Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
ROLLER COASTER part 1


__ADS_3

"Semangat ya!"


Sebelum menjalani latihan, Arkan mendapat telpon dari Yura. Awalnya Arkan agak heran, karena sejak kemarin Yura begitu perhatian padanya. Arkan hanya belum tahu saja kalau bentuk perhatian Yura adalah konversi dari rasa gundahnya.


"Kamu udah makan?" tanya Arkan sembari mengencangkan tali sepatunya.


"Udah, jaga diri baik-baik ya disana! Aku akan merindukan Kak Arkan!" ungkap Yura, Arkan tersenyum bahagia.


"Iya, tunggu ya, aku juga akan segera pulang! Bawa trophy kemenangan! Kamu jangan nakal-nakal ya!"


"Iya, Kak Arkan juga! Gadis-gadis Surabaya itu cantik-cantik loh, jangan sampai tergoda ya ...."


"Ya ampun! Gak bakalan lah! Udah gak ada ruang hati tersisa! Semuanya udah kamu tempati kok!"


Yura terkekeh, senang sekali masih bisa bergurau walau hanya via telpon. Yura berharap kata-kata Arkan bukan sekedar bualan saja.


"Ya udah, semangat ya, bye!" pamit Yura.


"Iya, i love you!"


"Love you too!"


Kata-kata penutup yang membuat keduanya semakin merasa kasmaran. Arkan akan semakin semangat dan Yura juga akan mencoba tenang dan cepat percaya, kalau cobaan dan godaan sebesar apapun tak akan menggoyahkan cinta mereka.


"Apa Kak Arkan sudah sampai di Surabaya?" tanya Alika yang datang dari arah dapur, dia tampak sangat sibuk menata toples-toples yang sudah dia isi dan siapkan.


"Udah dari tadi pagi kok! Sekarang dia mau langsung latihan!" sahut Yura lalu dia segera membantu kesibukan Alika.


"Semoga Sunrise juara ya! Ya, walaupun aku gak begitu suka basket! Tapi, aku ngerasa kalau Kak Arkan tuh bakal jadi pemain besar di masa depan!"


"Aamiin, semoga saja! Ini kan impiannya sejak lama!" amini Yura.


"Dan kebayang gak sih kalau Kak Keita juga dulu lebih memilih basket dari pada kuliah di London? Waah, kolaborasi yang pasti epic! Dan kamu tahu apa yang akan membuat kolaborasi itu begitu mendebarkan? Karena keduanya adalah pria yang sangat menyayangi kamu!"


Yura tiba-tiba ingat Keita, tapi ... aaah, Yura mencoba menyangkal. Hubungan manisnya sudah berakhir dan tak akan mungkin bisa diulangi lagi. Tapi dia akan selalu ingat kalau Keita adalah orang yang sempat mengasihinya selama 3 tahun lebih. Yura hargai itu, karena sebelum Dara hadir dan mengacaukan semuanya, Keita adalah harapan untuk Yura. Tapi waktu terus berjalan, dan harapan Yura sudah berganti menjadi Arkan.


"Apa pun pilihan Kak Keita, semoga dia sukses dan bahagia menjalaninya!" harap Yura.


"Iya sih! Walau pun kalian melewati konflik berat, tapi kalian putus dengan cara baik-baik, eh by the way, Kak Keita tahu gak sih sekarang kamu jadian sama Kak Arkan?"


"Entah! Kalau pun dia tahu, semoga dia tetap baik-baik saja!"


"Iya deh, jangan sampai ada prahara lagi di antara kalian semua! Pokoknya aku berharap, dengan siapapun kamu nantinya, kamu bahagia, tentram, makmur! Tapi selebihnya aku berharap jodohmu itu Kak Arkan!"


"Aamiin!"


KRIIIING, ponsel Yura berdering lagi. Dan kini yang menghubunginya adalah Ibu, Ibu tirinya.


"Halo Bu?" sapa Yura.


"Ada kabar buruk Yura!" sahut Ibu, Yura mengerutkan dahi, kabar buruk? Pasti tentang Tania, pikirnya.


"Ada apa Bu?"


"Tania keguguran! Sekarang ada di klinik! Tolong Ibu Yura!" kabari Ibu, Yura semakin berdecak. Dia kaget dengan kabar butuk itu. Walaupun sebenarnya dia bisa saja tidak mempedulikan Tania, mengingat Tania juga tak pernah menghargainya.


