Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Terjebak Nostalgia But No Sense


__ADS_3

Yura masak banyak sekali, membuat Keita terkesan. Andai saja dia yang jadi suaminya, pasti Keita akan merasa menjadi pria paling bahagia sedunia.


Mereka sudah duduk di meja makan di hadapan sajian menggugah selera yang Yura buatkan dengan sepenuh hati.


"Ini enaknya makan pakai tangan Kak, ini ayam kalasan kesukaan Kak Keita! Ingat, kamu selalu memesan menu ini setiap mampir di Rumah makan saung Bambu?" kata Yura sedikit nostalgia, Keita tersenyum lebar, lepas sekali. Dan Arkan? Dia mencoba maklumi itu.


"Aaah iya, aku selalu protes dengan sambal yang terlalu pedas! Hehe!" kenang Keita.


"Ya, dan hari ini aku buatkan yang gak terlalu pedas!"


"Benarkah, oke ... makasih ya!"


'Kei, gue tahu lo gak akan bisa berbohong, cuma di hadapan Han Yura lo bisa tersenyum lepas seperti ini! Maafin gue ya sobat, bidadari lo ini sekarang sudah mutlak jadi milik gue!' batin Arkan sembari menatap sisa-sisa romansa antara Keita dan Yura. Dia cemburu? Tentu saja, tapi Arkan mencoba menerima itu.


"Kak Arkan, aku belum pernah membuatkan menu ini untuk kamu, coba ya ... kamu pasti suka juga! Aku sengaja pilihkan bagian dada supaya gak terlalu banyak lemaknya ... cobalah, simpan sendoknya karena kita akan makan dengan tangan!" Yura segera mengalihkan kembali perhatiannya pada Arkan dan Arkan selalu senang dengan sikap flexible Yura.


"Makasih ya!" ucap Arkan dengan tatapan penuh cinta. Yura menyahut dengan anggukan dan senyum manisnya, senyum manis yang telah membuat dua orang di dekatnya saat ini dimabuk kepayang.


"Oke, mari makan!"


Semua orang sudah mendapat porsi masing-masing dan ya, Han Yura tak pernah mengecewakan siapapun. Masakannya pasti enak karena Arkan maupun Keita cukup terkesan sejak suapan pertama.


"Whoaa, ini enak banget sayang! Kamu memang paling bisa deh nyenengin suami!" puji Arkan dan hampir saja Arkan mencubit hidung Yura dengan tangan kanannya, tapi Yura sigap menahan.


"Eiit, tangan kamu ada sambelnya lho Kak, hati-hati!"


"Aaah iya, replect sih, habisnya kamu gemesin!"


Senyum Keita kembali getir, tapi tak masalah, pikir Keita. Yang penting Yura bahagia bersama Arkan.


"Harus gue akui, masakan Han Yura ini hampir 11-12 sama yang biasa kita beli di Rumah makan itu!" sanjung Keita saat ini.


"Benarkah? Aaah Kak Kei bisa saja!"


"Serius! Arkan pasti setuju!"


"Gue gak tahu gimana rasa yang di Rumah makan itu kayak gimana, tapi yang pasti ini enak banget!" tegas Arkan.


"Heum, syukurlah kalau kalian suka!"


Mereka lanjutkan acara makan siang spesial itu, makan siang yang penuh rasa, benar-benar berjuta rasa, terutama untuk Keita.


Sampai sore dan Keita sudah siap untuk pulang undur diri. Menyenangkan bisa bertemu Arkan dan Yura walau berkali-kali diselingi dengan rasa getir.


"Lain kali kita undang Vano juga ya!" usul Arkan, sepanjang pertemuan ini tak melepaskan tangannya dari tangan istrinya.


"Oke, ide bagus! Besok gue juga akan nonton pertandingan Sunrise!" sahut Keita yang sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.


"Oke, Yura bisa nonton di dekat lo, biar kemananannya terjamin!" cetus Arkan, cukup membuat Keita salah tingkah, tapi selebihnya dia senang karena Arkan percaya padanya dan tak ada kesan takut akan hal-hal yang tak diharapkan.


"Oke! Bye!" Keita masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang.


