Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
THE DAY


__ADS_3

Gaun pengantin itu sudah melekat di badan Yura. walau tak banyak detail tapi pagi ini gaun pengantin itu semakin menambah kecantikannya.


Polesan make up tipis namun tetap on point dan tatanan rambut sederhana membuat Yura tak kurang sedikitpun sebagai ratu sehari untuk hari ini.


"Amaziing!" kata Alika begitu Yura selesai dirias. Yura malah tak siap untuk keluar dari kamar resortnya. Yura merasa sangat malu.


"Yuraa, kamu cantik sekali! Sungguh ... Ibu gak bohong!" ungkap Ibunya kali ini, Ibu bahkan sampai dibuat berdecak sampai sekian menit.


"Masa sih Bu?" tanya Yura malu-malu.


"Ya ampun, apa kamu gak percaya kalau kamu begitu cantik pagi ini?" tanya Alika.


"Aaah Al, aku gugup, aku gugup banget!" ungkapnya.


"Gak apa-apa, wajar banget lah kalau kamu gugup! Ini hari bersejarah Yur! Kamu married! Kamu married sama cowok populer di Sekolah," goda Alika sembari dia terus merapikan rambut Yura.


"Ya, rasanya ... masih gak percaya ...."


"Percayalah! Ini takdir yang sudah Tuhan siapkan untuk kamu!"


"Siap ya! Kita akan ke lokasi 5 menit lagi, mempelai pria sudah siap disana!" kata salah satu staf wedding organizer yang mengatur acara.


"Oke! Kami sudah siap!" kata Alika tegas, tapi Yura sepertinya tak akan pernah siap, rasa nervousnya masih mengalahkannya.


Bagaimana bisa Yura tak menganggap ini sebagai momen yang precious dan mendebarkan. Arkan adalah salah satu mimpinya sejak remaja, ya walau hanya mimpi konyol tapi sekarang malah menjadi nyata.


'Tuhan, apa benar sebentar lagi dia akan menjadi suamiku?' batinnya sembari memejamkan matanya menunggu waktu 5 menit berlalu.


Yuki datang, dengan stelan jas yang membuatnya tampak gagah dan berwibawa.


"Kamu sudah siap?" tanya Yuki sembari menghampiri Yura yang masih gemetaran saja.


"Siap dong Om! Siap lahir batin, iya kan Yur?" jawab Alika lalu dia malah menggoda Yura, Yuki hanya tersenyum. Lalu dia menekuk lengannya, menunggu Yura menautkan tangannya disana.


"Ayaah ...."


"Ayo, jangan biarkan Arkan menunggu lama!" kata Yuki, Yura pun meletakan tangannya di lengan Yuki dan mereka sudah siap untuk melangkah ke lokasi.


Alika membantu mengangkat ujung gaun Yura yang sedikit menjuntai, dan Ibu juga berjalan beriringan bersama mereka semua.


Yura masih gugup, tetap saja gugup. Sudah belasan langkah dia pacu dan area pesta sudah mulai tampak di ufuk matanya. Yura tak ingin melihat ke sekitar, dia masih menundukan wajahnya. Dia tahu kalau saat ini semua orang sedang menatap kedatangannya.


Semua orang kagum dengan penampilannya hari ini.


"Whooaa cantiknya ...."


"Pasangan serasi ya ...."


"Aaah, so precious!"


Itulah ungkapan beberapa kerabat Arkan yang kebetulan hadir di pesta keluarga itu. Dan bagaimana dengan Arkan?


Dia terkagum, dia sudah menunggu di dekat meja di depan penghulu yang sudah menunggu. Arkan tak sekalipun berpaling sejak Yura terlihat berjalan ke arahnya. Bahkan mungkin dia juga tak sempat mengedipkan matanya.


Andai Yura mau mengangkat pandangannya, Arkan juga tampak sangat pangling dengan tuxedo putih dan sisiran rambut rapi sampai memamerkan jidatnya yang akan membuat gadis manapun merasa oleng dan ambyar.


Hari ini kecantikan Yura dan ketampanan Arkan menyatu menjadi center di acara sakral itu. Semua orang tertuju pada keduanya yang kini bertemu di satu titik, di hadapan penghulu.