"Iya, sebentar lagi aku kesana!" kata Yura sigap.


"Cepat Yura! Ibu belum mengurus administrasinya!"


"Iya iya, kirim alamat kliniknya Bu!"


"Iya, cepat ya!"


Yura tampak panik, dia ingin pergi tapi dia tak tega meninggalkan Alika sendirian.

__ADS_1


"Ada apa sih, panik banget! Siapa yang di Klinik?" tanya Alika.


"Tania ...."


"Huh, kenapa dengan dia?" tanya Alika menyambar dengan nada sarkas.


"Dia keguguran!"


"Ya ampun!!!"


"Ya, aku harus kesana Al, apa kami akan baik-baik saja aku tinggal sendiri? Sebentar kok, aku akan segera balik kesini!"


"Iya gak apa-apa sih, tapi ... apa kamu masih peduli dengan si Tania?" tanya Alika heran.


"Ayolah Al, dia lagi kritis ...."


"Harusnya kamu ingat gimana dulu dia mendorong kamu di anak tangga sampai bikin kamu hampir sekarat Yur!"


"Aku sudah lupain itu! Aku tinggal sebentar ya ...." pamit Yura seraya dia tarik tas kecilnya itu.


"Iya deh, hati-hati ya!"


"Oke!"


Yura berlalu dan Alika cuma bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Yura. Dia cuma tak habis pikir bagaimana bisa Yura masih mempedulikan Tania sementara semua orang sudah tahu kalau Tania sudah pernah hampir membunuhnya di masa lalu.


"Huh, Yuraa ... Yuraa ... hatimu itu terbuat dari apa sih? Kok masih aja sudi peduli sama orang jahat macam si Tania itu!" gumam Alika sembari kembali dia bereskan etalasenya.


Yura sigap, dia sudah dapat alamat kliniknya dan sudah menemukan Ibu. Ibu sedang menangis di depan ruang tindakan dan Yura yakin kalau Tania sedang ada di dalamnya. Yura mencoba mencari sosok lain, sosok pria yang sudah membawa Tania pergi jauh sampai jadi seperti sekarang ini, tapi hasilnya nihil. Yura sama sekali tak menemukan siapapun disana.


"Bu ...."


"Yuraa! Kakakmu Yura ...." sambar Ibu begitu Yura datang, melihat Ibu seperti sekarang ini, hati Yura terkoyak. Ya, walau dulu dia sangat jahat padanya, tapi Yura selalu memandangnya dari sisi lainnya.


"Iya Bu, tenang ya! Pasti Kak Tania baik-baik saja!" tenangkan Yura.


Yura hanya tersenyum getir, tuduhan seperti itu sudah biasa dia dapatkan dari Ibu, tapi Yura merasa itu bukan masalah besar, itu benar-benar sudah biasa.


"Maaf Bu, aku emang pernah janji buat mengawasi Kak Tania, tapi kan aku juga harus memperhatikan hidupku sendiri! Lagipula Kak Tania selalu berpindah-pindah! Terakhir, aku kehilangan jejaknya!"


"Huh, kamu ini! Mentang-mentang udah kaya! Udah sukses ...."


"Ibuuu! Kan Ibu juga sudah merestui aku untuk pergi bersama ayah Yuki dan almarhuma Ibu Lulu! Lagipula aku selalu berusaha menyisihkan sebagian uang jajanku untuk Ibu! Apa Ibu gak bisa menerima hal kecil itu?" Kini Yura mulai berani membantah perkataan Ibu, Yura lama-lama kesal karena dia merasa Ibu tak bersyukur. Ibu diam saja, dia seperti kena skakmat.


"Terus, laki-laki yang bertanggung jawab atas Kak Tania mana Bu?" tanya Yura.


"Gak tahu," sahut Ibu menggumam.


"Maksudnya? Terus, darimana Ibu tahu kalau Kak Tania keguguran?"


"Tania yang menelpon Ibu! Saat Ibu datang ke rumah kontrakannya, dia udah bersimbah darah, sendirian di rumah itu, hiks ... astaga, Ibu tak kuasa mengingat-ingatnya lagi!"


