlakuan Arkan hari ini membuatnya merasa begitu istimewa. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendapat perhatian seperti itu. Yura mengganti seragamnya dengan jumper denim favoritnya, dia juga rapikan rambutnya sampai membentuk hairbun yang manis. Entah kenapa sepulang sekolah ini dia jadi agak genit, mungkin Yura sedang membayangkan jadi pacar Arkan secara nyata.
"Han Yura!"
"Huh, bagaimana bisa kamu antarkan ini semua kalau jalanmu macam keong begitu?" lagi dan lagi Ibu mengomel, bukannya membantu Yura mengobati lukanya Ibu malah terus merutuki Yura.
"Aku antar dari sekarang aja bu, biar selesai sebelum magrib!" usulnya.
"Kalau jam segini pelanggan Ibu masih pada ngantor, gimana sih!" sahutnya kekik, ya sudahlah, Yura memilih untuk diam. Selama ini semua saran Yura selalu salah di mata Ibu.
Han Yura ...
Nama yang sangat manis bukan? Ada nuansa korea-koreanya juga, Ya, Yura memang blasteran indo-korea. Tapi karena sejak orok dia sudah tinggal dan menetap di Jakarta, maka dalam logat pun dia sudah seperti orang lokal tulen.
__ADS_1
Ibu Yura adalah mahasiswi hasil program pertukaran pelajar 19 tahun yang lalu, beliau bertemu dengan Ayah Yura yang orang Jakarta asli di kampus yang sama. Mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Sampai satu tahun kemudian mereka memutuskan untuk menikah walau tanpa restu orangtua Ibunya di Korea sana.
Konon katanya, Ibu Yura mengalami depresi berat karena tak kunjung mendapat restu, sampai akhirnya Yura lahir dan beliau masih sering mengalami baby blues syndrom. Kondisi tekanan mental itu membuat tubuhnya sakit sampai wafat di usia muda. Yura bahkan tak pernah merasakan secara langsung sentuhan dan pelukan seorang Ibu.
Cukup tragis memang, itulah sebabnya Yura tak pernah mencoba mencari tahu kabar tentang mendiang Ibunya.
Bertahun-tahun lamanya Yura tinggal bersama Ayahnya saja sampai akhirnya ayah merasa jatuh cinta dengan janda beranak satu yakni Ibu dan Tania. Ayah berharap istri baru yang bisa menyayangi Yura dengan sepenuh hati tapi sialnya kenyataannya tak seperti itu. Tapi Yura selalu berusaha untuk mensyukuri semuanya, tak peduli walau saat ini dia hidup bagaikan seorang cinderella.
Yura adalah gadis manis bermata indah, dia tak punya lipatan di kelopak matanya, khas mata orang-orang asia timur. Pipinya chuby menggemaskan, hidungnya mancung karena Ayah juga menyimpan darah campuran indo-norwegia. Jadilah Yura gadis manis yang mempesona, hanya saja Yura tak pernah berdandan seperti remaja-remaja kebanyakan, banyak faktor yang menyebabkan hal itu.
Pertama, Yura tak punya waktu untuk bergaya seperti anak-anak sebayanya dan faktor kedua, dia sama sekali tak memiliki budget untuk membeli perintilan barang-barang manis khas teenager. Dia akan memiliki pakaian dan sepatu baru jika Tania sudah bosan dengan barang lamanya, hanya barang-barang bekas Tania lah yang menjadi barang-barangnya.
Sebenarnya waktu ayah masih ada, Yura hampir selalu mendapatkan barang yang dia inginkan tapi sejak Ayah meninggal, habislah sudah kesempatannya untuk mendapat jatah uang jajan dan uang bulanan.
"Han Yuraaaa!" lagi-lagi Yura mendengar panggilan itu, kini dari sumber yang berbeda.
Yura menoleh dan Tania langsung berjalan menerjang ke arahnya, Tania baru saja pulang dari sekolah, dia pasti main-main dulu sepulang sekolah.
"Gue butuh penjelasan lo!" tuntut Tania, Yura menduga kalau Tania pasti ingin tahu perihal kebersamaannya bersama Arkan seharian ini di sekolah.
Ibu hanya mendengarkan saja sembari merapikan toples-toples kue produksinya.
"Penjelasan apa?" tanya balik Yura pura-pura tidak faham dengan maksud Tania.
"Gak usah pura-pura **** deh! Kenapa lo sampai bisa dibantuin Arkan seharian ini?" tanya Tania dengan tatapan mata menghakimi, Yura tak tahu harus menjelaskan apa, yang pasti di tengah ucapannya pasti Tania akan menyela dan menyalahkannya apapun yang Yura jelaskan nanti.
Ya, Yura memang selalu serba salah di depan saudara dan Ibu tirinya itu.
__ADS_1