"Angkat wajahmu sayang!" bisik Yuki dan perlahan Yura mengangkat wajahnya ....


BYAAAR, pria yang berdiri di hadapannya begitu membuat hatinya berdebar-debar semakin hebat.


'Aaah, dia ... calon suamiku!' ungkapnya dalam hati.


Bahkan Arkan lebih berdebar-debar lagi tapi dia tetap mencoba tenang dan kalem.


Semua orang merasakan begitu banyak cinta yang mereka pasrahkan hari ini. Saat kedua mata yang sedang jatuh cinta dipertemukan maka auranya pun membuat orang-orang di sekitar merasa hangat. Nara sampai menitikan air mata, air mata bahagia dan bangga pastinya.


"Ananda Arkan dan Ananda Yura, silakan duduk, kita akan segera melaksanakan prosesi paling penting dalam acara sakral hari ini!" kata penghulu itu.


Tak lupa Arkan mempersilakan Yura untuk duduk. Manis sekali. Tak ada yang tak memperhatikan momen manis itu, semua orang menunggu sampai semua saksi berseru, 'Sah!'.


"Aww!"

__ADS_1


Di tempat lain, Alana baru saja tak sengaja melukai jarinya sendiri dengan jarum saat dia sedang merapikan desainnya yang belum selesai di sebuah manequin. Tautan kain dan jarum tak tepat sampai Alana menusuk jarinya sendiri ....


"Huh, teledor banget sih!" rutuknya pelan.


Andai Alana tahu, sejurus dia terluka, di tempat lain, anak lelaki yang masih jadi ambisinya telah mengucap janji suci pernikahan pada gadis lain yang selama ini dia benci.


Ya, Arkan sudah mengucapkan satu kalimat yang membuatnya kini telah memiliki Yura sepenuhnya. Arkan mngucapkannya dengan lugas dan lancar dalam satu helaan nafas sampai semua orang ikut menahan nafas dan bersorak bahagia begitu penghulu dan para saksi menyatakan kalau proses ijab kabulnya benar dan 'Sah!'.


Tak ada momen seindah ini bagi Arkan maupun Yura. Hari ini, hari dimana mereka melabuhkan perasaan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci.


'Apa ini mimpi? Apa ini hanya mimpi, ya ampuun, kenapa ini begitu indah sampai terasa hanya sebuah mimpi!' batin Yura berkecamuk, dia masih dan malah semakin gugup apalagi saat ia harus merebut kesepuluh jari Arkan dan mengecupnya di hadapan orang-orang.


'Ini adalah kali pertama aku mencium tangan suamiku!' batinnya, dan dia kecup tangan Arkan sampai beberapa detik lamanya, begitu sakral dan penuh kasih.


Dan kini giliran Arkan melakukan hal sebaliknya, Arkan mendaratkan kecupan sayangnya di kening istrinya, kini tak ada jarak lagi di antara keduanya.


"Kamu cantik banget hari ini!" bisik Arkan sebelum dia juga mengecup pipi Yura dengan manis.


"Kak Arkan sudah mengatakannya belasan kali sejak tadi kita duduk disini!" sahutnya juga berbisik, Arkan hanya tersenyum.


Alika tanpa sadar memeluk lengan Zahran karena terbawa suasana, dia merasakan romansa pengantin baru itu sampai dia juga membayangkan masa depannya dengan indah.


"Mohon maaf, ini kenapa ya main peluk-peluk tangan gue segala? Lo belum jawab pertanyaan gue semalam!" bisik Zahran menyadarkan Alika yang jadi malu lalu segera melepaskan tangannya.


"Maaf, gak sengaja!" sahutnya ketus.


"Heum, tunggu 2 atau 3 tahun lagi ya, kita juga nanti akan duduk di depan penghulu kayak begitu!" goda Zahran membuat Alika salah tingkah.


"Huh, pacaran aja enggak! Mana bisa tiba-tiba duduk depan penghulu begitu?" cibir Alika.


"Heh, jadi semalam lo budek? Bener-bener gak dengar kata-kata gue?"


