Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Saling Percaya


__ADS_3

Setelah acara launching resmi itu selesai, Keyla menyempatkan diri untuk menghampiri meja Arkan dan kawan-kawan.


"Hai ...." sapa Keyla dengan senyum manis memikatnya. Tapi itu tak cukup memikat hati Arkan.


"Hai Keyla ...."


"Hai ...."


Malah Rado dan satu temannya yang lain yang membalas sapaan Keyla. Arkan tetap diam dan hanya menyahut sapaan manis Keyla dengan anggukan kepala saja.


"Duduk, silakan duduk!" kata Rado mencari-cari kesempatan dan mempersilakan Keyla untuk duduk. Dengan senang hati Keyla duduk di dekat Arkan. Dan momen kebersamaan itu malah diabadikan oleh beberapa mata kamera dan mungkin sebentar lagi akan jadi konsumsi publik.


"Apa kabar Ar?" sapa Keyla, tatapan matanya sangat berbeda.


"Baik," jawab Arkan singkat tanpa bertanya balik pada Keyla, Keyla sebenarnya kecewa dengan sikap dingin Arkan tapi dia tetap mencoba tersenyum karena dia tahu banyak orang yang sedang memperhatikannya.


Ya, Mata dan hati Arkan memang sudah tertutup untuk yang lainnya. Arkan kini fokus dan hanya akan mencintai satu perempuan saja. Perempuan yang semalam sudah memberinya surga dunia yang begitu indah.


Arkan menolak ajakan apapun dari temannya, rencananya malam ini teman-temannya akan melanjutkan perayaan launching jersey resmi mereka dengan membooking sebuah club malam. Arkan menepi dan memilih untuk pulang menjemput istrinya ke Tokonya.


Arkan heran, tokonya sudah tutup tapi sepertinya Yura dan Alika masih ada di dalamnya. Dia pun menyampaikan pesan singkat dan tak lama Yura keluar dari tokonya itu, Arkan segera turun dari mobil dan menghampiri istrinya di ambang pintu toko dengan tangan berlumur tepung dan apron yang masih melekat di badannya.


"Kak, maaf ya ... kayaknya aku masih harus disini, satu sampai dua jam lagi!" kata Yura menyapa.


"Gak apa-apa ditungguin kok!" sahut Arkan penuh pengertian.


"Ya udah masuk yuk!"


Mereka pun masuk dan Arkan menyaksikan sendiri betapa sibuknya Yura saat ini. Bisnisnya memang selalu mengalami peningkatan di setiap bulannya. Arkan bangga melihatnya.


"Eh ada Kak Arkan," sapa Alika yang juga ikut sibuk bersama Yura.


"Hai Al, apa kabar?" sapa balik Arkan.


"Baik! Heum ... beda banget ya kalau pengantin baru, kelihatannya tuh segeeeer banget!" Lagi-lagi Alika menggoda membuat Yura salah tingkah, tapi tidak dengan Arkan dia menanggapinya dengan senyum penuh canda lagi.


"Iya lah! Gimana gak seger, dikasih vitamin terus tiap hari!" canda Arkan.


"Tuh kan bener, ceritain dong pengalaman kalian!" pancing Alika.


"Jangan Kak! Nanti Alika mau lagi! Kan bahaya!" sambar Yura yang sibuk menata loyang ke dalam oven. Mereka hanya tertawa geli, obrolan ringan seperti itu membuat pekerjaan mereka terasa lebih ringan dan cepat.


***


Saat menyalakan televisi, Yura tak sengaja melihat berita tentang Keyla. Tentang Keyla yang sedang mengisi acara launching kemarin. Walau tak ada pernyataan resmi, tapi sikap genitnya pada Arkan berhasil digoreng oleh para media menjadi isu yang liar. Sebenarnya Yura kesal karena suaminya dikait-kaitkan dengan Keyla, tapi Yura yakin kalau dunia entertainment memang selalu ada hal seperti itu.


"Huh, gak tahu apa kalau pria yang kalian bicarakan itu udah punya istri? Nih, aku istrinya! Jangan ngadi-ngadi deh pake jodoh-jodohin Kak Arkan sama Kak Keyla!" gerutunya sembari tangannya tetap bekerja menyedot debu-debu di karpet sekitar ruang tengah tempatnya menyalakan televisi saat ini.


