Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Pengakuan Arkana


__ADS_3

'Pengakuan apa sih? Ayo dong jangan bikin aku penasaran kayak gini!' batin Yura yang masih menunggu Arkan mengungkapkan apa yang ingin dia akui.


"Kak!" kata Yura lalu menepuk punggung Arkan pelan. Arkan menoleh lalu dia menampakan wajah basahnya pada Yura, Yura benci hal itu karena setelahnya dia tak bisa berbohong juga kalau saat ini dia juga tertarik dengan sosok Arkan.


"Gue tahu gue jahat, tapi jujur, gue suka sama lo!" itulah pengakuan yang seketika membuat Yura mematung. Yura sampai tak berkedip untuk beberapa saat.


Kenapa hari-harinya beberapa bulan ini dipenuhi dengan kejutan-kejutan? Sejak kejadian di depan rumah Arkan berbulan-bulan lalu itu Yura selalu mengalami pengalaman mendebarkan, hidupnya tiba-tiba up and down seperti sedang naik roller coaster.


"Tapi itu gak berarti apa-apa kok! Gue cuma mau mengakuinya saja! Sorry kalau hal ini mengganggu lo!" pungkas Arkan lalu dia naik dari area kolam, dia tarik handuknya dan dia bersiap untuk beranjak meninggalkan Yura yang masih bertahan dan terbungkam di tepi kolam.


"Hey Yura! Bersiaplah! Kita keluar sama-sama!" seru Arkan yang sudah semakin menjauh.


'Suka? Aaah, kenapa sih? Kenapa semua ini terjadi, kenapa dua cowok idaman menyukaiku di waktu yang sama! Kenapa?' batinnya penuh sesal, pikirannya begitu polos sampai dia menyesali kenyataan manis itu.


'Ayah, apa ini mimpi? Kenapa kebahagian yang Ayah katakan datang bertubi-tubi sampai aku tak kuasa menerima semuanya! Ayaaah, aku bingung!' batinnya lagi lalu dia menyebut nama Ayahnya lagi.


Memang benar kata Ayah, kalau kebahagiaan telah menanti Yura pada saat dia hampir sekarat. Tapi kebahagiaan yang ini malah menjadi pertentangan yang bergulat hebat dalam benak Yura. Disukai Keita dan disukai Arkan malah menjadi dilema besar untuk Yura, tapi tentu saja dia telah memilih Keita.


***


Arkan selalu terkesan dengan penampilan Yura, seperti saat ini. Dia tampil dengan jumpuit yang menutup separuh tubuh mungilnya, tali temali yang menggantung di lehernya menambah nuansa manis. Arkan menyesal karena dia terlambat menyadari kalau dia begitu menyukai kesahajaan Yura.


"Mereka menunggu di salah satu resto di Kute!" kata Arkan mengabarkan.


"Kita naik apa? jarak Ubud-Kute kan cukup jauh,"


"Naik becak!" jawab Arkan nyeleneh lalu dia mengambil langkah pertama dan Yura mengikutinya sembari geleng-geleng kepala dengan candaan garing Kakak kelasnya itu.


Sebuah sepeda motor sudah menunggu di pelataran cottage, dan betapa senangnya Yura bisa jalan-jalan menikmati pemandangan dengan sepeda motor itu di boncengi Arkan pastinya.


"Waah, kita jalan pake motor ini?" yakinkan Yura.

__ADS_1


"Heum!" sahut Arkan lalu dia sodorkan helm pada Yura, setelah mereka selesai memakai helm mereka naik keatas tunggangan mereka dan bersiap untuk meluncur.


Tak dapat dibantah lagi, Yura dan Arkan benar-benar tampak seperti sepasang kekasih saat ini. Yura deg-degan? Sudah pasti tapi dia coba nikmati saja momen liburannya ini.


Setelah menempuh puluhan menit perjalanan, Arkan dan Yura sudah sampai di restauran yang sudah orangtua mereka janjikan. Nara, Lulu, Azka maupun Yuki sampai berdecak melihat kedekatan dan kebersamaan Arkan yang sudah nampak seperti adik kakak yang kompak.


"Mereka manis banget ya!" ungkap Nara.


