
Sepanjang pertandingan, Zahran tak bersikap tengil lagi. Dia cenderung banyak diam, mungkinkah ia menyesali perbuatannya?
Setelah melihat kebersamaan Yura dan Zahran, hati Keita semakin meradang dan Vano bisa merasakan kobar api cemburu dan kebencian yang berpadu jadi satu di diri Keita. Auranya sangat berapi-api.
"Astaga Yura, dia katarak apa gimana sih? Bisa-bisanya lo khianat sama pria urakan macam begitu? Dipelet kali Kei, masa iya si Yura lebih pilih dia dari pada elo!" kata Vano agak ngawur, dia memang tak habis pikir. Ya, dilihat dengan kasat mata, Keita jelas sangat jauh berbeda dari Zahran. Dari segi penampilan, pendidikan, status sosial, mereka memang beda kelas.
Keita tak mau menanggapi. Dia diam saja menikmati panas di hatinya, dan karena keberadaan Yura dan Zahran, fokusnya jadi sangat terganggu. Padahal saat ini Arkan sudah di masukan ke dalam Arena. Arkan juga barusan melesahkan tembakan 3 poinnya. Seisi gor bersorak, bergemuruh tapi suasana semarak itu tak mengusik kesunyian di hati Keita.
'Aku bisa apa?' batin Yura, dan dia tahu betul kalau saat ini hati mantan kekasihnya itu sangat meradang.
KRIIING, KRIIING ....
Dering ponsel Zahran mengusik, Zahran segera angkat, dia tutup sebelah kupingnya berharap sorak sorai seisi gor tak mengganggu pendengarannya.
"Kakaaak, Kakaaak!"
Yura bisa dengar itu, sebuah rengekan seorang anak lelaki tiba-tiba terdengar dari speaker ponsel Zahran yang kebetulan ada di sisi kiri Yura, Yura bisa mendengarnya dengan jelas dan dia menjadi sangat penasaran.
"Halo ... halo?" Zahran mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Kakaaak, sakit! Temani aku ...." rengekannya semakin kencang dari sana, Yura semakin penasaran.
"Halo Zahran? Adikmu gak mau meminum obatnya!"
"Apa ... apa?"
"Kamu dimana? Kenapa disana berisik sekali?"
"Saya sedang di luar Sus, maaf disini agak gaduh!"
"Kamu bisa kesini? Chiyo merengek terus, manggil-manggil nama kamu!"
"Iya, iya Sus, saya kesana!"
Zahran akhiri sambungan teleponnya dan dia seperti bersiap untuk pulang lagi. Yura sungguh ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan Zahran.
"Gue cabut dulu ya!" pamit Zahran pada Yura.
"Aku ikut!" pinta Yura, Zahran sejenak terdiam.
"Gak usah, gue buru-buru!"
"Pokoknya aku ikut!" Yura kekeh memaksa Zahran untuk membawa serta dirinya. Akhirnya Zahran menyerah, lagi pula tak ada salahnya memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi pada Yura, Zahran berharap Yura merasa iba dan kembali memikirkan tentang proyek pacaran pura-pura itu, dengan begitu ia bisa memastikan kalau Dara benar-benar akan memberikan uangnya.
Keita melihat Yura dan Zahran berlalu, dugaannya semakin kuat. Dia yakin kalau hubungan Zahran dan Yura bukan sekedar isapan jempol belaka. Padahal apa yang terjadi sebenarnya sangat jauh dari apa yang orang-orang pikirkan.
'Kenapa kamu se-tega ini Yura! Sekarang aku benar-benar membencimu!' batin Keita, dan dia sudah benar-benar termakan dalam permainan licik Dara.
Dara puas melihat situasi ini, dia tertawa terbahak dalam hati. Dia benar-benar sudah menjalani setengah dari misinya.
Yura benar-benar ingin menuntaskan rasa penasarannya. Dia ikut dengan Zahran tak peduli bagaimana pandangan Keita saat ini. Tanpa Yura sadari, langkahnya untuk ikut pada Zahran semakin membuat Keita mencurigainya.
"Siapa yang tunggu di Rumah sakit?" tanya Yura agak berteriak. Suara angin menyamarkan suaranya. Saat ini Zahran agak mengebut karena dia ingin segera sampai pada adiknya, Chiyo.
"Gak ada!"
"Sama sekali gak ada yang tunggu?"
"Ya!"
