Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Unavailable


__ADS_3

"Kalian gak boleh anggap remeh masalah sekecil apapun dalam rumah tangga! Mama sudah mengalaminya, jangan biarkan masalah setitik jadi masalah besar yang bikin urusan makin rumit!" Nara memberikan nasihat berharga untuk sang putera. Hari ini Arkan dan Yura mengunjungi cafe sang Mama karena sudah lebih dari dua minggu sejak menikah mereka tak bertemu.


"Terus kita mesti ngapain Ma, aku pikir yang paling berkepentingan buat mengklarifikasi ini semua ya cuma si Keyla!" tanya Arkan.


"Itu benar, kamu memang gak perlu menanggapinya, tapi kalau wartawan minta klarifikasi kamu, baru kamu tegaskan status kamu saat ini! Yang Mama cemaskan, kalian termakan kabar liar ini, terus saling curiga, terus saling menyalahkan, disana lah awal bencana akan terjadi!" Nara begitu mengasihi keduanya, Nara benar-benar dejavu lagi, masalah yang kini Arkan Yura alami sama persis dengan apa yang dulu sempat ia alami. Hanya saja dulu dia tak bisa berpikir sejernih sekarang hingga sempat memicu prahara yang hampir memporak porandakan keutuhan rumah tangganya dengan Azka.


"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Arkan pada Yura yang sejak tadi duduk tak jauh darinya.


"Iya, aku percaya Kak Arkan!" jawabnya pasti.


Melihat kehangatan putra dan menantunya membuat Nara senang, dia harap apa yang dia alami di masa lalu tak akan sampai dialami oleh keduanya.


"Memang cuma itu kuncinya! Yura ... sebelum kamu percaya orang lain, Mama mohon, kamu harus lebih dulu percaya pada suamimu ya! Jangan seperti Mama di masa lalu, karena tanpa kepercayaan, yang terlihat kokoh pun pasti akan goyah!"


"Iya Ma," sahut Yura meyakinkan.


"Kamu juga Arkan, jangan memancing masalah ya, jika ada kasus seperti ini lagi, cepat-cepat bicarakan dengan Yura! Jangan biarkan Yura mendengar berita miring dari orang lain sebelum kamu sempat menjelaskannya!"


"Oke Ma!"


Nasihat yang berharga, setiap orang pasti akan belajar dari pengalaman.


***


"Sore ini ada pertandingan, kamu nonton ya!" kata Arkan di sela-sela sarapan. Sudah 2 minggu lebih mereka selalu sarapan bersama.


"Pasti!"


"Kamu harus duduk di seat depan, nanti aku siapkan biar gak ada yang nempati kursi di barisan terdepan," canda Arkan.


"Iyaaa, nanti sore Kak Arkan harus cetak poin ya!" tantang Yura.


"Heum, sebanyak-banyaknya!"


"Kak Arkan sudah masuk line up kan?"


"Iya, di musim kedua ini, aku sudah masuk starting line up!"


"Heum, bangga deh!"


"Harus!"


"Kalau di hari pertama ini Sunrise menang dan Kak Arkan cetak poin, aku kasih hadiah deh!"


"Hadiahnya nanti malam ya!" goda Arkan dengan pandangan yang agak-agak menjurus, Yura malah tersenyum masam.


"Lagi?"


"Maunya tiap hari!"


"Hah?"


"Kamu gak tahu kalau kamu itu udah kayak candu!"


"Benarkah?"


Arkan tersenyum, sulit untuk tidak mengakui gairah cintanya kepada Yura. Gairah sebagai pengantin baru masih begitu bergejolak.


"Ya, beruntung bisa memiliki kamu!"


Sanjungan tak juga berhenti terlontar. Mereka masih menikmati masa-masa indah itu tak peduli walau riak kecil mulai mengusik. Tapi mereka hadapi itu bersama-sama agar tak berlarut-larut menjadi gelombang yang besar.


"Oh iya, si Ahsan gak ada neror-neror kamu lagi kan?" tanya Arkan beralih ke topik lain.


"Gak kok, kabarnya dia kembali ke Jerman!" jawab Yura santai, dia merasa tak perlu mengurusi Ahsan dan tingkah annoyingnya.