"Heum, maaf kata-kata yang mana ya? Coba ulangi?" pancing Alika, keduanya memang senang berdebat walau dalam hati saling merindu.


"Heh, dasar perempuan! Paling bisa mancing mancing!" gerutu Zahran, Alika hanya tersenyum geli. Ya, setidaknya dia juga merasakan momen manis bersama Zahran hari ini. Semua orang merasakan kebahagiaan yang nyata.


Dan momen lainnya yang membuat suasana begitu mengharu biru adalah saat para pengantin meminta doa dan restu pada para orang tua. Di mulai Arkan pada Ibu tiri Yura dan pada Yuki dan sebaliknya saat Yura memeluk Nara dan mencium tangan Azka dengan sangat hangat.


Prosesi sakral sudah selesai dan kini semua orang mulai menikmati pesta kecil mereka.


Host band juga memainkan lagu-lagu cinta yang everlasting yang membuat suasana semakin syahdu. Yura maupun Arkan mendatangi para tamu mereka, konsepnya memang seperti itu, mereka berdua tak ingin hanya duduk di pelaminan tapi mereka lah yang menghampiri seluruh tamu ke meja mereka masing-masing.


Dan setelah semua tamu sudah mereka sapa, mereka menepi di satu titik di pojok pesta, di bibir ngarai yang membatasi area pesta mereka. Menatap lautan yang terbentang sejauh mata memandang.


"Kamu cantik banget hari ini, istriku!" bisik Arkan lagi dan lagi, alunan kalimat itu mengalun bersama angin yang berembus kencang.


"14 kali!" kata Yura berhitung.


"Kamu benar-benar menghitungnya?" tanya Arkan takjub.


"Ya! Kamu sudah memujiku seperti itu sampai 14 kali sampai detik ini!"


"Dan mungkin masih akan ada ratusan kali lagi sampai hari ini berakhir!"


Yura melirik ke arah Arkan yang berdiri kokoh di sampingnya, dia sedang memandangi suaminya.


'Suamiku!' batinnya, tapi dia tak berani mengatakannya secara langsung. Dan kemudian Yura malah membayangkan yang aneh-aneh lagi.


'Aaah, jangan-jangan Kak Arkan muji aku berkali-kali karena dia lagi bujuk aku supaya melakukannya malam ini? Aaah, gimana ini? Aku kan belum benar-benar siap!' batinnya lagi, ekspresinya juga ikut berubah sampai membuat Arkan terheran.


"Kenapa?" tanya Arkan.


"M ... nggak kok!"


"Oh iya, kamu udah kasih undangan ke Keita kan?" tanya Arkan. Ya, Keita ... Yura sampai melupakan Keita.


"Udah, udah aku kirim lewat email!"


"Heum, mau bagaimana lagi, tapi ini kan takdir! Hari ini, kita sudah benar-benar menikah! Aku tahu, si Kei pasti kecewa, tapi sungguh ... aku lakukan ini karena aku gak mau kehilangan kamu lagi!" kata-kata Arkan juga mewakili perasaan Yura.


"Ya, gak ada yang salah kok! Ini takdir! Takdir kita semua!" pungkas Yura.


"Makasih ya ... sudah menerima ... aku sebagai pilihan terakhir kamu!"

__ADS_1


"Iya Kak, makasih juga sudah mau menjadikan aku sebagai istrimu! Hari ini ... aku benar-benar merasa sangat istimewa!"


Arkan genggam lagi tangan Yura lebih erat, sungguh manis, benar-benar manis hari ini.


Keita terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa jam karena terus memikirkan pernikahan Yura dan Arkan hari ini. Di London saat ini masih pagi, dan begitu dia bangun dia mendapat kiriman photo dari Vano yang kebetulan hadir di acara pernikahan sahabatnya itu.


Sesak memang tapi, Keita tetap pandangi dengan lekat potret indah Yura dan Arkan dengan balutan gaun pengantin yang membuat Keita semakin merasa getir. Kini, dirinya yang seolah-olah mengguman, "harusnya, aku yang disana!".


