
Yura malah sengaja bersembunyi di tolilet. Dia sengaja menghindari pertanyaan-pertanyaan Keits yang pasti akan sangat sulit untuk dia jawab. Begitu jam istirahat tiba Yura cepat-cepat pergi ke toilet dan mengurung diri disana. Hanna tak bisa membayangkan bagaimana stressnya Tania nanti jika semua kebohongannya ini terbongkar.
'Maafin aku Kak Kei, aku gak bisa jawab semua pertanyaan kamu, aku gak bisa menjelaskannya.' batinnya.
Dan benar saja, Arkan, Keita maupun Vano sama-sama mencari Yura saat ini. Dan tanpa Yura sadari kalau tindakannya ini malah membuat Keita semakin curiga.
"Bener kan dugaan gue, gue pikir Yura sengaja menghindari gue karena dia gak bisa jelasin apa-apa sama gue! Gue yakin kalau dia juga takut sama si Tania!" kata Keita semakin dan semakin curiga.
"Udah dulu bro! Kita urus lagi urusan ini nanti, hari ini kalian harus fokus ke pertandingan! Nanti sore ada babak 16 besar! Lupain dulu ya masalah ini!" kata Vano mencoba menotice teman-temannya yang malah sibuk mengurusi Yura saat ini.
Keita dan Arkan pikir apa kata Vano benar, mereka harus segera mengembalikan fokus mereka pada pertandingan nanti sore.
Arkan memang harusnya lebih semangat karena Azka akan hadir secara mengejutkan di pertandingannya hari ini. Nara, Azka, Lulu dan Yuki duduk bersama di salah satu sudut cafe. Mereka saling melepas rindu dan berbincang berbagi cerita. Melihat situasi saat ini, rasanya tak pernah ada konflik di antara Yuki dan Azka. Padahal dulu mereka pernah baku hantam memperdebatkan Nara, tapi kini Yuki benar-benar sudah move on pada Lulu.
"Tahun ini kontrak terakhir gue!" kata Azka memulai obrolan.
"Lo gak perpanjang kontraknya?" tanya Yuki, ya Azka dan Yuki asyik membicarakan karir sedang Nara dan Lulu malah sibuk memilih barang-barang impian lewat layar ponsel mereka.
"Gue tersiksa, gue gak bisa terus-terusan ninggalin anak istri gue! Lagian Ayah udah cukup lelah juga ngurus perusahaan sendiri! Gue mau mulai bantu dia!" jawab Azka.
"Bagus, menurut gue itu pilihan terbaik buat lo!"
"Oh iya, Yura belum datang ya?" tanya Lulu secara tiba-tiba, dia mencari sosok Yura, dia memang sudah jatuh hati pada gadis sederhana itu.
"Sebentar lagi, paling mereka baru bubaran kelas jam segini!" sahut Nara. Diam-diam Yuki mendengarnya dan dia juga malah jadi ingin bertemu Yura lagi, dia senang saat melihat Lulu bisa tersenyum lepas karena Yura.
"Jujur saja, gadis itu mengingatkanku padamu Nara, di masa lalu!" akui Yuki, Nara berdecak.
__ADS_1
"Kok kamu tahu? Pasti Lulu udah cerita semuanya ya?" tanya Nara.
"Kemarin kami bertemu!" jawab Yuki.
"Ya, kemari kamu ketemu dia di jalan dan Yuki lagsung suka sama gadis manis itu." tambah Lulu.
"Wah, syukurlah, makin banyak yang sayang sama Yura!" kata Nara penuh syukur.
"Siapa?" tanya Azka yang malah bingung saat yang lain menceritakan sosok Yura, dia jadi penasaran dan ingin tahu apa keistimewaan sosok yang tengah menjadi perbincangan itu.
"Pegawai baru, dia masih sekolah bahkan satu sekolah sama Arkan, dia gadis yang penuh energi positif dan kamu tahu? Ternyata dia itu punya nasib yang sama seperti yang aku alami dulu," jawab Nara mencoba detail dan tentu saja Azka antusias mendengarnya.
"Benarkah?"
