Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Meet With Mr. Arogant


__ADS_3

Yura tarik ulur layar ponsel sembari menikmati waktu istirahatnya. Minggu ini Yura tak menerima pesanan. Dia mencoba mengikuti nasihat Dokter untuk mengambil waktu istirahat total.


Yura tampak bosan, melihat-lihat postingan teman-temannya dan STOP, jarinya berhenti menggeser layar ponselnya secara tiba-tiba. Matanya juga melebar dan air muka Yura sedikit berubah. Berubah menjadi sangat murung.


Apa yang Yura lihat?


"Kak Keita ...." gumamnya, dan dia terdengar begitu menyesal melihat postingan Keita, mantan kekasihnya. Ternyata Keita baru saja memposting potret dirinya dengan gadis bule bermata biru di sebuah tempat dengan vibe yang mesra, ada captionnya juga yang menegaskan rasa sesak Yura.


Tak perlu berlama-lama bermain dengan rasa sakit hati, selamat datang hari dan masa depan yang baru


Itu lah dua baris kalimat yang Keita sematkan di atas potret mesranya itu. Yura sakit, sakit sekali. Sesak rasanya menerima kenyataan kalau Keita sudah menemukan penggantinya. Mungkin kah Keita mengira kalau Yura juga sudah bersama dengan Arkan? Keita tak tahu kalau Yura nyatanya menghindari Arkan demi menjaga hatinya dan hati Alana.


'Secepat ini Kak? aku selalu menghindari perhatian orang lain demi menjaga hatimu! Jadi sekarang malah kamu yang move on lebih dulu! Its okay, syukurlah kalau kamu bahagia! Dengan siapapun itu, aku selalu berharap kamu bahagia!' batinnya mencoba ikhlas.


Yura tutup layar ponselnya. Sudah cukup, sebaiknya dia tidur saja. Menyakitkan mengingat-ngingat postingan Keita, sebaiknya dia bertualang ke alam mimpi dan melupakan semuanya.


Benarkah Keita move on secepat itu?


Beberapa menit setelah dia memposting photo itu, Keita malah melihat-lihat photo lamanya bersama Yura. Ada apa ini sebenarnya? Apakah Keita berpura-pura bahagia?


'Satu yang harus kamu tahu Yura, mungkin ... aku gak akan pernah bisa melupakan kamu! Gak ada yang lain, cuma kamu!' ungkapnya dalam hati dan dia pandangi photo Yura yang tengah tersenyum ke arahnya. Ia begitu merindukan senyuman itu.


***


"Benarkah? Abang akan pulang? Besok? Oke oke, aku akan stand by di Bandara! Tunggu aja! Oke Bang!"


Alana kelihatan senang sekali, dia baru saja mendapat kabar kalau Ahsan, kakaknya akan pulang dari Jerman. Sudah lama sekali mereka tak saling bertemu, sudah bertahun-tahun raga mereka terpisah oleh samudra dan benua.


Dan di hari yang sama pula, Yuki juga akan pulang dari belahan dunia lainnya. Yura akan menyambut ayah angkat terbaiknya itu. Dia bereskan kamar Yuki dengan telaten.


Keesokan harinya ....


Yura bersiap, dia akan menjemput Yuki di Bandara. Dia begitu semangat, dia sudah merindukan Yuki setelah berbulan-bulan terpisah. Ya, walau belum begitu lama mereka menjadi sebuah keluarga, tapi bonding di antara keduanya begitu kuat.


Yura berjalan di sekitar terminal kedatangan Internasional sembari melihat-lihat berharap Yuki sudah landing, tapi sepertinya belum, Yura tatap jam di tangannya berkali-kali dan tiba-tiba.


BRUKK, matanya tak fokus sampai tak sengaja dia menabrak seseorang di depannya. Benturan mereka cukup keras sampai membuat kopi yang ada di tangan orang yang Yura tabrak tumpah terciprat ke arah keduanya.