Sungguh seperti dejavu, seperti halnya apa yang Nara alami di masa lalu. Nara sempat tergulung oleh badai prahara itu, tapi sepertinya tidak dengan Yura. Yura akan kuat mempercayakan segalanya pada Arkan.


"Sayang ... kamu lihat arm sleeve-ku gak?" suara Arkan terdengar mendekat menuruni anak tangga, Arkan seperti sedang mencari barangnya.


"Yang warna hitam itu ya?" tanya Yura.


"Iya, apa itu? Kamu lagi nonton apa?" Arkan tiba dan dia juga melihat apa yang sedang tayang di televisi, dahinya mengerut dan dia tak tahu kapan media infotainment menyorotnya kemarin malam.


"Entahlah, yang pasti suamiku sedang jadi bahan gossip!" sahut Yura dengan nada mencibir, Arkan sungguh tak habis pikir, dan jelas sekali kalau saat ini dia sedang tidak senang.


"Jangan percaya apapun yang mereka beritakan!" tegas Arkan, Yura tetap melakukan sisa pekerjaannya, dia masih membersihkan karpetnya dengan vacum cleanernya.


'Sialan! Bisa-bisanya mereka jadikan gue bahan berita!' gerutu Arkan kesal dalam hati.

__ADS_1


"Kak Arkan ada latihan lagi hari ini?" tanya Yura saat selesai dengan suara bising dari vacum cleanernya.


"Sayaang ...." panggil Arkan. Yura menegakan tubuhnya lalu menghadap pada suaminya, "ya!".


"Tolong jangan percaya sama berita-berita kayak gitu ya, aku gak mau kamu termakan sama isu yang mereka buat itu!" kata Arkan, jelas sekali saat ini dia takut kalau Yura percaya pada berita hoax itu.


"Iya, kan aku udah pernah bilang, sebelum percaya pada apapun, aku akan lebih dulu percaya sama kamu! Dan kalau memang suatu hari kamu terbukti berkhianat, ya udah ... berarti prinsip itu, gugur!" tutur Yura, lugas sekali. Hal itu membuat Arkan bisa bernafas lega. Ya, yang paling mereka butuhkan saat ini adalah kepercayaan satu sama lain.


"Heum, kamu emang yang terbaik!" sanjung Arkan lalu mencubit hidung Yura dengan gemas.


"Iya lah, istrinya siapa dulu ...."


"Heum!" Arkan menerkamnya lalu memeluknya dengan erat, mereka memang paling suka situasi cair seperti ini.


"Aku juga mau ke toko Kak, bareng ya Kak!"


"Oke!"


"Ya udah, aku ganti baju dulu, gak akan lama kok!" Yura pamit untuk mengganti pakaian.


"Iya, sekalian ambilkan arm sleeve-nya ya!"


"Oke!"


Begitulah, satu riak ombak sudah berhasil mereka lewati. Jika saling percaya, masalah kecil dan masalah sebesar apapun pasti akan mudah untuk dilewati. Tak akan ada celah yang mampu dimanfaatkan orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan mereka.


***


"Apa-apaan si Keyla! Kok dia malah terkesan mengiyakan dugaan pers Yur, kamu gak boleh diam aja!" protes Alika.


Sudah 4 hari berlalu dan kabar burung kedekatan Keyla dengan Arkan masih saja jadi perbincangan. Yura mulai terusik. Alika benar, dia tak bisa diam saja, Yura tak boleh membiarkan kerukunan rumah tangganya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


"Tapi Al, Kak Arkan gak pernah menanggapi mereka kan?" ujarnya masih meragu.


Yura pikir-pikir, apa yang Alika sangat benar. Dia pun segera putuskan untuk menemui Keyla. Kebetulan Yura masih ingat alamat rumahnya. Yura memberanikan diri untuk mengunjungi rumah mantan kakak kelasnya itu.


"Kejutan sekali kamu datang kesini, ada apa?" sapa Keyla yang hari ini terlihat sedang santai. Mereka duduk-duduk di tepi kolam di rumahnya yang besar.


