
Yura tak ingin bangkit dari tempat tidurnya. Selain lelah, dia juga tak ingin menghadapi dunia luar saat ini. Yura juga sengaja mematikan ponselnya. Dia belum siap menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang terdekat terkait kandasnya hubungannya dengan Keita.
"Yuraaaa!"
Yura mendengar suara cempreng memanggil-manggil di luar gerbang rumahnya. Suara bel juga menyusul mengusik ketenangannya. Yura rasa itu Alika, suaranya khas dan mudah dikenali.
'Alika!' batinnya. Ya! Saat ini yang Yura butuh adalah Alika. Sahabat yang paling mengerti dirinya selama ini. Dia segera bangkit lalu berlari ke lantai bawah menghampiri Alika yang masih menunggu.
Yura sampai, membukakan gerbang dan segera menarik tangan Alika cepat-cepat.
"Yura ...."
"Sttt, jangan ngomel disini! Kita masuk ya!" sambar Yura lalu dia tarik tangan Alika untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Sampai mereka tiba dan duduk di ruang tengah. Alika siap dengan tatapan-tatapan penuh pertanyaan dan Yura mengerti.
"Je-las-kan!" tuntut Alika bahkan dia tegaskan permintaannya persuku kata.
"Hancur Al, aku juga masih ngerasa kalau ini mimpi!" sahutnya dan jelas, Yura sangat tertekan dengan posisinya ini.
"Terus kenapa? Kenapa kamu lakukan ini? Apa kamu ngalah gitu aja dari si Dara?"
"Ya mau bagaimana lagi, kamu gak tahu sih gimana takutnya aku pas Kak Dara ngecam sambil bawa-bawa cutter tajam!"
"Aku harus bongkar ini semua!"
"Jangan Al! Jangan! Please! Sekarang gak ada gunanya tahu gak? Kak Dara itu pinter, aku gak mau terjebak, aku mau main aman aja!"
"Main aman apanya Yur? Justru sekarang kamu adalah pihak yang paling disalahkan! Terus kamu mau jelaskan apa sama Mami Papinya Keita sedangkan mereka baru aja ngasih kamu tiket pesawat ke London buat nyenengin anaknya! Dan sekarang? Kamu malah mutusin Kak Keita secara sepihak dengan alasan yang luar biasa! Gimana pandangan mereka terhadapmu setelah ini Yura! Astagaaa, kenapa ini semua terjadi???" Alika mengomel panjang lebar dan Yura terima omelannya itu dengan lapang dada karena saat ini Yura memang sama sekali tak punya pilihan apapun.
"Bentar ya, aku ambil dulu oleh-oleh buat kamu ...." Yura hendak beranjak tapi Alika menahan tangannya.
"No, kita bahas dulu ini sampai tuntas! Aku gak bisa diam aja Yur, kamu berkorban terlalu jauh buat si Dara! Pengorbanan kamu ini konyol tahu gak?"
"Ayolah Al, coba posisikan diri kamu sebagai aku! Aaah emang gak akan ada yang ngerti sih!" dengusnya kesal, Yura kesal akhirnya karena Alika tak henti-hentinya mengomel.
__ADS_1
"Yur, gak akan ada yang bisa seperti kamu! Kamu terlalu baik sampai orang-orang jahat mudah banget manfaatin kebaikan kamu! Aku kesal sama kamu karena kenapa harus kamu yang selalu mengalah?"
Yura terdiam, dia mencoba memberi kesempatan pada Alika untuk mencurahkan unek-uneknya.
"Han Yura, kamu berhak bahagia, kok ... kamu masih peduli sih sama orang-orang yang iri sama kebahagiaan kamu?"
"Udahlah Al, semuanya udah terjadi kok! Aku yakin, semua ini akan terungkap suatu hari nanti nanti," kata Yura, Alika semakin kesal dengan sikap Yura.
"Tapi kamu udah bikin Kak Keita sakit hati se-sakit-sakitnya! Apa kamu gak mikirin perasaan dia sebelum kamu memikirkan perasaan si Dara?"