"Hey, bisakah kamu lebih berhati-hati?" omelnya, dia seorang pria muda. Cukup menarik dan kalau diperhatikan, garis mukanya malah mirip dengan garis muka Alana. Mungkinkah orang itu adalah Ahsan? Ya, ternyata itulah Ahsan yang hari ini baru mendarat dari Jerman.


"Maaf Kak, maaf! Hah, pakaian Kakak basah!" ucap Yura dan dia lihat t-shirt Ahsan terkena noda kopi, Ahsan terlihat sangat tidak senang.


"Dimana kamu simpan mata kamu, huh?" tanyanya dengan ketus, Yura semakin merasa bersalah.


"Maaf, sebentar ada tissu di tasku, sebentar Kak!" Dengan sigap Yura ambil beberapa lembar tissu dari dalam tasnya. Lalu dia lap t-shirt Ahsan dengan itu.


"Cukup!" Dan ternyata Ahsan sama judesnya dengan Alana. Dengan kasar ia menghempas tangan Yura. Sebenarnya Yura kesal.


'Diiih, ketus amat orang ini! Aku kan gak sengaja! Lagian, kenapa dia gak menghindar aja sih pas tadi aku lewat!' gerutu Yura dalam hati.


"Saya gak suka dengan orang-orang teledor, aaah, bagaimana saya bisa pergi dengan baju kotor begini!" gerutu Ahsan.


"Andai tadi Kakak menghindar, tabrakan antara kita gak akan terjadi kok!" Yura berani membalas argumen, Ahsan membuka kacamata hitamnya lalu menatap Yura dengan tajam, Yura ingin melawan, rasanya Ahsan juga salah karena sama-sama teledor. Yura kesal setelah Ahsan tak menerima permintaan maafnya.


"Kamu nyalahin saya?"


"Kalau salah satu di antara kita sigap menghindar, tabrakan tadi gak akan terjadi kan? Jadi siapa yang teledor? Saya? Atau kita?" Yura benar-benar kesal dan menunjukan jati dirinya yang lain. Biasanya Yura selalu mengalah, kali ini dia kadung kesal dengan sikap ketus Ahsan.


"Heh, saya akan ingat wajah kamu, Nona! Kamu adalah orang menyebalkan yang pertama kali menyambut kedatangan saya di Bandara!" kecamnya sembari melempar telunjuk ke arah Yura, kasar sekali dan Yura juga menyimpan rasa benci pada Ahsan.


"Bang Ahsan!"


Akhirnya Alana datang sedikit meredakan ketegangan di antara Ahsan dan Yura. Yura cukup kaget dengan kedatangan Alana dan Alana juga kaget melihat keberadaan Yura.


"Yura, ngapain kamu disini? Sama abangku?" sapa Alana masih dengan sikap sinisnya.


'Abang?' hentak Yura dalam hati.


'Jadi, cowok ketus ini Abangnya Kak Alana? Hiih, pantesan, sama-sama judes!' rutuknya dalam hati.


Ahsan tak kalah heran, ternyata adik kesayangannya mengenal gadis yang mengesalkannya saat ini.


"Kamu kenal dia?" tanya Ahsan, Alana menatap sinis ke arah Yura.


"Lupakan saja Bang! Apa kabar, i miss you so hard!" kata Alana lalu dia cepat-cepat menyapa Ahsan dan menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Miss you too!" imbuh Ahsan dan kini dia melupakan masalahnya dengan Yura.


Yura juga lupakan saja, dia beranjak dari sana. Dia tak ingin mengganggu momen pertemuan mereka. Lagipula malas memperpanjang urusan dengan pria arogan seperti Ahsan. Meminta maaf seribu kali pun pasti akan terasa sangat percuma, pikir Yura.


"Eh, gadis menyebalkan tadi mana?" tanya Ahsan dan dia mencari sosok Yura yang sudah berjalan menjauh.


"Ada apa sih Bang? Apa urusan Abang sama dia?" tanya Alana yang juga penasaran.


"Dia nabrak Abang sampai kopi di tangan Abang tumpah! lihat, t-shirt Abang jadi kotorkan?" jawabnya dan masih saja menggerutu.

