Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Atlet basket misterius Kalyla


__ADS_3

Nara sedang santai menikmati secangkir teh di teras rumah, dia sedang menikmati waktu luangnya selagi Arkan tidur. Dia scroll layar ponselnya, mencari sesuatu yang menarik sampai matanya terbelalak saat melihat salah satu artikel di portal berita online yang mengabarkan kebersamaan Kalyla dan seorang atlet basket di sebuah cafe.


Nara perhatikan lekat-lekat gambar dalam artikel itu dan Nara yakin kalau itu Azka. Walaupun tagline beritanya adalah 'atlet basket misterius Kalyla'. Nara mulai meradang, walaupun beritu itu tidak menyebut nama Azka secara gamblang tapi Nara tahu betul kalau itu adalah suaminya.


Nara sadar kalau Kalyla memang tak main-main dengan tekadnya, tapi Nara mencoba tenang, dia tak mau terbakar api cemburu dan menghakimi Azka tanpa tahu kebenarannya.


Nara beranjak menuju kamarnya, dia tatap tubuh jangkung yang sedang terjaga di siang yang cerah ini, hari ini jadwal Azka kosong dan dengan begitu dia bisa bersantai di rumah seharian.


Nara berjalan mendekat lalu duduk ditepi kasur, memperhatikan Azka dari dekat, dia mencoba percaya kalau Azka tidak akan pernah mengkhianatinya.


'Apa kamu bisa setia? sementara cinta pertamamu sedang berusaha merebut perhatianmu lagi!' batin Nara dan dia masih menatap wajah Azka yang masih terlelap, Nara akui kalau saat ini hatinya sangat takut.


'Cinta pertama...' batinnya lagi,


Azka mulai terusik, dia menggeliat lalu dia cukup sureprise saat mendapati Nara duduk di sampingnya, Nara mencoba bersikap biasa, dia segera menyembunyikan kekhawatirannya di balik senyuman manisnya.


"Sejak kapan duduk disana?" tanya Azka.


"Belum lama, cuma mau memastikan kalau kedua orang yang sangat aku sayangi masih tertidur nyenyak di siang yang cerah ini!" sahut Nara, dia berusaha berpikir positif.


"Kemarilah..." Azka menarik tangan Nara dan memaksa Nara untuk terbaring bersamanya, Nara turuti apa mau Azka lalu Azka peluk Nara dengan erat.


"Masak apa hari ini?" tanya Azka yang masih mencoba mengumpulkan oksigen untuk menyibak rasa kantuknya.


"Hari ini bi Marni yang masak.." jawabnya.


"Aku kangen masakan kamu," bisik Azka menggoda.


"Tadi pagi kan Arkan rewel, jadi aku gak sempat masak! oh iya, boleh tanya sesuatu?"


"Boleh..."

__ADS_1


"Kemarin, kamu ketemu Kalyla kan?" Nara segera meminta klarifikasi, dia tidak ingin masalahnya ini berlarut-larut. Azka langsung kehilangan rasa kantuknya, dari mana Nara tahu hal itu padahal Azka tidak sempat menceritakan pertemuannya kemarin dengan Kalyla.


"Iya, dia...datang ke cafe dekat markas Sunrise," sahut Azka mulai merasa bersalah.


"Oh, mau ketemuan sama Yuki, atau sengaja ngajak ketemuan sama kamu?" Nara mulai introgatif.


Azka setengah bangkit lalu menatap Nara yang masih terbaring di bawahnya, Azka ingin Nara menatap matanya, dia ingin menunjukan kalau Azka tak akan mengatakan dusta.


"Dia sengaja mengajakku untuk bertemu," jawab Azka, Nara kecewa.


"Oke," Nara bangkit dan hendak pergi tapi Azka segera menahannya.


"Dia kesepian! tapi, aku gak peduli, dia cuma butuh teman untuk bercerita, dan aku gak akan terpengaruh oleh apapun yang dia ceritakan!" kata Azka mencoba meluruskan, Nara tahu kalau Azka memang sedang berkata jujur. Hanya saja Nara kecewa karena Azka tidak mengatakan pertemuannya itu sejak kemarin.


"its okay!" tukas Nara lalu dia tersenyum hambar, Azka menahannya lagi, Azka tidak ingin ada kesalah fahaman lagi diantara mereka.