Yura dan Arkan melambaikan tangan di pelataran rumah mengiringi kepulangan Keita sampai benar-benar berlalu dari halaman rumah.


"Aku tahu Keita sangat menyayangi kamu, itu bisa terlihat jelas hari ini!" kata Arkan saat Keita benar-benar berlalu. Yura menoleh ke arahnya.


"Tapi itu gak berarti apa-apa karena aku udah milih kamu Kak!" sahutnya lalu Yura memeluk Arkan dengan hangat, Arkan tersenyum lega.


"Makasih ya!"


"Buat apa?"


"Sikap kamu terhadap dia sudah sangat tepat! Aku tahu kalian sangat lama bersama, pasti gak mudah melupakan kenangan 3 tahun yang pernah kalian lalui!"


"Iya, walau itu memang cukup berkesan, tapi sekarang fokusku cuma kamu Kak, dan anak ini pastinya! Aku gak akan biarkan apapun membuat gaduh ketenangan rumah tangga kita!" tegas Yura, Arkan makiiiiin sayang dengan perempuan di dalam pelukannya itu.


"Pinter!"


"Iya lah! Siapa dulu!" ujar Yura bangga.


"Han Yuraaa!" canda Arkan sembari mengecuk kepala istrinya itu, perempuan dalam pelukannya itu.

__ADS_1


"Masuk yuk, pundakku pegal-pegal nih Kak! Lumayan lho tadi aku masak berjam-jam di dapur!"


"Oke, aku pijitin ya!"


"Asyiik! Makasih ya sebelumnya!"


"Not at all my dear!"


Hari-hari yang indah lagi, penuh warna seperti pelangi, indah dan mengesankan.


***


"Nanti sore kamu pergi sama Keita ya, biar aku minta Keita buat jemput kamu kesini!" kata Arkan yang bersiap untuk pergi latihan dilanjutkan dengan persiapan pertandingan nanti sore.


"Tapi Kak ...."


"Gak apa-apa kok, aku sangat percaya kamu! Dan aku juga percaya Keita!" sambar Arkan lalu mengencangkan tali sepatunya.


Yura tak cukup mengerti kenapa Arkan malah mempercayakannya pada Keita sore ini, apa Arkan ingin mengujinya? Pikir Yura.


"Aku berangkat dulu ya! Jangan beres-beres terus, nanti ada house keeper yang akan membereskan rumah untuk hari ini!" pesan Arkan sebelum benar-benar pergi, Yura hanya mengangguk walau sebenarnya hatinya masih cukup skeptis dan bertanya-tanya kenapa Arkan malah menyuruhnya untuk pergi menonton pertandingan Sunrise nanti sore bersama Keita.


"Bye!"


KISS, KISS Arkan tuntaskan ucapan pamitnya dengan satu kecupan di kening dan satu kecupan di perut, manis sekali.


Arkan pergi bersama mobilnya meninggalkan Yura di pelataran rumah dengan hati penuh tanya. Tapi dia mencoba percaya kalau Arkan mungkin tak memiliki maksud apapun, Arkan percaya padanya dan Arkan juga percaya pada Keita.


'Aku percaya kamu Kak! Dan aku juga harap kamu selalu percaya aku!' batinnya sampai seorang house keeper panggilan datang.


"Dengan kediaman Arkana Putera Azka dan Han Yura?" tanya wanita dengan sepeda motor itu.


"Iya benar," sahut Yura.


"Oke! Hari ini saya akan memberekan rumah ini!"


"Oke, silakan masuk!" persilakan Yura ramah.


Ya, sementara seisi rumah dibereskan oleh orang itu, Yura punya waktu untuk membuat kue di dapurnya. Untuk saat ini Yura belum bisa banyak beraktifitas di toko tapi dia kadang memproduksi kue-kuenya di rumah di waktu senggang. Gejala awal kehamilannya juga perlahan pudar, dan yang tersisa banyak saat ini adalah kebahagiaan yang luar biasa indah.


"Waah, Mbak-nya rajin banget bikin kue!" sanjung house keeper itu takjub, sembari mengepel area dapur dia juga sesekali memperhatikan Yura dan tangan-tangannya yang telaten.