__ADS_1


"Ya ampun, si Yura ceroboh banget sih!" kata Alana sembari mencoba membersihkan t-shirt abangnya itu dengan tangannya.


"Dia temanmu?" tanya Ahsan.


"M, bukan sih! Dia memang menyebalkan!"


"Jadi dia benar-benar menyebalkan sama kamu?" tanya Ahsan, dan mendengar pernyataan adiknya dia semakin kesal dengan sosok Yura. Sungguh kesan pertama yang buruk, bertambah lagi satu orang julid di hidup Han Yura.


"Udahlah gak usah bahas itu, kita pulang aja yuk! Ayah Bunda udah nunggu Abang di rumah!"


Akhirnya Ahsan melupakan kenangan buruknya bersama Yura, lagi pula Yura sudah berlalu.


Yura juga kesal bukan main, biasanya dia selalu mengalah dan baru kali ini dia melawan dan berani beradu argumen.


'Iiih Abang Adek sama-sama Arogan! Heran deh!' gerutunya dan sampai Yuki datang, Yura masih memajang mimik muka cemberut.


"Ayaah!" Yura menyambut kedatangan Yuki dan dia segera bersembunyi dalam peluk hangatnya. Yura sedang kesal dan dia tak ingin Yuki melihatnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Yuki, ternyata dia sangat peka. Dia sudah melihat rasa kesal Yura dari kejauhan.


"Gak kenapa-napa Kok, cuma tadi ada orang menyebalkan!" gerutunya lalu Yura lepaskan pelukannya, Yuki perhatikan anak angkatnya itu dengan tatapan yang teduh.


"Siapa dia?"


"Gak tahu! Gak kenal! Orangnya juga udah pergi!"


"Ya sudah lupakan saja ya! Kita pulang, Ayah kangen Sup daging buatanmu!"


Yura tersipu, Yuki memang paling bisa membuat mood Yura jadi membaik. Sampai Yura bisa melupakan Ahsan dan sikap pongahnya beberapa menit yang lalu.


"Baiklah, aku akan masak yang enak-enak untuk Ayah!"


"Oke!"


Yuki merangkul Yura dengan satu tangannya dan tangannya yang lain menggusur kopernya. Kebersamaan keduanya benar-benar menghangatkan jiwa siapapun yang melihatnya.


***


Dialah Ahsan, pria pongah yang telah membuat Yura kesal hari kemarin. Bahkan Yura yang sulit membenci, sampai membencinya seketika.


Ya dia memang tampan, keren, karismatik tapi dia memang sedikit arogan, tak beda jauh dengan adiknya, Alana.


Sarapan pagi di kediaman Alana, pagi ini Alana sangat bahagia. Setelah sekian tahun akhirnya dia bisa berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya.


"Iya, Bang Ahsan mau ikut aku nonton?" tanya Alana penuh semangat.


"Iya lah, Kakak mau tahu seberapa hebat pacarmu itu?"


"Belum kok, belum pacaran!"


"Astaga! Setelah bertahun-tahun jadi kalian gak kunjung jadian?"


Alana tak mau menjawab. Rasanya malas sekali kalau membahas pasal status hubungannya dengan Arkan.


"Bunda pengen banget nonton, tapi Bunda suka gak kuat sama suasana ramai!" kata Bunda.


"Gak apa-apa Bun, Bunda bisa menonton di televisi kok!"


"Iya, nanti Ayah sama Bunda akan melihat aksi Arkan di layar kaca!"


"Oke, makasih ya Bun!"


"Lagian dia masih suka dicadangkan kan?"


"Iih, Abang mah gitu! Kok kesannya sarkas banget sih sama Arkan!" keluh Alana lalu dia pajang muka cemberut.


"Ya kesal aja udah bikin kamu nunggu bertahun-tahun sampai kamu gak mau ikut Ayah Bunda ke Swiss!"


"Ahsan! Sudahlah!" tengahi Bunda.