"Iya! Padahal kita juga belum lama lho seumuran mereka! Arkan, Yura ... mereka seperti Kakak beradik yang saling menjaga!" sambung Lulu.


Sampai akhirnya keduanya sampai dimeja para orangtua mereka,


"Maaf ya Arkan, kamu harus menunggu Yura bangun tadi," kata Lulu. "Gak apa-apa tante!" sahutnya.


'Apa? Menunggu? Apa Kak Arkan benar-benar menungguku sampai terbangun tadi?' batin Yura yang lagi-lagi baper.


"Ya sudah, kalian mau pesan apa? Kami sudah memesan!" kata Nara lalu dia sodorkan daftar menu pada Arkan dan Yura.


"Waah, hebat sayaang!" ungkap Nara penuh kebanggaan.


"Berarti mereka sudah bisa masuk team Sunrise Junior?" tanya Azka, dia asyik berbincang mengenai dunia basket dengan Yuki sejak tadi.


"Ya, porsi pembinaan dan latihannya sedikit kok, menyesuaikan dengan jadwal sekolah dan jadwal kuliah anak didik yang rata-rata masih berstatus pelajar dan mahasiswa." jelaskan Yuki lagi.


"Waah, keren deh kamu Ar! Pacarmu juga sayaang!" kata Lulu pada Arkan lalu dia berbisik menggoda kearah Yura sampai Yura tersipu.


"Mama sudah yakin sejak awal kalau kamu akan bersinar! Kamu memang hebat!" kata Nara penuh kebanggaan. Azka juga menyambut rasa bangga istrinya dengan tersenyum bangga juga kearah putra semata wayangnya itu.


"Oh iya, setelah ini rencananya kalian mau kemana?" tanya Lulu.


"Ke spa! Gimana?" usul Nara.

__ADS_1


"Setuju banget!" sambut Lulu.


"Kalian?" tanya Nara kearah Azka dan Yuki.


"Kita mah ngikut aja para permaisuri, iya gak Ki?" sahut Azka dengan nada gurauan, membuat para istri merasa tersanjung.


"Terus kalian, anak muda mau pada ngapain setelah makan?" tanya Lulu kali ini pada Arkan dan Yura.


"M, aku ikut kalian aja," sahut Yura.


"Gak kita mau ke pantai aja, berdua!" sambar Arkan.


Yura bedecak lagi, dia tak mengerti dengan sikap Arkan hari ini yang bertindak seolah-olah dia adalah pacarnya, Arkan seolah-olah mengambil peran Keita selama di bali ini.


"Ya terserah kalian aja sih," tanggapi Yura.


"Kita ke pantai ya!" ajak Arkan yang mulai tak canggung lagi di depan orangtua mereka.


"M, yaa terserah Kakak aja!" sahutnya.


"Seneng deh lihat kalian akur! Walaupun tak secara langsung tapi kehadiran Yura seperti seorang adik untuk Arkan, iya gak sih?" kata Nara lalu mengelus-elus pundak Arkan dengan lembut.


"Iya, Arkan melindungi Yura dengan baik! Kalian akur-akur terus ya, biar bisa saling menjaga!" Lanjut Lulu yang juga mengelus rambut panjang Yura.


"Eh, eh ... kalau kita besanan lucu kali yaa?" canda Nara pelan tapi hal itu dapat terdengar jelas oleh Yura dan Arkan yang langsung merasa salah tingkah.


"Aah iya, lucu banget deh!" tanggapi Lulu sembari terkekeh membayangkan kalau dirinya dan sahabat baiknya itu menjadi bes-besan.


Tak terasa obrolan itu sudah membuat Arkan membayangkan kalau benar nanti dia menjadi jodohnya Yura di masa depan dan diam-diam Yura juga membayangkannya. Pikiran-pikiran liar mereka melabur sampai Yura lupa kalau ada Keita yang menunggunya dengan setia di Jakarta dan Arkan juga lupa kalau saat ini seharusnya dia tak memikirkan hal gila itu.


Arkan benar-benar tak bisa menahan perasaannya lagi, tapi tentu saja dia bukan raja tega yang akan tega menikung Keita walau sebenarnya kesempatan itu tepat ada di depan matanya, dia akan menunggu saja sampai takdir yang memisahkan Yura dan Keita.

__ADS_1


__ADS_2