"Iya, saya kan jualan! Kakak mau coba kue buatan saya? Silakan, cicipi!" kata Yura lalu menyodorkan beberapa jenis kue yang ada di atas tray, yang dia dinginkan sebelum ia masukan ke dalam toples.


"Waah, beneran boleh coba ini Mbak?"


"Boleh lah, sekalian dinilai juga, kue saya ini enak apa nggak, menurut Kakak!"


"Oke oke, nyam ... heumm, enak lho Mbak, enak banget!" sanjungnya.


"Syukurlah kalau suka!"


"Suka dong, ini cocok banget buat nemenin nonton drakor, atau buat nangkring-nangkring diteras sambil ditemani teh hangat! Wah, mantap itu!"


Yura hanya tertawa geli, house keeper panggilan Arkan hari ini atraktif sekali sampai membuat Yura senang dan tak kesepian.


Beberapa menit kemudian ....


"Sudah selesai ya Mbak!"


"Iya, terima kasih banyak ya! Ini, buat nemenin nonton drakor!" Yura memberi buah tangan untuk house keeper itu, dua toples kecil kue buatannya.


"Waah, ini apa nih Mbak? Berapa yang harus bayar?"


"Gak usah, itu buat Kakak aja! Semoga suka!"


"Waah, si Mbak-nya baik banget sih, cantik pula! Makasih banyak ya Mbak, moga-moga diberi kebahagiaan terus menerus sama suaminya, sampai nanti, sampai Kakek Nenek."


"Aamiin, Aamiin, terima kasih untuk do'anya!"


Yura aminkan dengan cepat doa orang itu berharap menjadi nyata, selalu dan selamanya.

__ADS_1


Sudah hampir sore dan dia segera bersiap. Takutnya Keita akan segera datang, Yura tak ingin membuatnya menunggu lama. Sebenarnya Yura ragu untuk bisa pergi bersama Keita, secara perasaannya masih agai kagok dan canggung tapi Yura pikir Arkan memang sudah sangat mempercayainya, lagi pula ini semua ide Arkan.


Dan benar saja, Keita datang 30 menit sebelum pertandingan akan dimulai. Dia tak turun dari mobilnya, dia hanya menunggu Yura di dalam mobil karena kalau dia masuk ke dalam rumah itu terkesan tidak sopan, Keita masih memegang norma-norma itu. Dia memang pemuda yang baik.


Itu dia, Yura sudah keluar dari gerbang rumahnya. Yura masih saja terlihat cantik dan menarik di mata Keita, Keita tak munafik kalau dia masih menyayangi Yura mungkin lebih dari rasa sayang, tapi itu hanya sekedar sayang saja.


Keita membukakan pintu untuk Yura ....


"Aduh maaf ya, nunggunya udah lama ya Kak?" tanya Yura tak enak, dia masuk ke jok depan.


"Nggak kok!" sahutnya lalu ia tutup kembali pintu mobilnya. Setelah itu ia masuk kembali ke depan kemudi dan tak menunggu lama langsung menyalakan mesin mobil lalu meluncur menuju gedung olah raga tempat pertandingan biasa di gelar.


"Maaf ya merepotkan Kak!" ujar Yura berbasa-basi, berdiam diri saja tanpa sebuah obrolan membuat situasi di dalam mobil begitu beku dan canggung.


"Gak kok, lagian yang minta kan Arkan sendiri!"


"Iya sih, aku gak ngerti kenapa Kak Arkan malah minta Kak Kei buat jemput aku!"


"Karena Arkan tahu kalau aku gak akan pernah mengkhinanati dia!"


Yura tak mengerti apa maksud kata-kata Keita tapi dia mencoba untuk percaya saja hal itu. Dari gelagatnya Keita memang tak terlihat berniat culas walau sedikit pun.


"Heum, semoga kita bisa bahagia dengan pilihan kita masing-masing, Kak Keita juga akan segera menyusul menjalani pernikahan seperti kami! Kamu adalah orang yang sangat baik Kak, pasti Kak Keita juga akan mendapatkan yang lebih baik lagi!"


"Semoga!"