"Dari pada kamu yang gak pernah menunjukan gadis pilihanmu ke hadapan kami! Setidaknya Arkan pernah menemui kami dengan sopan!" cibir Ayah.


"Heh, mana ada gadis yang tahan dengan sikap Bang Ahsan!" sambung Alana lalu terkekeh.


"Ya tunggu yang mau aja lah Yah! Tunggu yang mau terima aku apa adanya!"


"Kamu juga harus bisa menerima kekurangan orang lain! Ahsan ... Ahsan, cobalah bersikap sedikit lunak!" kata Bunda kali ini, ya seluruh anggota keluarga sudah tahu betul karakter Ahsan.


"Kebanyakan tinggal di luar negeri tuh! Jadi begitu!" cibir Alana lagi, dan hanya pada Alana saka Ahsan tak mampu marah. Lagi pula dia sadar kalau dirinya minim adab dan sopan santun.


Berbeda lagi dengan situasi sarapan di rumah Yura dan Yuki. Hanya ada mereka saja di meja makan. Dan pagi ini Yura memasak cukup banyak untuk menyambut kepulangan Ayah angkatnya itu.


"Hari ini Arkan bertanding?" tanya Yuki.


"Iya Yah, Ayah mau nonton?"

__ADS_1


"Iya, kamu juga?"


"Iya, sudah lama gak nonton aksi Kak Arkan di lapangan!"


"Apa dia bermain bagus?"


"Lumayan, jarang dimainkan sih, tapi menurutku, permainannya berkembang, mungkin perlu waktu buat masuk tim inti! Iya kan yah?"


"Ya, karena persaingan sesama pemain di dalam team itu gak kalah sengit dengan persaingan antar team di arena! Ayah lihat Arkan sangat potensial, tapi ... ya mungkin, hukum senior junior masih berlaku dalam sebuah team!"


"Heum, kasihan juga ya Kak Arkan!"


"Dia pasti bisa kok!"


"Heum, semoga!"


Ya! Apa yang dibilang Yuki memang benar. Arkan masih mendapat perundungan dari beberapa seniornya. Terutama Dandi, orang yang sejak pertama tak suka dengan kehadirannya di team.


"Arkan! Petang ini kamu akan main dari quarter pertama!" kata Coach Arsen. Arkan sampai tak percaya mendengarnya. Benarkah? Jadi tim inti sore nanti? Teman-temannya banyak yang menyambut baik keputusan coach, namun ada juga yang iri dengan kabar baik ini.


"Waah, selamat Bro!"


"Selamat!"


Banyak yang mengucapkan selamat untuknya tapi ada juga yang seperti menyimpan dendam pada Arkan. Mereka merasa tersaingi.


Arkan senang bukan main. Dia merasa latihan dan kesabarannya berbuah manis. Dia akan membuktikan kalau dia pantas ada di team inti Sunrise.


Dan sore harinya, satu persatu supporter berdatangan memasuki gor dan meramaikan suasana sore yang cerah ini. Yura datang bersama Yuki, dan kini ia duduk bersama Azka dan Nara. Dan di sisi lain tribun juga ada Ahsan dan Alana. Ahsan mencoba menikmati suasana ramai dan walaupun dia adalah pria yang ketus dan judes tapi dia ikut bahagia melihat adiknya begitu semangat dan antusias.


"Bang Ahsan juga suka lihat pertandingan bola kan?" tanya Alana di antara hiruk pikuk.


"Ya, atmosfernya lebih ramai dari ini!"


"Oh ya?"


DRDDD DRDDD, ponselnya bergetar.


"Abang angkat dulu telepon ya!" Ahsan izin menepi karena sepertinya dia mendapat panggilan penting saat ini. Dia menepi ke tempat yang lebih sepi.


"Halo?"


Dan di saat yang sama ....


"Aku ke toilet dulu ya Yah!" izin Yura, sepertinya dia ingin pergi ke kamar kecil dan ya! Di pintu masuk dia harus bertemu lagi dengan si arogan yang kemarin bertemu dalam situasi yang menjengkelkan di Bandara.