"Ya, yatim piatu sejak dini, dan kamu tahu sekrang dia tinggal sama siapa? Dia tinggal sama Ibu tirinya, persis dengan ceritaku kan?"
"Persis banget, mungkin hanya kurang saudara tiri yang menyebalkan macam si Nadya!" sambung Lulu lalu menggerutu.
"Ya ampun! Benar begitu? Keterlaluan sekali! Padahal Yura itu anak baik lho, keliatan banget dari gesturnya!"
"Apa kamu tertarik untuk mengajaknya tinggal di rumah kita?" tanya Yuki secara mengejutkan, Lulu sampai speechles mendengar tawaran suaminya itu. Nara dan Azka juga cukup berdecak mendengan tawaran dan keputusan Yuki.
"Kalau benar Ibu tirinya se-tega itu, kita harus cepat-cepat menyelamatkannya!" tambah Yuki.
"Ide bagus!" sambut Nara mencoba memberikan dorongan untuk Lulu yang sudah pasti sangat setuju hanya saja dia akan meragukan respon Yura nanti.
"Tapi, anaknya mau gak ya?" tanya Lulu ragu-ragu.
__ADS_1
"Kita tunggu sampai dia datang!" kata Yuki, Yuki tampak yakin dengan tawarannya kepada Lulu, Yuki hanya ingin Lulu terhibur dan tak merasa kesepian lagi, lagipula Yura memang sudah mencuri perhatiannya juga.
Dan beberapa menit kemudian orang yang mereka bicarakan datang, Yura masuk dengan buliran peluh karena mungkin saja hari ini dia naik angkutan umum untuk menghindari kejaran Keita sedangkan sepedanya memang tertinggal di cafe karena semalam dia pulang boncengan bersama Keita.
"Itu dia orangnya!" tunjuk Nara, Nara langsung melambaikan tangan pada Yura yang baru masuk. Yura agak deg-degan karena di panggil oleh Nara. Ditambah lagi dia juga merasa asing dengan Azka.
"Yura," sapa Nara, Lulu juga menyapa dengan mengelus-elus pundak Yura yang saat itu duduk di sampingnya.
Yura menyunggingkan senyum pada sekitarnya dan Azka maupun Yuki sama-sama memperhatikannya saat ini.
"Oh iya, ini suami saya, kenalan dong, papanya Arkan!" kata Nara, Yura menyodorkan tangannya lalu dia mencium tangan Azka penuh hormat.
"Kamu cape kan, istirahat saja dulu!" kata Lulu penuh perhatian, Yura malah merasa canggung duduk di antara 4 orang dewasa yang mengamatinya saat ini.
"Yura, apa kamu betah tinggal bersama ibu sambungmu?" tanya Yuki tiba-tiba, dia sepertinya ingin to the point saja.
"M, betah om." jawabnya malu-malu.
"Apa dia baik sama kamu?" tanya Lulu kali ini, Yura sama sekali tak mengerti kenapa Lulu dan Yuki bertanya seperti itu.
"Gak apa-apa Yura, katakan aja yang sejujurnya, kamu hanya ingin tahu saja!" kata Nara mencoba menenangkan Yura yang tiba-tiba merasa tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
"Kalau benar Ibu tiri kamu jahat sama kamu, tante gak akan membiarkannya!" kata Lulu penuh emosi, dia memang seperti mempunyai kontak batin. Yura bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekan sang Ibu tiri pada orang lain, dia selalu mencoba menutupinya.
"M, dia ... baik kok! Dia Ibu sambung yang baik." jawab Yura tanpa berani menatap mata orang-orang di sekitarnya.
"Jangan bohong, katakan saja!" desak Nara.
__ADS_1
Yura mengangguk pasti walau sebenarnya dalam hati dia juga ingat apa yang Ibu dan Tania lakukan padanya. Tapi dia selalu berusaha menutupi aib Ibunya itu.
Lulu hanya berharap apa yang Yura katakan benar, dia tak akan rela kalau dia sampai mendapati Yura diperlakukan tidak baik oleh ibu sambungnya.