"Huh, baguslah! Emang annoying banget dia! Bagaimana bisa kamu kenal dia? Heran! Gak Kakak, gak adek, obses semua!" cibir Arkan.


"Itu yang kita takutkan! Aku udah pernah menghadapi dan malah jadi korban orang yang terlalu terobsesi! Itu, serem banget, mereka gak akan membiarkan objeknya merasa tenang! Menurutku Kak Alana dan Kakaknya masih tahu batasan!" tutur Yura.

__ADS_1


"Si Dara?"


"Iya! Kak Arkan tahu? Kejadian di rumahku beberapa bulan lalu, itu sama mengerikannya dengan apa yang dia ancamkan sama aku waktu aku liburan di London!"


"Ya! Dia emang sakit jiwa! Bahkan gelagatnya udah kelihatan sejak SMA! Kasihan sih Kei, dia harus menghadapi orang kayak dia, dan kasihan ... karena dia akhirnya harus kehilangan kamu!"


Yura hanya tersenyum getir, sebenarnya kalau dipikir-pikir korban dari kecerobohan Dara adalah Keita. Yura malah masih bisa mendapatkan kebahagiaan lainnya. Bahkan kebahagiaan yang hakiki karena jatuh ke pelukan Arkan yang saat ini begitu membuatnya begitu istimewa. Beda halnya dengan Keita yang sampai detik ini belum bisa melupakan dan mengganti posisi Yura dari dalam hatinya.


"Tapi kamu udah lupakan semuanya kan?" tanya Arkan sedikit skeptis begitu melihat Yura cenderung diam saat membahas Keita.


"Lupa ... maksudnya?"


"Kamu udah lupa semua kenangan manis kamu sama si Kei kan?" Arkan memperjelas pertanyaannya, jelas terlihat kalau saat ini Arkan begitu takut kehilangan Yura.


"Itu kan sudah lewat, sekarang ini aku sedang membuka lembaran baru, dengan harapan baru, dan itu kamu!"


"Makasih ya!"


"Gak! Aku yang harusnya bilang makasih!"


Manisnya di pagi hari sudah saling memuji dan saling mengucap rasa terima kasih. Hanya satu yang ada di hati mereka, berharap hal seperti ini tak akan pernah lekang oleh waktu.


Ya, hari ini Arkan memang ada pertandingan. Pertandingan pertama di musim baru. Seiring berjalannya waktu, popularitas Arkan sebagai Atlet favorit semakin menanjak. Selain masih cukup muda, rupa Arkan yang eye catching dan juga penampilan yang selalu swag ditambah lagi pembawaan yang kalem membuatnya begitu tampak sempurna di mata para fans. Hanya satu hal yang membuat fans kecewa dan tidak suka, yakni status Arkan yang sudah menikah, walau sebagian menganggap kabar pernikahan Arkan itu hanya isapan jempol belaka.


"Arkaaaaan!"


"Arkaaan semangat yaaa!"


Bahkan satu jam sebelum pertandingan dimulai, beberapa supporter sudah memadati satu sudut tribun. Mereka tak ingin melewatkan sedikitpun momen saat para pemain berada di lapangan. Mereka sedang melakukan pemanasan dan tes lapangan sebelum pertandingan yang sesungguhnya dimulai.


"Semakin kesini, venue makin berisik! Bener-bener dah, pesona lo gak terbendung!" kata Rado, dia merasakan sendiri euforia yang tersaji semenjak kedatangan Arkan ke dalam team.


"Tapi gue unavailable ya Bang!" canda Arkan.


"Iya iya, lo emang udah ada yang punya! Udah ada pemiliknya!"


"Tapi kita emang perlu sih chant-chant mereka! Jujur aja, semangat gue terbakar pas dengan dengar teriakan semangat mereka!"


"Garing banget lo Bang! Haha!" cibir Arkan.


"Haha, by the way, bini lo nonton kan?"


"Nonton lah! Dia supporter yang sesungguhnya buat gue!"


"Ya elaaa, begini nih, virus pengantin baru!"