"Maaf Kak, kalau kedatanganku mengganggu," kata Yura berbasa-basi.


"Nggak kok, aku emang lagi jobless! Tapi, aku kaget aja ... dengan kedatangan kamu sekarang?"


"M, maaf ya Kak, jujur saja ... aku terganggu dengan berita yang beredar sekarang, tentang ...."


"Issu kedekatan aku sama Arkan?" sambar Keyla, Yura senang karena Keyla menyadari apa yang ingin Yura bicarakan saat ini.


"M, iya Kak, jujur aja ... itu cukup mengganggu, dan aku pikir, yang bisa menghentikan isu liar ini, cuma pernyataan resmi dari Kak Keyla, jadi maksudku ...."


"Kamu takut Han Yura?"


Yura tak mengerti, tapi dia merasa Keyla malah sedang mempermainkan emosinya. Yura merasa kalau Keyla malah seperti sedang menantang, Yura mulai tak enak hati.


"Kamu gak usah takut! Kamu udah menang lho! Udah ada berapa banyak hati yang kamu kalahkan! Kamu gak usah cemas ya, biarkan ini jadi hiburan aja! Toh aku juga gak macam-macam kan di depan pers!"


"Tapi, aku harap berita ini gak berlarut-larut sampai menimbulkan spekulasi liar orang-orang, mengingat, Kak Keyla ini adalah entertainer yang dikenal banyak orang!"


"Kelihatannya kamu benar-benar takut, ayolah ... kamu gak usah takut kayak gini, biarkan para pencari berita mendapatkan pekerjaan! Publik suka misteri seperti ini, ini semua gak akan mempengaruhi hubungan kamu sama Arkan, percayalah!"


Yura sebenarnya kecewa, dia merasa Keyla sudah mempermainkan perasaannya. Keyla pikir, rasa cemburu dan rasa takut Yura hanya lelucon. Yura tak tahu harus bicara apa lagi pada Keyla. Yura takut pemberitaan yang awalnya sepele ini meluas menjadi drama yang akan mengganggu keutuhan rumah tangganya.


"Kamu gak usah cemas ya Han Yura, semua orang udah tahu kok kalau Arkan itu suami kamu! Ya, walau sebagian masyarakat luas ada yang tahu dan nggak, mereka juga mungkin peduli atau memang gak peduli! Kamu gak usah berlebihan!"

__ADS_1


Entahlah, Yura tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Keyla.


Yura pulang dengan taksi. Dan saat ia sampai, dia melihat mobil Arkan sudah terparkir di depan rumah. Arkan pasti menunggunya, sejak sore tadi ponselnya mati dengan begitu mereka tak bisa saling mengabari sejak sore tadi.


"Kamu dari mana aja?" tanya Arkan begitu Yura membuka pintu gernang. Ternyata Arkan ada di pelataran rumah, menunggunya dengan cemas di bawah gelapnya malam.


"Maaf, aku gak sempat ngabarin, ponselku mati!" sahutnya lalu berjalan mendekat sampai kini mereka berdekatan.


"Terus kamu dari mana? Tadi aku ke Toko dan udah tutup?" Arkan masih mencurahkan rasa curiganya.


"Aku habis ketemu Kak Keyla! Ke rumahnya langsung!" jawab Yura jujur, Yura benar-benar tak ingin ada yang ditutup-tutupi.


"Ngapain?"


"Kak, jujur aja, berita tentang kalian sangat mengganggu, walau mereka cuma menduga-duga, walaupun mereka cuma menjodoh-jodohkan kalian, tapi aku gak mau! Aku takut!" ungkap Yura jujur dari dalam hatinya dan Arkan mengerti akan hal itu.


"Kamu gak usah takut, kita sudah menikah dan gak ada yang bisa membantah itu!" tegas Arkan.


"Aku gak mau beritu yang awalnya biasa-biasa ini suatu hari jadi berita besar, aku gak mau! Walau pun kita gak tahu kemungkinannya nanti seperti apa, tapi aku mau coba untuk mencegahnya dari sekarang! Pokoknya aku gak mau ada orang ketiga di antara kita biarpun itu cuma isu! Aku gak mau!" Yura ungkapkan lagi apa yang ada di dalam hatinya, Arkan malah senang melihat ketakutan itu, kini Arkan semakin yakin kalau Yura sangat mencintainya sampai tak ingin membiarkan titik sekecil apapun menjadi noda dalam hubungan sakral mereka ini.