'Dia lagi?' batin Yura kesal, tapi rasa kebeletnya sudah tak bisa dia tahan mau tidak mau dia pun akhirnya pergi melewati pintu masuk itu dan kini, Ahsan yang sudah selesai dengan sambungan teleponnya menyadari kehadiran Yura. Matanya langsung menusuk menyasar Yura yang beberapa langkah lagi akan melewatinya.


"Kamu lagi?" tanya Ahsan dengan sinis begitu Yura melewatinya, Yura ingin abai tapi dengan lancang Ahsan menahan lengannya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Yura kesal.


"Saya masih kesal dengan kejadian kemarin!"


"Kan saya juga udah minta maaf, saya juga udah berusaha membersihkan baju kamu tapi kamu menolak keduanya! Terus saya harus apa?" tanya Yura kekik, dan lagi-lagi dia bersikap ketus pada Ahsan membuat Ahsan merasa semakin tertantang.


"Kamu harus membayarnya!" desisnya lalu dia hempaskan lengan Yura dengan kasar, Yura sama sekali tak mengerti dengan sikap Ahsan. Ahsan juga berlalu meninggalkannya, kembali duduk di tribun bersama Alana.


'Heh, dasar aneh! Arogan!' gerutu Yura dan dia cepat-cepat pergi menuju toilet dan lagi, di koridor lain Yura tiba-tiba bertemu Keyla juga.


"Heh, Han Yura ...." sapa Keyla sinis.


"Hai Kak Keyla!" balas Yura dengan ramah.


"Apa istimewanya kamu! Kenapa kamu begitu menarik di mata Keita dan Arkan!" ucapnya membuat Yura kembali merasa kikuk. Yura sangat tidak mengerti kenapa banyak orang bersikap sinis padanya. Di saat seperti ini, Yura merasa kesabarannya sangat tidak berarti.


"Aku pastikan, kamu gak akan dapat apa-apa nantinya!" kata Keyla lalu dia benar-benar pergi meninggalkan Yura yang kembali merasa down. Orang-orang menyalahkannya, orang-orang membencinya dan Yura kadang menyerah dengan hal itu.


'Apa aku harus mulai bersikap seperti mereka agar semuanya impas! Rasanya gak adil kalau aku terus mengalah tapi mereka gak menghargai aku! Ya! Lihat saja, mulai sekarang, aku juga akan mulai bersikap tegas! Aku akan memperjuangkan keadilanku sendiri!' racau Yura dalam batin sembari dia terus melangkah menuju kamar kecil.


Keyla sudah sampai di dalam Venue, banyak yang menyambut kedatangannya, ada yang minta salaman, ada yang minta poto bareng dan dia layani beberapa fansnya dengan sabar dan ramah walau dalam hati dia agak menggerutu dan kesal.


"Itu dia Keyla!" kata Alana sembari dia lambaikan tangannya ke arah Keyla, Ahsan ikut menoleh dan dia sama sekali tak tampak antusias dengan gadis manis bersuara lembut itu.


"Itu dia Bang! Cantik kan?" bisik Alana. Alana seperti punya rencana untuk menjodohkan Abang ketusnya dengan Keyla. Alana pikir, Keyla akan mampu menaklulan hati Ahsan yang beku.


"Hai Kak!" sapa Keyla begitu dia sampai di dekat Alana dan Ahsan yang masih bersikap dingin.


"Hai, kenalin nih, Abangku, baru pulang dari Jerman! Bang ... ini Keyla!" perkenalkan Alana, Keyla memajang senyum manis dan sepertinya Ahsan sama sekali tak terpengaruh.


"Keyla!" Keyla mengulurkan tangannya.


"Ahsan!" balas Ahsan dan mereka saling berjabat tangan.


Apakah Alana akan berhasil mendekatkan keduanya? Sementara Ahsan tetap bersikap dingin dan Keyla masih menjaga obsesinya kepada Arkan?

__ADS_1


__ADS_2