Sembari melakukan pemanasan ringan, mereka terus bercanda sampai membuat ketegangan mereka terurai. Tak ada rasa nervous, dan bisa dibilang, Rado adalah salah satu teman terbaik untuk Arkan di team ini, dia adalah kapten terbaik.


Dan saat Yura datang, duduk di seat depan bersama Alika, semangat Arkan semakin terpompa lagi. Itu dia, semangat yang sesungguhnya.


"Gak boleh kalah nih! Keterlaluan kalau kamu kalah!" Bahkan coach Arsen datang menghampiri Arkan dan menggodanya walau tujuannya untuk menyemangati tiap pemain yang masih melakukan pemanasan di tengah lapangan.


"Iya Coach!" jawabnya tegas.


Dan Yura maupun Alika menyaksikannya dari jarak cukup jauh. Dan walau ada belasan objek di tengah lapangan, fokus pandangan Yura hanya tertuju pada satu titik saja, ya ... hanya suaminya.


'Semangat sayang! Semangat untuk hadiah nanti malam, hehe!' batinnya sembari mesam mesem sendiri, sampai Alika mencurigainya.


"Hmm, kesamabet apa?" bisiknya.


"Jangan mulai deh!" tukas Yura kekik, Alika sudah mengagetkan dan mengganggu lamunannya.


"Habisnya, senyum-senyum sendiri, bikin khawatir!"


"Cuma ngebayangin yang indah-indah kok!"


"Eh eh, Yur!" kata Alika agak heboh, Alika sepertinya baru melihat penampakan yang membuat pemandangan agak terganggu, Alika menyadari kehadiran Keyla yang ternyata datang lebih awal sore ini. Banyak juga yang menyorot kedatangannya terlebih setelah beredar isu tidak mengenakan dan tidak mendasar itu.


Sebenarnya, sejak musim debut Arkan, Keyla hampir selalu hadir di tribun menonton pertandingan Sunrise, tapi sejak isu liar itu beredar, kini kehadirannya di bangku penonton malah semakin disorot oleh publik.

__ADS_1


Dan tentu saja, itu mengganggu ketenangan Yura. Yura tidak senang dengan kehadiran Keyla, apalagi orang-orang masih mengait-ngaitkannya dengan Arkan.


"Aaah jadi beneran Arkan itu ada hubungan spesial sama Keyla?" bisik-bisik penonton di dekat Yura, Yura semakin menekuk wajahnya.


"Iya, cocok sih, yang satu ganteng, gagah dan yang satu cantik, berbakat, artis pula ... tapi, ya tetap aja kalau mereka bersatu bakalan jadi momen patah hati se-tanah air, hihi!" sahut yang satunya, telinga dan hati Yura sangat panas dan Alika bisa merasakannya.


"Pssttt! Jangan sembarangan ya kalau bicara!" dengan sigap Alika memperingatkan kedua penonton yang duduk di samping kiri Yura itu.


"Iih apaan sih!"


"Gak ada urusan!" begitulah tanggapan dua orang yang tadi, dia merasa terganggu dengan sikap offensif Alika.


"Kalian jangan ngawur! Arkan sama Keyla itu gak ada hubungan apapun!"


"Apa urusannya sama kamu, heh ... fanatik boleh, tapi gak usah membatasi hubungan idola kamu sendiri dong!" cibir orang itu, mereka belum hanya belum sadar kalau yang duduk di samping mereka adalah istri dari Arkan, idola baru mereka.


"Yeee, urusan banget! Asal kalian tahu, Arkan itu udah married di Bali beberapa minggu lalu!"


"Heh, jadi kamu percaya sama hoax itu?"


"Apa? Hoax, heh ... bener-bener Yur!"


Yura antara kesal dan geli, kesal karena orang-orang tak sadar kalau dirinya adalah istri dari Arkan. Dan gelinya karena Alika begitu sengit memperjuangkan haknya sebagai istri seorang Arkan.


"Gak akan ada yang tahu Al, akun medsos Kak Arkan kan dikunci!" bisik Yura.


"Oh gitu ya?"


"Iiih, gak jelas banget deh!" cibir orang-orang itu.


"Oke, sekarang kalian sudah saatnya untuk tahu ... ini, yang duduk di samping kalian ini, ini adalah istri sahnya Arkan! Arkana Putra Azka, pemain dengan nomor punggung 91 itu!" kata Alika penuh percaya diri, kedua orang itu malah tertawa geli.