"Heh, anak sekecil itu kamu tinggal sendirian di ruang rawat inap? Astaga! Kakak macam apa kamu ini!" omel Yura, Zahran mencoba tak peduli. Saat ini pikirannya sangat kalut. Demi mengobati pengobatan Chiyo, dia rela membagi waktunya yang hanya sedikit untuk berdrama atas perintah Dara, tapi sialnya sampai saat ini Dara malah menahan uang upahnya.
__ADS_1
Keduanya sampai ....
Zahran berlari begitu ia memarkirkan motornya. Yura mengikuti dari belakang, mereka berlari bersama di koridor Rumah sakit itu. Akhirnya mereka sampai di satu ruangan yang terletak di ujung koridor. Ruangan sunyi dan dingin yang dipenuhi alat-alat medis yang rumit.
"Kakak!"
Yura tertahan di ambang pintu, dia terpaku melihat anak kecil dengan badan yang teramat ringkih menangis dan kini ada dalam pelukan Zahran.
Yura mencoba menjadi orang lain, melihat pemandangan mengharukan itu membuat nuraninya terkoyak. Ternyata saat ini Zahran sedang tidak berakting, saat ini Zahran benar-benar sedang menjalani perannya sebagai seorang Kakak.
"Kakak Bilang apa, kamu tunggu sebentar! Jangan nangis!" kata Zahran, Yura masih menyaksikannya.
"Aku takut! Punggungku juga sakit! Aku mau dielus lagi!" sahut Chiyo manja.
"Tidurlah!" kata Zahran.
Chiyo menoleh dan menatap Yura, matanya dan wajahnya yang pucat semakin membuat Yura sedih, apalagi saat Chiyo tersenyum menyambut kedatangannya.
"Itu siapa? Pacar Kakak?" tanya Chiyo polos, Zahran hanya tersenyum getir. Ya, Yura adalah pacarnya, pacar sandiwaranya supaya ia bisa mendapat uang untuk biaya perawatan Chiyo.
Yura berjalan mendekat, Yura ingin menyapa Chiyo lebih dekat lagi.
"Hai," sapa Yura, ramah dan hangat sekali.
"Hai Kakak Cantik!" balas Chiyo, membuat Yura terkekeh, Chiyo ini mirip Zahran ternyata, tengil! Pikirnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Yura lagi.
"Chelsio, panggilannya Chiyo, Kakak?"
"Han Yura, panggil aja Kak Yura!" Keduanya saling berjabat tangan.
"Bagaimana bisa Kak Yura yang cantik suka sama Kak Zahran yang jelek?" tanya Chiyo mengundang senyum masam Zahran, tapi sungguh, celotehan Chiyo telah mengurai situasi haru sebelumnya.
"Heum, kamu ini! Jangan terlalu jujur, bisa gak?" canda Zahran.
"Iya, iya! Kakak, tetap disini ya sampai aku benar-benar tidur!" pinta Chiyo sembari memegang erat tangan Zahran yang bahkan masih menyisakan noda bekas oli.
"Iya, tidurlah!"
"Aku gak mau kemoterapi lagi Kak!" keluhnya, lalu perlahan dia baringkan tubuh ringkihnya itu.
"Harus! Biar kamu sembuh!" kata Zahran lalu dia elus-elus punggung Chiyo penuh kasih sayang.
"Tapi Kakak gak tahu kalau masuk ke dalam alat itu sangat sakit!"
"Iya Kakak tahu!"
Yura rasanya tak tahan lagi. Dia tahu setiap orang selalu memiliki dua kepribadian dalam hidupnya. Yura melihat sosok lain didiri Zahran saat ini. Interaksi kecil antara Zahran dan Chiyo sungguh mengharukan sampai mata Yura berembun.
Semakin lama, suara cerewet Chiyo hilang. Mungkin dia sangat lelah hari ini, dia benar-benar terlelap setelah Zahran mengelus punggungnya dengan lembut dan intens.
"Apa Chiyo benar-benar adik kandung kamu?" tanya Yura, dia masih meragu. Yura masih sedikit meragukan peran Zahran sekarang.
"Ya!"
"M, orang tua kalian?"
"Sudah gak ada!"
Deg, benarkah? Jika ini benar betapa menyedihkan kehidupan Zahran. Yura benar-benar tak menyangka ini semua.
__ADS_1
Yura putuskan untuk tak bertanya soal itu lagi, dia tahu kalau hidup Zahran pasti sangat berat. Sejenak Yura simpan rasa kesal dan rasa bencinya.