Yura juga tak kuasa membayangkannya. Dia merasa sangat miris karena waktu cepat berlalu dan kedua orang yang selalu mencemoohnya di masa lalu kini mendapat nestapa bertubi-tubi. Tapi di lubuk hati Yura yang terdalam, Yura merasa prihatin dan selalu berusaha menghindari rasa dendam. Dan buktinya sekarang, Yura selalu ada untuk mereka di saat mereka kesulitan.


"Ya sudah, aku selesaikan dulu urusan administrasinya ya," kata Yura.


"Iya Yura, tolong selesaikan ya, Ibu ... sama sekali gak punya uang sepeserpun!"


Yura mengangguk lalu dia berjalan menjauh menuju meja resepsionist.


'Tolong hentikan cobaan mereka ini Tuhan! Beri mereka kesempatan untuk memperbaiki semuanya, buka mata hati mereka, tolong ampuni mereka!' batin Yura di sepanjang langkahnya menuju meja resepsionist.


Yura hanya ingin semua orang mendapat kebaikan. Begitulah dia, dan kelembutan serta ketulusan hatinya adalah faktor penting yang membuatnya begitu memancarkan aura positif yang membuat orang-orang bisa menyayanginya dengan mudah.


Itu semua sudah terbukti. Bagaimana Zahran yang keras dan picik, sampai terenyuh dan berbalik menyayangi Yura sebagai teman. Dia yang awalnya memanfaatkan Yura demi kepentingannya, kini malah selalu berusaha sigap kala Yura membutuhkan bantuan.

__ADS_1


Dan entah bagiamana dengan Ahsan! Yang pasti saat ini Ahsan adalah salah satu orang yang berambisi memberi pelajaran pada Yura. Apakah suatu hari, Ahsan juga akan merasakan aura positif seorang Han Yura?


***


Ting tong, bel berbunyi lantang. Yura yang baru saja akan pergi menuju tokonya sampai agak heran dengan tamu di pagi hari ini. Dia segera bukakan pintunya dan Ya! Mendapati pria pongah itu tiba-tiba berdiri di depannya, Ahsan!


Yura langsung memajang wajah jutek, dia sangat tidak senang dengan kedatangan Ahsan.


"Ada apa lagi sih? Dan bagiamana bisa kamu melewati pagar rumah saya? Cuma orang-orang terdekat saya saja yang bisa melewati pagar itu!" kata Yura judes, dia benar-benar muak dengan sosok Ahsan.


"Saya dengar kamu tinggal sendirian di rumah ini! Oke, nice! Jadi kita bisa bersenang-senang dulu sebelum kita berangkat ke tokomu nanti!" kata Ahsan. Yura sampai tak enak hati, kata-kata dan gelagatnya membuat Yura takut.


"Maaf, saya harus berangkat sekarang!" tegas Yura tapi lagi dan lagi, Ahsan begitu lancang memcengkram lengan Yura dengan kasar. Yura masik ketakutan karena area rumahnya ini memang tak terlalu ramai.


"Cukup! Lepaskan saya!"


"Gak semudah itu sayang! Dan ya, kalau diperhatikan seksama, kamu ini memang cantik ya, pantas saja si Arkan sampai rela menyakiti Alana demi mendapatkan kamu! Dan saya akan pastikan kalau kalian akan segera berakhir!"


Teror itu datang lagi, dan sekarang, siapa yang mungkin bisa menolongnya dari Ahsan. Rasa-rasanya tak akan ada keajaiban lagi untuknya. Ahsan begitu binal akhir-akhir ini. Selain ketus dan arogan, Yura juga merasa kalau Ahsan begitu liar dan nakal.


"Tolong, tolong jangan lakukan ini!" Yura kalah dan dia meronta, cengkraman tangan Ahsan dan tatapan mata penuh kebencian yang bercampur dengan tatapan penuh nafsu membuatnya sangat ketakutan.


"Kunci pintu rumahmu dan kita akan pergi bersama-sama!" kata Ahsan pada akhirnya, sebenarnya melihat Yura memohon seperti itu membuatnya sedikit tidak tega. Lagi pula, menjadi liar dan nakal bukan karakternya sejak awal. Hanya saja benci dan dendamnya terhadap Yura telah mendorong sisi jahatnya itu.


"Saya bisa pergi sendiri!"