"Heh, halu!" cibirnya.


"Yaa, dikasih tahu malah ngatain!"


"Udah Al!" tenangkan Yura.


"Tapi ...."


"Udah! Kita harus fokus ke pertandingan!"


"Iya deh!" Akhirnya Alika mengalah walau kedua orang tadi terus mencibirnya sebagai orang yang gak jelas dan annoying. Yura tak peduli walau orang-orang itu tak percaya, yang penting statusnya bersama Arkan yang menjawab keraguan orang-orang itu. Lagi pula siapa yang bisa membantah status validnya dengan Arkan, dia sah di mata hukum dan agama, apa lagi yang harus diperdebatkan.


Keyla juga sepertinya sudah menyadari kehadiran Yura yang duduk di seat yang paling strategis, seat terdepan yang sangat dekat dengan bench pemain. Rasa jealous itu muncul kembali dan tak lama Alana juga datang mendekat, mungkin saja Keyla dan Alana memang sudah berencana menonton bersama.


"Hai ...." sapa Alana yang langsung duduk di seat kosong di samping Keyla.


"Hai Kak, sendirian?" sapa balik Keyla.


"Iya, Bang Ahsan pulang ke Jerman!"


"Oh, Kak Alana datang di saat yang tepat, play off-nya akan segera dimulai!"


"Oh ya?"


Mereka berbincang hangat, dua perempuan cantik yang sama-sama tak bisa melupakan Arkan. Dua perempuan cantik yang membuat Yura agak ketakutan. Yura pikir, kalau Keyla dan Alana bersatu, itu bisa jadi ancaman yang luar biasa.


'Ya ampun, mereka akrab banget! Gimana kalau mereka bersatu dan merencanakan sesuatu yang gak baik buat hubunganku sama Kak Arkan! Aaah, ayolah Han Yura! Kamu gak boleh over thinking begitu! Jangan racuni pikiran sendiri dengan hal-hal seperti itu! Fokus! Fokus! Fokus! Kamu cuma perlu percaya sama suamimu sendiri!' bahkan batinnya sedang berdebat. Tak bisa dipungkiri kalau gelagat pelakor adalah ancaman nyata dalam sebuah rumah tangga.


Arkan diam-diam bisa melihat sikap aneh Yura yang kelihatan gak fokus. Arkan yakin kalau situasi akhir-akhir ini membuat istrinya tak nyaman. Arkan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


'Jangan cemas sayang! Aku pastikan gak akan ada sesuatu apapun yang mampu mengusik hubungan kita berdua! Gak akan ada!' batinnya penuh keyakinan. Dan setelahnya dia fokus dengan persiapan pertandingan yang akan digelar beberapa saat lagi.


Keyla dan Alana juga sudah fokus ke lapangan, tepatnya fokus keduanya hanyalah pada Arkan. Mereka berdua memang sama-sama budak cintanya Arkan, tapi sayangnya, Arkan sudah menambatkan hatinya pada perempuan lain, bukan pada salah satu di antara mereka.


'Arkaaan, kenapa semakin hari kamu semakin gak bisa enyah dari pikiranku! Kamu malah semakin lekat, kenapa Arkan?' batin Alana lirih, walau senyumnya tersungging tapi sebenarnya hatinya perih sampai hampir berdarah-darah setiap ingat kenyataan kalau Arkan sudah menikah dengan Han Yura.


Begitu pun dengan Keyla, sama dengan Alana, walau obsesinya masih menggebu tapi saat dia melirik ke arah Arkan lalu melirik ke arah Yura, perlahan harapannya terkikis. Dia tahu, tak akan mudah mendapatkan Arkan, apalagi Alana juga merasakan hal yang sama dengan yang dia harapkan saat ini.

__ADS_1


'Sial! Sial memang! Sulit sekali buat menggapai kamu Arkan! Bahkan aku sudah menunggu kamu bertahun-tahun, dan sekarang semuanya semakin berat, semakin berat rasanya mengharapkan kamu!'


Akankah cinta yang rumit ini akan segera berakhir?


__ADS_2