"Tunggu bentar lagi ya, gua antar lo pulang! Dia belum benar-benar nyenyak!" kata Zahran, Yura hanya mengangguk.
'Ya Tuhan! Ternyata hidup Zahran lebih dari sekedar drama. Apa yang bisa aku lakukan? Apa aku biarkan saja dia mengurus adiknya sendiri? Apa aku akan berdosa kalau aku tak membantunya?' batin Yura.
Seorang Dokter datang, Zahran yang awalnya terlihat kuyu segera bangkit dan bangun. Dia mencoba menjadi Kakak yang tegar dan kuat lagi.
"Kita akan menjalani perawatan kemo lagi besok! Kamu sudah siap?" tanya Sang Dokter, Zahran masih diam, dia tak cepat-cepat menjawab.
"Setidaknya, tebus obatnya dulu, untuk biaya proses kemo-nya, pihak rumah sakit akan memberi kebijakan untuk kalian!"
"Iya Dok, terimakasih banyak!" ucap Zahran.
"Saya tunggu ya, sampai jam 9! Setelah ini jam piket saya habis! Nanti saya bantu bawakan obatnya!"
"Iya Dok!"
Dokter itu berlalu, meninggalkan Zahran yang sedang sangat kebingungan. Yura hanya memperhatikan tanpa mengucapkan atau melakukan apapun.
Zahran menghubungi seseorang, mungkin Dara. Dan Yura tak banyak komentar, dia hanya diam sembari memandangi Chiyo yang sedang meringkuk di atas brankarnya dengan berbagai selang infus dan alat medis yang membatasi geraknya.
"Dar! Duit gue mana?"
Yura mencoba tak peduli, dia hanya mengelus-elus kaki kecil Chiyo.
"Sial! Gue udah lakukan semuanya!" Zahran tampak marah, dia bangkit lalu pergi ke luar ruangan. Mungkin Zahran tak ingin Chiyo terbangun lagi dengan suara tingginya. Saat ini Zahran memang seperti sedang marah pada Dara, entah apa alasan konkritnya.
"Jangan licik Dar!"
"Tenang dulu! Lo belum selesai ya! Lo harus benar-benar menjebak si Yura sampai si Keita benar-benar jijik sama dia! Ngerti gak sih? Akting lo payah! Mana bisa gue bayar lo mahal-mahal kalau hasilnya nihil!" Terdengar omelan Dara dari seberang sana.
"Ayolah Dar! Gue butuh uangnya sekarang!"
"Urus dulu pekerjaan lo, baru gue kasih uangnya!"
"Sialan lo!" Zahran marah, dia merasa kalut, carut marut. Zahran merasa Dara sedang mempermainkannya, dia marah tapi dia tak mungkin berteriak kesal di lorong rumah sakit yang sepi dan senyap. Dia tahan sampai dadanya terasa sesak, dan Yura bisa lihat itu lewat jendela ruangan.
'Aku gak tahu aku harus Iba atau kesal sama kamu Zahran! Apa yang harus aku lakukan?' batin Yura.
Yura berjalan keluar, dia hampiri Zahran yang sedang duduk sembari menopang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku keluar sebentar!" kata Yura minta izin.
"Mau kemana?" tanya Zahran.
"Beli minum keluar, sebentar!"
"Kalau mau sekalian pulang, pulang aja! Lo naik taksi ya, gue gak bisa pergi dari sini!" kata Zahran.
"Iya!"
"Sorry!"
"Oke, gak apa-apa! Jaga Chiyo baik-baik!" pesan Yura lalu dia mulai melangkah pergi. Sebenarnya Yura masih merasa gamang. Tapi entah apa lagi yang akan dia lakukan, selama ini Yura memang selalu mengambil langkah sensasional yang sering kali merugikan dirinya sendiri.
Yura sudah sampai di luar, sejenak dia berdiri tegak lalu menghela nafas panjang. Dia sedang menikmati angin, apa yang dia lihat barusan cukup mengaduk-aduk emosinya. Keadaan Chiyo benar-benar menyentuh hatinya.
"Baiklah! Demi Chiyo! Demi dia, aku akan merelakannya!" kata Yura lalu meyakinkan dirinya.
Apa yang ada dalam pikiran Yura? Apakah dia akan menjalankan perannya sebagai pacar pura-pura Zahran? Dengan begitu ia bisa membantu Zahran mempercepat prosesnya untuk mendapat uang dari Dara. Atau ... Yura punya solusi lain yang bisa lebih menguntungkannya?
__ADS_1