Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
London Eye


__ADS_3

Malam sudah tiba, walau tak turun salju tapi udara malam ini sangat dingin sampai menusuk tulang. Yura sampai harus mengenakan sweater dan mantel berlapis, dia juga mengenakan syal rajut milik Keita serta beanie rajut warna merah karena udaranya sangat dingin, temperaturnya hanya sekitar 7° celcius saja.


Mereka berjalan di Quenns walk, sebuah jalanan kecil di tepi sungai Thames yang membentang membelah kota London. Tak lupa Yura juga di suguhi oleh pemandangan gedung-gedung tinggi dan London Eye yang berdiri tegak setinggi 135 meter di sebrangnya.


"Kak Kei tiap hari kesini?" tanya Yura memulai obrolan di malam yang beku itu. Mereka menepi di salah satu titik tepat di hadapan roda raksasa kerlap kerlip itu.


"Gak sih, biasanya kalau selesai kuliah aku langsung pulang ke mess!" sahutnya.


"Oh, Kak Dara kan disini juga, apa kalian gak pernah nongkrong bareng?" tanya Yura.


"Pernah sih sesekali, cuma sekedar sarapan bareng, kita kan beda fakultas jadi kita gak ketemu tiap waktu!" jawab Keita lagi, Yura malah agak berpikir yang tidak-tidak. Yura tiba-tiba takut Keita melakukan penyelewengan di belakangnya bersama Dara, terlebih Dara adalah budak cintanya Keita sejak SMA.


Yura termenung, memandang kosong ke arah aliran sungai yang tenang. Sejak kejadian malam itu di kamar Arkan, Yura malah sering dihantui pikiran-pikiran aneh, dia begitu hectic mengurusi prasangka-prasangka liar dalam hubungannya.


'Aku mencoba setia sama kamu Kak, tapi kejadian malam itu membuatku merasa sangat berdosa padamu! Apa kamu juga setia?' batinnya berkecamuk.


"Hey, kenapa?" sadarkan Keita, Yura hanya tersenyum getir menikmati perasaan kalutnya.


"Kak, apa Kakak gak pernah berpikir buat nyari pacar baru?" tanya Yura aneh, Keita hanya mengerutkan dahinya.


"Apa maksud kamu?"


"M, gimana ya? Kita kan udah pacaran bertahun-tahun, LDR-an pula, pasti ada rasa jemu kan? Dan disini ada banyak gadis-gadis cantik dan menarik, apa ... Kak Kei tak pernah menjalani kencan dengan salah satu di antara mereka?" tanya Yura lagi, kini lebih jelas apa maksud pertanyaannya. Keita malah tersenyum geli mendengar pertanyaan itu.


"Heh, pertanyaannya aneh, apa aku kelihatan seperti seseorang yang gak setia?"


"Maaf, kadang-kadang aku suka berpikir begitu ... tapi itu gak berarti apa-apa kok, aku sangat percaya sama Kakak!" tegaskan Yura, Keita mengelus topi rajutnya itu sampai agak lepas.


"Aku percaya sama kamu, aku harap kamu juga percaya kalau disini aku selalu setia menunggu!" kata Keita, Yura tersenyum getir.


"Iya Kak."

__ADS_1


"Huh, gak kerasa ya, kita semua udah beranjak dewasa! Dan sebagian dari kita sudah sampai pada cita-cita dan impian! Arkan masuk club Sunrise! Alana jadi designer, Keyla jadi entertainer, Vano jadi ahli di broad casting dan kamu, kamu sebentar lagi akan jadi pengusaha cookies yang sukses!"


"Semoga, tapi ... sejauh ini, aku masih belum pede, masih banyak miss-nya Kak," keluh Yura.


"Tetap semangat ya!"


"Iya, Kak Kei juga ya ...."


"Hai, ternyata kalian disini?"


Ada seseorang menyapa dan membuyarkan kebersamaan Yura dan Keita. Tentu saja itu Dara, Yura tersenyum menyambut kedatangan mantan Kakak kelasnya itu.


"Hai Kak Dara!" sapa Yura pleasure.