"Iya sayaaang! Gak akan ada satu orang pun yang bisa mengusik kebahagiaan kita!" yakinkan Arkan sembari memegang wajah Yura dengan telapak tangannya, sedikit menekannya sampai bibir Yura sedikit manyun karena tekanan tangannya dan itu malah membuatnya semakin gemas saja.


"Tapi aku takut," ucapnya dengan bibirnya yang masih sedikit manyun itu.


Kiss, Arkan malah mengecupnya. Arkan hanya ingin Yura tenang dan yakin. Tak ada lagi yang perlu Yura takutkan karena Arkan tak akan kemana-mana.


"Masuk yuk, dingin!" ajak Arkan lalu menggenggam tangan Yura dengan erat. Hangat dan kuat sampai Yura sedikit lebih tenang.


"Iya Kak!".


"Oh iya, tadi kamu sama Keyla ngobrolin apa aja? Jangan sampai kamu termakan omongan dia!" kata Arkan saat mereka berjalan melewati pintu.


'Sebenarnya aku udah termakan omongan dia Kak, maaf! Tapi melihat sikap kamu yang konsisten seperti ini, rasanya aku gak perlu merasa takut lagi, aku yakin kamu gak mungkin hanyut dalam permainannya!' batin Yura sementara Arkan masih memegang tangannya dan menggiringnya terus untuk langsung naik ke lantai atas, ke kamar mereka.


"Kok diam?" tanya Arkan yang belum mendapat menjawab jawaban apapun dari istrinya itu.


"Tadi ... aku gak begitu ngerti dengan apa yang Kak Keyla jelaskan, tapi semoga dia mau mengklarifikasi kekeliruan ini secepatnya!" sahutnya.


"Kok bisa, kok bisa kamu gak ngerti apa maksud dia?"


"Aku gak fokus sih, pikiranku kemana-mana sampai gak bisa mengerti apa maksud dia!"


"Tapi dia gak bicara macam-macam kan sama kamu?" tanya Arkan semakin serius, sejenak Yura berpikir.


'Sebenarnya dia sedikit bermain-main dengan kata-katanya Kak, tapi aku gak mau kamu marah terus datangi Kak Keyla secara pribadi, aku yakin itu akan dimanfaatkan lagi sama orang-orang yang gak bertanggung jawab! Sebaiknya aku pastikan saja kalau ini akan baik-baik saja supaya Kak Arkan juga bisa tetap fokus dengan latihannya!' batin Yura.


Dan sampai di depan pintu kamar pun Arkan masih belum mendapat jawaban apapun. Arkan heran dan mulai curiga lagi dengan sikap aneh Yura, sikap kurang tanggapnya. Arkan menatapnya tajam.


"Kenapa sih?"


"Kenapa? Gak kenapa-napa?" Yura mencoba menghindar.


"Jangan ada yang disembunyikan!"


"Gak ada, aku cuma memikirkan yang tadi kok! Udah itu aja, dan setelah aku pikir-pikir, aku memang gak perlu takut akan hal apapun, aku cuma perlu percaya sama kamu!" jawabnya lugas, Yura hanya tak ingin Arkan tahu gundahnya.


"Kalau si Key bicara macam-macam sama kamu, aku gak akan tinggal diam! Besok aku datangi dia!" ancam Arkan.


"Gak! Jangan! Kak Arkan gak boleh temui dia! Itu bisa jadi berita lainnya Kak! Tolong abaikan dia apapun yang terjadi! Ya ... jangan temui dia!" sambar Yura lalu dia memohon, Yura benar-benar tak ingin Arkan menemui Keyla untuk alasan apapun.


"Ya udah, kita lupain aja masalah ini ya? Please, jangan bersikap aneh seperti ini, ini yang aku takutkan!"

__ADS_1


Yura menyunggingkan lagi senyumnya untuk meyakinkan Arkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Lalu Yura juga mengangguk pasti untuk menyingkirkan keraguan itu.


Everything's gonna be okay!


__ADS_2