Ya! Yura tahu betul hal itu. Dia sudah menyakiti hati kekasihnya dengan sempurna. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau bagaimana lagi?
"Udah dong Al ngomelnya ... aku butuh pelukan," ratap Yura, dia sudah goyah dan tak tahan lagi ingin segera jatuh dalam pelukan sahabat terbaiknya itu.
GAP, Alika segera merangkul Yura dan dia tahu pasti bagaimana beratnya beban yang Yura tanggung saat ini.
"Huh, kenapa ada orang se-baik kamu Yur ...." gumam Alika sembari dia elus-elus punggung Yura yang sudah menangis membasahi pundaknya.
"Aku sayang Kak Keita tapi aku nyakitin dia! Hiks ...." ratapnya lagi berkejaran dengan isak tangisnya.
"Semoga dia bisa segera mendapatkan kebahagiaan yang utuh!" harap Yura.
"Mana bisa, kebahagiaannya itu kamu!" cibir Alika.
"Bisa gak jangan sindirin aku terus Al!" protes Yura.
"Iya iya maaf! Abisnya aku gemes sih sama kamu!"
Dan begitulah, hanya pada Alika Yura bisa mencurahkan kegundahan dan bebannya.
***
"Hebat banget kamu Dar!"
__ADS_1
Keyla asyik berbincang via videocall bersama Dara di sela kesibukannya. Dia sudah dengar kabar putusnya Keita dan Yura dari Dara pastinnya.
"Berjalan sesuai rencana!"
"Tapi, gimana keadaan si Keita sekarang?"
"Ya, kasihan sih, dia kelihatan down banget! Harus aku akui kalau dia emang masih stuck sama si Yura! Tapi, setelah ini, biar aku yang jalankan tugasku sendiri!"
"Ya udah, selamat ya! Akhirnya kamu berhasil di tahap awal! Potensi kamu buat merebut tempat si Yura di hati Keita tuh besar banget!"
"Thanks Key! Terus, apa kabar kamu sama Arkan? Huh, kok kita ini senasib ya? Kenapa sih kita berdua harus bucin sama satu cowok aja seumur hidup kita? Mirik gak sih?"
Keyla menyambut asumsi Dara dengan senyum getir. Apa yang Dara sampaikan memang fakta. Sulit sekali bagi mereka untuk move on dari cinta pertama di masa remaja dan saat kini mereka sudah beranjak dewasa perasaan cinta monyet itu sudah bertransformasi menjadi cinta yang sangat mendalam.
"Aku gak bisa kayak kamu Dar! Yang harus aku hadapi itu Alana! Dia gak bisa diancam-ancam kayak si Han Yura! Aku benar-benar harus bermain cantik dan bermain rapi! Ya gitu deh, aku masih agak putus asa sih, rintanganku benar-benar gak mudah!" keluh Keyla.
"Sabar ya, kalau kita yakin kita pasti bisa mendapatkan apa yang kita mau!"
"Oke!"
Perbincangan jarak jauh yang lumayan mengundang kegetiran di hati Keyla. Dia ingat kembali bagaimana jalannya nanti merebut hati Arkan dari Alana.
Keyla tak beda jauh dari Dara. Mereka berdua sama-sama obsesif padahal banyak sekali pria baik, tampan dan mapan yang tertarik dengannya tapi Keyla selalu menolak dengan dalih ingin tetap fokus di karir padahal pada kenyataannya dia masih menunggu Arkan.
"Ngobrol sama siapa? Serius banget!" tanya Tata, manager Keyla yang datang dengan sederet jadwal yang akan Keyla jalani hari ini.
"Dara!"
"Oh, dia masih di UK kan?"
"Heum," jawabnya malas.
"Ayo berangkat! Acara talkshownya akan mulai 45 menit lagi!" ajak Tata lalu dia rapikan sedikit penampilan Keyla yang tampak sempurna dengan kemeja putih dan celana denim robek-robeknya. Apapun yang dia kenakan selalu membuat dia tampak menarik.
__ADS_1
Ya, Keyla memang gadis paket komplit. Cantik dan berbakat tapi sayangnya hal itu tak cukup membuat Arkan tertarik padanya.