'Entahlah Han Yura! Sungguh, aku gak pernah mengharapkan yang lebih dari kamu, aku hanya ingin yang seperti kamu saja! Itu lah masalahnya, mungkin tak akan ada lagi yang bisa seperti kamu!' ungkap Keita dalam hati, dan andai Yura mendengar hal itu, pasti perasaannya akan kembali tak menentu.


Sampai di gedung olah raga, tak ada lagi obrolan yang tercetus sejak tadi. Tak lupa Keita membelikan minuman dan cemilan untuk Yura, sama seperti saat dulu dia selalu membelikan cemilan kesukaan Yura.


"Hehe, Kak Keita masih ingat kalau aku suka nyemil kuaci? Hehe!" kata Yura merasa terkenang sembari tertawa kecil.


"Gak akan pernah lupa! Dulu, kamu kan hamsterku!" goda Keita masih dengan nada-nada candaan.


Mereka sudah mendapatkan tempat duduk, tempat duduk yang paling dekat dengan bench pemain. Dan saat keduanya datang, para pemain sudah bersiap di dalam lapangan, Arkan juga bisa melihat kedatangan istrinya dan sahabatnya. Arkan mencoba menahan, dia mencoba untuk tak cemburu.


'Maafkan gue Kei!' ucapnya dalam hati sembari melambaikan tangannya ke arah keduanya yang juga menyapa dengan senyum semangat.


"Harusnya, Kak Keita juga ada disana sama Kak Arkan!" kata Yura berkhayal, ya ... semua orang tahu kalau dulu Keita adalah kapten team sekolah yang andal dan sangat diandalkan. Mungkin kalau Keita tak memilih untuk kuliah di luar negeri, pasti saat ini dirinya juga akan membela team yang sama dengan Arkan dan mungkin kisah cintanya akan lancar tanpa hambatan, tapi sudahlah! Ini kan takdir Tuhan! pikir Keita.


"Tapi mungkin nantinya kamu bingung harus menidolakan siapa di antara kami, aku dan Arkan?" goda Keita.


"Heum, aku pasti akan mengidolakan kalian berdua!"


"Oh, gitu ya!"


"50:50!"


"Lihat, Arkan banyak berubah, auranya sangat berbeda! Aku merasa ada yang lain setelah dia jadi suami kamu!"


"Oh ya? Apa itu?"


"Dia terlihat lebih dewasa, kamu sudah merubahnya dengan sangat baik! Han Yura ... kamu memang memiliki kekuatan itu! Kamu bisa merubah banyak orang untuk melangkah lebih baik!"


"Aaah, Kak Keita berlebihan deh!" gumamnya tersipu, Keita masih saja senang menggodanya.


"Serius! You have that magic! So magical!"


Aaah tatapan seperti itu lagi, Yura segera menghindarinya, dia tak ingin terjebak nostalgia. Cukup tiga tahun saja yang menjadi kenangan. Itu semua sudah berlalu dan kini dia akan menjelang kebahagiaan dan masa depan dengan Arkan.


Akhirnya play off sudah berlangsung! Bahagia rasanya bisa melihat aksi sahabatnya secara live bersama istrinya yang notabene adalah mantan kekasih terindahnya. Tapi entah kenapa, Keita turut merasakan kebahagiaan kalau Yura fokus dan bersorak kala Arkan berhasil mencetak poin.


"Yeee! Suamiku! Keren banget deh!" sanjungnya tepat di dekat Keita.


"Ya, dia sangat hebat!"


Dan yang membuat Yura tersanjung, setiap selesai melesahkan bola ke dalam keranjang, Arkan selalu menunjuk ke arahnya dengan bangga sampai beberapa penonton selalu melihat arah sorot mata dan telunjuk Arkan tertuju.


"Dia sangat bangga dengan kamu Han Yura!" kata Keita, Yura hanya tersenyum.


'Gue tahu Ar, gue tahu lo sudah menginginkannya sejak dulu dan sekarang lo sudah mendapatkannya! Lo memang sangat beruntung!' batinnya.

__ADS_1


Rasa cemburu dan rasa senang Keita bercampur bersama euforia yang terjadi. Atmosfer kebahagiaan dan sorak sorai orang-orang mampu menyembunyikan rasa sesak di dada Keita.


__ADS_2