"Turuti saya atau harus saya paksa kamu buat melayani saya pagi ini?"


'Astaga! Ada apa dengan orang ini? Kenapa dia lebih menakutkan dari Dara!' batin Yura seketika.


Daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan, Yura pun segera mengunci pintu rumahnya dengan tangan gemetar.


Setelahnya Ahsan kembali menyeret Yura agar mau masuk ke dalam mobilnya. BRUK, dia tutup pintu mobilnya dengan keras sampai membuat Yura semakin dan semakin ketakutan.


'Sekarang sudah waktunya aku katakan ini semua sama Kak Arkan!' batinnya lalu dia tarik ponselnya dan mencoba menghubungi Arkan, tapi, begitu Ahsan masuk, Ahsan merebutnya dan dia cukup marah melihat riwayat terakhir Yura yang mencoba menghubungi Arkan.


"No no sayang! Aaah, saya punya ide, bagaimana kalau kita ambil poto," Ahsan juga malah dengan percaya dirinya mengambil photo selfie dari ponsel Yura dan entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Kembalikan!" Yura berusaha merebut, tapi tangan Ahsan terlalu panjang untuk bisa ia raih.


"See, kita cari media sosial kamu dan kita akan mempostingnya!"


"Jangan! Apa-apaan kamu ini, huh! Licik! Kenapa kamu licik sekali, huh?" Yura tak kuasa, kejutan gila di pagi hari membuatnya lelah hati.


"Berhasil! Sementara, handphone-mu aku tahan sampai semua orang melihat postinganmu!" Ahsan menyembunyikan di dashboard samping kanannya dan Yura rasanya ingin menjerit dengan kelakuan gila Ahsan.


"Semoga Tuhan membalas kelicikan kamu ini!" rutuki Yura penuh kebencian dan dengan santainya Ahsan segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Bagaimana reaksi orang-orang yang melihat postingan Yura?


Alana yang baru selesai mandi sampai berdecak. Alana yakin kalau ini semua adalah ulah Kakaknya. Dia tertawa puas.


"Ya ampun Bang Ahsan! Hehe ... caramu ini epic banget, frontal! Tapi bagus sih, semoga Arkan percaya sama postingan ini! Bang Ahsan ... makasih ya, aku merasa mendapat kekuatan lebih dari kamu!" ucapnya penuh syukur, dia merasa kalau Ahsan akan berhasil membawa Arkan kembali ke pelukannya.


Alika juga melihatnya dan dia sangat gak habis pikir.


"Ya ampun Yuraa, gak salah ini? Tapi aku pikir, ini pasti ada yang gak beres, aku harus chat Kak Arkan!" niat Alika, dia sepertinya sudah tahu apa yang harus segera ia lakukan untuk meminimalisir konflik nantinya.


Dan Zahran juga kebetulan melihatnya....


"Gak, gue gak percaya ini! Gue yakin kalau ini bukan keinginan si Yura! Ini pasti sabotase! Gue harus bantu dia lepas dari cowok sok itu! Gue tahu lo sedang dalam masalah Yura! Tenang aja, gue akan bantu lo menyelesaikannya!" tekad Zahran, ya ... dan beruntungnya, orang-orang terdekat Yura tak percaya dengan postingan itu. Tapi entah bagaimana dengan Arkan?


Arkan pandangi layar ponselnya, dia seperti termakan oleh postingan itu. Hatinya meradang melihat kekasihnya mengambil photo bersama dengan Ahsan di pagi hari di dalam mobil dan mengungggahnya ke media sosial. Rasa cemburu Arkan malah mengalahkan logikanya. Jika saja kepala Arkan lebih dingin, dia pasti akan tahu kalau postingan itu penuh kejanggalan.


'Apa-apaan ini Han Yura!' batinnya kesal tapi Ting, ada notifikasi pesan masuk. Dari Alika ....

__ADS_1


-Kak Arkan, maaf mengganggu, tetaplah konsentrasi dalam bertanding! Jangan hiraukan postingan Yura yang mungkin sudah kamu lihat! Itu pasti ulah Ahsan, jangan hiraukan ini, oke!-


itulah sederet kata yang Alika kirim padanya, apakah Arkan percaya? Atau dia akan percaya dengan postingan itu?


__ADS_2