"Dengar, gak ada yang lebih penting dari kalian berdua! cuma kalian berdua yang selalu ada dalam ingatanku ini," kata Azka, Nara terdiam dia berharap kata-kata itu nyata keluar dari hati Azka yang paling dalam.


Azka peluk Nara dan rasa takutnya, dia ingin menjaga Nara dari serangan ketakutan itu. dia ingin pastikan kalau tak ada lagi rasa yang teringgal dan tersisa untuk Kalyla, semuanya sudah Azka serahkan untuk Nara dan Arkan.


"Kita cuma perlu saling percaya kok, aku cuma menghargai Kalyla sebagai teman, gak akan lebih dari itu!" kata Azka, kecemasan Nara sedikit berkurang.


"Jujur, rasa sayang yang kamu beri ini, hampir sama seperti apa yang mendiang ayah berikan padaku, aku gak mau kehilangan rasa sayang seperti ini lagi.." ungkap Nara lagi dengan nada lirih, dia memang selalu merindukan ayahnya yang telah tiada. ketulusan Azka bisa sedikit menggantikan dan mengobati kerinduannya pada ayahnya.


"aku sangat mencintai dan menyayangi wanita dalam pelukanku ini! aku akan menjaganya demi mendiang ayah mertuaku!" kata Azka, sweeeet sekali membuat Nara yakin kalau Azka tak akan pernah mengkhianatinya untuk alasan apapun.


"Janji ya..."


Muachhh, Azka menjawabnya dengan kecupan hangat di kening Nara, suasana hangat di siang yang terik nan cerah ini menghanyutkan keduanya.


'Apa dia serius? apa dia sungguh-sungguh?' batin Nara yang masih nyaman berlindung dalam pelukan hangat Azka, Nara bersandar di dada kokoh milik Azka bahkan dia bisa merasakan detak jantung Azka dengan jelas.

__ADS_1


"Cepat mandi ya...kita makan siang," kata Nara lalu dia melepaskan tubuhnya dari pelukan Azka.


"Gimana kalau setelah makan siang kita mampir ke cafemu?" usul Azka.


"Oke, Arkan perlu tahu cafe titisan kakeknya sejak dini! ide bagus!" setujui Nara yang mulai tak berlarut-larut lagi.


"Ya udah, mandi dulu ya..." Azka bangkit dan segera pergi ke kamar mandi meninggalkan Nara dan sisa-sisa rasa cemasnya.


***


Sore ini Arkan mengunjungi cafe milik mamanya, dia disambut hangat oleh lulu dan para pegawai lainnya. mereka tak tahan ingin mencubit pipi chuby Arkan yang menggoda. Arkan membawa keceriaan di sore yang cukup lengang ini.


"Ya ampun, kamu gemoyyyyy banget sih..." sambut Lulu, dia tak berhenti menggoda Arkan yang mulai kerasan ada disana.


"Cafe masih sepi?" tanya Nara.


"Dari kemarin lumayan ada peningkatan kok, kita cuma butuh sedikit inovasi, biar pengunjung gak bosen..." sahut Lulu dan tangannya tak lepas dari jari-jari Arkan.


"Bikin apa lagi ya..." pikir Nara.


"coba lo bujuk Azka buat bantu!" bisik Lulu, dia tidak mau Azka dengar kata-katanya. Azka sedang asyik memainkan game dari gawainya di pojok cafe.


"Bantu apaan?" tanya Nara heran.


"Minta dia buat jadi model buat ikon cafe ini, simple sih...bujuk Azka buat berfoto dengan brand kita terus fotonya di cetak buat jadi giant banner yang akan kita pasang di depan cafe!" usul Lulu, Nara pikir apa yang Lulu katakan sangat brilian. Selama ini Azka memang pernah jadi daya tarik pengunjung yang datang ke cafenya itu. Tapi Nara sadar kalau Azka tak pernah mau jadi objek promosi.


"Ide bagus, nanti gue bicarakan sama dia!" setujui Nara.


Babyboss Arkan habiskan waktunya disana bersama mama papa dan aunty Lulu. dari hari ke hari dia semakin menggemaskan, tak sabar rasanya menunggu dia tumbuh besar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2