"Hai, apa kabar?" jawabnya lalu memberi pelukan selamat datang. Ya walau dari dulu dan sampai saat ini Dara masih selalu merasa sinis dan jealous pada Yura, tapi dia mencoba tetap bersikap baik di depan Keita.


"Oh iya, aku bawa tart-nya! Kita mau potong tart-nya dimana?" tanya Dara yang sudah membawa satu box berukuran sedang yang ternyata isinya adalah kue ulang tahun untuk Keita.


"Iya lah! Ini kan hari ulang tahun kamu, masa aku gak inget buat sekedar ngasih kamu tart sih, setiap tahun juga kan begini?"


Yura terdiam, tiba-tiba dia kembali merasa dihantui rasa ragu saat mendengar kata-kata Dara. Dara dan Keita terlihat cukup akrab.


"Thanks ya!"


"Ya, tahun ini juga terasa sangat spesial karena Han Yura datang jauh-jauh dari Jakarta!"


"Iya, kedatangannya ini kado ultah spesial dari Mami Papi gue!" kata Keita bangga lalu dia rangkul Yura membuat Dara semakin merasa getir.


"Waaw, kado yang sangat istimewa!" pujinya padahal dalam hati dia merasa sangat iri.


"Jelas lah, seneng banget kan ditengokin sama calon bini jauh-jauh dari Jakarta ke London?"

__ADS_1


Yura tak tahu, tapi dia merasa sikap Keita pada Dara tampak biasa-biasa saja seperti tak ada yang ditutup-tutupi atau mencurigakan. Yura harap apa yang dia lihat dan dia rasa seperti kenyataannya.


"Heum, pasti seneng lah! Well, kita duduk disana yuk, pegel kan cuma berdiri kayak gini aja?" ajak Dara sembari menunjuk sebuah kursi kayu yang tersedia di sepanjang jalan kecil itu.


Mereka pun menepi disana, di bangku kayu memanjang dan Keita sebagai yang berulang tahun duduk di tengah-tengah, di antara Yura yang masih membagi perasaannya terhadap Arkan dan Dara yang sudah menjadi pemuja rahasianya sejak kelas 1 SMA dulu.


"Oh iya, kalau kita di Jakarta, kita bisa rayakan ini sama-sama! Sama Arkan, Vano, Keyla ... iya kan?" Dara kembali membangun topik sembari dia unboxing kuenya.


"Setelah ini kamu mau makan apa dear?" tanya Keita pada Yura dengan mesra dan tanpa sadar Dara merasa sangat tersisihkan karena pertanyaannya tak ditanggapi dengan baik. Dara memicingkan matanya pada rangkulan tangan Keita dan perih sekali melihatnya.


"Dimana aja," sahut Yura.


'Sialan, gue cuma dianggap tiang lamu jalanan apa??? Nyebelin! Lihat aja Han Yura, gue akan segera mendapatakan Keita dari tangan lo!' batin Dara dan sisi jahatnya keluar lagi.


"Kita makan sama-sama ya, sama Kak Dara," bujuk Yura berbaik hati dan Keita sebenarnya tak setuju dengan gagasan itu, dia ingin makan malam berdua saja dengan Yura tapi mau bagaimana lagi? Keita juga bukan raja tega yang akan mengabaikan keberadaan Dara.


"Gimana Dar?" tanya Keita malas.


"Gimana apa?" tanya balik Dara.


"Lo mau makan bareng kita berdua?"


"Ya mau aja, tapi ganggu gak nih?"


"Enggak lah Kak, mumpung kita bertemu, jadi kita harus merayakan ulang tahun Kak Keita dan pertemuan kita ini sama-sama!" sahut Yura semangat.


"Udah tahu ganggu!" gumam Keita kesal tapi beruntung tak ada yang mendengar rutukannya.


"Ya udah, setelah lo make a wish dan tiup lilinnya, kita langsung cabut ke resto grill favorit gue ya, malam ini gue yang traktir!" kata Dara masih penuh semangat.


Sepertinya Dara tak merasa jengah dengan penantiannya, dia masih saja berupaya menarik atensi Keita walau sudah bertahun-tahun berlalu.

__ADS_1


Akankah penantian Dara berbuah manis di masa mendatang? Yura benar-benar akan terjebak dalam dua sisi yang sama-sama rumit.


__ADS_2