Tapi semua sudah terjadi. Dia mencoba melapangkan dadanya lagi, dia akan menerima semuanya, dia tetap mendo'akan yang terbaik untuk mantan kekasih yang kini bersanding dengan sahabat baiknya itu.


"Semoga kalian bahagia!" ucapnya.


Kembali ke pesta ....


Yura menghampiri Alika dan Zahran lagi, sementara Arkan berbincang bersama Vano.


"Bener-bener gak nyangka gue Ar! Tapi, sekali lagi, selamat ya ... gue lihat kalian berdua benar-benar cocok dan aura bahagia kalian terpancar sampai bikin para tamu undangan juga merasakannya!" kata Vano.


"Thanks Van! Lo harus menyusul secepatnya!" kata Arkan.


"Mau nyusul gimana, gebetan gue disalip! Noh!" kata Vano lalu matanya memicing ke arah Alika dan Zahran yang terlihat bergandengan.


"Waah, Alika?" yakinkan Arkan ikut berdecak.


"Beneran deh jaman sekarang gak boleh main mendam-mendam perasaan! Bener-bener mesti gaspol!" ungkapnya, Arkan hanya tertawa.


"Sabar bro! Kalo jodoh gak akan kemana kan?"


"Iya sih! Gue akan berkaca sama kisah cinta kalian bertiga! Lo, Keita sama Han Yura! Jodoh emang gak akan kemana!"


"Nah gitu dong, semangat!" semangati Arkan.


DRDDDD ... ponsel Arkan bergetar, dan Keita yang menelphone, baru saja dia membicarakannya dengan Vano. Arkan mengangkatnya walau sebenarnya hatinya agak berat.


"Halo Kei!" sapanya.


"Ya Ar! Selamat ya!" ucap Keita jauh di sebrang sana.


"Makasih banyak Kei!"


"Sorry gue gak bisa datang, kalau memungkinkan, gue pasti datang, cuma kan lo tahu sendiri ...."


"Iya, gak apa-apa! Do'a lo, sampai kok, gue merasakannya!"


"Ya, gue akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian! Dan ... jaga dia ya!"


"Pasti Kei! Gue akan jaga dia, seperti lo sudah menjaganya selama bertahun-tahun!"


"Oke,"


Walau berat, Keita harus menerima.


Yura melirik, dia tak tahu dengan siapa Arkan berbincang via telepon, Yura hanya belum tahu kalau yang sedang menghubungi suaminya itu adalah mantan kekasihnya.


"Yur! Udah coba nonton video yang ... hm ... hm ... pernah aku rekomendasikan buat kamu?" bisik Alika, membuat Yura mendelikan matanya dengan sangat tajam.


"Gak usah ngadi-ngadi deh! Gak perlu nonton video begituan!" sahutnya kekik.


"Malam ini lhoo Yur! Kamu kan pernah curhat kalau kamu gak tahu harus gimana kalau Kak Arkan mau melakukannya!" bisik Alika lagi.


"Iiih Alika! Udah deh, kalau ada yang denger kan maluuu!"


"Ngobrolin apa sih, bisik-bisik! Kagak bae tahuu ngobrol bisik-bisik berdua sementara ada orang ketiga di antara kalian! Kalian pikir gue remahan oreo gitu?" kata Zahran kekik.


"Diiih, mau tahu aja urusan pengantin baru!" cibir Alika.


"Aaah gue tahu, lo berdua lagi ngobrolin yang aneh-aneh kan? Ngeres otak lo berdua! Eh, Yura sih kagak apa-apa, emang dia mah udah wajib melayani si Arkan nanti malam! lah lo Al, sabar napaaa! Gue bilang juga tunggu 2 sampai 3 tahun lagi!"


"Heleeeh, maunya!"


Yura hanya geleng-geleng kepala, tapi setidaknya candaan Zahran maupun Alika mampu mengurai rasa nervousnya. Lalu dia kembali melirik ke arah Arkan yang kembali berbincang santai dengan Vano.


"Apa yang menelpon tadi Kak Keita?" gumamnya.

__ADS_1


Dan begitulah, semua orang menikmati pesta, sampai tak terasa hari akan segera berakhir dan pesta juga akan segera selesai.


__ADS_2